Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 36: Seseorang yang Menakutkan



Menyenangkan juga menaiki kendaraan seperti ini!


Cio San merasa ini adalah kendaraan terbaik yang pernah ia naiki. Ia bertanya, “Di mana kau mempelajari kepandaian ini?”


“Ada hal-hal rahasia yang tidak boleh diberitahukan kepada orang lain,” jawab Cukat Tong sambil tertawa.


“Rahasia? Hmmmmm…” Cio San berpikir.


“Wah, kalau kau sudah mulai berpikir, bisa-bisa rahasiaku ketahuan. Hahaha…,” tawa Cukat Tong.


“Aku sudah mengerti rahasia besar. Tapi bukan rahasiamu,” jawab Cio San.


“Lantas, rahasia siapa?”


“Rahasia para pembunuh bertopeng itu. Bagaimana mereka bisa dikuasai dan diperintah oleh otak di belakang mereka,” kata Cio San.


“Apa? Rahasia mengapa orang-orang terhormat dan sakti itu mau jadi pembunuh bertopeng?” tanya si Raja Maling.


“Benar.”


“Hey, katakan padaku apa rahasianya?”


“Ada hal-hal rahasia yang tidak boleh diberitahukan kepada orang lain,” Cio San mengejek Cukat Tong dengan meniru kata-kata Cukat Tong sendiri.


“Setan buluk! Hahahahahaahahahahahaha…,” mereka berdua tertawa.


“Biar kutebak,” kata Cukat Tong masih penasaran.


“Kekayaan yang sangat melimpah?” tanyanya.


“Kebanyakan dari mereka bahkan lebih kaya dari siapapun. Pendekar Pedang Perbatasan misalnya,” jawab Cio San.


“Perempuan paling cantik sedunia?” tanya Cukat Tong.


“Kau pernah melihat ada perempuan seperti itu?” Cio San balas bertanya.


“Kitab ilmu silat yang maha sakti?”


“Mungkin. Tapi kitab ilmu maha sakti ‘kan sedang dipegang oleh Bu Lim Bengcu (Ketua Dunia Persilatan) yang sekarang. Apa kau pikir, jika si otak di belakang pembunuh bertopeng itu sudah menguasainya, ia akan mau berbagi ilmu itu dengan yang lain?” tanya Cio San balas bertanya. “Tentunya, semua orang yang terlibat dalam


kelompok ini, sudah paham akan hal itu.”


“Jabatan di istana?” tanya Cukat Tong lagi.


“Kenapa harus bunuh orang? Mereka tinggal mendaftar ke istana, sudah pasti diterima,” jawab Cio San.


“Ah, aku bingung. Entahlah!” tukas Cukat Tong.


“Di dunia ini, apa yang paling menggerakkan manusia selain jabatan, harta, nama besar, dan wanita cantik?” tanya Cio San.


Cukat Tong berpikir lama lalu menjawab, “Aku benar-benar tidak tahu.”


“Rasa malu,” jawab Cio San tenang.


“Aih... Betul juga. Jadi maksudmu, semua orang ini mau jadi budak si ‘otak besar’ karena khawatir, ada perbuatan di masa lalu yang jika terbongkar akan membuat mereka merasa malu?” kata Cukat Tong.


“Benar. Kaubayangkan jika orang-orang ini mempunyai rahasia yang sangat memalukan jika terbongkar. Seumur hidup, mereka akan jalani dengan penuh rasa malu dan kehinaan. Bukankah itu lebih buruk daripada kematian?” kata Cio San.


“Benar sekali. Apalagi mereka ini adalah orang-orang terhormat yang punya nama baik. Sekali ada perbuatan memalukan mereka yang terbongkar, aku bisa bayangkan, betapa mereka tidak mau hidup lagi,” tukas Cukat Tong.


“Kau betul. Kehormatan dan nama baik, kadang-kadang begitu berharga, sehingga orang lebih suka menjalani kepalsuan untuk mendapatkannya,” ujar Cio San.


“Jadi maksudmu, si ‘otak besar’ mengetahui rahasia-rahasia paling gelap dari para orang terhormat ini, lantas menggunakannya untuk memperbudak mereka?” tanya Cukat Tong memastikan.


“Tepat sekali,” jawab Cio San pendek.


“Di dunia ini, siapa yang punya kekuasaan sebesar itu, sehingga mampu mengorek rahasia-rahasia terpendam orang lain?” tanya Cukat Tong.


