
“Di mana anggota Kay Pang dan Ma Kauw?” tanya Cio San.
“Seperti perintahmu, mereka pergi ke arah gerbang timur,” jawab Cukat Tong.
“Baik, ayo kita cari mereka.”
Tak sampai berapa lama terbang, sudah terlihat rombongan ratusan orang sedang berlari dengan cepat ke arah timur. “Itu mereka,” kata Cukat Tong.
Segera mereka menukik ke bawah.
Menggunakan ginkangnya, Cio San meluncur dengan indah ke bawah. Tahu-tahu ia sudah muncul di hadapan ratusan orang anak buahnya itu.
“Saudara-saudara, aku meminta maaf hal ini harus terjadi. Apakah kalian masih percaya kepadaku?”
“Percaya sepenuhnya, Tuan!” jawab mereka semua dengan lantang.
“Baiklah. Mulai hari ini, kita semua berpisah. Silahkan berpencar sendiri-sendiri. Manusia-manusia munafik yang tadi telah menuduhku, mungkin akan mencari alasan untuk menyerang Kay Pang dan Ma Kauw. Partai kita telah mengalami berbagai macam hal dan cobaan. Kita tak akan mungkin kalah hanya karena masalah begini saja, bukan?”
“Tak akan pernah!” jawab mereka serentak.
“Baiklah. Aku akan bertemu dengan Saudara-saudara lagi secepatnya. Tunggu perintah dariku. Cun-tianglo, mohon Tianglo segera ke kotaraja. Bawa beberapa orang yang paling engkau percaya. Tunggu perintahku. Jangan keluar kotaraja sebelum ada perintah dariku.”
“Siap, Pangcu!” jawab Pengemis Cun.
“Yan Bun Thian, kau bertugas melanjutkan perjalanan ke puncak Thay San. Bawa beberapa saudara pula bersamamu.”
"Siap, Kauwcu!” jawab Yan Bun Thian.
“Ketua cabang Ma Kauw di kota ini, silahkan maju,” kata Cio San.
Seorang pemuda yang lumayan tampan maju ke depan. Dia tadi tidak ikut mabuk-mabukan karena ada beberapa urusan sebentar. Tadi ia pun datang sendirian ke rumah Khu-hujin untuk menyembunyikan jati dirinya. Kini, ketika Ma Kauw sedang mengalami kesulitan, ia bergabung kembali.
“Gouw Sam menerima perintah,” kata pemuda tampan itu.
“Jaga jangan sampai Ma Kauw di kota ini hancur berantakan. Tetap siapkan orang untuk menguatkan pertahanan kita. Aku akan memerintahkan anggota dari kota lain untuk membantumu.”
“Siap. Ada lagi, Kauwcu?” tanya Gouw Sam.
“Mata-matai Khu-hujin dan anggota-anggotanya. Aku butuh kabar tentang pergerakan mereka.”
Semua orang terhenyak. Khu-hujin ‘kan baru saja mengangkat anak kepadanya?
Cio San rupanya paham isi hati anggotanya, ia lalu tersenyum dan berkata,
“Jangan khawatir. Percayalah kepadaku.”
Entah kenapa, senyumnya ini bisa begitu meyakinkan semua orang. Ada sesuatu pada dirinya yang membuat orang cepat percaya dan merasa dekat.
“Baiklah, Saudara-saudara. Silahkan berpencar!”
Begitu kata-katanya selesai diucapkan. Semua orang sudah menghilang dari hadapannya.
Hanya ada satu orang yang tetap tinggal.
Ang Lin Hua.
Gadis cantik itu menatapnya.
Ada satu kelebihan perempuan. Yaitu ketika ia menatapmu, ia sanggup membuatmu merasa sebagai orang yang paling berdosa di muka bumi ini.
Cio San tak tahu apa yang harus ia perintahkan kepada nona ini. Ia takut, jika ia membuka mulut dan mengeluarkaan perkataan yang salah, tatapan nona ini malah akan membetot sukmanya.
“Cukat Tong! Kau bisa membawa seorang lagi?”
