
Ia terus berjalan. Di ujung taman yang luas dan indah ini, Cio San dapat mendengar bunyi sungai di depan sana. Suara desahan dan erangan yang tadi menusuk-nusuk telinganya, kini perlahan hilang berganti suara gemericik air sungai.
Ada suara langkah dari arah sungai. Entah siapa lagi yang akan ia temui.
Perlahan lahan ia melangkah, terlihat sebuah bayangan di depannya.
Seorang wanita sedang mencuci pakaian di sungai. Wanita itu menoleh dan terkejut melihat kedatangan Cio San.
“Ah…, Tuan pasti hendak menemui Pangcu, bukan?” katanya.
Cio San hanya mengangguk. Kenapa tempat ini tidak pernah kehabisan wanita cantik?
Wanita di depannya ini memakai baju yang sederhana, hanya kain kasar yang modelnya ketinggalan jaman pula. Rambutnya digelung biasa. Tiada satu pun perhiasan yang melekat di tubuhnya. Tapi jika dibandingkan dengan ratusan perempuan maha cantik yang tadi ia temui, seperti membandingkan matahari dengan kunang-kunang.
“Jika Tuan ingin menemui beliau, biar saya antarkan,” katanya lagi.
“Baiklah. Terima kasih, Siocia (Nona),” kata Cio San.
Mereka lalu berjalan beriringan. Harum tubuh nona ini adalah harum bunga Bwee. Bunga yang memenuhi tempat ini. Seolah-olah kecantikan seluruh bunga Bwee itu bersatu, dan mewujud menjadi nona ini.
“Nama cayhe Cio San. Bolehkah tahu siapa nama Nona?” tanya Cio San sopan.
“Nama hamba Bwee Hua.”
“Ahhh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Cio San. Bwee Hua artinya Bunga Bwee. Jika tidak takut dituduh berlebihan, hampir-hampir Cio San berpikir, bahwa mungkin saja bunga-bunga Bwee yang indah ini tumbuh dari rambut nona ini.
Kecantikan yang sederhana. Tapi jika kau melihatnya, maka kau akan mengenal kecantikan yang sebenar-benarnya. Kecantikan seperti ini tidak membutuhkan baju yang indah, perhiasan yang mewah,bedak tebal, dan gincu merona.
Kecantikan seperti ini, hanya perlu mata yang memandangnya. Seandainya surga diciptakan di bumi, tentulah bentuknya akan seperti nona ini.
Sehingga kau seolah-olah sedang melakukan dosa besar saat memandangnya.
Oleh karena itu, Cio San tidak berani memandangnya. Ia hanya menunduk sambil berjalan. Memandangi helai-helai bunga yang menutupi jalanan.
Mereka kemudian melewati jembatan kecil dan sampai ke seberang.
Tidak ada kata-kata yang terucap. Bersama perempuan cantik, kau sebaiknya jangan berkata-kata. Kau cukup mengaguminya saja. Karena kadang, berkata-kata itu bisa salah. Tapi mengagumi tak akan pernah salah.
Kau tak pernah salah karena mengagumi seseorang. Kau hanya salah karena membiarkan
dirimu berpikir, bahwa kau bisa memilikinya.
Maka itu, Cio San tidak berkata-kata dan juga tidak berpikir.
Nona ini, semuanya sempurna. Tapi kesempurnaan ini begitu sederhana. Kecantikan nona ini tidak mungkin bisa kau bandingkan dengan perempuan lain. Kau mungkin hanya bisa membandingkannya dengan langit, bintang-bintang, atau telaga yang sunyi.
Begitu sepi. Begitu sendirian. Jika kau memandang matanya, ia akan mengantarkanmu ke dalam kesunyian yang abadi. Nona ini mengingatkan Cio San kepada Ang Lin Hua. Tapi jika kecantikan Ang Lin Hua memukau, kecantikan nona ini seperti hendak menghisap habis cahaya kehidupan dalam jiwamu.
Nona itu pun tidak perlu berkata apa-apa. Karena matanya telah berbicara. Hidungnya telah berbicara. Bibirnya telah berbicara. Rambut kemerahannya telah berbicara. Kulit lembutnya telah berbicara. Nona ini hanya perlu menatapmu, dan kau akan menjadi gila.
Gila karena tidak percaya, ada makhluk seindah ini mau menatapmu.
Tapi nona ini kemudian bertanya, “Tuan ada keperluan apa hendak menemui Pangcu?”