“Aku kenal satu orang,” jawab Cio San sambil tersenyum.


“Siapa dia? Orang sehebat itu memang pantas jadi raja.”


“Lebih tepatnya, ‘ratu’,” kata Cio San.


“Hah? Maksudmu, dia perempuan? Siapa?”


“Rahasia!” Cio San menjawab sambil tertawa.


“Aku rela mencuri barang apapun yang kau suruh, jika kau menyebut namanya,” kata Cukat Tong sungguh-sungguh. “Aku belum pernah mencuri untuk orang lain, tapi sekali ini saja, aku akan melakukannya.”


“Kau benar-benar akan mencuri barang untukku?” tanya Cio San, sepertinya mulai tertarik dengan tawaran Cukat Tong.


“Apapun yang kau minta! Walaupun itu celana dalam kaisar yang sedang ia pakai sekalipun!”


“Baiklah. Namanya Khu-hujin,” tukas Cio San.


“Hah!! Khu-hujin??? Si nyonya besar paling kaya sedunia itu?”


“Benar.”


“Ah, aku tak menyangka kalau dia ‘otak besar’ di balik semua ini,” kata Cukat Tong masih tidak percaya.


“Aku tidak bilang dia adalah ‘otak besar’ nya.”


“Setan buluk! Tadi kau bilang, ia punya kemampuan untuk melakukan ini semua,” kata Cukat Tong setengah marah.


“Aku cuma bilang, dia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk melakukannya. Tapi aku tidak bilang dia yang melakukannya,” kata Cio San sambil tersenyum.


“Hahahahahaha…., aku sudah tertipu! Setan buluk!”


“Dan kau harus tetap pegang janjimu.” Cio San dan Cukat Tong tertawa.


“Jangan takut. Sekali berkata, amat sangat najis untuk dijilat kembali. Kau minta kucuri apa untukmu?” tanya si Raja Maling.


“Aku belum memikirkannya. Mungkin nanti. Hehehe….”


“Di dunia ini, kalau ada orang yang bilang dirinya paling pintar, itu pasti karena belum bertemu denganmu,” kata Cukat Tong.


“Dan di dunia ini, kalau ada orang yang bilang dia bisa melakukan apa saja, itu pasti karena belum bertemu denganmu,” balas Cio San.


Pemandangan di sepanjang sungai sangat indah. Apalagi hari menjelang sore. Sinar matahari yang jatuh di atas sungai sungguh indah. Banyak kapal dan perahu yang berpapasan dengan mereka. Semua melongo dan ternganga melihat kendaraan yang aneh itu. Banyak yang memuji kagum. Cukat Tong dan Cio San membalas dengan senyum dan anggukan.


“Berapa lama perjalanan ke Istana Ular?” tanya Cio San.


“Kalau pakai kapal biasa, bisa satu setengah hari. Tapi kalau pakai burung ini, besok pagi-pagi sekali kita sudah sampai,” jawab Cukat Tong.


“Ah, berarti kita bisa menyusul rombongan pengkhianat itu,” tukas Cio San.


“Mudah-mudahan. Kau simpan tenagamu. Pertempuran dan pertarungan masih panjang.”


“Bagaimana kalau sambil makan?” jawab Cio San.


Ia duduk di tepi ‘rakit’ aneh itu. Dengan sedikit menjentikkan jari saja, dua-tiga ekor ikan sudah ditangkapnya.


Cio San lalu meloncat. Dengan ilmu meringankan tubuhnya ia melayang di atas air. Lalu mendarat di tepian sungai. Saat itu, jalur sungai yang mereka lalui memang tidak terlalu besar. Di darat, ia memungut beberapa ranting pohon kering dan memetik beberapa daun. Ia lalu kembali menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuhnya)nya untuk melayang lagi di atas air dan menyusul ‘rakit’ Cukat Tong.


Begitu kembali, ia segera menggunakan ranting-ranting itu sebagai sebagai api unggun. Cio San tidak takut ‘rakit’ itu terbakar, karena sebelumnya, dia sudah membasahi dulu lantai ‘rakit’ dengan banyak air. Ketika ikan panggang


sekedarnya itu matang, bau harumnya menyebar dan membangkitkan selera.


Mereka berdua menyantap dengan nikmat sambil duduk di atas ‘rakit’. Cukat Tong makan dengan sebelah tangan, karena tangan yang satunya harus mengendalikan burung-burung.