“Tidak bisa! Membawa dua orang saja sudah sangat payah,” jawab Cukat Tong.
“Baiklah. Kita berpisah di sini. Kita bertemu beberapa hari lagi.”
“Baik.”
Cukat Tong segera pergi. Ia tidak bertanya bertemu di mana dan kapan.
Tapi segera ia bertanya, " Bagaimana dengan Suma Sun?"
"Suma Sun adalah Suma Sun," jawab Cio San enteng.
"Haha.. Betul juga." Cukat Tong hanya tertawa dan menghilang dari situ bersama burung-burungnya.
Cio San menoleh kepada Ang Lin Hua.
“Nona, ikutlah denganku.”
Ang Lin Hua mengangguk.
Cio San telah menggenggam tangannya. Mereka berlari kencang sekali.
Ketika gelap, mereka telah sampai di sebuah hutan.
“Kita istirahat sebentar,” kata Cio San.
Ang Lin Hua mengangguk.
Kadang-kadang, hal yang paling menyenangkan dari perempuan, bukanlah kecantikan atau dandanannnya. Tapi adalah saat ketika ia mengangguk dan mengiyakan terhadap semua perkataanmu.
Cio San segera melompat ke pucuk pepohonan dan memetik beberapa buah-buahan segar.
“Silahkan, Nona,” katanya.
“Terima kasih, Kauwcu,” kata Ang Lin Hua.
Mereka makan dengan lahap dan tenang.
“Nona, kenapa sejak tadi diam saja?”
“Tidak apa-apa, Kauwcu.”
Jika perempuan mendiamkanmu dan berkata tidak ada apa-apa. Itu berarti engkau telah membuat kesalahan besar terhadapnya.
Cio San paham ini.
“Katakan saja, Nona.”
“Ma Kauw adalah partai besar, dan selama ini tidak ada orang yang berani macam-macam dengan kita,” kata Ang Lin Hua.
“Kau marah karena aku tidak melawan balik?”
Si nona hanya diam dan menatap Cio San.
“Aku hanya tak ingin membunuh orang,” kata Cio San.
“Tapi mereka semua ingin membunuh Tuan,” sahut Ang Lin Hua.
Cio San hanya tersenyum dan memainkan ujung rambutnya.
“Orang rendahan macam Lim Gak Bun itu pun, bahkan bisa kubunuh dengan satu pukulan,” kata si nona.
Senyum Cio San tambah lebar. Ia baru ingat, ternyata luka di tubuhnya parah juga. Tapi kenapa sekarang sakitnya sudah berkurang seluruhnya?
“Kenapa Tuan membiarkan ia mempermalukan Tuan?”
Perempuan yang cantik, jika marah, biasanya kecantikannya tidak hilang. Tapi kau justru lebih takut kepadanya, daripada kepada setan gunung.
Oleh sebab itu, Cio San diam saja.
“Apakah karena istrinya itu?” kata Ang Lin Hua.
Memang di dunia ini, satu-satunya makhluk yang bisa mengerti perasaan perempuan, hanyalah perempuan sendiri.
Cio San hanya bisa menatap Ang Lin Hua.
Laki-laki paling pintar di seluruh dunia pun, kadang menjadi manusia paling bodoh di hadapan seorang perempuan. Hal senyata ini, kenapa masih ada orang yang menganggap laki-laki lebih kuat daripada perempuan?
“Benar, bukan?”
Cio San tidak bisa menjawabnya.
“Tuan, jika itu urusan pribadi Tuan, hamba tak akan mencampuri. Tetapi Tuan membawa nama besar Ma Kauw di pundak Tuan.”
“Aku mengerti, Nona. Maafkan, aku memang punya banyak kekurangan.”
Laki-laki jika ingin mengakui kesalahannya, pasti akan berkata seperti itu.
“Sebenarnya siapa perempuan itu? Apakah kekasih lama Tuan?”
“Ya.”
“Ia meninggalkan Tuan?”
“Ya.”
“Kenapa tidak cari yang baru?”
