Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 44: Dua Orang Pendekar



Ketika seluruh rombongan sudah kembali, Cio San tidak menceritakan apa-apa. Mereka melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya makan pagi dahulu.


Di tengah jalan, Cukat Tong bertanya kepada Cio San, “Kau sungguh-sungguh akan pergi menemuinya?”


“Iya. Kau tidak ikut, bukan?” kata Cio San.


“Baiklah.”


Jika sahabatmu mengatakan tidak ingin melakukan sesuatu, maka sebaiknya kau memang tidak bertanya kenapa. Ia pasti mempunyai alasan tersendiri yang tidak ingin diceritakannya kepadamu.


“Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?” tanya Cio San.


“Apa?”


“Bisa tolong kau kawal anak buahku sampai nanti kita bertemu kembali?”


“Tentu saja.”


“Kota apa yang terdekat dari sini?”


“Kita bisa kembali ke kota yang tadi, atau aku bisa menunggumu di kota depan, kota Bu Tiau,” jawab Cukat Tong.


“Baik. Kalian tunggu aku di Bu Tiau. Cari penginapan terbaik. Aku akan menemui kalian di sana dalam beberapa hari ini,” kata Cio San.


“Kauwcu hendak pergi kemana?” tanya Ang Lin Hua.


“Mengunjungi wanita tercantik nomer dua di dunia”, kata Cio San sambil tersenyum.


“Siapa itu?” tanya Ang Lin Hua.


“Aku belum tahu namanya, dan belum pernah bertemu.”


“Ohh..”


Cukat Tong menimpali, “Lalu maksudmu, siapa yang nomer satu tercantik di dunia?”


“Tentu saja ibunya Cio-kauwcu,” jawab Ang Lin Hua. “ Benar bukan, Tuan?” tanyanya kepada Cio San.


Cio San hanya senyum-senyum saja.


“Ah, tentu saja yang nomer satu adalah kekasihnya di Liu Ya,” tukas Cukat Tong.


“Ohh..” Tiada kata yang keluar lagi dari bibir Ang Lin Hua.


Perjalanan memakan waktu beberapa lama sampai mereka tiba di kaki bukit. Cio San kemudian turun dari kereta dan bergegas pergi. Tiada salam perpisahan karena mereka yakin akan bertemu kembali.


Cio San menyusuri sebuah jalan mendaki yang indah sekali. Di sisi jalanan setapak ini, pohon Bwee berjejer-jejer dengan rapi. Guguran bunganya memenuhi jalanan bagaikan permadani menyambut tamu-tamu yang datang kemari.


Pemandangan di bukit ini sungguh indah. Tapi tak ada seorang pun yang datang ke bukit ini. Keindahan yang sepi. Cio San jadi teringat Ang Lin Hua. Nona itu begitu cantik, namun terlihat begitu sedih. Seolah-olah yang ada di hatinya cuma air mata belaka. Entah apa yang ada di hatinya. Perasaan perempuan, hanyalah mereka sendiri yang tahu. Laki-laki hanya sanggup membaca mata mereka saja. Membaca gerak-geriknya saja. Tapi sesungguhnya laki-laki tak akan pernah tahu isi hati perempuan.


Bukit indah nan sepi ini benar-benar terasa bagai Ang Lin Hua. Tatapan matanya, sinar wajahnya, gerak-gerik tubuhnya yang gemulai. Menyimpan kesedihan dan kesunyian. Tapi juga menyimpan bahaya.


Cio San sangat paham, bukit ini menyimpan ribuan rahasia yang sungguh tak dapat diduga manusia manapun. Itulah sebabnya, tak ada seorang pun yang datang ke sini. Bukit ini mungkin telah menelan dan menghilangkan entah berapa banyak nyawa manusia.


Wanita cantik dan bahaya. Bagi Cio San, kadang-kadang kedua kata ini sukar dipisahkan. Dia sendiri tidak paham, mengapa ia berpikiran seperti ini. Mungkin karena dulu terlalu sering mendengarkan ujar-ujaran ayahnya. Entahlah. Ayahnya begitu memuja-muja kecantikan, tapi di saat yang sama, amat takut terhadap kecantikan pula.


Di dunia ini yang bisa menimbulkan perasaan kagum dan takut secara bersamaan, tentulah kecantikan wanita.