“Aku masih punya arak di dalam buntalan yang kubawa,” kata Cukat Tong.


Arak. Ikan panggang yang lezat. Serta sahabat dekat. Apalagi yang dibutuhkan oleh seorang lelaki?


Kau mungkin akan berkata ‘perempuan’. Tapi sesungguhnya bagi lelaki, ada saat dimana kehadiran perempuan itu terasa menganggu. Yaitu saat lelaki berkumpul dengan sahabat-sahabat terbaiknya.


“Kau tadi bilang, Khu-hujin sebagai orang yang mampu melakukan ini semua. Apa alasanmu?”


“Beliau memiliki jaringan yang sangat luas. Setiap kota ada cabangnya. Masing-masing cabang berisi ahli silat hebat. Semua kabar yang terjadi di sebuah kota, pasti langsung mereka ketahui.”


“Tapi Kay Pang (Partai Pengemis) juga seperti itu,” sanggah Cukat Tong.


“Tapi Kay Pang tidak memiliki uang sebanyak Khu-hujin. Lagian, menurut penglihatanku, pergerakan Kay Pang masih kalah cepat dengan pergerakan orang-orang Khu-hujin. Mereka sigap, tangkas, dan tidak pernah buang-buang waktu,” jawab Cio San.


Lanjutnya, “Aku sendiri sudah pernah bertemu dengan Khu-hujin. Orangnya sangat cerdas. Bisa melihat banyak rahasia tersembunyi. Bahkan mungkin bisa ‘membaca’ pikiran orang.”


“Darimana kau tahu ia bisa membaca pikiran orang?” tanya Cukat Tong.


“Kemampuan berpikirku ini, sedikit-banyak, ada andil beliau,” tukas Cio San.


“Hahaha…” Cukat Tong cuma tertawa.


“Kau tidak percaya? Cukup dengan melihatmu, aku bisa tahu banyak hal.”


“Oh ya? Coba buktikan.”


“Kau mempunyai guru yang sangat engkau hormati. Mungkin beliau adalah orang suku asli di bagian ujung barat Tionggoan. Kemungkinan besar, beliau sudah meninggal. Kau pun juga memiliki seorang kekasih. Kau sangat mencintainya. Ia pun sangat mencintaimu. Tapi entah kenapa, kalian sudah berpisah.”


"Kau…kau.. Bagaimana bisa…” Cukat Tong hampir bisu.


“Dugaanku benar, bukan?”


“Benar seluruhnya,” jawab Cukat Tong.


“Bagaimana kau bisa tahu? Itu adalah rahasia yang tak pernah kuberitahukan kepada orang lain.”


“Aku hanya memperhatikan,” jawab Cio San sambil tersenyum.


“Coba kau jelaskan. Aku sungguh tak bisa berkata-kata.”


“Jidatmu hitam. Orang yang jidatnya hitam, kebanyakan karena sering bersujud. Sujud kepada siapa? Kau bukan seseorang yang gampang sujud dan menghormati orang lain. Tentunya kau sujud kepada orang yang sangat kau hormati. Tentunya bukan kepada orangtua. Karena melihat keadaanmu, kau adalah orang yang sudah bertualang sejak kecil. Mestinya kau adalah seorang yatim piatu. Jadi sujud kepada siapa? Tentunya kepada gurumu.”


“Lalu, siapa gurumu? Tentunya ia adalah orang yang mengajarimu banyak hal. Termasuk mengajarimu mengendalikan burung-burung ini. Kuperhatikan jari-jarimu. Banyak lingkaran bekas benang yang ada di jari-jarimu. Lingkaran itu sudah menghitam dan mengeras. Tentunya lingkaran itu tercipta karena kau banyak belajar


mengendalikan burung-burung itu. Dan di Tionggoan, hanya orang-orang di bagian Sianjing (perbatasan bagian barat atas Tionggoan) yang terkenal mampu mengendalikan hewan-hewan. Jadi, tentunya gurumu pasti berasal dari barat.”


“Lalu mengenai kekasih?” tanya Cukat Tong.