“Mencari kekasih ‘kan tidak semudah mencari anggota Ma Kauw atau Kay Pang,” kata Cio San sambil tertawa.
Ang Lin Hua tidak tertawa.
“Mengapa kini ia begitu benci kepada Tuan?”
“Aku sendiri tidak tahu.”
“Apakah Tuan pernah mengkhianatinya atau membohonginya?”
“Setahuku, tidak pernah.”
“Hanya ada dua hal yang membuat perempuan berpaling dari laki-laki. Pengkhianatan laki-laki, atau adanya laki-laki yang lain.”
“Menurutmu, urusanku ini masuk bagian yang mana?”
Dengan sendirinya Ang Lin Hua tidak perlu menjawab. Ia lalu mengalihkan pembicaraan.
“Tuan sudah tahu bukan, siapa si ‘otak besar’ ini?”
“Sudah.”
“Kenapa tidak dibunuh saja?”
“Aku ‘kan sudah bilang, aku tidak akan membunuh orang lagi,” tukas Cio San.
“Tapi bukankah jika Tuan membunuhnya, itu dapat menghentikan banyaknya kejahatan yang akan ia timbulkan?” tanya Ang Lin Hua.
Cio San tak dapat berkata apa-apa.
Ia hanya takut, beban itu terlalu berat untuk ia pikul.
Ada sementara hal di dunia ini, yang semua orang di muka bumi ini yakin, bahwa kau sanggup melakukannya dan hanya kaulah yang sanggup melakukannya. Tapi dalam hatimu, kau tahu bahwa sesungguhnya kau tak memiliki kemampuan apa-apa.
“Aku tak punya hak untuk mengadili atau menghukum seseorang. Jika aku melakukannya pun, aku harus memiliki bukti yang kuat dan nyata,” kata Cio San.
“Tuan, berhentilah bersikap gagah dan suci. Mohon maaf jika hamba harus mengatakan ini. Tapi Tuanlah yang selama ini terus difitnah, terus dikorbankan, dan terus dilukai. Mengapa tidak berdiri dan pergi menantangnya? Dengan ilmu dan kemampuan Tuan, tidak ada satu manusia pun yang tidak sanggup Tuan hadapi.” Ada secuil kemarahan di mata Ang Lin Hua.
“Dan bagaimana jika aku salah? Bahwa dugaanku keliru, dan aku kesalahan tangan membunuh orang yang tidak bersalah?” tanya Cio San.
“Aku saja yakin sepenuhnya kepada Tuan. Kenapa Tuan tidak yakin terhadap diri sendiri?” kata Ang Lin Hua balas bertanya.
“Aku bukan Tuhan yang selalu benar, yang selalu adil penghakimannya. Aku hanya percaya bahwa orang yang berbuat kesalahan, suatu saat akan menerima hasil dari apa yang ditanamnya.”
“Sekali lagi hamba mohon maaf. Tapi bagi hamba, perkataan itu adalah perkataan pengecut.”
Di dunia ini, baru satu orang inilah yang berani menyebutnya ‘pengecut’.
Kadang-kadang kau marah jika ada orang mengatakan hal ini kepadamu. Kemarahanmu itu muncul, karena jauh di lubuk hatimu kau tahu perkataannya benar.
Tapi Cio San tak marah. Ia hanya tersenyum dan berkata,
“Aku akan menghentikannya pada saatnya. Jika saat itu tiba, ia tak akan sanggup berkelit dan lari lagi. Tapi tidak saat ini.”
“Dan Tuan rela, melihat banyak korban yang akan berjatuhan, saat Tuan membiarkannya berkeliaran?” tanya Ang Lin Hua.
Kau tahu beratnya menjadi pemimpin?
Itu adalah saat dimana semua orang yang kau pimpin merasa dirinya benar, dan segala keputusan yang kau ambil salah di hadapan mereka.
Cio San tahu ia tidak cocok dan tidak pantas menjadi pemimpin. Ia lebih suka hidup dengan bebas, tanpa memikirkan segala *****-bengek urusan dunia. Jika boleh memilih, tentu ia akan memilih hidup sendirian di atas puncak Bu Tong-san, ditemani sebuah khim.
