
“Ah maaf, Suheng (Kakak Seperguruan). Saya capek sekali. Kebetulan, ini baru selesai latihan pernafasan tingkat 5, lain kali saja ya?” sambil bicara begitu, dia tersenyum.
“Heh? Anggota ‘15 Naga Muda’ baru sampai pada pernafasan tingkat 5? Kami saja yang murid ‘Biasa’ sudah sampai di tingkat 7. Kalian itu belajar apa saja sih?” A Pao berkata sambil tertawa, yang juga ditimpali gelak tawa teman-temannya.
“Ah, sebenarnya yang lain sudah sampai pada tingkat 11. Cuma saya memang kurang bakat, jadinya yah, harus mengulang-ngulang terus pelajarannya,” jawab Cio San sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri dan tertawa.
“Nah, karena kau itu suka mengulang-ngulang latihan, bagaimana jika sekalian kau mengulang juga latihan ilmu totok bersama kami?” kata A Pao.
“Aduh, Suheng, sungguh badan saya pegal-pegal semua. Saya takut malah tidak bisa latihan dengan baik,” jawab Cio San.
“Alah… sudahlah. Ayo latihan. Pasang kuda-kuda ya. Lihat jurus!” sambil berteriak, A Pao langsung melancarkan jurusnya tanpa menanti jawaban dari Cio San.
Gerakannya cepat. Tidak malu sebagai anak murid Bu Tong. Ia mengincar sebuah titik di daerah dada kiri Cio San. Diserang seperti itu, Cio San tidak kaget. Ia bersikap tenang dan menerima serangan itu dengan gerakan tangan kiri menyapu. Gerakan menyapu ini adalah bagian dari gerakan dasar Thay Kek Kun ciptaan mendiang Thio Sam Hong. Dilakukan dengan lembut dan mengalir.
Saat serangan pertamanya berhasil dipunahkan, A Pao menggunakan tangan kirinya untuk mengincar sebuat titik di pelipis kanan Cio San. Melihat serangan ini, Cio San hanya memutar lehernya mengikuti aliran serangan, sehingga totokan itu hanya lewat di depan matanya.
Melihat dua serangannya gagal, A Pao semakin bersemangat untuk menyerang. Gerakannya semakin cepat, namun gerakan Cio San juga tak kalah cepat.
Setelah beberapa lama beradu silat, keringat mulai terlihat di dahi Cio San. Ia memang gampang sekali capek. Sistem kerja organ dalam tubuhnya memang kurang baik, sehingga membuatnya susah mengendalikan pernafasan, yang membuatnya mudah letih. Itulah juga sebabnya ia masih mengulang-ngulang pelajaran pernafasan tingkat 5.
Melihat lawannya sudah mulai kedodoran, A Pao melencarkan serangannya lebih cepat lagi. Bagi orang Bu Tong, gerakan kedua orang ini biasa-biasa saja. Tapi bagi orang luar, apalagi bagi orang yang tidak mengerti ilmu silat, kedua orang murid Bu Tong ini bergerak sangat cepat dan juga indah.
Menghadapi gerakan cepat ini, Cio San mulai terdesak. Ia sudah tidak bisa lagi menghindar seperti tadi. Ia tidak mencoba menyerang karena sibuk terus mempertahankan diri. Karena kalah cepat, Cio San memilih langkah-langkah mundur sambil mengelak sebisanya. A Pao yang merasa dirinya diatas angin, semakin mendesak Cio San yang terus merangsek mundur.
Sesekali tubuh Cio San terkena serangan totokan jari A Pao. Tapi karena memang mereka belum terlalu menguasai penyaluran tenaga ke jari-jari, hasil serangan ini hanya cukup menyakiti saja, namun tidak sampai menimbulkan akibat yang fatal.
Cio San lalu berkata, “Suheng, saya mengaku kalah, seranganmu hebat sekali.” Sambil berkata begitu, ia memberi hormat. A Pao yang masih penasaran karena belum bisa menjatuhkan anggota ‘15 Naga Muda’ tidak menghentikan serangannya.
