
Pertanyaan ini sejak jaman dahulu kala, tidak pernah bisa terjawab.
Cio San masih terlalu hijau. Walaupun ilmu silat dan otaknya cemerlang, tetap saja tidak bisa menemukan jawabannya.
Hari ini begitu banyak pelajaran yang ditemuinya. Bahwa waspada saja tidak cukup. Sigap dan mampu bersikap, harus dilatihnya. Ia harus selalu menggunakan akal dan tenaganya untuk mencegah hal-hal ini terulang lagi. Jika ia bisa menggunakan akalnya agar dapat membaca keadaan lebih jelas, tentunya ia bisa mencegah agar gadis itu tidak meninggal.
Malamnya, seluruh penghuni Lai Lai merapatkan apa yang harus dilakukan. Kwee Lai mengatakan bahwa dana untuk perbaikan memang ada, tapi jelas mereka menderita banyak kerugian. Walaupun kejadian ini tidak terlalu memukul keuangan Lai Lai, setidaknya cukup menggoncangkan hatinya juga. Mereka memutuskan untuk menutup
Lai Lai selama beberapa hari, untuk memperbaiki segala kerusakan.
Tepat ketika rapat ditutup, seseorang mengetuk pintu depan.
“Siapa?” tanya Kwee Lai.
“Selamat malam. Salam hormat. Saya utusan dari perusahaan dagang Kim Hai (Lautan Emas). Mohon ijin untuk bertemu Kwee Loya (Tuan Kwee),” sahut suara dari luar.
Cio San bergegas membukakan pintu.
Orang yang datang itu punya penampilan rapi. Wajahnya tampan walaupun sudah cukup umur.
“Perkenalkan, nama saya Huan Biau. Saya membawa pesan dari Khu-hujin (Nyonya Besar Khu) kepada Kwee Loya (Tuan Kwee),” kata si orang tadi.
"Mari silahkan masuk, saya Kwee Lai,” kata Kwee Lai sambil tersenyum ramah.
Semua orang di situ tahu apa itu perusahaan dagang Kim Hai, dan siapa itu Khu-hujin.
“Ada pesan apa dari Khu-hujin?” tanya Kwee Lai.
“Hujin berpesan bahwa semua kerugian yang ada di kedai anda akan kami ganti. Mulai besok, kami akan mengirimkan beberapa pekerja dan bahan-bahan bangunan. Hujin juga mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya, karena perbuatan cucunya yang berbuat onar di sini, Kwee Loya.”
“Ah, pertengkaran kecil begini saja, Khu-hujin sampai turun tangan langsung? Aku si tua begini terlalu diberi muka oleh Khu-hujin. Sudah, tidak perlu diganti. Jangan sampai membuat repot Khu-hujin.”
“Tidak apa-apa, Loya. Khu-hujin memaksa. Loya harus menerima permintaan maafnya. Jika ada waktu, Hujin sendiri yang akan datang berkunjung.”
“Waah, sebuah kehormatan besar jika beliau berkunjung. Harap beri kabar sebelum beliau datang, agar kami bisa menyiapkan masakan terbaik bagi beliau,” kata Kwee Lai.
“Iya, kebetulan beliau memang ada rencana ke kota ini. Ada urusan dagang yang harus beliau selesaikan sendiri. Sekarang beliau masih di kediamannya di kota Tho Hoa.”
“Tuan Huan silahkan istirahat sebentar dulu. Kami siapkan arak dan beberapa pengisi perut.”
“Terimakasih, Loya. Tapi saya harus segera pulang untuk mempersiapkan pekerjaan besok. Sebenarnya sukar sekali saya menolak tawaran ini, mengingat masakan disini sudah terkenal sampai ke luar kota. Tapi apa daya, banyak pekerjaan menumpuk,” kata Huan Biau menolak dengan halus.
“Ehh.. Kalau begitu maukah Tuan Huan membawa beberapa guci arak? Sekedar sebagai teman istrirahat saat bekerja. Mungkin bisa diminum bersama saudara-saudara disana,” kata Kwee Lai.
Belum sempat Huan Biau menolak, Mey Lan sudah muncul dengan beberapa guci arak. Ia tak dapat menolak. Akhirnya setelah memberi salam, segera ia mohon diri.
Setelah orang itu pulang, Cio San bertanya kepada Kwee Lai, “Loya, berapa jarak antara kota ini dengan kota Tho Hoa?”
“Perjalanan memakai kuda sekitar sehari semalam. Ada apa?”
“Ah, tidak apa-apa,” jawab Cio San sambil tersenyum.
Dalam hati ia berkata, “Orang suruhannya saja, punya langkah kaki yang demikian ringan. Aku baru tahu kehadirannya saat ia sudah 10 langkah di pintu depan. Kejadian di kota lain yang jaraknya jauh saja pun, ia tahu begitu cepat. Bahkan sudah mengirim orang untuk mengurusi. Bisa dibayangkan betapa berpengaruhnya Khu-hujin ini.”
Malam itu Cio San tidur dengan berbagai macam pikiran. Tapi entah kenapa, ia tidak menutup jendela kamarnya.
