Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 45: Surga atau Neraka?



Jalan setapak ini berakhir pada sebuah gerbang. Gerbang yang tidak terlalu besar. Tidak ada tulisan apa-apa pada gerbangnya. Warna kuning cerah di gerbang itu, seperti membuatnya menyatu dengan kecantikan alamnya yang mempesona.


Cio San terkesima. Tempat ini begitu indah namun begitu sunyi. Tiada suara seorang pun. Ia memasuki gerbang dengan enteng, walaupun dalam hatinya ia tahu, akan ada ribuan bahaya yang harus diterjangnya.


Tak jauh dari gerbang, tepat di tengah-tengah jalan, terdapat seseorang duduk bersila. Kepalanya gundul. Bajunya berkain kasar dan berwarna kuning cerah. Sekali lihat, siapapun tahu, orang yang duduk itu adalah seorang Hwesio (Bhiksu).


Matanya terpejam. Tubuhnya penuh peluh keringat. Tampaknya sudah sejak tadi ia duduk di tengah jalan. Cio San berjalan mendekatinya dan menyapanya.


“Salam hormat,” ia menjura.


Sang Hwesio membuka mata. Tatapannya teduh. Tapi sinar matanya mencorong. Di dunia ini, mungkin hanya dia seorang yang matanya teduh namun sekaligus mencorong.


Ia hanya memandang Cio San dan berkata, “Siapa yang sudah sampai di tempat ini, tentulah bukan orang sembarangan.”


Ia bangkit berdiri. Herannya, gaya berdirinya sangat aneh. Seperti melayang saja. Tahu-tahu, ia sudah berdiri tegak. Hal ini menunjukkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) nya yang sangat tinggi.


Umurnya kira-kira 40 tahunan. Tapi entah kenapa, terlihat begitu tua. Semua orang yang Cio San temui di sini, sepertinya memang seperti ini. Berusia masih muda, tapi terlihat begitu tua. Pendekar-pendekar gagah, tapi seperti kehilangan semangathidup.


Si ‘dia’ memang sangat menakutkan. Di kolong langit ini, yang bisa menghilangkan semangat hidup lelaki gagah, tiada lain tiada bukan, memang hanya wanita. Hanya wanita.


Jika empat pesuruh wanitanya saja sudah secantik itu, apakah kau bisa membayangkan, bagaimana cantiknya si wanita tercantik di dunia itu?


Jika tiga penjaga jalannya saja sudah segagah dan sesakti ini, apakah kau bisa membayangkan, betapa sakti ilmu silatnya?


“Kusarankan Ciokhee untuk pulang,” sang Hwesio berkata dengan sopan.


“Cayhe datang kesini karena diundang, mengapa harus diusir pulang?” tukas Cio San.


“Ia mengundangmu?”


“Cayhe tidak berani berbohong,” jawab Cio San.


“Hmmm…. Walaupun ia mengundangmu, perintah yang kuterima darinya adalah, siapa saja yang lewat sini, harus melawanku dulu.”


“Apa boleh buat. Bertemu dengan ‘dia’ memang harganya harus mahal.”


“Awas serangan!” teriak sang Hwesio.


Pukulannya berat. Gerakannya sederhana. Jurusnya pun jurus biasa. Tapi serangan itu bagi Cio San adalah serangan pertama seumur hidupnya yang sangat susah dihindari. Ia bergerak mundur, tapi tangan sang Hwesio sudah mencengkeram tangannya. Ia menarik tangannya, tapi sudah terpegang. Kaki si Hwesio melakukan gerakan


sapuan, dan Cio San tersapu kakinya. Kecepatan gerakannya sungguh tak terbayangkan. Bahkan Cio San pun tak sanggup menghindarinya.


Begitu Cio San terjengkang, si Hwesio mengangkat kakinya untuk menginjak hancur dada Cio San. Begitu kaki itu menghunjam dadanya, tenaga dahsyat dari kaki itu seperti terserap dan terperosok ke dalam pusaran tenaga yang jauh lebih dahsyat.


“Thay Kek Kun?!” sang Hwesio terkejut.


Kedahsyatan tenaga injakannya tadi sudah hilang entah kemana. Tubuhnya pun malah seperti terhisap oleh Cio San. Mau tidak mau, ia terpaksa jatuh berlutut. Dengan segenap tenaganya, ia menyerang dengan menggunakan jurus Cakar Harimau.


