
Beng Liong tersenyum dan terkesima juga melihat tutur-kata koki yang sopan ini.
“Bahasa anda seperti bahasa orang-orang Kang Ouw (dunia persilatan),” kata Beng Liong.
“Untuk itu, aku tidak dapat memberitahukan kepada anda, Beng-enghiong,” jawab A San sambil tersenyum.
“Eh? Kenapa bisa begitu?” Beng Liong nampak tertarik, senyumnya tidak hilang.
“Kalau aku memberitahukan, nanti Enghiong tidak akan mampir kesini lagi, hahahahaha…….,” tawa A San.
Mey Lan memandanginya saja. Cio San tidak berkata apa-apa, ia tetap bekerja saja. Lama kedua orang itu tidak bersuara. Akhirnya Mey Lan yang buka suara duluan.
“Sudah puas minum-minumnya?”
“Apakah engkau yang bernama Jiong Say Ong?”
Cio San mengenal suara Beng Liong.
“Kalau benar, engkau mau apa?” Dari pemilik suaranya, sepertinya orang itu memiliki tubuh sebesar banteng.
"Harap ikut aku keluar. Aku mencarimu berkenaan dengan perkara di hutan Oh Hau dua bulan yang lalu,” kata Beng Liong.
“Hahaha…… Siapa kau berani-beraninya mengungkit urusan itu?!” tanya Jiong Say Ong.
“Cayhe adalah Beng Liong, dari Bu Tong-pay,” jawab Beng Liong.
Ada jeda sebentar, sebelum keluar jawaban, “Ah, kalian Bu Tong-pay selalu turut campur urusan orang!” Kali ini suara itu terdengar menggelegar. Tamu-tamu menjadi sunyi,
Yang terdengar kemudian, adalah suara orang mencabut senjata dari sarungnya. Dari suaranya, Cio San tahu itu adalah sebuah golok. Dengan segera, ia pergi ke ruang depan. Rupanya semua orang sedang menyaksikan tontonan gratis.
Orang yang disebut Jiong Say Ong itu menyerang Beng Liong secara membabi buta dengan goloknya. Jurus-jurusnya cepat dan kejam. Setiap serangan ditujukan untuk secepatnya menghabisi lawan. Di pihak lain, Beng Liong seperti bergerak lambat dan lemah gemulai. Ia hanya menghindari serangan-serangan ganas Jiang Say Ong.
Semua orang yang mengerti ilmu silat, pasti paham bahwa itulah langkah-langkah sakti yang terkenal dari Bu Tong-pay, ‘Berlari di Atas Awan’.
Tapi lamunannya ini segera ia hentikan, karena pertarungan di depan matanya sangat mengasyikkan untuk dinikmati.
Serangan Jiong Say Ong sungguh ganas. Walaupun tubuhnya besar, gerakannya sangat lincah dan cepat. Justru Beng Liong yang tubuhnya lebih kecil dan ramping, malah bergerak lambat. Beng Liong malah belum mengeluarkan pedang sama sekali. Hal inilah yang membuat Jiong Say Ong semakin marah dan tersinggung. Ia merasa diremehkan oleh Beng Liong. Jurus-jurus andalannya yang ganas ia kerahkan seluruhnya.
Tapi apa daya? Yang sedang dihadapinya adalah pendekar muda utama dari Bu Tong-pay. Bahkan dianggap salah satu pendekar muda utama jaman itu. Dalam jurusnya yang kesepuluh, Jiong Say Ong sudah terpukul jatuh. Itu bahkan adalah serangan pertama dari Beng Liong!
Saat terpukul jatuh, semangatnya langsung membumbung lebih tinggi. Ia penasaran, bagaimana mungkin satu serangan saja, ia bisa terpukul jatuh. Jiong Say Ong pun tahu, lawan di depannya itu terkenal tidak pernah membunuh orang. Jadi ini malah membuatnya semakin berani dan nekat.
Beng Liong pun paham apa yang ada di benak lawan di depannya ini. Jika tidak segera dihentikan, ia mungkin akan semakin nekat. Beng Liong sudah sering bertemu orang-orang seperti ini. Oleh karena itu, kini ia menyerang.
Serangannya kali ini sungguh cepat, tidak lagi lambat dan gemulai seperti tadi. Saking cepatnya, sampai tidak ada seorang pun yang melihat bagaimana ia menyerang. Kecuali Cio San, tentunya. Tahu-tahu, dua jari Beng Liong sudah menotok tepat di daerah ulu hati Jiong Say Ong.
Sentuhan itu sangat cepat, berhentinya pun juga sangat cepat. Jiong Say Ong sudah terpelanting ke tembok. Ia langsung jatuh pingsan karena serangan ini. Mungkin juga karena bagian belakang kepalanya menghantam tembok. Kini bahkan sudah tidak ada tembok. Yang ada hanyalah sebuah pintu baru ke ruangan sebelah.
Dengan cepat pula Beng Liong menoleh ke kasir.
“Jangan khawatir Loya (Tuan), saya akan mengganti semua kerugian,” katanya sambil tersenyum.
Orang-orang yang berada disitu semua bersorak, “Hebat…! Hebat…..!”
Beng Liong mengangguk dan memberi salam hormat kepada semua tamu yang ada.
“Maafkan ketidaknyamanan ini, Tuan-tuan. Saya, Beng Liong, bersedia mengganti jika ada Tuan-tuan yang merasa rugi atas keramaian tadi.”
Herannya, jawaban dari puluhan orang yang berada di situ semuanya sama. “Ah, tidak… tidak… Bu Tong-enghiong (Ksatria dari Bu Tong) memang sungguh hebat. Tidak rugi.. tidak rugi…” Mereka malah bertepuk tangan.
Memang sungguh jarang melihat pertarungan kelas tinggi. Walaupun Jiong Say Ong bukan termasuk lawan kelas tinggi, ia jatuh karena jurus kelas tinggi. Melihat ini, orang-orang sudah sangat puas. Makin bertambah kagumlah mereka kepada Bu Tong-pay. Terlebih-lebih terhadap Beng Liong. Apalagi saat Beng Liong berkata,“Makanan Tuan-tuan kali ini, biar saya yang bayar.”
Semua orang bersorak gembira.