
“Orang yang berpikiran luas, memang tidak boleh menyempitkannya dengan prasangka-prasangka. Aku sungguh kagum.” Sekali lagi sang Kauwcu menjura kepada Cio San. Dan diikuti oleh para anggota Ma Kauw yang lain.
Cio San pun tersenyum ramah dan membalas hormat mereka. Diam-diam dalam hati, ia memutuskan untuk begitu saja memperlihatkan dan menceritakan pemikiran-pemikirannya. Ia bukan orang yang senang disanjung. Sejak dulu ia memang tidak pernah disanjung. Orang yang tidak pernah disanjung, seharusnya senang ketika ia disanjung. Tapi Cio San tidak. Memang, ada sementara orang yang merasa diri mereka tidak pantas disanjung-sanjung. Cio San adalah salah satunya.
“Ayo kita semua masuk kembali ke dalam. Bun Tek Thian, coba tolong kau urus ketiga mayat itu,” perintah sang Kauwcu.
“Siap, Ketua!” semua menjawab serentak.
Kapal bergerak dengan lambat. Hari sudah mencapai tengah malam. Nahkoda memutuskan untuk mampir ke dermaga terdekat untuk beberapa keperluan. Cio San lega juga, karena dia tidak begitu suka naik kapal.
Sang nahkoda masuk ke dalam bangsal dan dengan sedikit teriak ia berkata,
“Siapapun tidak boleh turun ke darat. Ingat! Kita sedang dalam pelarian. Oleh karena itu, kalian harus menjaga agar orang luar jangan sampai tahu. Jangan sampai ada orang yang curiga dengan perjalanan kita.”
Semua mengangguk mengiyakan.
Kapal merapat ke dermaga. Sudah hampir sejam lamanya. Karena bosan menunggu, Cio San memutuskan untuk keluar dan duduk-duduk di tempat tadi dia duduk bersama Tio Sim Lin. Baru beberapa jam saja ia disana, tempat itu sudah jadi tempat duduk kesukaannya. Dari situ ia bisa memandang ke segala arah. Ia paling suka di tempat seperti itu.
Ketika sedang duduk melamun, telinganya yang tajam mendengarkan sebuah percakapan di bawah. Dua orang sedang bercakap-cakap di darat. Tapi karena posisi mereka lumayan dekat dengan kapal, Cio San bisa mendengar obrolan mereka.
“Apakah kau yakin mayat yang kau temukan adalah mayat Tuan Hong?”
“Saya yakin sekali, saya sudah kenal beliau lama. Saya tidak mungkin salah.”
“Ah, kasihan sekali.”
“Saya juga menemukan beberapa mayat yang lain.”
“Oh ya? Siapa saja?”
“Saya tidak kenal, tapi mayat-mayat itu telah dibawa ke rumah Can-cengcu. Kalau Tuan mau lihat, saya bisa mengantar Tuan ke sana!”
“Baiklah. Ayo.”
Mendengar percakapan ini Cio San terhenyak. Pasti mayat-mayat itu ada hubungannya dengan mayat yang mereka temukan barusan. Ternyata ada banyak korban. Dan dunia Kang Ouw pasti akan segera heboh. Dalam hati ia menyesalkan sekali hal ini.
Karena penasaran, ia memutuskan untuk membuntuti kedua orang itu. Cio San tidak peduli lagi dengan peringatan nahkoda kapal tadi. Toh dia bukan anggota Ma Kauw. Dalam sekali loncat, ia sudah berada di darat. Ini kedua kalinya ia menguntit orang. Perasaan ini membuatnya malah semakin bersemangat.
Kedua orang yang dikuntitnya itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lumayan. Gerakan mereka ringan dan tangkas. Sudah pasti mereka adalah jagoan silat yang lumayan. Cio San mengikuti mereka dengan berhati-hati. Karena selain berusaha tidak ketahuan orang yang menguntit, ia juga berusaha agar tidak ketahuan oleh siapapun juga.
Ia mengikuti mereka menyusuri dermaga, keluar gerbang dermaga, dan kini memasuki kota. Sebuah kota yang ramai. Tapi karena hampir tengah malam, tidak terlalu banyak kegiatan yang ada. Cio San mengikuti kedua orang itu sambil menghafal-hafal keadaan kota dan jalan yang ia lalui. Masih ada beberapa warung dan penginapan yang buka. Cio San masih berusaha mengikuti kedua orang di depan.