Pagi-pagi sekali, orang-orang dari Kim Hai sudah tiba. Mereka datang sekitar sepuluh orang. Dengan berbagai macam peralatan dan perkakas. Orang-orang ini memang nampaknya pekerja bangunan yang pekerjaan sehari-harinya mengurusi bangunan. Maka tak heran jika sampai tengah hari saja, Lai Lai sudah terlihat begitu rapi
dan bersih seperti semula.
Meja dan kursi yang rusak sudah diganti baru. Tembok yang pecah sudah diperbaiki. Goresan-goresan karena pertempuran kemarin sudah terhapus semuanya. Cio San tidak membantu. Ia memang tidak diperbolehkan membantu oleh orang-orang ini. Ia juga paham, justru kalau membantu, bisa-bisa pekerjaannya jadi molor lebih
lama.
Maka tengah hari, ketika jam makan siang, seluruh pekerjaan sudah selesai. Pihak Lai Lai menyiapkan makanan yang enak bagi pihak Kim Hai. Huan Biau yang datang semalam, juga hadir memenuhi janjinya mencicipi masakan di Lai Lai.
Mereka makan dan mengobrol dengan santai. Cio San iseng-iseng bertanya, “Tuan Huan, kemana Nona Khu setelah kejadian kemarin?”
“Setelah menyerahkan dua iblis itu, Khu Siocia (Nona Khu) langsung pulang ke Tho Hoa,” jawab Huan Biau.
“Oh, pantas saya tidak melihatnya lagi setelah itu. Nona Khu gagah sekali kemarin. Dengan berani ia melawan si wanita iblis.”
“Nona kami memang begitu perangainya. Sejak kecil sudah suka ilmu silat. Dia bahkan sudah dua tahun ini berkelana sendirian. Eh, Saudara A San, apakah kau tahu siapa pendekar gagah yang bernama Cio San itu? Ia muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba. Menurut cerita Khu-siocia, ilmu silatnya sungguh hebat.”
Cio San tersenyum dan menjawab, “Saya hanya melihatnya saat dia berbicara saja. Kalau sudah bergerak, saya cuma melihat bayangan. Pertarungan dahsyat kata orang-orang, bagi saya cuma bayangan-bayangan berkelebat saja.”
Huan Biau mengangguk-anggukkan kepala. “Memang menurut Nona kami, pemuda bernama Cio San itu sakti sekali. Sayang asal-usulnya tidak diketahui orang. Kalau tidak, kami pasti akan menemuinya dan mengucapkan terima kasih yang amat dalam.”
Mereka mengobrol cukup lama, lalu kemudian Huan Biau dan anak buahnya meminta diri.
Tak berapa lama, orang-orang Hai Liong Pang (Perkumpulan Naga Lautan) yang menguasai daerah dermaga kota Liu Ya datang berkunjung.
Di dunia ini, tidak ada yang menarik perhatian kalangan Bu Lim (persilatan) selain kitab sakti. Selain harta karun dan senjata pusaka tentunya.
Sejak awal, Cio San memang telah memikirkan segala keputusan yang diambilnya. Ia telah memilih menggunakan nama aslinya saat pertempuran kemarin. Pikiran yang timbul sekejap saja, namun telah ia pikirkan baik-baik. Tidak mudah untuk memikirkan segala sesuatu dengan matang dalam waktu singkat, tapi otak Cio San memang sejak dulu cemerlang.
Ia sengaja menggunakan nama itu untuk memancing reaksi orang-orang Kang Ouw. Apakah mereka masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu? Apakah mereka masih mengincar kitab sakti itu?
Dari sedikit keramaian itu, Cio San bisa mengambil peluang. Ia bisa mulai menyelidiki rahasia segala kejadian ini. Karena itu Cio San merasa bersemangat. Begitu banyak kejadian aneh yang terjadi seputar dirinya, entah kenapa ia merasa semua saling berkaitan.
“Kau belajar masak di mana?” tanya Khu-hujin.
“Leluhur siauw jin sejak dahulu memang tukang masak. Ada yang sempat buka kedai juga.”
“Oh bagus. Masakanmu enak sekali. Sekali waktu, bolehkah aku mengundangmu memasak di rumahku? Tapi untuk itu, aku harus minta ijin dulu kepada Kwee Loya.”
Kwee Loya yang berdiri di samping Cio San menyahut, “Tentu saja boleh, Hujin. Mana mungkin siauw ceng menolak permintaan Hujin.” Rupanya ia ketularan Cio San, berbicara sambil menunduk-nunduk.
Khu-hujin mengangguk-angguk senang, lalu kembali bertanya pada Cio San, “Siapa namamu tadi, anak muda? Maafkan aku yang sudah tua, susah sekali mengingat nama orang.”
“
Cio San sebenarnya terhenyak dari tadi. Dia tahu bahwa yang dimaksud Khu-hujin adalah A Liang. Guru sekaligus sahabatnya. Di dunia ini, tidak ada orang lain yang pintar masak dan dikuburkan di Bu Tong-san selain Kam Ki Hiang alias A Liang.
Sampai malam, Cio San tidak dapat bekerja dengan tenang. Pikirannya masih menerawang memikirkan cerita Khu-hujin tadi. Apa yang harus dilakukannya?
Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.