“Dari sepatumu. Baju, celana, dan badanmu kotor. Tapi sepatumu tidak. Aku memperhatikan, kau sering membersihkan sepatu itu dengan tanganmu. Saat kau minum arak pun, kadang-kadang kau melirik ke sepatumu. Jadi mestinya, sepatu itu adalah benda yang sangat berharga bagimu. Pemberian seseorang yang juga sangat berharga bagimu. Tentunya, bukan gurumu yang memberikannya. Karena biasanya, guru lebih suka memberikan benda-benda yang jauh lebih bermanfaat, seperti senjata, kitab sakti, atau mungkin sempritan tulang yang kau gunakan untuk memanggil burung-burung tadi. Sepatu, seperti juga pakaian, adalah pemberian yang ‘penuh cinta’. Benda-benda tersebut diberikan, karena orang itu memperhatikanmu. Jadi siapa orang itu? Tentunya ia kekasihmu.”


Cukat Tong terdiam. Semua yang dijelaskan Cio San benar. Ia hanya menggeleng-geleng dan berkata, “Jika Khu-hujin memang benar-benar mempunyai kemampuan seperti ini, maka sudah pasti ia lah otak dibalik semua kejadian pembunuhan bertopeng itu.”


“Aku tidak tahu jika Khu-hujin memiliki kemampuan ini. Tapi beliaulah yang memberi pelajaran kepadaku untuk terus memperhatikan sesuatu sekecil-kecilnya. Untuk menggunakan akal pikiranku sekuat-kuatnya. Karena kekuatan manusia yang paling besar berada pada akalnya.”


“Ia telah memberikanmu pelajaran, dan kau masih mencurigainya?” tanya Cukat Tong.


“Aku curiga pada siapa saja. Bahkan kepada ikan-ikan yang tadi kita makan,” tawa Cio San.


“Kau tidak curiga kepadaku?” tanya Cukat Tong.


 “Curiga,” jawab Cio San pendek.


“Lalu kenapa kau masih mau naik kapal denganku?”


“Aku bisa saja membunuhmu.”


“Kalau kau ingin membunuhku, bisa kau lakukan saat aku tadi tidur.”


“Saat itu ‘kan ada si Dewa Pedang. Bisa saja kau berpikir ia akan melindungimu,” tukas Cukat Tong.


“Aku pun curiga kepadanya. Bagaimana bisa percaya kepadanya?” tanya Cio San santai.


“Lalu kenapa dengan santai kau tidur sampai mendengkur seperti tadi?”


“Aku mengantuk,” kata Cio San.


“Kau tidak takut kubunuh saat kau tidur?”


“Takut.”


“Lalu kenapa kau tidur?”


“Karena aku mengantuk.”


Cukat Tong terdiam. Tidak percaya ada orang seperti Cio San. Ia cuma bisa garuk-garuk kepalanya yang penuh kudis.


“Jadi kau menganggapku sebagai musuhmu atau sahabatmu?” tanya Cukat Tong.


“Selama kau belum terbukti sebagai musuhku, tentu saja kau adalah sahabatku.”


“Tapi bagaimana bila aku menganggapmu sebagai musuh?” sahut Cukat Tong.


“Aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabat.”


Cukat Tong tersenyum puas. “Aku percaya,” katanya.


Mereka berdua duduk menatap sungai yang mulai menghitam. Karena matahari pun sudah mulai menghilang. Garis-garis merah di atas langit mengiringi perjalanan mereka. Ada rasa khawatir, ada rasa senang, ada rasa tertarik, ada rasa penasaran. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi nanti. Tapi mereka menjalaninya. Memangnya, selain dijalani, apa lagi yang bisa dilakukan?


Hidup yang berat, selain kau jalani, apalagi yang bisa kau lakukan?


Menangis? Tidak ada seorang pun yang peduli.


Tertawa? Orang akan menganggapmu gila.


Maka jalani saja dengan senyum dan kelegaan.


Masalah dan ujian hanyalah angin dalam perjalanan kehidupan. Masakah laki-laki seperti mereka akan demam dan jatuh sakit, hanya karena angin belaka?


Maka saat Cio San menghadapi begitu banyak hal dalam hidupnya, ia menjalaninya dengan penuh rasa syukur, karena ia masih bisa hidup sampai kini. Ia mendapatkan banyak pelajaran. Pelajaran yang kelak akan membuatnya menjadi manusia yang utuh.


Manusia yang berguna bagi sesamanya.


Itulah makna kehidupan yang sebenarnya. Sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari. Hidup mereka dihabiskan hanya untuk mengejar cita-cita kosong. Nama besar palsu. Dan harta kekayaan yang tak terpuaskan.