Tiba-tiba, sebuah suara menegurnya dari belakang,
“Tuan, harap berhenti sebentar.”
Cio San terhenyak, suara itu tidak mungkin dilupakannya.
Ia menoleh. Si pemilik suara itu pun terhenyak.
“Liong-ko (Kakak Liong)! Apa kabar?” tanya Cio San ramah.
“San-te (Adik San)….” Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
Ia nampak tampan dan gagah sekali. Wajahnya masih menampakkan keterkejutan. Tapi ia segera bisa menguasai dirinya.
“Ternyata benar. Kukira aku salah mengenali orang. Tak kusangka bertemu di sini,” katanya.
“Aku juga, Liong-ko,” kata Cio San.
Beng Liong akhirnya bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”
“A…aku menguntit kedua orang di depan,” jawab Cio San. Ia kesulitan menjelaskan.
“Apapun urusanmu dengan kedua orang itu, maafkan aku harus menghentikanmu sekarang. Ada banyak hal yang harus kau jelaskan, San-te,” kata Beng Liong.
“Memang kukira, hanya kepadamulah aku bisa menjelaskan semuanya, Liong-ko.”
“Mulailah.” Ia tersenyum, tapi matanya memandang tegas.
Cio San menceritakan semua kejadian di Bu Tong-san. Tentunya ia tidak menceritakan penyamarannya sebagai A San di Lai Lai serta pertemuannya dengan Khu-hujin. Cio San menganggap hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan Beng Liong.
“Lalu kenapa kau membela anggota Ma Kauw dan menyerang Bu Tong Ngo Kiam (Lima Pedang Bu Tong)?” tanya Beng Liong.
“Aku hanya menganggap tidak adil jika 5 melawan 1. Apalagi Bun Tek Thian sudah tidak bisa melawan,” jelas Cio San.
“Sejak dulu Bu Tong-pay Ngo Kiam selalu berlima. Melawan 1 atau 1000 orang pun, mereka selalu berlima,” tegas Beng Liong.
“Dan apakah Liong-ko menganggap itu adil? Apalagi mereka menyerang orang yang sudah tidak bisa melawan.”
Beng Liong diam saja. Dalam hatinya ia tahu itu memang tidak adil.
Akhirnya ia berkata, “Lebih baik kau ikut saja denganku ke Bu Tong-san. Jelaskan semuanya kepada Ciangbun (Ketua).”
“Aku ingin sekali, Liong-ko. Tapi ada banyak hal yang harus kulakukan sekarang. Engkau apa masih percaya kepadaku?” tanya Cio San.
“Aku juga ingin sekali, San-te. Aku ingin sekali percaya kepadamu. Tapi urusan ini bukan urusan sepele. Hanya Ciangbun yang bisa memutuskan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi, San-te. Harap maafkan aku,” kata Beng Liong.
“Aku tak ingin melawanmu, Liong-ko.”
“Aku juga tidak, San-te. Maka kau ikutlah denganku. Luruskan semua ini di hadapan Ciangbunjin. Biar semua fitnahmu terhapuskan.”
Dalam hatinya, Cio San ingin sekali pergi bersama Beng Liong. Tapi mana mungkin ia bisa meninggalkan puluhan anggota Ma Kauw yang keracunan? Bagaimana ia bisa mengacuhkan fitnah yang dialami si Dewa Pedang? Ada banyak sekali kejadian yang membuat Cio San meyakinkan diri untuk melibatkan dirinya. Ini adalah urusan
besar. Ia melihat banyak sekali hubungannya dengan kejadian yang menimpa hidupnya sendiri.
“Sekali lagi maafkan aku, Liong-ko. Aku tidak bisa.” Ia menjura.
“Kalau begitu, harap kau maafkan aku. Aku terpaksa harus memaksamu, San-te. Kau tahu bahwa ini bukan keinginanku. Tapi perintah Ciangbunjin adalah membawamu ke Bu Tong-san.”
Mereka saling memandang. Mata bertemu mata. Mau tidak mau, mereka saling mengagumi. Yang satu tampan, gagah, dan berbudi luhur. Yang satu cerdas, bebas, dan menarik.
