Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 61: Pertempuran Kecil



“Kita harus memberitahukan Beng Liong perkara ini,” kata Cukat Tong.


“Liong-ko (Kakak Liong) adalah orang yang lurus dan agak sedikit kaku. Kau pikir, dia mau begitu saja percaya, bahwa ketua partai yang sangat dicintainya itu adalah seorang ********?” jawab Cio San.


“Kalau kau yang bicara, tentu dia percaya.”


“Di dunia ini, manusia yang kata-katanya adalah emas, adalah Liong-ko sendiri. Omongan bau kentut dari mulutku ini, masa mau disamakan dengan dirinya?”


“Tapi aku percaya omonganmu.”


“Sayangnya, Liong-ko tidak sebodoh kau.”


Mereka berdua tertawa mengikik. Heran. Di saat menyusup ke sarang macan seperti ini, mereka masih bisa bercanda.


“Ayo kita kembali,” ajak Cukat Tong.


“Ah, tapi aku malas mendaki goa sempit tadi itu.”


“Terus bagaimana?”


“Tidak bisakah kau memanggil burungmu kesini saja?”


“Kau pikir Bu Tong-pay rumah bordil? Seenak perut saja keluar masuk?”


Mereka cekikikan lagi.


Tiba-tiba mereka terdiam.


“Kaudengar langkah-langkah itu?” tanya Cio San.


“Ayo kembali ke goa!”


“Tidak usah. Tutup muka saja.”


Cio San merobek sebagian kain bajunya dan menutup bagian bawah wajahnya. Cukat Tong pun melakukan hal yang sama.


Pintu kamar terbuka. Orang yang masuk itu terbelalak, ketika dilihatnya ada dua orang bertopeng di dalam kamar.


“Penyusup!!!!!” teriaknya lantang sambil meniup sempritan tanda bahaya.


“Kau sudah tahu ada orang akan masuk, kenapa tidak segera menghentikannya?” tanya Cukat Tong santai.


“Aku ‘kan suka keramaian,” senyum Cio San di balik topengnya.


“Dasar tukang berkelahi!” umpat Cukat Tong.


Dengan sekali gerak, Cio San sudah berada di hadapan murid Bu Tong-pay itu dan menotoknya. Gerakan yang sangat cepat dan tak terduga. Si murid Bu Tong-pay seperti tidak melihat apa-apa, tahu-tahu tubuhnya sudah tertotok.


Dari luar terdengar suara ramai, puluhan murid Bu Tong-pay berlari ke arah kamar itu.


“Panggil burung-burungmu,” kata Cio San kepada Cukat Tong.


Si Raja Maling mengangguk dan meniup juga sempritan tulangnya itu.


“Murid-murid Bu Tong-pay! Hari ini kami berdua akan membunuh kalian semua!” kata Cio San dengan suara yang dibuat-buat. Cukat Tong hampir mati ketawa mendengarnya.


“Penyusup kurang ajar! Berani-beraninya kau!” Umpatan dan makian sudah tak terdengar jelas, karena kini mereka semua sudah menyerang dengan serentak.


Cio San menghadapi mereka dengan santai. Ia tidak bergerak sebelum pedang-pedang itu mendekati dirinya. Lalu dengan gerakan memutar seperti gasing, pedang-pedang itu semua terlepas dari tangan penyerang dan meluncur masuk ke putaran gasing itu.


Jika Cio San mau, pedang-pedang itu bisa dilontarkan balik, dan menyerang para pemilik pedangnya sendiri. Tapi ia tidak melakukannya.


Belasan orang itu terlongo!


Bagaimana mungkin pedang begitu ‘enak’ lepas dari genggaman mereka?


Sekarang semua pedang itu telah berada di tangan si orang bertopeng, yang malah berdiri dengan santai.


“Jika murid Bu Tong-pay hanya begini saja, pantas Bu Tong-pay semakin tenggelam namanya,” kata Cio San.


“Omongan busuk!”


Terdengar suara dari belakang murid-murid Bu Tong-pay yang tadi sudah menyerangnya.


Empat Tianglo Bu Tong-pay, bersama Tujuh Pendekar Pedang Pelindung Bu Tong-pay!


Cukat Tong geleng-geleng kepala, katanya “Kenapa kau mencari masalah?”


“Aku kangen bertemu mereka,” bisik Cio San lirih.


“Kenapa tidak kau ajak makan dan minum arak saja?”


Keduanya tertawa.


Murid-murid Bu Tong-pay yang ada di perguruan, hampir seluruhnya sudah mulai berdatangan. Melihat kedua orang bertopeng ini ngobrol sambil tertawa-tawa, hati mereka mendongkol dan tambah marah.


“Manusia lancang! Berani-beraninya kau menyusup ke sarang naga!” kata salah seorang Tianglo. Cio San masih ingat, orang ini bernama Yo Ang.


"Cayhe adalah Kaisar Maling,” kata Cio San ‘berbohong’.