Bukankah jauh lebih bahagia menjadi orang yang sederhana. Yang kebutuhan hidupnya hanya udara, air, dan makanan. Sedikit pakaian dan sebuah atap yang menaungi. Hidup merdeka tanpa harus terbebani oleh pikiran dan impian-impian. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sungguh berbahagia. Mereka tidak pernah


menjadi budak dari siapapun. Dan budak apapun.


Di usianya yang sangat muda, Cio San telah menjalaninya. Ia memang belum paham tentang makna-makna hidup yang sesungguhnya. Tapi dia telah menjalaninya.


Ia benar-benar telah menjalaninya.


Maka jika orang menyakitinya, ia akan memaafkan. Jika orang menyalahinya, ia tak akan membalas. Baginya, setiap perbuatan mempunyai buahnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, ia tak pernah takut menjalani kehidupan. Ia tidak berbuat salah, ia tidak menyalahi orang. Ia tidak mengambil yang bukan miliknya. Ia pun tidak menginginkan kepunyaan orang lain.


Hidupnya ringan dan bebas!


Cukat Tong mengendalikan burung-burung dengan sangat baik. Cio San memperhatikan saja. Dalam hati, ia sangat mengagumi Cukat Tong. Tidak mudah menjadi Raja Maling seperti dia. Di dunia ini, tidak ada yang tidak bisa dicurinya. Tapi tetap saja dia miskin. Pakaian kotor. Kepala penuh kudis pula.


Memang, ada sebagian orang yang walaupun dalam posisi dan kekuasaan yang besar, tetap tidak mau menyalahi orang. Tetap tidak mau mengambil keuntungan. Tidak mau merugikan orang lain.


Itulah kenapa Cio San sangat mengagumi Cukat Tong. Usia mereka beda belasan tahun. Bertemu pun baru beberapa hari. Tapi kecocokan dan kesamaan hati, membuat mereka merasa telah bersahabat selama puluhan tahun.


Sepanjang jalan, mereka bercanda dan tertawa-tawa. Perahu dan kapal yang berpapasan dengan mereka, selain heran dengan kendaraannya, juga heran mengapa kedua orang ini bisa tertawa lepas bahagia seperti tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa membuat mereka bersedih.


Malam semakin larut. Bintang dan rembulan muncul di langit yang legam. Dua orang sahabat bercerita tentang kehidupan. Mereka tertawa. Bukan menertawakan orang lain, melainkan menertawakan diri sendiri. Jika orang sudah mampu menertawakan diri sendiri, maka kesedihan macam apapun akan dijalaninya dengan senyum.


“Burung-burungmu ini apa tidak makan?” tanya Cio San.


“Sebentar lagi mereka makan, tunggu saja. Pertunjukan yang menarik” jawab Cukat Tong.


“Oh, jadi mereka ini punya jam makan tertentu?”


“Hewan itu hidupnya jauh lebih teratur daripada manusia. Mereka punya waktu makan, punya waktu tidur, punya waktu bangun, juga punya waktu kawin dan beranak.”


Cio San mengangguk-angguk setuju.


“Kira-kira, berapa lama lagi burung-burung akan makan?” tanyanya.


“Mungkin satu jam lagi.”


“Kalau begitu, sambil menunggu, kita bisa olahraga sebentar,” kata Cio San tersenyum. Ia berdiri dan memandang ke depan. Ada sebuah kapal kecil yang akan lewat. Kapal itu berada beberapa tombak di hadapan mereka.


“Ah, telingamu lebih tajam daripada telingaku.” Cukat Tong menggeleng-geleng kecewa.


“Kaupusatkan saja pikiranmu mengatur burung-burungmu. Aku cari keringat sebentar.” Kata terakhir dari kalimatnya sudah terdengar jauh, karena dia sudah melayang pergi dari situ.


Hanya dengan satu hentakan kaki di air, ia telah sampai di atas kapal di hadapannya.


“Selamat malam semua, nama cayhe Cio San.”


Ia baru mengucap nama. Ratusan pedang telah menghunjam, mengincar segala jengkal tubuhnya. Semua orang di sini bertopeng. Semua orang di sini menyerangnya dengan berbagai macam senjata. Semua orang di sini berjumlah puluhan.