“Dia mengundangku.”
“Oh.”
Lama mereka berjalan beriringan, lalu si nona kembali berkata, “Tuan mungkin satu-satunya tamu undangan yang berhasil sampai disini. Tamu-tamu lain, semua terhenti di taman bunga di belakang tadi.”
“Taman bunga itu memang seperti surga dan neraka yang melebur menjadi satu,” kata Cio San.
Nona itu hanya diam. Sepertinya matanya membenarkan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di halaman depan rumah peristirahatan itu. Si nona kemudian berkata, “Tuan tinggal di sini. Biar hamba memberitahukan kedatangan Tuan kepada Pangcu.”
Cio San hanya mengangguk-angguk lalu berkata, “Sesungguhnya Nona tidak perlu repot-repot.”
“Kenapa, Tuan?”
“Bukankah Nona adalah sang Pangcu itu sendiri?”
Nona itu menatapnya. Lama sekali.
Lalu ia kemudian tersenyum.
“Aku bisa membohongi seluruh dunia, tapi aku tetap tidak bisa membohongimu. Mari masuk.”
Ia lalu menaiki tangga, dan masuk ke dalam rumah peristirahatan itu. Cio San mengikutinya dari belakang. Siapapun lelaki yang berjalan di belakang nona itu, pasti akan ketakutan. Takut jika nona ini kemudian menghilang dan tak terkejar lagi.
Karena siapapun yang sudah memandangnya, tentulah tak ingin memandang wanita lain lagi. Itulah kenapa ketiga pendekar penjaga jalan tadi rela menjadi hambanya. Itulah kenapa ratusan orang rela menjadi pesuruhnya, dan beraksi sebagai penjahat bertopeng.
Cukat Tong benar. Kekuatan terbesar di muka bumi ini ternyata bukan pedang atau jabatan. Kekuatan terbesar adalah paras wanita. Paras cantik yang membuat pedang jatuh lunglai dan jabatan menjadi hina.
Jika ada orang yang paling pantas menjadi ‘otak’ dibalik segala kejadian ini, tentulah hanya nona ini seorang. Cio San dulu tak pernah menduga seperti ini. Karena dia tak percaya, ada wanita yang paling cantik sedunia. Kini ia harus percaya.
Nona itu sudah duduk di singgasananya. Bahkan cara duduknya pun begitu indah.
Cio San tetap berdiri.
“Ah, kenapa tetap berdiri? Apa kau takut jika setelah duduk nanti, kautak sanggup lagi untuk berdiri?”
Cio San malah tersenyum. Sambil memainkan ujung rambutnya, ia berkata, “Apa yang Nona rasakan saat memiliki semua ini?”
“Ah, kita baru saja bertemu dan pertanyaanmu sudah seberat ini. Kau yakin tidak ingin mencicipi arak dan bersenang-senang dahulu?”
Entah kenapa ketika mendengar kata ‘bersenang-senang’, Cio San merinding.
Tapi Cio San hanya tersenyum, lalu berkata lagi, “Tentunya kau tak merasakan apa-apa, bukan?”
Si nona bagai tercekat. Ia terdiam lama, lalu lantang berkata,
“Benar. Aku memang tak merasakan apapun. Bahkan, jika seluruh dunia tunduk dibawah kakiku, dan semua laki-laki berlutut memujaku, aku tak akan merasa apa-apa. Kau sudah puas?”
“Aku justru kasihan.”
Memang, jika kau melihat seseorang memiliki segalanya, tapi ia masih saja tidak bahagia, bukankah kau akan mengasihaninya?
Tatapan mata nona ini kemudian berubah menjadi begitu menakutkan.
“Kuakui kehebatan dan kecerdasanmu, tapi apa kau pikir itu semua cukup untuk menundukkan aku?” katanya.
“Pada hakekatnya, tiada seorang pun yang sanggup menaklukkanmu.”
“Nah, kalau kau sudah tahu begitu, mengapa tidak lekas kesini dan pegang tanganku? Belai rambutku dan cium bibirku?”
Jika ia berkata begitu kepada seluruh lelaki di dunia ini, kau akan tetap merasa hanya kepadamu lahperkataan itu tertuju.
Cio San hanya seorang pemuda. Pemuda sehat jasmani dan rohani pula. Maka ia melangkah ke depan, menuju singgasana nona itu. Singgasananya, entah mengapa, bentuknya hampir mirip sebuah ranjang. Seberapa banyak lelaki yang pernah naik ke atasnya?
