Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 35: Ke Istana Ular



Tidur Cio San sangat pulas. Dari sejak tengah hari, ia tidur sampai sore. Begitu bangun, ia melihat Cukat Tong dan Ang Hoat Kiam Sian masih duduk di sebelahnya. Yang satu duduk diam tenang. Tanpa suara dan tanpa kata-kata. Yang satu sedang menyandar di pohon sambil minum arak.


“Kalian berdua sejak tadi duduk saling diam?” tanya Cio San kepada Cukat Tong.


Cukat Tong hanya mengangguk.


“Dan sejak tadi kau minum arak? Banyak sekali persediaan arakmu.”


Cukat Tong mengangguk sambil tertawa. “Aku sudah 3 kali bolak-balik ke warung arak.”


Cio San ikut tertawa. Ia duduk menyandar pohon dan ikut minum arak. Arak Lin Cia. Arak ini dibuat dari sari buah-buahan yang dimasukkan ke dalam bilah bambu, lalu di kubur dalam tanah selama berbulan-bulan. Semakin lama dikubur, semakin enak rasanya.


Bangun tidur lalu minum arak. Habis minum arak, lantas tidur lagi. Di dunia ini tidak ada yang lebih menggembirakan buat para peminum selain hal ini.


”Kau kenal dia darimana?” tanya Cio San sambil menunjuk Ang Hoat Kiam Sian.


“Aku tidak kenal dia. Dia pun tidak kenal aku,” jawab Cukat Tong santai.


“Lalu darimana kau tahu alamat rumahnya?” tanya Cio San lagi.


“Memangnya kau harus kenal orangnya baru tahu rumahnya?” malah Cukat Tong balas bertanya.


“Betul juga,” kata Cio San sambil tepuk jidat. Lanjutnya, “Biar kutebak. Ia datang begitu menerima suratmu. Bukan karena persahabatan, bukan juga karena namanya difitnah. Orang seperti dia, tidak peduli dengan nama baik dan segala macam fitnah. Ia datang karena kau bilang padanya, ada sekelompok pembunuh berpedang


yang sedang mengacau di dunia Kang Ouw.”


“Benar,” jawab Cukat Tong.


“Sebenarnya ia sudah tahu tentang kelompok bertopeng ini, cuma tidak tahu harus mulai dari mana.”


“Benar lagi,” kata Cukat Tong.


“Jadi, saat kau bilang kelompok bertopeng ini akan menyerang lagi, ia serta-merta datang dengan penuh semangat.”


“Lagi-lagi kau benar,” jawab Cukat Tong.


“Aku tidak hanya datang untuk mereka,” tiba-tiba Ang Hoat Kiam Sian buka suara. Masih tenang dan tanpa perasaan. Ia hanya menatap ke depan. Tanpa menoleh sedikitpun ke lawan bicara yang ada disampingnya.


“Aku juga datang untuk mencarimu,” lanjut si Dewa Pedang. “Kudengar, kau menaklukkan Bu Tong-pay Ngo Kiam (Lima Pedang Bu Tong-pay) dalam satu jurus.”


“Yang kukalahkan adalah orangnya, bukan pedangnya. Bukan aku yang hebat, melainkan mereka saja yang malas latihan,” kata Cio San sambil menenggak arak.


Si Dewa Pedang masih tetap dingin ketika ia berkata, “Kau juga mengalahkan kelima orang bertopeng itu dalam dua jurus.”


“Hanya karena aku lebih cepat sedikit dari mereka. Eh, Raja Maling, apakah kau tahu siapa mereka? Tadi sebelum kuperiksa wajah mereka, kepala mereka sudah hancur duluan.”


“Tahu, mereka ad…”


Sebelum Cukat Tong meneruskan kata-katanya, si Dewa Pedang sudah memotong, “Aku ingin melihat seberapa cepat kau menangkap pedangku.”


Ia sudah berdiri. Masih dengan pandangan kosongnya. Bagi Cio San, itu bukan pandangan kosong. Hanya pandangan manusia yang sangat-sangat kesepian.


Si Dewa Pedang sudah berdiri dihadapannya. Cio San hanya duduk dengan santai. Ia menenggak arak dengan nikmat.


“Awas serangan.”


Kata itu belum selesai diucapkan, tapi pedangnya sudah berkelebat. Tahu-tahu telah sampai di dahi Cio San. Cukat Tong saja, yang pengetahuan dan ilmunya sangat tinggi, masih terkagum-kagum melihat kecepatan dan ketepatan pedang itu.


Tapi pedang itu tidak menembus dahi. Berhenti tepat sebelum tertusuk masuk ke dalam dahi. Menyerang seperti itu adalah sebuah gerakan yang amat sangat sulit. Menghentikannya di tengah jalan adalah hal yang jauh lebih sulit lagi. Cio San hanya tersenyum sambil memegang rambutnya.


“Kenapa kau tidak menghindar atau menangkis?” tanya si Dewa Pedang.


“Kenapa kau menyerang?” ia balas bertanya dengan santai.