“Kudengar, ilmumu hebat sekali, San-te.”
“Masih jauh dari engkau, Liong-ko.”
Mereka diam mematung. Pertarungan dua orang yang mencapai tahap sangat tinggi dalam ilmu silat melibatkan semua hal. Tidak saja ilmu silat, melainkan suasana hati, ketenangan, cuaca, keadaan lingkungan, dan masih banyak lagi.
Kaki Beng Liong menekuk. Tangan kanan terbuka ke depan. Tangan kiri membentuk setengah lingkaran ke atas. Ini adalah kuda-kuda Thay Kek Kun!
Cio San tidak melakukan kuda-kuda sama sekali. Ia berdiri diam mematung.
“Anggap saja ini latihan biasa, San-te. Kalau kau kalah dalam 10 jurus, kau harus ikut denganku. Setuju?”
“Kalau aku yang menang?” tanya Cio San.
“Maka kau bebas pergi kemana yang kau suka. Seumur hidup aku tidak akan memaksamu lagi.”
“Baiklah, Liong-ko.”
Cio San berkata begitu tapi ia tetap berdiri mematung. Tidak ada kuda-kuda sama sekali.
Angin dingin menghembus. Harum tubuh Beng Liong yang terkenal itu terhembus, bahkan sampai memenuhi daerah di sekitar situ.
“Awas serangan pertama, San-te.”
Kata-kata itu baru terucap, sudah ada 5 pukulan yang ia lepaskan. Begitu cepat gerakannya, Cio San bahkan tidak sempat berkedip. Tapi ia tetap tenang. Kelima pukulan itu ia hadapi dengan sebuah elakan ringan.
Begitu tahu kelima pukulannya hanya mengenai bayangan, tahu-tahu Beng Liong telah melepaskan tendangan memutar. Entah bagaimana ia bisa melepaskan tendangan dalam posisi tubuh seperti itu. Karena tendangan biasanya dilepaskan dengan posisi tubuh condong ke belakang. Beng Liong bisa melepaskan tendangan saat
tubuhnya sedang condong ke depan!
Melihat kelihaian ini, Cio San kagum sekali. Jurus Beng Liong penuh perubahan dan spontanitas yang mengagumkan. Belum lagi kecepatannya sama sekali tidak di bawah siapapun. Angin yang dihasilkan oleh pukulan dan tendangan Beng Liong terasa hangat. Memperlihatkan tenaga dalamnya yang sangat tinggi.
Di pihak lain, Beng Liong pun tidak kalah kagum dengan kecepatan dan kelincahan Cio San. Elakan yang dilakukan Cio San sangat tepat dan efektif. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada gerakan tambahan.
“Kebakaran! Kebakaran!” terdengar teriakan orang-orang.
Teriakan itu masih jauh, tetapi telinga kedua orang ini sudah mampu mendengarkannya. Gerakan Beng Liong menjadi sedikit lambat. Mungkin karena terpengaruh teriakan itu.
“Kau mendengarnya, Liong-ko? Bagaimana kalau kita hentikan dulu pertempuran ini?”
tanya Cio San.
“Baiklah. Ayo kita lihat ada kejadian apa. Siapa tahu ada yang butuh pertolongan,” tukas Beng Liong.
Secepat kilat mereka melesat. Hanya menyisakan bayangan yang bergerak dengan sangat lincah. Masing-masing saling mengagumi ginkang yang lain. Cio San semakin berdebar hatinya ketika disadarinya kebakaran itu terjadi di dermaga. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan para anggota Ma Kauw.
Beng Liong tadi sempat mencegah Cio San untuk naik, karena ia melihat api sudah sangat besar. Tapi melihat Cio San yang sudah berada di atas kapal, Beng Liong pun turut naik. Keadaan di atas kapal sangat mengagetkan mereka berdua. Mayat ditumpuk-tumpuk di dalam bangsal besar, dan terbakar habis. Bau daging terbakar bercampur dengan asap dan bebauan lain yang sangat menusuk pernafasan.
Baru kali ini mereka melihat pemandangan sekejam dan semenyedihkan itu.