Jika kau naik ke atas ranjang bersama perempuan, kau berharap tak akan turun lagi selamanya. Tapi ada kalanya, saat kau turun dari ranjang itu, kau berharap tak akan pernah lagi menaikinya.
Tapi Cio San datang dan duduk di sampingnya. Wajah mereka begitu dekat. Nafasnya bahkan terhirup oleh Cio San. Harum tubuhnya bahkan sampai melekat ke tubuh Cio San. Getaran dadanya bahkan juga menjalar ke dada Cio San.
Si nona membiarkan bajunya terlepas dengan sendirinya. Rupanya baju itu tak pernah dikancingkannya. Hanya dengan satu kali gerakan, baju itu sudah jatuh terkulai di lantai. Tubuhnya kini polos. Kata telanjang terlalu kasar untuk disematkan padanya. Tubuhnya begitu suci dan murni. Tidak ada satu titik pun yang membuat tubuh itu menjadi tidak sempurna.
Jika kau kumpulkan seluruh pujangga, penyair, penulis lagu, dan pelukis dari seluruh muka bumi, maka tak ada seorang pun dari mereka yang sanggup melukiskan keindahan ini.
Ia mencium Cio San. Bibirnya yang merekah, benar-benar tercipta untuk ini. Tangan Cio San pun mengelus-ngelus lengannya….…. naik….. ke daerah-daerah terindah di tubuh nona itu………..
Namun tiba-tiba…, tangan itu pun mengangkat!…dan melempar nona itu ke arah tembok!!
“Kau…kau…” Si nona tak sanggup berkata apa-apa, ia melayang turun dengan indah.
“Kau pikir semua laki-laki akan jatuh berlutut di hadapanmu?” jengek Cio San tersenyum. “Aku heran, kenapa semua perempuan cantik selalu merasa mereka bisa menaklukan semua laki-laki..”
“Hah!” Dengan marah nona itu membanting kaki. Lantai marmer itu hancur berantakan.
Ia lalu melayang cepat ke arah Cio San. Tubuh polositu menyerang dengan hebatnya, sampai-sampai Cio San sendiri tidak percaya. Tapi Cio San adalah Cio San. Tubuhnya bergerak tak kalah cepat. Ia menghindar ke samping. Serangan nona itu hanya mengenai ranjang. Tapi dalam sekejap mata, nona itu sudah menghilang!
Ternyata dibalik ranjang itu terdapat pintu rahasia!
Cio San tercekat. Alangkah bodohnya..! Ia tidak menyangka, bahwa ada jalan rahasia di balik ranjang itu. Dicari-carinya tuas untuk membuka pintu rahasia, tetapi semua percuma saja. Hanya si nona yang tahu rahasianya sendiri.
Dengan kecewa, ia keluar dari rumah itu. Dalam sekejap berlari, ia sudah sampai di taman bunga, tempat ratusan orang sedang asyik bercinta. Dan mereka masih di sana! Bercinta dengan puasnya, seolah-olah hari esok takkan pernah ada.
Cio San lalu membakar bunga-bungaan itu. Ahli silat seperti dia, hanya perlu menjentikkan batu, maka keluarlah api. Api pun menari-nari, membakar tamansari.
“Kebakaran…!!!
Kebakaran……!!!!”
Semua orang berteriak panik.
Tapi begitu mereka mencium asapnya, mereka malah berteriak,
“Angin surga...! Angin surga…!”
Mereka menghisap dan menghirup asap itu dengan nikmat. Seolah-olah di dunia ini tiada yang lebih nikmat selain asap itu.
Cio San meninggalkan mereka. Api dan asap membumbung tinggi. Semua orang seperti gila, dan mabuk menghirupnya.
Rupanya tanaman ini jauh lebih memabukkan ketika dibakar.
Ia memang pernah membaca. Tentang sejenis tanaman, yang jika kau hirup aromanya, akan membuatmumabuk dan ketagihan. Kau bahkan rela bunuh diri, hanya untuk menghirup aromanya lagi. Rupanya ini memang cara lain dari si ‘dia’ untuk menguasai orang-orang ini.
Mereka semua rela mati hanya demi menghirupnya. Bahkan, ketiga pendekar yang tadi dilawannya pun, sudah bergabung bersama-sama untuk menghirupnya. Ternyata mereka menjadi hamba hanya karena bunga-bungaan ini.
Cio San pergi. Ia tak ingin tahu lagi tentang orang-orang ini.