“Aku ingin melihat kecepatannya,” jawab si Dewa Pedang.


“Aku tidak ingin menunjukkannya,” tukas Cio San.


Dewa Pedang tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Setelah terdiam lama, ia berkata “Seranganku yang kedua benar-benar akan membunuhmu.”


“Pedang memang tidak berperasaan, tapi manusia iya,” jawab Cio San.


“Aku bukan manusia, dan aku tidak memiliki perasaan,” jawab Dewa Pedang dingin.


“Ya, mungkin. Tapi kau bukan orang rendahan, yang membunuh lawan yang tidak melawan dan tanpa senjata.” Habis berkata begitu ia menenggak lagi secawan arak.


Dewa Pedang terdiam. Cio San bisa melihat ia sedikit tersenyum. Hanya sedikit, dan begitu cepat wajahnya sudah berubah dingin seperti semula.


“Aku pergi.” Ia lalu membalikkan tubuh dan benar-benar pergi.


“Ke tempat biasanya?” tanya Cukat Tong sambil tersenyum.


Si Dewa Pedang tidak menjawab. Ia berlalu dan berjalan dengan santai.


“Ia mau pergi kemana?” tanya Cio San.


“Rumah bordil,” kata Cukat Tong sambil tertawa.


“Dia ke rumah bordil??” tanya Cio San heran. Pantas saja, dua kali pertemuannya dengan si Dewa Pedang, kedua-duanya terjadi di dekat rumah bordil.


“Kenapa? Manusia dingin seperti dia, juga tahu cara bersenang-senang dengan perempuan. Hahaha…,” tawa Cukat Tong.


“Bukan itu,” tukas Cio San.


“Lalu apa?” tanya Cukat Tong.


“Buta?? Dia??” Cukat Tong tak bisa berkata-kata lagi.


”Dia buta, dan aku mengirimkan surat kepadanya??” Si Raja Maling seperti bertanya kepada dirinya sendiri.


“Orang buta itu, terkadang melihat lebih banyak hal daripada orang yang normal,” kata Cio San.


“Sejak kapan kau tahu jika dia buta?” tanya si Raja Maling.


“Sejak awal bertemu dengannya di Rumah Teng Teng. Cara pandang dan sinar matanya yang aneh, membuatku curiga. Setelah kuperhatikan, ketika ia berbicara atau melakukan gerakan apapun, kepalanya agak dimiringkan. Itu tanda kalau dia lebih mengandalkan telinga ketimbang matanya.”


“Tapi jurus pedangnya yang mantap dan cepat seperti itu?” tanya Cukat Tong lagi.


“Justru karena ia buta, maka jurus pedangnya bisa dahsyat seperti itu. Karena ia tidak bertarung dengan menggunakan mata. Ia bertarung menggunakan hati. Ia adalah contoh manusia yang telah bisa menyatu dengan pedangnya,” jelas Cio San.


“Ada sebagian orang yang hidupnya adalah pedang. Yang sebagian lain, pedang adalah hidupnya. Tapi baginya, hidupnya bukan pedang, dan pedang bukan hidupnya. Ia adalah pedang itu sendiri.”


Mau tidak mau, Cukat Tong bergidik juga mendengarnya.


“Kau tidak tahu asal-usulnya?” tanya Cio San.


"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya bisa menebak-nebak.” Cukat Tong lalu melanjutkan, “Sekitar dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu, ada pasangan suami-istri yang ilmu pedangnya sangat hebat. Selain ilmu pedang, mereka juga pandai membuat pedang. Setelah lama menggetarkan dunia persilatan, suami-istri itu menghilang. Menurut kabar yang terdengar, mereka mengasingkan diri di pegunungan Himalaya. Di sana, kabarnya mereka membuat pedang terbaik. Dari bahan-bahan terbaik, di tempa dalam kondisi lingkungan paling baik. Aku curiga


pedang itulah yang sekarang dipakai oleh si Dewa Pedang.”


“Kabar suami-istri itu kemudian tidak terdengar sama sekali. Dengar-dengar, mereka meninggal setelah menyelesaikan pedang itu. Tapi beberapa tahun kemudian, tersiar kabar bahwa ada seorang anak kecil yang berkelana sendirian di pegunungan Himalaya. Ia menenteng sebuah pedang yang indah. Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti siapa anak ini, karena tidak ada seorang pun yang jelas-jelas pernah bertemu atau bercakap-cakap dengannya.”


“Menurut cerita, anak kecil itu hidup sendirian. Ia berburu hewan-hewan gunung untuk makanannya. Kadang-kadang ia menolong orang yang tersesat. Itu saja kabar yang kudengar.”


“Tapi aku hampir yakin, kalau anak kecil tersebut, adalah si Dewa Pedang ini. Nama she (marga) nya sama dengan kedua suami-istri itu.”


“Ooh... Kau tahu siapa namanya?” tanya Cio San.


“Ya. Namanya Suma Sun.”


“Ah..” Cio San mengangguk-angguk.