Cio San dengan melakukan gerakan berputar, lolos dari serangan cakar itu. Gerakan tubuhnya yang memutar itu malah melempar sang Hwesio beberapa tombak. Untunglah dengan bersalto, ia berhasil menyelamatkan kepalanya yang hampir membentur bebatuan.


“Kau murid Bu Tong-pay?” tanya sang Hwesio.


“Bekas murid,” kata Cio San sambil tersenyum.


“Apa yang kau lakukan sampai Bu Tong-pay mengeluarkanmu?”


“Tidak ada.”


Si Hwesio hanya mengangguk-angguk. “Awas serangan!”


Gerakannya sungguh sangat cepat. Cakar Harimau yang datang bertubi tubi seperti hendak mencabik-cabik tubuh Cio San. Tapi Cio San lebih cepat. Gerakan tangannya yang seperti ular, malah membelit lengan sang Hwesio dan mengunci seluruh gerakannya.


Si Hwesio tak percaya. Bukankah tadi Cio San kalah cepat darinya? Kenapa sekarang jauh lebih cepat? Tapi ia tak ada waktu lagi untuk berpikir. Kakinya sudah naik mengincar dagu Cio San. Tapi kaki Cio San lebih cepat. Dengan gerakan sapuan yang sama dengan yang tadi dilakukan si Hwesio, ia sudah menyapu kaki Hwesio itu.


Sang Hwesio pun jatuh terpelanting. Ia tak pernah menyangka akan jatuh. Ia lebih tak menyangka lagi akan jatuh oleh jurusnya sendiri.


Tapi Cio San berhenti. Ia tidak menginjak dada si Hwesio seperti awal pertama Hwesio itu menginjak dadanya. Ia malah mundur dan tersenyum, lalu berkata, “Hari ini mata cayhe terbuka. Ilmu silat Siau Lim-pay memang tiada bandingannya.”


Ia berkata dengan tulus, tapi si Hwesio malah marah.


“Apa maksudmu menghina ilmu kami?! Aku sudah kalah, tak perlu lagi kau tambah dengan hinaan!” teriaknya sambil bangkit berdiri.


“Harap Cianpwe jangan salah paham. Cayhe sungguh benar-benar memuji. Ilmu Siau Lim-pay sangat sederhana, namun intisari silat sudah terangkum dan tercakup dengan lengkap.”


Melihat ketulusan di mata Cio San, mau tidak mau, kemarahannya surut juga.


“Cianpwe jatuh oleh jurus sendiri, itu jelas bukan hal memalukan,” lanjut Cio San menambahkan.


Mendengar ini, si Hwesio malah bersemangat lagi. “Jika kau mengalahkanku dengan menggunakan jurusmu sendiri, aku baru mengaku kalah.”


“Baiklah. Awas serangan!”


Kali ini Cio San yang bergerak duluan. Tangan kirinya sudah mengeluarkan suara derik. Tangan kanannya sudah menyerang ke depan dengan membentuk moncong ular.


Melihat serangan ini, si Hwesio kaget, namun ia tidak menjadi panik. Ia menghindar dengan bergerak ke samping. Tapi entah bagaimana, tangan kanan Cio San juga sudah ada di sana. Ia mencoba menangkis tangan Cio San, tapi tangan Cio San malah membelit lengannya seperti ular. Tangan Cio San sangat lemas bagai tak bertulang, membelit lengan kanan Hwesio.


Karena merasa tangan kanannya sudah terkunci, ia menyerang dengan tangan kiri. Tangan yang berbentuk cakar itu sudah mengincar kerongkongan Cio San. Tapi suara ular derik ternyata sudah ada di sana, jauh sebelum cakar macan tiba. Tangan kiri Cio San sudah menangkap cakar itu, meremukkannya.


Cio San memang seperti tidak memberi ampun. Ia heran, mengapa sejak tadi serangan Hwesio ini sungguh ganas. Padahal seorang Hwesio haruslah berwelas asih dan mengutamakan pengampunan. Itulah sebabnya, kali ini Cio San pun tidak ragu-ragu untuk memberinya pelajaran.