Para pemimpin sejati tidak diciptakan, dimunculkan, dipilih, atau diperjuangkan.
Mereka dilahirkan.
Oleh sebab itu, sungguh dungu dan *****, jika ada orang yang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin. Mengajukan dirinya untuk dipilih sebagai pemimpin. Karena pemimpin sejati itu datang, di saat dunia begitu membutuhkan kehadirannya.
Kau mungkin saja ditakdirkan lahir sebagai kaisar, tapi belum tentu sebagai pemimpin. Karena kaisar hanyalah jabatan, sedangkan pemimpin adalah anugerah.
Anugerah yang datang dari langit kepada manusia.
Kaisar berganti setiap masa. Tapi pemimpin sejati, hanya datang pada masa tertentu, hanya untuk membuat dunia sedikit lebih cerah dan indah, di tengah kemuraman dan ketidakadilan.
Cio San sungguh-sungguh paham, bahwa ia tak memiliki takdir seperti itu.
Siapa yang menyangka, seorang anak kurus sakit-sakitan mampu menjadi lelaki dewasa yang ilmu silatnya sangat mengagumkan?
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Tujuannya tentu saja adalah puncak Thay San. Tetapi mereka memilih jalur yang jarang ditempuh oleh orang lain. Jalur mendaki yang curam, menembus hutan-hutan lebat, dan melintasi lembah-lembah tak bernama.
Selama di perjalanan, Ang Lin Hua terus melatih ilmu yang dipelajarinya dari Cio San. Kecantikannya pulih total walaupun rambutnya masih tetap putih.
Di hari kesembilan, mereka beristirahat di tepi sebuah hutan bambu. Musim gugur telah merayap datang. Walaupun bambu-bambu masih menguning, dedaunannya sudah mulai berhamburan dengan indah.
Mereka bersandar di bawah pohon pinus. Menikmati angin pegunungan yang sejuk dan lembut.
Lalu tiba-tiba seseorang muncul di hadapan mereka.
Entah dari mana dia.
Tahu-tahu muncul seperti setan di hadapan mereka berdua.
Orang yang bisa mendadak muncul di hadapan Cio San, mungkin hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.
“Kau yang bernama Cio San?”
Ia adalah seorang kakek tua yang masih terlihat gagah di umurnya yang sekitar 80 tahun. Rambutnya dikuncir sederhana. Pakaiannya pun sederhana.
Cio San dan Ang Lin Hua berdiri dan menjura,
“Boanpwe (saya yang muda) adalah Cio San dan ini sahabat boanpwe bernama Ang Lin Hua.”
“Pilih senjatamu,” kata kakek tua itu.
“Boanpwe tidak membawa senjata,” kata Cio San.
“Aku tahu. Orang sepertimu ‘kan bisa pakai apa saja. Ambil apa saja!” kata kakek tua itu tegas.
Cio San pergi dan mematahkan sebuah ranting pohon. Ia kembali dan berkata,
“Boanpwe hanya menemukan ini.”
Entah bagaimana, di tangan si kakek pun sudah ada ranting yang sama panjangnya dengan ranting di tangan Cio San. Ia sendiri tak tahu kapan si kakek bergerak mengambil ranting itu.
“Jika kau punya permintaan terakhir, katakan sekarang. Sebisa mungkin akan kulaksanakan setelah kau mati.” Si kakek mengatakan hal itu dengan ringan, seolah-olah Cio San memang sudah akan mati.
“Tidak ada,” kata Cio San enteng pula.
“Bagus. Kuberi kesempatan menyerang tiga kali. Silahkan.”
“Cianpwe (Anda yang lebih tua) tak akan menyerang sebelum boanpwe menyerang?”
“Kau meragukan kata-kataku?”
“Tentu tidak. Baiklah.”
Ia berkata ‘baiklah’ tapi tidak menyerang. Ia justru duduk dengan tenang, membuka buntalan perbekalan yang biasanya dibawa Ang Lin Hua.