Ia menyusuri jalanan yang indah ini. Kicau burung dan desah pepohonan mengiringi langkahnya. Harum bunga Bwee seperti memandikannya dengan wewangian. Ia melangkah tanpa ragu. Ia yakin betul dengan dirinya sendiri.


Jika kau tidak yakin dengan dirimu, sebaiknya kau jangan melakukan apapun. Karena kau akan kecewa.


Tak berapa lama berjalan, Cio San sudah melihat bayangan orang duduk tak jauh dari sana. Orang itu duduk bersila di atas sebuah batu besar. Saking tegap dan kokohnya ia duduk, sampai-sampai Cio San sukar membedakan yang mana batu, yang mana orang.


Begitu sampai di depan orang itu, Cio San berhenti. Ia tidak berkata apa-apa, menunggu orang yang duduk itu berbicara.


“Kau hendak menemuinya?” tanya orang yang duduk itu. Wajahnya tampan, namun penuh bekas luka. Herannya, bekas luka itu malah membuat wajahnya semakin tampan. Di pundaknya tersanding sebuah pedang bergagang hitam.


“Benar,” jawab Cio San.


“Kau yakin punya kemampuan untuk menemuinya?” tanya si orang yang duduk itu.


“Kalau tidak yakin, tentu tidak datang,” jawab Cio San enteng.


“Bagus.”


Entah kapan ia berdiri dan melolos pedang. Tahu-tahu, ujung pedangnya telah menyabet leher Cio San. Jika orang lain, tentu kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya. Tapi Cio San bukan orang lain. Cio San adalah Cio San.


Ia hanya mundur sedikit saja, tebasan pedang itu lewat di depan lehernya. Jarak leher dan pedang mungkin hanya sehelai rambut, sehingga jika ada yang melihat tentu menyangka leher Cio San sudah terbabat.


Tapi kepalanya masih di tempat yang seharusnya.


Si empunya pedang tentu saja terheran-heran melihat ada orang yang bisa menghindari serangan pedangnya. Di saat-saat terakhir pula. Memang selama ini, si empunya pedang tidak pernah gagal menebas leher orang. Sayangnya, hari ini ia bertemu Cio San.


“Siapa kau?” tanyanya.


“Nama cayhe Cio San.”


“Aku belum pernah mendengar namamu.”


“Memang nama cayhe bukan nama pesohor,” katanya tersenyum.


“Di dunia ini, orang yang bisa menghindari pedangku tidak sampai 5 orang,” kata si pedang hitam itu.


“Sudah berapa lama Ciokhee (Tuan) berada di sini?”


“Sudah 3 tahun.”


“Nampaknya Tuan harus sering-sering keluar. Serangan Tuan memang sungguh hebat, tapi kujamin, ada orang yang jurus pedangnya bisa menandingi jurus Tuan,” kata Cio San.


Mata orang itu terbelalak. Ada sinar bahagia dan senang di wajahnya.


“Siapa dia?”


“Namanya Suma Sun.”


“Aku juga belum pernah dengar nama itu.”


“Itulah sebabnya cayhe bilang, Tuan harus sering keluar,” kata Cio San.


“Jika aku keluar dari sini, tentulah aku akan langsung mati,” jawab orang itu.


“Sehebat itukah ‘dia’?” tanya Cio San.


“Jauh lebih hebat dari yang bisa kau bayangkan,” jawab orang itu. Ia melanjutkan, “Kau silahkan lewat. Aku mengaku kalah.”


Di dunia ini yang mampu menghindari sabetan pedangnya dengan cara demikian, mungkin hanya orang di depannya ini saja. Pesilat yang sangat ahli dan rendah hati, tentu akan mampu menilai kemampuan dirinya dan kemampuan orang lain.


Cio San menjura dan mengangkat tangan tanda menghormat. Tidak mudah bagi orang Kang Ouw mengaku kalah dengan lega hati. Biasanya, mereka memilih mati daripada mengaku kalah. Karena itulah, mengaku kalah justru jauh lebih berat daripada kematian.


Oleh karena itu, Cio San mau tidak mau, harus kagum dan merasa hormat sekali pada orang di depannya ini.