Tangan kanan si Hwesio sudah terkunci, tangan kirinya sudah remuk. Kini ia hanya punya kepala. Kepalanya ia hantamkan ke wajah Cio San. Ini adalah gerakan bunuh diri yang mengajak lawan mati bersama.


Dengan kekuatannya, Cio San menarik kedua lengan Hwesio itu kebawah, sehingga mau tidak mau, Hwesio itu tertarik ke bawah. Hal ini membuat serangan kepalanya tidak mengenai kepala Cio San, melainkan mengenai dada.


Kepala yang keras itu seperti menghantam bantal yang lembut. Tapi bantal lembut itu seketika menjadi putaran angin topan dan pusaran air bah. Ia merasa kepalanya terhisap ke dalam pusaran yang sangat kuat ini.


Kedua tangan Cio San yang sedang memegang tangan Hwesio lalu membuat gerakan memutar. Gerakan inilah yang menyelamatkan nyawa si Hwesio. Karena saat itu, kepalanya sedang terserap pusaran tenaga dari dada Cio San. Jika tubuh si Hwesio tidak ikut terputar juga, maka bisa-bisa kepala itu copot dari lehernya.


Begitu tubuhnya memutar, si Hwesio sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Pusaran tenaga ini terlalu kuat, sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah mengikutinya saja. Bagitu badan Hwesio itu terputar di udara, dengan sedikit gerakan telapak tangan, Cio San menyentuh tubuh si Hwesio, dan langsung membuyarkan tenaga putaran yang dahsyat itu.


Thay Kek Kun memang tak ada bandingannya di dunia ini!


Si Hwesio jatuh terduduk. Tangannya remuk. Kepalanya terguncang. Ia merasa bumi berputar di sekelilingnya. Ia muntah darah. Bercampur dengan muntah makanan di dalam perutnya. Perlahan-lahan ia mengatur nafasnya dan menemukan kesadarannya kembali.


“I… ilmu ap.. pa itu ta…di?” tanyanya.


“Ilmu ciptaanku sendiri,” jawab Cio San. Ia melanjutkan, “Kau sudah mengaku kalah?”


“Aku mengaku,” jawabnya.


Cio San pergi meninggalkannya tanpa berkata-kata lagi. Entah kenapa, hatinya sebal melihat Hwesio ini. Selain karena serangannya yang ganas, mungkin juga Cio San merasa, seorang Hwesio dari Siau Lim-pay tidak pantas berada di tempat ini menjadi hamba si ‘dia’.


Cio San berjalan lambat sambil berpikir, “Apa yang menyebabkan seorang Hwesio bisa menjadi seperti ini? Begitu cantikkah ‘dia’? Sampai seorang Hwesio pun bisa jatuh ke dalam genggamannya.”


Lelaki yang jatuh karena cinta, adalah lelaki yang menyedihkan.


Tetapi jika ada yang menertawakannya, orang yang menertawakan itu sungguh jauh lebih menyedihkan lagi. Karena orang yang terjatuh itu masih memiliki perasaan.


Maka kini Cio San sudah tidak lagi marah kepadanya. Bagaimana mungkin kau marah kepada pria yang hatinya terbelenggu cinta? Cio San pun hanya bisa ikut sedih kepadanya.


Dari belakang terdengar suara Hwesio itu,


“Jika kau bertemu ‘dia’, kau akan tahu mengapa aku seperti ini.”


Suaranya dalam dan bergetar. Entah getaran itu karena cintanya yang dalam, atau karena rasa takutnya. Tak pernah ada orang yang mengerti.


Dari gerbang itu, terlihat taman yang indah. Berbagai macam bunga berbaris rapi dan wangi. Perempuan yang cantik, memang kadang menularkan kecantikan kepada benda-benda yang dimilikinya. Begitulah kecantikan yang sempurna. Jika ia memakai baju, baju itu akan terlihat cantik. Jika ia mengikat rambutnya, ikat rambut itu juga terlihat cantik. Bahkan jika ia tidur di atas ranjang, entah bagaimana, ranjangnya ikut cantik juga.


Begitulah juga rumah peristirahatan si ‘dia’ ini. Tempat ini sebegitu indah dan cantiknya, sehingga bahkan jika kau letakkan bangkai sapi di halamannya, bangkai sapi itu juga akan terlihat indah.