“Ah...” Cio San hanya mendesah. Sudah sering ia menerima perlakuan seperti ini. Banyak sekali anggota Bu Tong ‘Biasa’ yang ingin menjajal dan mengalahkan anggota ‘15 Naga Muda’. Dan yang selalu menjadi sasaran adalah Cio San. Ini mungkin karena dia dianggap yang paling lemah dan paling ketinggalan ilmunya. Bagi murid
‘Biasa’, menjatuhkan salah seorang anggota ‘15 Naga Muda’ itu adalah sebuah kehormatan, maka ‘dijajahlah’ anggotanya yang paling lemah.
Sudah amat sering Cio San mengaku kalah, namun mereka selalu ingin menjatuhkannya dulu. Bagi sebagian orang, memang jauh lebih menyenangkan memukul jatuh lawan, ketimbang mendengar dia minta menyerah saja.
Sering juga Cio San babak belur karena dihajar mereka. Apa daya? Dia memang paling lemah dan merupakan sasaran empuk bagi mereka yang iri akan kedudukan ‘15 Naga Muda’. Tapi Cio San memang tidak pernah mengeluh. Perlakuan seperti itu malah semakin membuatnya rajin berlatih. Terkadang ia ditertawai orang, karena
dianggap tidak pantas menjadi bagian ‘15 Naga Muda’. Kadang ia malah terluka, karena serangan-serangan mereka selalu dilancarkan dengan niat melukai, bukan dengan niat berlatih.
Dalam ‘15 Naga Muda’, ia sendiri juga mengalami hal yang tidak mengenakkan. Ia selalu dimarahi dan dikerasi oleh guru-gurunya karena kemajuan ilmunya yang lambat. Kadang-kadang gihu dan sekaligus guru pengawasnya, Tan Hoat, bahkan kehilangan kesabaran dengan menghukumnya. Memang bukan hukuman berat, cuma sekedar
membersihkan dapur, atau mengurusi ternak-ternak babi milik Bu Tong. Cio San pun juga tidak mendendam terhadap gurunya itu, karena ia tahu gurunya bermaksud baik, untuk memacunya lebih bersemangat latihan.
Kadang juga, ia melihat pandangan ‘menghina’ dari sesama anggota ‘15 Naga Muda’. Para anggota ini menilai Cio San tidak pantas menjadi murid unggulan seperti mereka dan sering memperlakukannya dengan tidak baik. Seperti menertawainya, mengatakannya dengan berbagai perkataan yang menyinggung, bahkan juga mengerjainya saat latihan. Seperti mempelorotkan celananya saat ia latihan kuda-kuda, menyiraminya dengan kotoran babi dengan alasan ‘tidak sengaja’, dan lain-lain.
Cio San tidak pernah melaporkan perlakuan ini kepada guru-gurunya. Ia menganggap itu hanya candaan belaka. Sering ia tersenyum dalam menghadapi semua itu. Tapi kadang ia juga menangis sendirian saat sedang mandi atau saat tidur. Ia malu memperlihatkan kelemahannya. “Seorang laki-laki harus sanggup menghadapi cobaan apapun dalam hidupnya”, begitu kata ayahnya dahulu.
Kekuatan dan ketabahan hati Cio San ini, malah membuat orang semakin tidak suka padanya dan semakin ingin mengerjainya. Mereka tahu, Cio San tidak akan mengadukannya kepada guru-guru mereka. Perlakuan mereka terhadap Cio San semakin tidak mengenakkan. Ia bahkan lebih sering berlatih sendirian. Karena sepertinya,
kawan sesama ‘15 Naga Muda’ sudah tidak lagi menganggap dirinya.
Semua kejadian tidak mengenakkan ini, sekejap mata terlintas dalam pikirannya saat ia menghadapi serangan A Pao. Tidak terasa matanya berkaca-kaca, air matanya meleleh. Pemusatan pikiran terhadap pertarungan pun buyar seketika.
Nafasnya tersengal-sengal. Tapi murid-murid lain malah menertawainya.