“Bolehkah cayhe yang hina mengetahui nama Ciokhee yang terhormat?” tanya Cio San sopan.


"Namaku Gan Tiat Hu.”


“Ahhh…” Hanya itu yang keluar dari mulut Cio San.


Ia pernah mendengar nama ini. Seorang pendekar muda yang jurus-jurus pedangnya begitu memukau, sampai-sampai dijuluki si Pedang Bayangan. Orang ini menghilang 3-4 tahun yang lalu. Ternyata berdiam diri di sini.


Entah apa yang membuatnya menghamba di sini selama 3 tahun?


Entah SIAPA yang bisa membuatnya menjadi seperti itu?


Membayangkan saja, Cio San sudah bergidik.


“Terima kasih atas kemurahan hati Tayhiap. Boanpwe (saya, yang lebih muda) tak akan melupakan.”


Ia memandang Cio San lama, dan berkata, “Kau berhati-hatilah. Atau kau akan berakhir seperti aku pula.”


“Terima kasih atas petunjuk Tayhiap.” Ia menghormat dengan tulus.


Orang yang tulus, ketulusannya pasti akan terasa sampai ke jiwa. Menggetarkan bagian terdalam sanubari. Sebaliknya, orang yang tidak tulus, kebusukannya akan membuat kulit merinding dan nafas menjadi sesak. Amat sangat mudah membedakannya.


Saat melihat ketulusan dalam penghormatan Cio San, mau tidak mau, orang itu tersentuh juga hatinya.


“Jika kau kalah, bunuhlah dirimu. Itu jauh lebih baik,” katanya sungguh-sungguh.


“Silahkan.”


Cio San lalu melanjutkan perjalanan. Jalanan setapak yang mendaki itu kini semakin menyempit namun tampak lebih indah. Ia berjalan beberapa li, menikmati keindahan alam bukit itu. Menikmati kesegaran udaranya. Cio San merasa, ia seperti melayang-layang oleh udaranya.


Keadaan di sini, bahkan udara pun memabukkan!


Beberapa lama berjalan, ia sudah melihat bayangan orang lagi di depannya. Ia duduk di bawah rimbunan bambu. Tangannya memegang sebuah tongkat dari bambu pula.


“Kau lebih baik kembali,” kata orang itu begitu melihat Cio San mendekat.


Orang ini pun tampan sekali. Pakaiannya sederhana dan ringkas. Walaupun agak kotor, malah membuat ia terlihat gagah dan jantan. Kumis dan jambang tipis di wajahnya, membuatnya terlihat garang.


“Satu langkah lagi, aku akan menyerangmu.” Orang itu memperingatkan.


Cio San tetap melangkah.


Tongkat bambu itu kemudian mengincar dadanya. Padahal jarak mereka terpisah cukup jauh. Tapi tiba-tiba bambu itu sudah mengincar ulu hatinya. Serangan ganas ini tidak hanya cepat, melainkan membingungkan, karena bayangan tongkat seperti ada ribuan.


Jurus pertama dihindari Cio San dengan bergeser ke samping. Jurus kedua, tongkat bambu tahu-tahu mengincar kepalanya. Cio San mundur, tetapi tongkat itu tetap mengincar kepalanya. Ia mengangkat tangan kirinya. Bunyi suara ular derik mulai terdengar dari telapak tangannya. Ia menangkis tongkat itu dengan tangan kirinya itu.


Tak disangka-sangka, tongkat itu pecah berkeping-keping, seolah-olah menjadi ribuan jarum yang seluruhnya mengarah kepadanya. Cio San sungguh kaget, karena pecahan-pecahan bambu yang tak terhitung jumlahnya itu sudah menghunjam seluruh tubuhnya. Jika pecahan-pecahan itu sampai menembus tubuhnya, tentunya akan


sangat berbahaya jika sampai masuk ke aliran darah.


Kejadian ini berlangsung sepersekian detik.


Cio San memutar tubuhnya bagai gasing. Putaran itu demikian cepat dan dahsyat, bagai angin ****** beliung yang menghisap jutaan pecahan bambu kecil-kecil itu. Begitu pecahan bambu terhisap oleh gerakan tubuh Cio San, dengan amat cepat dan tak diduga-duga, jarum-jarum itu sudah berbalik kembali menyerang si empunya tongkat bambu.