Cio San terpaku dan termenung. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ketika Beng Liong menyentuh pundaknya, dan mengajaknya pergi, ia pun sendiri menjadi terpaku.
Sebuah tulisan di tembok kapal kayu itu. Di ukir dengan pedang. Walaupun mulai terbakar api, terlihat dengan sangat jelas.
“HANCURLAH KALIAN MANUSIA IBLIS MO KAUW
JAYALAH BU TONG-PAY DAN DUNIA PERSILATAN !”
--
BU TONG-PAY BENG LIONG--
Kedua orang itu masih berdiri mematung. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Beberapa orang lain sudah naik ke atas kapal. Mereka pun tidak percaya atas apa yang mereka lihat. Pemandangan ini terlalu kejam dan terlalu tidak masuk akal.
Mereka masih sempat berusaha mencari-cari kehidupan di dalam kapal. Tetapi akhirnya menyerah dan melompat keluar. Kapal telah tenggelam hampir separuh, dan air telah mencapai lutut mereka.
Begitu sampai di darat, Beng Liong baru memperhatikan orang-orang yang tadi masuk dan ikut menolong di dalam kapal.
Sih Hek Tiauw, sang Rajawali Hitam. Beberapa orang lain adalah anak buahnya.
Can Siauw Liong, cengcu (kepala perkampungan) Liong Thian, beserta beberapa orang anak buahnya.
Mereka semua memandang hancurnya kapal yang tenggelam dengan sangat cepat itu. Tapi posisi mereka semua mengelilingi Cio San dan Beng Liong. Bisa terbang pun, mereka tidak akan mungkin lolos.
Orang-orang pun sudah sangat ramai melihat kejadian ini.
“Beng Liong-ciokhee (Tuan Beng Liong), bisakah Ciokhee menjelaskan apa yang terjadi di atas sana?” tanya Can Siauw Liong yang biasa dipanggil Can-cengcu.
“Boanseng (yang muda, panggilan untuk merendahkan diri sendiri) sendiri datang ketika api sudah sangat besar. Boanseng datang bersama adik seperguruan boanseng,” jawab Beng Liong
“Ini adik seperguruanmu? Siapa namanya?” tanya Can-cengcu.
“Nama boanseng, A San, Tuan,” jawab Cio San cepat. Menyebut nama asli nanti hanya akan menimbulkan masalah.
“Bisa kau jelaskan apa arti tulisan di tembok itu? Kami semua sudah membacanya.” Kali ini Sih Hek Tiauw yang bertanya.
“Kami berdua pun terkaget-kaget melihatnya. Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tidak mungkin kami percaya ada pemandangan sekejam itu,” jawab Beng Liong.
“Tapi itulah yang terjadi bukan? Setelah kuperiksa beberapa kamar, aku sangat yakin kalau itu memang kapal milik Mo Kauw. Entah ada dendam apa antara Bu Tong-pay dengan Mo Kauw. Tapi perbuatan demikian itu terlalu kejam,” kata Sih Hek Tiauw dengan pandangan tajam. Matanya ini memang sangat tajam. Mungkin karena itulah
ia dijuluki rajawali hitam. Mungkin juga karena hidungnya yang terlalu mancung serta dagunya yang terlalu maju, sehingga hampir membentuk paruh burung.
“Demi Tuhan, kami orang Bu Tong-pay tidak mungkin bertindak sekejam itu.” Wajah Beng Liong masih tenang, tapi matanya sudah mulai menunjukkan kemarahannya.
“Tapi fakta dan bukti sudah terlihat jelas. Kau dan adikmu adalah orang yang ada di atas kapal saat kami naik. Tidak ada seorang pun selain kalian. Tulisan di tembok kapal pun sudah terlihat jelas, bukan?” Sih Hek Tiauw sudah membunyikan jari-jarinya.
“Jika kami membunuh orang, kami pasti akan mengakui. Buat apa bertindak pengecut.” Beng Liong masih tetap tenang. Tapi posisi tubuhnya pun kini sudah mulai bersiap-siap.
Dia berkata perlahan pada Cio San, “San-te, jika nanti bergebrak, kau pergilah. Jangan sampai kau jadi tersangkut masalah ini.”
“Jika Liong-ko memotong leherku, tetap saja aku ingin turut campur,” jawab Cio San sambil tersenyum.
