Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 20: Sebuah Kisah



Belum sempat orang itu kaget, Cio San sekejap mata sudah menghilang dari hadapannya.


Malamnya, sesuai janji, Cio San datang lagi. Kali ini para penjaga di depan sudah bersiap-siap menunggu kedatangannya.


“Hujin sudah menunggumu,” kata salah seorang.


Di hadapan Khu-hujin, berdiri seorang pemuda muda belia. Tampan. Pembawaannya gagah dan tenang. Bajunya ringkas dan sederhana, tapi justru menambah kegagahannya. Rambutnya tidak diikat rapi. Tapi justru menambah daya tariknya. Sekali pandang saja, Khu-hujin tahu kalau Cio San bukan pemuda sembarangan.


“Selamat malam, Hujin.” Cio San memberi salam.


“Kaukah yang bernama Cio San?”


“Benar, Hujin.”


Jika musim berganti,


Rembulan menanti,


Untuk bersama kekasih yang di hati,


Siapakah dia yang menanti di ujung malam?


Siapakah dia yang menangis di tepi telaga?


Jika kekasih pergi,


Kata perpisahan pun tak terucap,


Karena itulah yang paling menyakitkan jiwa.


Seandainya nanti kita tak bertemu,


Rembulan tahu siapa kekasih sejati.


Cerita sepanjang itu diikuti Khu-hujin dengan seksama. Ia lalu bertanya, “Apakah Kam Ki Hiang yang mengajarimu memasak juga?”


“Benar, Hujin. Tentunya Hujin sudah bisa menduga siapa sebenarnya saya?”


“Kau adalah A San, tukang masak di Lai Lai, bukan?”


“Pandangan mata, keluasan pengetahuan, dan pemikiran Hujin memang sukar dicari tandingannya.”


kata Cio San kagum.


“Sejak pertama Cio San muncul di Lai Lai, aku sudah curiga. Mengapa selama ini, tak ada anak buahku yang melaporkan ciri-ciri orang seperti Cio San sebelumnya.”


“Jadi kau tahu bahwa aku telah membongkar penyamaranmu, hanya dari sinar mataku yang berubah karena melihat perubahan sinar matamu sendiri?” Khu-hujin bertanya, matanya memancarkan kekaguman.


“Benar sekali, Hujin.”


"Hanya dengan perubahan mata, berani sekali engkau mengambil kesimpulan, Cio San.”


“Kadang beberapa hal memang harus dilakukan dengan nekat,” katanya tersenyum.


“Bagaimana jika kau salah?” tanya Hujin.


“Jika saya salah, paling-paling saya akan jadi buronan lagi. Itu bisa saya hadapi dengan mudah. Tinggal menggunakan topeng, dan lari ke kota lain,” katanya tersenyum.


Dalam masalah lari, memang hanya sedikit orang di dunia ini yang bisa mengejarnya.


Lalu ia menyambung,


“Jika saya benar, maka setidaknya saya telah melakukan hal yang baik. Yaitu menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi di Bu Tong-pay. Ini untuk membersihkan nama Kam-suhu (Guru Kam) dari tuduhan fitnah. Dengan pengaruh dan kekuasaan Hujin. Rasa-rasanya hal ini bukan hal yang tidak mungkin.”


“Bagus sekali, Cio San. Aku kagum kepadamu yang masih muda tapi sudah memiliki pikiran yang cemerlang. Eh, masih ada lagi yang ingin kutanyakan. Jika ia tidak pernah bercerita kepadamu tentang aku, dan kau bilang kau baru tahu tentang itu, bisakah kau tebak bagaimana hubunganku dengannya?”


Cio San terdiam sebentar. Lalu menjelaskan,


“Pada awalnya saya pikir mungkin hubungan saudara. Tapi sudah jelas tidak mungkin, karena she (marga) berbeda. Lalu saya pikir, mungkin hubungan saudara seperguruan. Tapi itu juga tidak mungkin, karena Nyonya tidak bisa silat. Kemudian saya sampai kepada kesimpulan akhir bahwa kalian, maaf sebesar-besarnya, adalah sepasang kekasih?”


Hujin tersenyum. “Kau memang cerdas, Cio San.”


Ia melanjutkan, “Maukah kau mendengar kisah kami dahulu?”


Cio San mengangguk.


“Beberapa puluh tahun yang lalu, kami merencanakan untuk menikah. Tapi kecintaannya terhadap petualangan dan juga ilmu silat, membuat rencana itu tertunda terus-menerus. Suatu hari, ia pulang setelah lama berkelana. Tubuhnya kurus sekali. Tapi wajahnya cerah dan terlihat sangat sehat. Ia bercerita kepadaku bahwa ia menemukan sebuah kitab sakti yang akan membuatnya menjadi ahli silat paling hebat di seluruh Tionggoan.”


“Ia berlatih siang-malam, dan dalam setahun saja, ia menjadi sangat hebat. Ia kemudian berkelana lagi untuk menantang jago-jago silat ternama. Semua dikalahkannya. Setahun kemudian, dia pulang lagi ke desa kami.”