Kembalinya bahkan lebih dahsyat dari datangnya.


Tapi si empunya tongkat bambu juga sudah siap, di tangannya kini terdapat tongkat besi. Rupa-rupanya di dalam tongkat bambu tadi, tersimpan sebuah tongkat besi. Ia memutar-mutar tongkat besi itu sehingga serangan balik pecahan bambu itu punah seketika.


Putaran tongkat besi ini terasa jauh lebih berat dan berbahaya daripada tongkat bambu tadi. Dalam saat yang hampir bersamaan, putaran tongkat ini sudah mengincar dagu, ************, dan perut Cio San. Dengan menggunakan tangan kirinya yang berbunyi derik, Cio San menangkis serangan-serangan itu.


Trang! Trang! Trang!


Terdengar suara nyaring bagaikan besi bertemu besi. Menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Gerakan kedua orang ini sama-sama cepat. Tongkat itu sudah seperti menggulung Cio San dari segala arah. Tapi dimana tongkat itu menyerang, selalu terdengar suara ular derik yang menghalaunya. Suaranya sangat-sangat bising dan


memekakkan.


Gulungan tongkat itu, entah bagaimana, kemudian berubah menjadi gulungan rantai yang kini telah mengikat seluruh tubuh Cio San. Rantai-rantai besi ini mengikatnya sungguh kuat, sampai-sampai ia tak dapat bergerak. Ujung rantai yang berada di tangan si penyerang itu kemudian menghentak sehingga membuat Cio San sukar


bernafas.


Keadaan sangat genting!


Cio San terperangkap rantai-rantai besi yang mengikatnya sangat kuat.


Ia hanya bisa menutup mata. Merasakan tulang-tulangnya remuk oleh cengkeraman rantai besi yang amat kuat itu. Siapapun tak akan mungkin lolos dari cengkeraman rantai besi itu. Rantai itu memang dibuat dari bahan khusus yang tidak dapat dihancurkan.


Detik-detik kematian telah membayanginya. Serangan ini begitu dahsyat. Begitu tiba-tiba. Begitu kuat. Begitu sukar dihindari. Tak berapa lama lagi, tulang-tulang Cio San akan remuk seluruhnya.


Tapi kemudian sesuatu terjadi.


Entah bagaimana, tubuh Cio San sudah melolos melayang ke atas dan lepas dari cengkeraman besi itu. Seperti jika sebuah benda licin yang berada di telapak tanganmu. Saat kau mencoba menggengam erat, benda licin itu pasti meluncur keluar lepas dari genggaman tanganmu. Seperti itulah kejadian Cio San melepaskan diri dari rantai-rantai itu.


Si penyerang terbelalak melihat kenyataan ini. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat gerakan demikian.


“Kau... Kau bisa ilmu melemaskan tulang?” tanyanya.


“Cayhe baru saja tahu. Apakah ilmu itu namanya ‘Melemaskan Tulang’? Lucu sekali,” katanya sambil tersenyum-senyum.


Ia baru saja lolos dari kematian. Tapi wajah dan senyumnya seperti menunjukkan jika dia baru saja bersenang-senang.


Ilmu Melemaskan Tulang adalah ilmu kuno yang dianggap sudah punah. Orang yang menguasai ilmu ini mampu membuat tulang-tulangnya lemas seperti kapas. Jika menggunakan ilmu ini, orang bisa lolos dari lubang yang amat sempit, karena tulang-tulangnya dapat ia atur sedemikian rupa. Cio San tidak tahu sejak kapan dia memiliki ilmu ini. Pada hakekatnya, ia baru saja menguasainya.


Saat dicengkeram oleh rantai besi itu, Cio San lalu mengosongkan segala pikirannya. Ia malah mengosongkan tubuhnya dari segala energi yang selama ini dimilikinya. Kini tubuhnya seperti kehilangan daya, namun pemusatan pikirannya yang sangat kuat, membantunya untuk terus bisa berdiri. Ia bahkan sudah bisa bergerak-gerak, tanpa menggunakan tenaga sama sekali.