“Tulisan di tembok sudah sangat mengakuinya. Kau tak usah mengelak lagi. Walaupun kami tidak suka orang Mo Kauw, pembunuhan sekejam itu sudah keterlaluan! Kau merusak nama baik orang-orang Kang Ouw. Kau menodai kehormatan dunia persilatan. Apakah pantas kau disebut orang Bu Lim?”
Cio San berkata kepada Beng Liong, “Liong-ko, percuma kau berdebat dengan ‘nona-nona’ ini. Berkata apapun, kita tak akan dipercaya.”
Ia berkata seperti orang-orang di sana tidak bisa mendengar. Tentu saja wajah mereka semakin merah padam.
Wuuusssh…!!!
Serangan cakar Sih Hek Tiauw langsung mengarah ke tenggorokan Cio San. Ucapan Cio San tadi sangat menyinggung hatinya. Apalagi, ia memilih Cio San karena tadi Beng Liong mengatakan Cio San adalah adik seperguruannya. Tentu saja ilmu silat Cio San ‘pasti’ di bawah Beng Liong, pikirnya.
Yang lain pun bergerak mengeroyok Beng Liong. Can-cengcu mengeluarkan sepasang pedang tipisnya. Pedang itu menyambar dengan cepat. Tapi tentu saja tidak cukup cepat bagi Beng Liong. Dengan satu gerakan lincah, ia sudah menghindari 7 tusukan pedang Can-cengcu, sekaligus menghindari serangan pedang dan golok beberapa orang anak buahnya.
Para penyerang menyerang dengan ganas. Tapi mereka pun tidak malu mengakui betapa lihay dan hebatnya kedua orang yang mereka serang. Cio San memutuskan untuk hanya menggunakan jurus-jurus Bu Tong-pay. Ini demi menjaga jangan sampai timbul kecurigaan para penyerangnya.
Melihat itu, Beng Liong tersenyum kepadanya. Ia mengerti maksud Cio San.
Kini telah sampai jurus ke-8. Para penyerang mengeluarkan jurus-jurus yang semakin brutal. Cio San dan Beng Liong pun hanya menghindar. Dalam hati, mereka sepakat untuk tidak memperkeruh suasana. Melihat kedua orang ini hanya menghindar, para penyerang ini malah semakin bersemangat. Mungkin dalam hati mereka merasa di
atas angin.
“Tahan serangan!!” terdengar teriakan.
Semua orang lantas menghentikan serangan.
Ketika menoleh ke asal suara, mereka melihat seorang Hwesio (Bhiksu) tua. Semua orang di sana mengenalnya. Kecuali Cio San. Ia sama sekali tidak mengenal tokoh-tokoh persilatan.
“Salam, Hong Sam-siansing (panggilan untuk orang terhormat dan dituakan),” kata Beng Liong sambil menjura.
“Oh, jadi ini yang namanya Bhiksu Hong Sam, orang kelima di dalam Siau Lim-pay,” pikir Cio San dalam hati. Ia kagum juga. Hong Sam-hwesio sudah tua. Tapi wibawanya sungguh terpancar dari wajahnya yang teduh. “Jika ini orang kelima, bagaimana dengan orang pertamanya?” batin Cio San. Siau Lim-pay memang sangat hebat!
Tatapan matanya saja sudah membikin orang segan. Suara yang tadi ia keluarkan sudah sanggup menghentikan pertarungan. Ia bahkan belum bersilat!
“Para hoohan (orang gagah) sekalian, harap menahan diri,” kata Hong Sam-hwesio.
Semua orang tidak sadar mengangguk.
“Maaf pinceng (aku) turut campur. Tapi mengapa Tuan-tuan berkelahi sesama sendiri?” Perkataannya halus dan sopan. Mau tidak mau, yang menjawab pun harus lebih sopan.
Siapa lagi yang bahasanya paling sopan dan tutur-katanya paling halus di antara mereka yang bertempur itu, selain Beng Liong? Maka dialah yang kini menceritakan semuanya.
Setelah mendengarkan, Hong Sam-hwesio berkata,
“Saudara-saudara, mengenai Beng Liong dan adiknya ini, pinceng bisa bersaksi bagi mereka.”
Semua orang mendengarkan.