Lama termenung, Cio San berkata, “Pantas saja ia menjadi orang yang seperti itu. Selama ini bertahan hidup di tengah alam pegunungan salju yang ganas. Sendirian dan buta pula. Jika bukan bergantung pada pedang dan kepandaian sendiri, tidak mungkin ia bisa bertahan. Sejak lahir, pedang adalah sahabatnya.”


“Eh, katamu kau kenal siapa lima orang bertopeng tadi?” tanya Cio San.


“Mereka, kalau aku tidak salah lihat, adalah Pendekar Pedang Perbatasan,” jawab Cukat Tong.


“Apa? Kenapa mereka mau-maunya jadi pembunuh bertopeng? Kudengar mereka adalah lima pendekar pedang legendaris yang hidup dengan sangat mewah di ujung perbatasan bagian barat Tionggoan. Kekayaan mereka bahkan sudah seperti raja-raja. Buat apa mereka terlibat urusan beginian?”


“Bisa saja karena urusan beginian, mereka jadi kaya raya?” kata Cukat Tong.


“Dari kabar yang pernah kudengar, keluarga mereka sejak jaman dahulu sudah kaya raya. Sedangkan pembunuhan bertopeng ini ‘kan, baru saja muncul beberapa tahun belakangan. Bahkan mereka telah mendapat gelar pahlawan dari kaisar terdahulu. Karena jasa mereka mengusir penjajah Mongol!”


“Yah, mungkin itu rahasia yang harus kau pecahkan, Cio San,” kata Cukat Tong sambil menghela nafas. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Hey, ada surat terakhir yang ditulis Ma Kauw-kauwcu kepadamu,” sambil berkata begitu ia merogoh kantongnya.


“Sebenarnya, aku tidak mau lihat,” kata Cio San sambil tertawa, “Sudah pasti isinya memerintahkanku untuk melakukan banyak hal.”


“Hahahaha….” Cukat Tong tertawa. Rupanya ia sudah membaca isi surat itu.


“Kau benar sekali, Teman. Kalau kau tidak mau baca, biar aku saja membacakan.”


Kepada Cio San-tayhiap (Pendekar Besar Cio San) Yang Terhormat -- “..wah\, kau disebut Tayhiap!”


Ma Kauw sedang dalam keadaan gawat dan genting. Hampir semua anggota inti keracunan oleh racun hebat, dan kami tidak tahu apakah kami akan bisa sembuh. Dalam keadaan seperti ini, Ma Kauw amat sangat rentan oleh


serangan dari luar.


Oleh sebab itu, kami dengan segala hormat meminta engkau turun tangan menangani Ma Kauw jika ada sesuatu yang terjadi kepada kami. Cayhe baru mengenal engkau beberapa hari, namun ketulusan, kebaikan hati, serta ilmu dan kecerdasanmu, telah membuat kami kagum dan hormat sekali.


Engkau berhak mempelajari seluruh ilmu Ma Kauw, dan engkau berhak memberi perintah kepada seluruh anggota Ma Kauw yang ada. Engkau berhak mengumumkan perang kepada siapa saja, dan engkau berhak pula mengadakan perjanjian damai kepada siapa saja.


Selain permintaan ini, kami mempunyai satu permintaan lagi. Putri kami sedang sakit. Mohon kau memberi kabar kepadanya jika sesuatu telah terjadi kepada kami. Ia mengasingkan diri di Istana Ular. Dengan segala kerendahan diri, kumohon engkau menjaganya saat kami telah tiada nanti.


Salam Hormat,


Ang Soat.


Cio San mendengarkan sambil terkejut.


“Bukankah tadi para pengkhianat di rumah bordil bilang, kalau mereka membawa jenazah ke Istana Ular? Kita harus segera berangkat kesana. Bahaya sedang mengancam putri sang Kauwcu.”


“Ah..” Tapi ia seperti mengurungkan niatnya. “Kita sudah sangat terlambat. Aku juga tidak tahu di mana Istana Ular berada.” Cio San tertunduk lesu


“Jangan khawatir dan menyerah dulu. Aku punya pemecahannya. Ayo ikut aku.”


Mereka berlari.


Di tengah jalan, Cukat Tong memungut sebuah papan yang lumayan lebar. Cio San tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Ketika sampai di tepi sungai, Cukat Tong mengeluarkan sebuah benda dari kantongnya. Sebuah tulang kecil. Ia meletakkan tulang itu di bibir dan meniupnya. Terdengar suara kecil yang menusuk telinga.


Ia tersenyum. Mungkin dalam hatinya, ia berkata, “Tunggu saja… Kau akan kaget nanti.”


Tak berapa lama, di langit muncul puluhan burung elang yang besar. Dengan sebuah gerakan cepat, Cukat Tong mengangkat tangannya. Ada puluhan benang yang sangat tipis yang terulur ke atas, ke arah burung-burung itu. Ia menendang papan yang tadi dibawanya ke sungai.


“Ayo,” serunya.


Cio San ikut melompat ke atas papan.


Sebuah kapal kecil yang ditarik oleh puluhan burung besar. Kendaraan paling aneh di muka bumi yang pernah dinaikinya!