Keadaan seperti ini amatlah sangat sulit. Bagaimana mungkin orang bisa bergerak tanpa menggunakan tenaga? Ketahuilah, bahwa selalu ada dua macam tenaga yang ada di dalam dunia ini. Yaitu ‘Im’ dan ‘Yang’. Kedua tenaga ini berbeda namun saling bertautan dan saling membutuhkan. Seperti ‘Gelap’ dan ’Terang’, ‘Api’ dan ‘Air’, ‘Panas’ dan ‘Dingin’.


Keadaan Cio San ini terjadi, karena ia menggunakan pemahaman ‘Tenaga’ dan ‘Tanpa Tenaga’. Karena setiap ada ‘tenaga’, pasti juga akan memunculkan ‘tiada tenaga’ sebagai lawan sekaligus pasangan dari ‘tenaga’.


Sebagaimana jika kau bernafas. Saat kau menghela nafas, maka paru-parumu akan sesak oleh udara. Namun saat kau membuang nafas, dan paru-parumu kosong, kau seperti merasa dadamu itu sesak juga. Karena dorongan ‘ketiadaan’ udara itulah, yang membuat dadamu terasa sesak. Bahkan sesaknya jauh lebih menyesakkan daripada saat paru-parumu terisi udara.


Cio San membiarkan pikirannya bebas oleh teori-teori ilmu silat. Oleh jurus-jurus. Oleh hafalan-hafalan. Sehingga ia dengan mudah menangkap saripati alam. Apapun yang ada di alam bisa menjadi ilmu silat.


Tenaga yang menghilang dari tubuhnya itu, malah menghisap organ-organ tubuhnya. Cio San merasa sesak sekali. Namun ia mencoba bertahan dalam konsentrasinya. Akhirnya ia merasa tubuhnya seperti menciut. Dan memang tubuhnya menciut. Tulang-tulangnya menjadi lentur, organ-organ tubuhnya, walaupun tetap berfungsi dengan baik, juga menjadi sangat lentur.


Hal ini mampu ia lakukan, karena ia telah memahami Thay Kek Kun dan seluk beluk tubuh ular. Dengan memadukannya, Cio San berhasil menguasai ilmu Melemaskan Tulang hanya dalam beberapa detik saja.


Kebanyakan hal-hal yang dianggap orang lain sulit, adalah hal-hal yang bagi sebagian orang sangat gampang. Begitu pula sebaliknya. Kekuasaan Tuhan begitu dahsyat, sampai-sampai kita selalu terheran dan tertunduk kagum.


Jika ada orang yang melihat kejadian ini, tentulah akan terkagum-kagum, karena Cio San berhasil memunculkan sebuah ilmu yang telah hilang di dunia persilatan, yaitu ilmu melemaskan tulang. Ini sebenarnya bukan ilmu silat. Tetapi ilmu ini diciptakan oleh seorang ksatria dari Persia bernama Hasan bin Shabah.


Hasan bin Shabah ini adalah pemimpin dan pencipta pasukan bernama ‘Hashashin’ yang terkenal dengan ilmu-ilmu sakti mereka. Pasukan ini sangat sakti sehingga tiada seorang pun yang berani menyebut nama mereka.


Ilmu ini lalu berkembang ke negeri Tionggoan, dibawa oleh para penyebar agama Manicheisme atau agama penyembah api. Di Tionggoan, pemeluk agama ini mendirikan partai persilatan bernama "Beng Kauw" (Agama Terang). Yang kemudian pecah dan berubah menjadi Ma Kauw (Agama Ma, dari kata "Manicheisme"}. Yaitu partai yang sekarang diketuai oleh Cio San. Sebutan Ma Kauw ini kemudian dipelesetkan oleh orang dunia persilatan menjadi sebuatan "Mo Kauw" atau "Agama Iblis".  Ilmu Melemaskan Tulang ini kemudian punah, karena tidak ada seorang pun yang berniat mempelajarinya lantaran dianggap bukan ilmu silat.


“Si.. siapa namamu..?” tanyanya terbata-bata.


“Nama boanpwe (saya yang muda) adalah Cio San. Cianpwe (Anda yang lebih tua) bukankah adalah Souw Hat Ta, si Raja Ribuan Senjata?”