“Marilah minum dulu, Cianpwe,” katanya tersenyum sambil membuka guci arak yang sangat wangi isinya.
"Aku datang untuk membunuhmu, bukan untuk minum.”
“Silahkan, Cianpwe. Tapi bukankah Cianpwe sendiri yang berjanji untuk tidak menyerang boanpwe, sebelum boanpwe menyerang 3 kali?” katanya sambil tersenyum. Ia bangkit lalu menyodorkan secawan arak kepada kakek tua itu.
Si kakek hanya menatap cawan anggur itu dan bekata,
“Aku kagum dengan kecerdasanmu. Tetapi mengapa kau pakai untuk melakukan hal-hal bejat?”
“Cianpwe menelusuri jejak boanpwe selama beberapa hari ini, apakah karena mendengar keributan di rumah Khu-hujin?”
Si kakek hanya diam. Karena kadang-kadang diam berarti mengiyakan.
“Sesungguhnya tidak ada satu hal pun yang sanggup membuktikan ketidakbersalahan boanpwe. Tetapi jika Cianpwe memang ingin membunuh boanpwe, baiklah. Harap perhatikan serangan.”
Dengan ranting kayu, ia menyerang pundak kakek tua itu tiga kali. Tapi serangan itu sungguh aneh. Tidak ada sesuatu pun di dalam serangan itu. Hanya 3 kali sentuhan ke pundak kakek itu. Sentuhan yang sopan dan halus.
“Nah. Jika hari ini boanpwe mati, boanpwe hanya memohon agar Cianpwe mengusut siapa yang benar-benar bertanggung jawab di balik semua kejadian ini, lantas menghukumnya. Di dunia ini, mungkin hanya Cianpwe yang pantas melakukannya.”
Selesai berkata begitu, ia berpaling kepada Ang Lin Hua dan tersenyum.
“Aku pergi duluan.”
Ang Lin Hua hanya bisa berdiri menatapnya dan meneteskan air mata.
Cio San lalu lalu kembali menghadap si kakek dan berkata,
“Silahkan, Cianpwe.”
Ia duduk berlutut dan kepalanya menengadah sambil tersenyum. Saat ini, terasa seluruh beban di pundaknya terangkat sepenuhnya. Jika kakek sakti di hadapannya ini sudah mau turun tangan, tentulah keadaan dunia Kang Ouw akan membaik sepenuhnya.
Si kakek termenung dan tak sanggup berkata apa-apa. Ia lama terdiam, lalu kemudian berkata,
“Berdirilah. Hidupku sudah mengalami berbagai hal, sehingga aku tahu mana orang yang jujur dan mana yang bukan.”
Dengan kecewa, Cio San berdiri. Di dunia ini, orang yang kecewa karena tidak jadi mati, mungkin hanya Cio San seorang.
“Kau tahu siapa aku?” tanya si kakek.
“Pengetahuan boanpwe sungguh cetek. Tapi jika boanpwe tidak salah, Cianpwe adalah sang Pendekar Pedang Kelana, Can Liu Hoa-tayhiap.”
Si kakek hanya mengangguk.
“Perlihatkan silatmu,” katanya.
Jika seorang sepuh dan dikagumi dalam dunia Kang Ouw memintamu memperlihatkan silatmu, itu berarti ia memujimu.
Cio San lalu bergerak. Bergerak sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Gerakannya lugas, luwes, lincah, dan penuh tenaga. Ia bergerak seperti sedang bertarung dengan musuh bebuyutannya. Padahal ia bersilat seorang diri.
Entah sudah berapa jurus. Entah jurus apa. Entah berapa lama.
Sang kakek menyaksikan dengan kagum, dan sesekali memuji.
“Bagus!”
“Gerakan hebat!”
“Pintar sekali!”
Begitu Cio San selesai bersilat, si kakek tersenyum senang. Lalu bertanya,
“Kau menciptakan sendiri gerakan-gerakan itu bukan?”
“Benar, Cianpwe.”