Rumah yang akan ditujunya masih terlihat jauh. Taman bunga yang cantik seperti menyembunyikan sesuatu. Taman ini saking luasnya, sampai-sampai Cio San merasa tersesat. Telinganya yang tajam sudah mendengarkan banyak hal, jauh sebelum ia sampai di taman ini. Hal yang sangat mengerikan bagi telinganya.


Suara desahan dan erangan. Pria dan wanita mendesah dan mengerang. Yang paling menakutkan adalah, bahwa jumlah orang yang mendesah dan mengerang itu bahkan tidak bisa dihitungnya. Begitu ia memasuki taman bunga itu, terlihatlah pemandangan yang menusuk matanya.


Puluhan, bahkan ratusan, pasangan lelaki dan wanita sedang bercinta dengan santainya. Tubuh mereka tak berbalut sehelai benang pun. Masing-masing melakukannya tanpa malu-malu, bahkan tanpa sadar. Orang-orang ini, kalau bukan karena mabuk, tentu karena gila.


“Tuan, mari bergabunglah dengan kami. Selamat datang di surga!” kata seorang perempuan yang sangat cantik. Entah ia sedang berkata, atau sedang mendesah.


Ratusan orang bercinta di taman bunga tanpa malu-malu!


Bahkan saking merangsangnya, sampai-sampai kau akan muak melihatnya.


Apa yang terjadi dengan orang-orang ini?


Manusia yang terlalu memuja kebebasannya, memang tak lama kemudian akan menjadi hewan.


Ilmu silat sehebat apapun, mungkin akan Cio San hadapi. Tetapi pemandangan seperti ini cukuplah sekali seumur hidup saja baginya.


Taman itu sangat luas. Di sepanjang jalan, erangan dan desahan-desahan itu bagai menusuk-nusuk jantungnya. Ia sebisa mungkin menahan diri. Lelaki manapun yang melihat pemandangan seperti ini, pasti akan ingin bunuh diri. Bunuh diri karena tidak ingin terlibat, atau bunuh diri karena menyesal tidak terlibat.


Ia memusatkan pikiran kepada tujuannya. Rumah di depan sana. Masih jauh. Masih sangat jauh. Apakah ia akan sampai? Ataukah ia akan berhenti di tengah jalan? Terpikat bujuk rayu perempuan-perempuan cantik itu.


Tadi, yang mengundangnya ke sini, adalah 4 wanita cantik. Saking cantiknya mereka, bahkan tiada seorang pun penulis maupun pelukis, yang sanggup menuliskan ataupun melukiskannya. Tapi yang tadi itu ‘cuma’ empat. Sedangkan kini?? Kecantikan ‘seperti tadi’, berjumlah ratusan!! ….bertebaran di taman bunga yang indah, dan…. sedang bercinta pula!!!!


Lelaki-lelaki yang di sana pun begitu tampannya. Sampai-sampai, bisa membuat lelaki yang lain pun jatuh cinta kepada mereka!.


Orang-orang yang sedang bercinta di taman ini, ada yang berpasangan bahkan ada pula yang sendirian. Perempuan-perempuan yang sedang sendirian inilah, yang sedari tadi menggoda dan mengajak Cio San untuk bergabung.


Andaikan kau punya hati yang terbuat dari batu sekalipun, akan luluh menjadi debu jika kau mendengar suara mereka, melihat wajah mereka, dan merasakan kehangatan mereka.


Bagaimana Cio San tidak?


Satu-satunya yang menguatkan hatinya adalah, cintanya kepada Mey Lan… Terbayang Mey Lan yang tertawa saat Cio San bercanda, yang menangis saat melepas kepergiannya, dan yang mungkin kini sedang menanti kedatangannya.


Hanya kesetiaan dan kekuatan cinta yang membuat lelaki bertahan terhadap apapun.


Rumah itu terlihat dekat, tapi perjalanan terasa sangat panjang dan jauh sekali. Ia kini bertanya-tanya, mengapa tempat seindah ini menyimpan begitu banyak kejutan yang mengerikan?


Inikah surga?


Atau neraka?


Satu hal yang pasti. Sang penguasa istana ini, sedang menunggunya!