Tentu saja orang-orang pernah mendengar nama Souw Hat Ta, si Raja Ribuan Senjata. Ia sangat terkenal dengan silatnya yang sakti, serta senjatanya yang bisa berubah-ubah menjadi bermacam-macam. Dalam seratus jurus, senjatanya bisa berubah menjadi seratus macam juga.


Orang ini namanya sudah sejak 10 tahun lalu menggetarkan dunia. Namanya sudah sejajar dengan pendekar-pendekar utama. Hari ini, bertemu di sini sebagai penjaga jalan, siapapun yang mendengarnya pasti tak akan percaya.


“Cayhe (saya) belum pernah mendengar nama Tayhiap (Pendekar Besar). Maafkan sempitnya pengetahuan cayhe,” kata Souw Hat Ta menjura.


Lanjutnya, “Kalau boleh tahu, Tayhiap orang partai mana? Ataukah hanya pendekar kelana biasa?”


“Harap Cianpwe (Anda yang lebih tua) tidak memanggil boanpwe (saya yang lebih muda) dengan sebutan Tayhiap. Jika dibandingkan dengan Cianpwe, boanpwe hanya anak kemarin sore,” kata Cio San sambil menjura pula.


“Tidak berani… tidak berani…,” kata Souw Hat Ta. “Tidak ada anak kemarin sore yang bisa menghindar dari rantai-rantaiku. Maaf, Tayhiap belum menjawab pertanyaan cayhe.”


“Oh, maaf. Boanpwe adalah Ma Kauw-kauwcu yang baru,” jawab Cio San sambil menjura dan tersenyum.


“Kau? Mo Kauw-kauwcu?”


“Benar, Cianpwe. Boanpwe tahu-tahu saja diangkat sebagai Ma Kauw-kauwcu. Tanpa sempat menolak dan melarikan diri,” tawa Cio San.


“Berarti kau sudah menguasai ilmu Menghisap Matahari?”


“Boanpwe pernah sekilas melihatnya dua kali,” jawab Cio San.


“Dan kau sudah menguasainya bukan?” tanya Souw Hat Ta.


“Boanpwe sudah paham intinya. Tapi jika dibilang menguasai, tentu masih jauh sekali.”


Souw Hat Ta mengangguk-angguk, ia menjatuhkan diri lalu berkata, “Terima kasih telah memberi ampunan kepadaku.”


“Ampunan apa? Cianpwe, harap berdiri. Boanpwe tidak pantas menerimanya,” kata Cio San. Ia merasa sungkan pendekar besar ini berlutut di hadapannya.


“Sesungguhnya Tayhiap dapat mengalahkanku dengan mudah dengan menggunakan ilmu Menghisap Matahari. Tapi Tayhiap malah mengunakan ilmu yang lain,” kata Souw Hat Ta.


“Ah…, ilmu itu terlalu ganas. Boanpwe sendiri memang belum menguasainya. Apalagi boanpwe telah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak membunuh orang lagi.” Ia berkata begitu sambil matanya berkaca-kaca. Terbayang kejadian menyeramkan saat ia ‘menghancurkan’ tubuh puluhan penyerangnya menjadi tulang belulang dan


potongan daging.


Souw Hat Ta berdiri dan berkata, “Tayhiap sungguh berbakat dan cerdas. Mengapa mau datang kesini?”


“Hanya karena ingin,” kata Cio San enteng.


Ia melakukan apa-apa tanpa pernah merasa terpaksa. Tapi jika ia sudah tidak mau, ia tak akan melakukannya walaupun kau taruh pedang di tenggorokannya.


Orang seperti ini walaupun jarang, tetap saja ada menghiasi bumi. Orang-orang seperti ini membuat hidup terasa jauh lebih menarik.


“Baiklah. Cayhe hanya bisa mengucapkan selamat jalan. Apapun yang ingin Tayhiap lakukan bersama ‘dia’, adalah bukan urusan cayhe.”


“Terima kasih, Souw-tayhiap. Boanpwe mohon diri.” Cio San menjura dan melanjutkan perjalanan.


Di depan bukit masih terlihat jauh sekali. Jalan menanjak yang curam seperti ini, tentulah sukar dilalui, jika kau tak mempunyai keinginan.


Keinginan adalah sumber kekuatan, tapi juga bisa menjadi sumber malapetaka.


Yang manakah yang akan ia temui nanti di ujung perjalanannya?