“Memang. Ilmu silat seperti itu tak akan mampu dipelajari manusia. Silat seperti itu hanya lahir dari pemikiran yang cerdas. Belajar seribu tahun pun, tidak ada manusia yang sanggup menguasainya.”
“Cianpwe terlalu memuji,” kata Cio San menjura.
“Selama puluhan tahun aku mencari orang untuk mewariskan ilmu pedangku, syukurlah hari ini kutemukan orangnya,” kata si kakek.
Lalu lanjutnya,
“Tapi kau tak akan kuangkat menjadi murid.”
“Dengan pemahamanmu, kau tak perlu orang untuk mengajarimu. Justru jika ada orang yang mengajarimu, kau tak akan bisa mengerti.”
Dengan mata dan pengalamannya, si kakek bisa memahami pribadi Cio San. Hal yang dulu tidak dapat dilihat oleh para guru di Bu Tong-pay. Karena memang di dunia ini, ada orang yang jika belajar sendiri, kemajuannya justru lebih cepat dibandingkan jika diajari orang lain.
“Bolehkah aku meminta tolong kepadamu, Cio San?” tanya si kakek.
“Apapun, Cianpwe,” jawab Cio San penuh hormat.
“Lihatlah permainan pedangku.”
“Baik, Cianpwe.”
“Ilmu pedang ini sangat dalam, tapi juga sangat dangkal. Kau tidak perlu mempelajarinya. Cukup kau lihat dan pikirkan saja maksud gerakan-gerakannya. Aku hanya akan memperlihatkan kepadamu sekali saja. Seberapa jauh jodohmu terhadap ilmu pedang ini, hanya Thian yang tahu,” kata si kakek.
Segera si kakek bersilat. Ia hanya menggunakan ranting pohon.
Gerakan sederhana. Tapi indah. Tidak ada gerakan percuma. Hampir seperti ilmu pedang Suma Sun. Tapi terlihat lebih indah, lebih luwes, dan lebih bertenaga.
“Kau sudah lihat?”
“Sudah, Cianpwe.”
“Seberapa dalam yang kau paham?”
'Tidak paham sama sekali,” kata Cio San jujur.
“Hahaha…. Bagus. Sekarang aku akan menyerangmu. Perhatikan serangan.”
Si kakek menyerang dengan dahsyat.
Cio San menyambutnya dengan cara yang sama.
Dua orang bersilat dengan jurus yang sama, tapi juga terlihat seperti jurus yang berbeda satu sama lain.
Ratusan jurus mereka lalui. Bagi Cio San, ini pertempuran paling lama yang pernah dijalaninya. Bagi si kakek, ini pertempuran paling menyenangkan yang pernah dialaminya.
Mereka berdua bertarung dengan gembira.
Setelah selesai, si kakek berkata,
“Kini kau sudah menguasai ilmu pedangku. Aku tidak menganggapmu sebagai murid dan kau jangan memanggilku sebagai guru. Aku hanya meminta kau menjaga ilmu pedang ini. Jika kau menemukan seseorang yang berbakat dan memiliki jiwa yang lurus, ajarkanlah ilmu pedangku ini kepadanya.”
“Boanpwe berjanji, Cianpwe. Boanpwe memiliki seorang sahabat yang sangat berbakat dalam ilmu pedang.”
“Maksudmu Suma Sun?” tanya si kakek.
“Benar, Cianpwe.”
“Ilmu pedangnya tak akan berkembang lagi.”
“Ah…”
“Kau mengasihaninya? Ilmu pedangnya tak akan berkembang, karena dia telah memilih jalur lain.”
“Jalur apa, Cianpwe?”
“Ia memilih ilmu membunuh.”
Lanjut si kakek,
“Ketahuilah, orang jika terlalu berbakat dalam ilmu pedang, maka lama kelamaan ia akan kehilangan jati dirinya. Lama-lama ia berubah, dari manusia menjadi sebuah besi dingin yang tajam. Padahal pedang seharusnya tetap menjadi pedang, dan manusia tetap menjadi manusia.”