Betapa dahsyatnya serangan ini, sampai setiap jengkal di tubuhnya terdapat serangan senjata lawan. Cio San melawan mereka dengan hanya menggunakan ranting kayu sisa bakaran tadi. Ia menyalurkan tenaga saktinya ke ranting kayu itu, sehingga kekuatan ranting itu jauh melebihi kekuatan baja paling keras sekalipun.


Tubuhnya melayang. Berputar seperti gasing. Tangan kanan lurus ke depan menghalau segala serangan dengan menggunakan ranting kayu. Tangan kiri mengeluarkan bunyi derik menangkis semua serangan. Kaki lurus ke belakang. Cio San seperti terbang berputar bagai gasing menembus barisan serangan yang maha dahsyat itu.


Semua penyerangnya terlempar berhamburan. Mereka belum pernah menghadapi jurus dan serangan sedahsyat itu. Serasa tenaga serangan mereka seperti membalik menyerang diri sendiri. Inilah kedahsyatan Thay Kek Kun yang sebenarnya!


Cio San sendiri tidak tahu jurus apa yang dilakukannya. Ia hanya bergerak sesuai serangan lawan. Menerima gelombang kekuatan serangan mereka, lalu mengembalikannya. Itulah inti utama ilmu Thay Kek Kun ciptaan Tay-suhu Thio Sam Hong. Cio San tidak pernah mempelajarinya sampai selesai. Ia bahkan baru belajar tahap


pernafasannya saja. Tapi ia telah mampu menggunakan Thay Kek Kun dengan sangat baik dan sangat mahir. Jika ada murid Bu Tong-pay yang melihat ini, tentunya mereka akan tunduk hormat kepada Cio San karena menganggapnya sebagai ‘tetua’ Bu Tong-pay. Hanya tetua Bu Tong-pay yang bisa menggunakan Thay Kek Kun dengan seindah dan sedahsyat ini.


Ilmu silat, pada dasarnya sama saja. Jika engkau mengerti dasar pemikirannya, maka semua ilmu silat akan terlihat sama. Cio San telah paham dasar pemikiran Thay Kek Kun. Intinya adalah menggunakan kelembutan melawan kekerasan. Menggunakan kelemahan sebagai kekuatan. Maka tanpa belajar jurus Thay Kek Kun pun, ia bisa


menggunakannya.


Karena jika hati bersih dan tenang, tanpa segala macam pengetahuan tentang kuda-kuda, jurus, pertahanan, dan serangan, maka akal akan menemukan inti ilmu silat. Maka tanpa jurus pun, akan menghasilkan jurus. Tanpa kuda-kuda, akan menghasilkan kuda-kuda. Tanpa serangan, akan menghasilkan serangan.


Bukankah kosong adalah isi, dan isi adalah kosong?


Semua orang pernah mendengar ini.


Tapi amat sedikit orang yang memahaminya.


Ketika orang bicara silat. Maka yang dibicarakan adalah jurus. Jika jurus dihapus dari silat, maka tidak ada silat. Pemahaman yang keliru ini akan membuat orang terhambat ilmu silatnya. Jurus hanya pengembangan dari inti silat yang sebenarnya. Jika tidak ada jurus, maka inti silat itu akan berkembang menjadi apa saja. Menjadi jurus apa saja.


Silat akan menjadi murni. Tanpa diwarnai jurus, aliran, atau apapun juga.


Cio San tidak paham ini.


Tapi justru karena tidak paham lah ia mampu melakukannya.


Karena bukankah semakin paham itu juga berarti semakin tidak mengerti?


Dan tidak mengerti itu juga berarti sudah paham?


Dari ketidakpahaman muncul kepahaman, dan dari kepahaman muncul ketidakpahaman.


Sudah berapa juta kali hal itu kita dengarkan, namun berapa dari kita yang benar-benar melihatnya di dalam kenyataan?


Cio San tidak tahu jika ia sedang menggunakan Thay Kek Kun. Ia hanya bersilat sekenanya. Mengikuti gelombang. Seperti dulu, pada saat ia bersilat menghadapi gelombang banjir di dalam goa. Dalam ketidaktahuannya itu, ia telah merapalkan Thay Kek Kun tingkat tertinggi. Tingkat paling sempurna.


Pikirannya kosong. Bersih oleh prasangka. Bersih oleh segala macam aturan jurus. Ilmu mengalir dari tubuhnya secara alami. Bagaikan air yang mengalir dari gunung ke laut. Seperti angin yang berhembus dari lembah-lembah ke pantai-pantai.