“Anggota ‘15 Naga Muda’ menangis saat diserang. Hahahahha…” Mereka berteriak sambil tertawa. Suara teriakan, hinaan, dan tawa itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit di ulu hatinya. Ia hanya menutup mata, air matanya mengalir.
Sesudah itu dia pingsan.
Saat siuman, ia merasa perutnya sakit sekali. Cio San kini sedang berada di biliknya sendiri. Ia terbaring diatas tempat tidurnya. Ada bau ramuan obat. Mungkin juga bau ini yang membuatnya tersadar. Di samping tempat tidur Cio San, Tan Hoat, sang gihu duduk disebuah bangku kayu kecil.
Raut wajahnya kelam sekali. Biasanya, tidak seperti ini wajah gihunya. Tan Hoat baru kembali dari tugas perguruan. Selama beberapa tahun ini, Tan Hoat memang sering sekali turun-naik gunung untuk menunaikan tugas perguruan. Melihat ada gihunya di samping, Cio San merasa senang sekali.
Namun gihunya bertanya dengan ketus, “Kau sudah siuman?”
“Iya, Gihu,” jawab Cio San. Ada rasa tidak enak di ulu hatinya ketika ia berbicara.
“Orang-orang bilang kau menangis karena menerima serangan A Pao?”
Cio San menutup matanya. Ia tidak menangis karena serangan A Pao. Ia menangis karena merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh saudara-saudara seperguruannya sendiri. Tapi bagaimana ia menceritakan ini kepada gurunya? Selama ini, gurunya tidak pernah tahu akan perlakuan mereka terhadapnya. Jika
kemudian ia bercerita, bukankah nanti akan dianggap mencari-cari alasan? Apalagi jika nanti dia bercerita dan semua orang itu menyangkal, maka hasilnya akan lebih parah lagi. Ia akan semakin tersudut.
“Iya, Gihu,” Cio San menjawab pelan.
Gihunya juga hanya berbicara dengan pelan, namun kata-katanya menusuk sekali.
“Seorang laki-laki lebih baik mati di dalam pertempuran, daripada menangis ketakutan dalam
perkelahian.”
“Maafkan teecu (murid), Guru.., teecu...” Cio San juga sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Suhu (guru) sekaligus gihunya itu berdiri lalu keluar dari bilik itu. Berjalan dengan gontai.
Cio San hanya menghela nafas. Ia menangis lagi. Ia sudah mempermalukan gurunya.
Ia tidak pernah menangis karena rasa takut. Ia tidak menangis karena kesakitan. Tidak. Ia menangis karena kemarahan. Karena diperlakukan tidak adil.
Ya! Benar!
Ia menangis karena melihat ketidakadilan. Ia lalu teringat ayahnya lagi yang dulu pernah berkata, “Laki-laki hanya pantas meneteskan airmata karena melihat penindasan.”
Cio San berpikir, apakah memang ia menangis karena alasan itu? Semakin lama ia berpikir, akhirnya ia tersadar. Yang dimaksudkan ayahnya adalah ‘penindasan’ terhadap orang lain. Jika penindasan itu terjadi kepada dirinya, maka itu bukanlah penindasan. Tapi itu karena ia tidak mampu membela dirinya sendiri.
Kesadaran berpikir seperti ini, bagi anak berumur belasan tahun sebenarnya boleh juga dibilang ajaib. Biasanya anak-anak itu lebih suka mencari pembenaran dan membela diri. Tapi Cio San sudah mulai paham bahwa, jangan-jangan ia memang hanya mencari pembenaran.
Dalam hati, ia menguatkan dirinya. Ia harus menerima resiko karena kelemahannya sendiri. Apapun nanti hukumannya, harus ia terima dengan berani. Ia tidak boleh menangis lagi. Ia tidak boleh membuat gihunya kecewa dan marah lagi seperti tadi. Dan yang lebih penting, ia tidak boleh LEMAH lagi!
Akhirnya ia tersenyum. Senyum pahit yang selalu dilakukannya. Tapi senyum seperti itu terkadang memang bisa mengobati luka hatinya. Luka hati siapa saja.