“Itulah sebabnya aku memilihmu menjadi pewaris. Karena kau tidak memiliki jiwa dan bakat ilmu pedang sebesar Suma Sun. Pada akhirnya, ilmu pedangmu akan jauh melampauinya.”
“Maksud Cianpwe, boanpwe akan sanggup mengalahkannya?” tanya Cio San.
“Ya. Kau akan sanggup mengalahkannya. Tapi kau tidak akan sanggup membunuhnya. Justru ialah yang mungkin akan membunuhmu.”
“Boanpwe mengerti.”
“Kau mengerti?”
“’Ilmu pedang’ dan ‘ilmu membunuh dengan pedang’, adalah dua hal yang jauh berbeda, meskipun tiada terlihat perbedaannya. Siapapun yang mencoba memahami, tentu suatu saat akan melihat perbedaannya,” kata Cio San.
“Haha… Bagus…, bagus.... Aku tak salah menitipkan ilmu pedang ini kepadamu. Kau memiliki bakat menjadi pendekar besar. Hanya saja kau tak memiliki bakat menjadi pendekar pedang,” kata si kakek. “Tetapi justru orang yang tidak memiliki bakat besar lah yang kadang-kadang berhasil. Di dunia ini, kejadian seperti itu, sudah sangat sering kulihat.”
Lalu si kakek berkata,
“Aku jarang sekali terjun ke dalam urusan Bu Lim (persilatan). Tetapi sewaktu-waktu, jika ada manusia-manusia bejat merajalela, aku baru mau turun tangan. Sudah sangat lama aku menghilang ke selatan, dan baru kali ini kembali. Urusan pembunuhan bertopeng ini harus segera kau selesaikan, supaya aku dapat tidur dan mati dengan tenang.”
Kata-kata ini menghunjam dada Cio San. Ia tahu, saat perpisahan segera tiba. Itulah sebabnya, butir-butir air mata mengalir di pipinya.
“Bagus. Bagus. Kau punya hati yang lemah-lembut. Itu tandanya kau masih memiliki nurani. Sungguh mataku tak salah memilihmu.”
“Cio San, mungkin sampai di sini jodoh kita. Kita tak akan bertemu lagi. Tapi pertemuan beberapa jam ini, sudah cukup bagiku. Memuaskan pencarianku selama ini. Ada kau, aku bisa menghilang dengan tenang.”
“Cianpwe, perkenankan boanpwe untuk berbakti kepadamu. Walau hal kecil, setidaknya bisa memuaskan hati boanpwe.”
“Silahkan.”
Cio San lalu berlutut dan membersihkan sepatu kakek itu. Ini ia lakukan dengan air mata berlinang-linang. Bahkan sepatu itu pun basah oleh air matanya. Ia bersujud dan menciumi kaki sang kakek.
Mengapa orang-orang seperti ini selalu menghilang begitu cepat dari hidupku?
Ia lalu berdiri, membersihkan baju orang yang sangat dihormatinya itu dari dedaunan yang gugur.
Sang kakek menatapnya sambil tersenyum, tapi air matanya berlinang pula.
“Sungguh aku tidak salah. Sungguh aku tidak salah,” begitu yang terbesit di hati si kakek tua.
Akhirnya mereka berpelukan. Dua orang yang baru bertemu selama beberapa jam, tapi saat berpisah sungguh menyentuh nurani mereka.
Dan mereka pun berpisah. Si kakek berjalan dengan tenang dan hilang di balik pepohonan. Cio San bersujud sampai entah berapa lama.
Manusia. Jika ia menunjukkan kasih sayang dan cinta, barulah ia menjadi manusia seutuhnya. Karena kemanusiaan seseorang, sungguh tidak diukur dari pangkatnya, jabatannya, hartanya, atau segala kebanggaannya. Kemanusiaan seseorang hanya bisa diukur dari seberapa tulusnya ia mencintai orang lain. Betapa berartinya ia bagi orang lain, bahkan jika ia tidak memiliki apa-apa.
Selain cinta dan kasih sayang, memangnya apa yang bisa dibanggakan manusia?