“Beberapa saat yang lalu, Beng Liong dan pinceng sedang bercengkerama. Kami tidak sengaja bertemu di penginapan. Beng Liong dan pinceng membahas banyak kejadian yang terjadi di dunia Kang Ouw. Sepanjang sore sampai malam kami terus mengobrol. Lalu tahu-tahu ada orang lewat di depan penginapan kami. Beng Liong bilang
bahwa mungkin saja itu adik seperguruannya yang sudah lama tidak bertemu. Ia lalu menyusul adiknya itu. Lalu saat mereka berdua sedang bercakap-cakap, terdengar teriakan kebakaran dari arah dermaga. Mereka berdua pun segera lari ke arah dermaga.”
"Dilihat dari waktu dan penempatannya, walaupun punya ilmu seperti dewa pun, tidak mungkin Beng Liong bisa berada di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Untuk itu, pinceng berani bersumpah,” tegas Hong Sam-hwesio.
Siapapun di dunia ini pasti percaya dengan ucapannya tanpa ia harus bersumpah sekalipun.
“Mengenai tulisan di tembok kapal. Pinceng yakin, pasti ada orang yang memfitnahnya. Kita sudah tahu kegagahan dan sepak-terjang Beng Liong-enghiong (Ksatria). Selama ini, ia tidak pernah melakukan perbuatan yang berlawanan dengan aturan dunia persilatan.”
Jika yang berbicara Hong Sam-hwesio, semua orang mau tidak mau harus setuju.
“Maka pinceng meminta dengan sangat, kepada para hoohan (orang gagah) sekalian, untuk menyudahi saja kesalahpahaman ini.”
Semua orang mengangguk setuju dan saling meminta maaf. Mereka semua akhirnya pergi dan hanya meninggalkan Beng Liong, Cio San, dan Hong Sam-hwesio. Keramaian sudah berakhir. Kapal yang terbakar itu sudah tenggelam seluruhnya. Hanya pengurus dan petugas dermaga yang kini mulai berkumpul untuk mengangkat bangkai kapal.
Ketiga orang ini masih termenung memandang tempat kapal itu karam. Entah bagaimana perasaan Cio San. Ia meneteskan air mata. Walaupun baru mengenal orang-orang Ma Kauw selama beberapa hari, perasaannya sudah sangat dekat dengan mereka. Tapi Cio San berusaha menahan kegundahan dan kemarahan hatinya. Ia bukan anak kecil yang harus menangis meraung-raung. Tapi ia juga bukan orang tak berperasaan yang diam saja melihat kekejaman yang terjadi kepada sahabat-sahabatnya.
Mereka semua terdiam. Kekejaman ini entahlah apa maksudnya.
Hong Sam-hwesio akhirnya membuka percakapan.
“Jadi, Ciokhee (Tuan) yang bernama Cio San?” tanyanya.
“Benar, Siansing, wanpwe (saya, panggilan untuk merendahkan diri) yang bernama Cio San,” jawab Cio San sambil menjura.
“Terima kasih atas pertolongan Siansing,” kali ini Beng Liong yang menjura.
“Kalian berdua adalah pendekar-pendekar muda yang sangat berbakat. Pinceng banyak mendengar cerita tentang kalian. Semoga ke depannya, dunia Kang Ouw menjadi lebih baik,” puji Hong Sam-hwesio sungguh-sungguh.
Ia melanjutkan, “Beng Liong, kau kini merasakan hal yang sama dengan Cio San, bukan? Kau merasakan rasanya difitnah dan tak mampu menjelaskan, bukan?”
“Benar, Siansing. Semua ini menyimpan banyak rahasia. Wanpwe sekarang percaya dengan Cio San. Jika ia mau pergi, wanpwe akan melepaskannya dengan rela,” kata Beng Liong.
Mereka berdua tersenyum.
“Maafkan kelancangan wanpwe, Siansing. Apa yang membuat Siansing terlambat sampai kemari?” tanya Cio San.
Hong Sam-hwesio memandang Cio San dengan penuh kekaguman.
“Tajam sekali pemikiranmu, Cio San. Mari ikut pinceng. Akan pinceng jelaskan dalam perjalanan!”
Ketiga orang itu melesat secepat kilat.