Seperti itulah ilmunya sebenarnya. Tanpa ia pernah paham atau sadari.


Para penyerangnya pun hancur dalam satu kali serang. Mereka yang menggunakan tenaga paling dahsyat untuk menyerangnya, menderita luka yang paling dahsyat pula. Karena semakin dahsyat tenaga lawan, semakin besar juga tenaga yang berbalik kepada lawan itu sendiri.


Inilah kedahsyatan Thay Kek Kun!


Sayangnya, tidak ada satupun murid Bu Tong-pay saat ini yang mampu melakukannya. Bahkan ketuanya sekalipun.


Sayangnya, yang mampu melakukannya adalah anak kecil lemah yang dulu sering dihina-hina dan ditertawakan. Anak kecil yang nafasnya selalu tersengal-sengal saat berlatih silat. Anak kecil yang terusir secara hina dan terfitnah.


Inilah anak itu.


Cio San berdiri ternganga melihat hasil jurusnya.


Puluhan tubuh hancur terkoyak-koyak, darah berceceran dimana-mana. Isi perut, tulang belulang, dan isi kepala berhamburan.


Demi Tuhan, Cio San tak pernah bermaksud melakukan hal ini. Ia bahkan tidak paham kekuatan ilmunya sendiri. Memang itu semua bukan salahnya. Karena semakin kejam orang menyerangnya, semakin kejam juga serangan itu berbalik kepada diri mereka sendiri.


Ia akhirnya jatuh terduduk dan menangis. Selama ini, ia tidak pernah membunuh orang. Sekali membunuh ternyata hasilnya seperti itu. Perasaannya remuk. Dalam hati ia berjanji untuk tidak pernah membunuh orang lagi. Untuk tidak pernah mengeluarkan jurus seperti tadi lagi.


Darah dan potongan tubuh berceceran membanjiri lantai kapal. Tapi tubuh dan bajunya tetap bersih tak ternoda sedikitpun.


Cukat Tong berdiri menyaksikan dari atas ‘rakit’nya. Belum pernah dalam hidupnya menyaksikan jurus demikian hebat, dahsyat, dan menggetarkan seperti tadi.


Seumur hidup sejak lahir sampai sekarang, ia belum pernah merasakan takut. Baru kali inilah ia merasakannya. Rasa takut itu sungguh tidak menyenangkan!


Ia takut. Jika orang secerdas dan sesakti Cio San memilih menjadi ********, maka tidak ada lagi tersisa harapan di muka bumi.


Sekali melompat, Cio San telah sampai ke ‘rakit’ Cukat Tong.


“Ilmu apa itu?” tanya Cukat Tong.


“Aku sendiri tidak tahu,” jawab Cio San. Air mata masih mengalir di pipinya. “Aku tidak akan pernah menggunakan ilmu seperti itu lagi.”


“Darimana kau mempelajarinya?” Cukat Tong bertanya lagi.


“Kaupikir aku mempelajarinya dari kitab sakti?” Ia seperti tahu isi pikiran Cukat Tong “Aku hanya bergerak sembarangan saja. Mengikuti gelombang serangan lawan.”


“Kalau itu hanya jurus sembarangan, tidak mungkin hasilnya sedahsyat itu,” tukas Cukat Tong.


“Ketika kau menghapus segala jurus, maka kau akan bersilat mengikuti irama alam. Gerakanmu menjadi tidak terbatas. Perubahan gerak yang kau lakukan menjadi tidak terhitung. Inti silat yang sebenarnya.., mungkin, bukan terletak pada jurus. Tapi bergerak mengikuti alam,” jelas Cio San.


Cukat Tong manggut-manggut. Sedikit-banyak, ia bisa memahami maksudnya. Tapi untuk menjalaninya, tentu bukan hal yang mudah. Ia berkata, “Kau sepertinya sudah mencapai tahap tertinggi ilmu silat. Kau telah mengerti inti sebenarnya dari ilmu silat.”


“Aku justru tidak paham apa-apa,” Cio San menggeleng.


Sesungguhnya ia memang tidak mengerti.


Ia hanya bergerak!


Lama ia hanya termenung di atas ‘rakit’. Malam semakin gelap. Sungai yang dilalui mereka semakin sempit dan kecil. Mereka kini telah memasuki hutan lebat. Terasa semakin gelap, karena cahaya bulan telah tertutup bayangan pepohonan.


Mereka berdua diam membisu.