“Ia bilang akan menantang pendekar terhebat sepanjang masa Tionggoan, yaitu Thio Sam Hong. Ia juga bilang bahwa kali ini mungkin takkan kembali lagi. Aku menangis memintanya untuk mengurungkan niat itu. Tapi niatnya sudah bulat. Sebelum pergi, ia menciptakan aku sebuah lagu. Lagu itulah yang kau mainkan kepadaku tadi.”


“Kemudian kudengar ia telah tewas di Bu Tong-san sana. Berulang kali aku berusaha meminta jenazahnya untuk dipindahkan, namun pihak Bu Tong-pay selalu menolaknya. Aku heran kenapa jasadnya tidak diperabukan saja. Tapi beberapa tahun yang lalu, kudengar jasad Thio Sam Hong setelah diperabukan, juga dikubur di dekat


kuburannya?”


Cio San mengangguk.


Hujin lalu melanjutkan,


“Ketika kau datang pagi tadi, dan bilang membawa pesan dari Kam Ki Hiang, sukmaku bagai melayang. Aku benar-benar berharap dia masih hidup.”


Cio San merasa tidak enak dengan ini, tapi kemudian dia teringat sesuatu.


“Maafkan kesalahanku itu, Khu-hujin. Itu adalah kesalahan yang tidak bisa saya perbaiki. Tapi saya ingin memberitahu Hujin, Kam-suhu menciptakan lagi sebuah lagu tentang Hujin saat kami berada di puncak Bu Tong-san.”


“Benarkah? Mainkanlah!”


Di bawah mentari


Di bawah langit biru


Di temani rumput-rumput dan angin barat


Aku memandangimu dari puncak bukit,


Dari menara tertinggi, ku sebut namamu


Tahukah kau aku lebih terluka daripada engkau?


Tahukah perpisahan denganmu jauh lebih tajam dari mata


pedang?


Tapi aku justru bahagia di dalam kesedihan,


Karena kutahu cintamu takkan berubah


Karena setiap detik jantung mendetakkan namamu,


Setiap saat angin menghembuskan bisikanmu


Setiap malam bintang meminjam cahaya matamu


Setiap pagi mentari meminjam kecerahan wajahmu


Jika orang berkata, maut kan memisahkan,


Bahagialah, karena bagiku maut kan mempertemukan


Sampai nanti, ku tunggu kau di ujung jalan


Tempat telaga kesukaanmu


Tempat dimana kau suka memetik bunga Tho


Dan berlari mengejar kupu-kupu


Sampai nanti kita bertemu kembali


Mata Khu-hujin berbinar-binar. Ia menangis terharu, lalu tersenyum simpul ketika Cio San menyanyikan lirik ‘tempat telaga kesukaanmu, tempat dimana kau suka memetik bunga Tho, dan berlari mengejar kupu-kupu’.


Saat ini memang hanya mata yang berbicara. Cio San bisa menangkap sinar yang begitu bahagia di mata yang teduh dan berbinar itu. Seperti sinar mata anak gadis sedang kasmaran!


“Apakah kau tahu judulnya, Cio San?”


"Tentu saja, Hujin. Judulnya ‘Salam Untuk Ting Ai’.”


Khu-hujin tersenyum. “Tahukah kau siapa Ting Ai?”


“Tentunya itu adalah nama gadis Hujin, Khu Ting Ai.”


Hujin tersenyum sambil berkata,


“Lagu itu menceritakan bahwa ia tidak lupa padaku. Bahwa ia masih mencintaiku dan berharap bertemu denganku suatu saat ini. Ahh…, Cio San, mendengar ini saja betapa gembira hatiku.”


“Aku yakin benar itu lagu ciptaannya. Karena nada-nadanya khas sekali. Ia juga bercerita tentang telaga tempat biasa kami bertemu. Dan juga kesukaanku memetik bunga Tho dan mengejar kupu-kupu.”


Wajah Khu-hujin ketika bercerita tentang ini memang seperti anak perawan sedang kasmaran.


“Kau telah memberiku kebahagiaan yang sangat besar, Cio San. Untuk itu, aku harus memberimu hadiah. Mintalah apa yang kau mau, jika mampu niscaya kuberi,” kata Khu-hujin serius.


“Saya datang tidak dengan maksud apa-apa Hujin. Saya hanya berharap Hujin mampu membersihkan nama Kam-suhu dan saya. Itu saja.”


“Kalau itu, sudah pasti akan kulakukan, Cio San. Aku mohon padamu, mintalah padaku apa saja. Jangan sampai kau menolak. Bagiku kau sudah seperti cucu sendiri.”


Cio San berpikir sejenak, lalu berkata,


“Baiklah, Hujin. Maafkan saya yang lancang, bolehkah saya meminta sebuah kitab? Kitab apa saja. Saya suka membaca, tapi di Lai Lai tidak ada yang bisa saya baca.”


Khu-hujin tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulut dengan tangannya. Anggun sekali.


“Kau hanya minta itu saja? Baiklah. Kuberikan kau sebuah kitab bagus. Bahkan mungkin kitab terbaik yang pernah kubaca. Kulihat, kau memiliki bakat yang besar dalam bidang ini juga, selain bermain musik, silat, dan memasak.”


Khu-hujin beranjak dan memilih-milih buku yang tersusun rapi di rak buku. Jika mau menghitung, memang ada ratusan buku di dalam kamar belajar pribadi ini.


“Nah, ini dia”