Lanjutnya, ”Dan ini adalah adik cayhe, Pangeran Maling,” yang diikuti oleh suara aneh dari mulut Cukat Tong karena tidak kuat menahan tawa.


“Apa maksud kalian datang ke sini?” tanya Yo Ang tajam.


”Kaisar Maling dan Pangeran Maling masuk rumah orang, tentu bukan ingin mengajak makan. Masa hal demikian saja kau tidak paham?” tukas Cukat Tong.


Entah kenapa Cio San dan Cukat Tong berbuat aneh seperti ini. Bercanda dan tertawa-tawa. Ternyata adalah supaya menutupi jati diri mereka yang sebenarnya. Dalam hatinya, kedua orang ini jerih juga melihat banyaknya murid Bu Tong-pay yang sudah berada di sana.


“Kurang ajar!”


Tujuh Pendekar Pedang Pelindung Bu Tong-pay sudah maju menyerang Cio San, yang memang berdiri di depan Cukat Tong.


Barisan 7 Bintang adalah barisan pedang yang sangat disegani. Jurus ini hanya boleh dikuasai oleh mereka yang masuk ke dalam 7 Pendekar Pedang Pelindung Bu Tong-pay. Murid yang lain tidak diperbolehkan mempelajarinya.


Jurus ini adalah ciptaan Thio Sam Hong, khusus untuk melawan serangan musuh dari luar. Jurus ini lebih bersifat menyerang, agar musuh dengan segera dapat ditundukkan. Berbeda dengan ilmu Bu Tong-pay lain, yang cenderung lebih bersifat bertahan dan menunggu.


Kesalahan terbesar para murid Bu Tong-pay selama ini adalah, mereka lebih sering menyerang duluan. Padahal sifat alami ilmu-ilmu Bu Tong-pay, adalah bertahan dan menunggu serangan musuh. Cio San mampu memahami ini, sehingga ia mampu mengembangkan dan menggunakan ilmu-ilmu Bu Tong-pay secara menyeluruh dan sampai kepada tahap tertinggi.


Barisan 7 Bintang kini telah menyerangnya!


Jurus ini sangat hebat dan cepat. Jarang ada orang yang sanggup menghindar dari kepungan ini.


Cio San pun terpana. Seumur hidup, inilah barisan pedang yang paling dahsyat yang dihadapinya! Tiada celah untuk menghindar. Tak ada ruang baginya untuk mundur!


Untungnya, tadi Cio San masih memeluk puluhan pedang dengan tangan kirinya.


Kini, tujuh dari puluhan pedang itu sudah melayang, mengarah kepada tujuh orang penyerangnya.


Walaupun jaraknya sangat dekat, Cio San masih sanggup melontarkan pedang-pedang itu. Ini suatu keuntungan baginya, karena Cio San sendiri meragukan kemampuannya dalam melempar senjata untuk jarak jauh.


Ternyata ia sudah memikirkannya sejak tadi.


Itulah kenapa ia mengumpulkan pedang-pedang itu dari belasan orang yang pertama kali menyerangnya.


Dan ia pun sudah tahu cara menaklukkannya.


Mengalahkan Barisan 7 Bintang harus dengan cara tiba-tiba, dan dengan jarak sangat dekat. Juga harus secara bersamaan. Dengan gerakan tiba-tiba, ia akan membuat para penyerangnya kaget, dan untuk sepersekian detik harus mengubah serangan menjadi gerakan menghindar.


Dalam sepersekian detik itu, ada kesempatan baginya untuk mundur dan mengatur langkah.


Dalam sepersekian detik itu, ia telah menotok titik hiat to ketujuh orang itu.


Semua orang melongo.


Barisan 7 Bintang yang menggetarkan itu pun takluk hanya dalam satu jurus!


Cio San melakukannya seperti sangat gampang.


Tapi penempatan waktu, kecepatan, dan ketepatan, tidak boleh salah dan meleset sedikit pun!


Justru di situlah kesulitannya. Amat sangat sulit. Karena, jika salah perhitungan, tubuhnya sudah jadi daging cincang.


Perhitungan yang melesat sepersekian senti saja, atau terlalu cepat sepersekian detik saja, atau terlalu lambat sepersekian detik saja, maka tidak ada lagi orang yang bernama Cio San di muka bumi ini.


Tapi sudah menjadi pemahaman, bahwa jika kita melihat orang yang ahli dalam melakukan sesuatu, rasanya terlihat seperti gampang saja. Seakan-akan ia melakukannya dengan sederhana dan alami. Sedemikan gampangnya, serasa kita pun bisa melakukannya. Justru di situlah letak kehebatan para ahli. Mereka bisa melakukan hal yang sangat sulit terlihat sangat mudah.


Kita lupa, bahwa orang ahli itu telah melakukan latihan yang keras selama bertahun-tahun. Yang kita lihat, adalah hasil latihannya saja.


Cio San berdiri dengan santai. Rambutnya melambai tertiup angin gunung. Tangannya memainkan rambutnya. Tangan yang satunya lagi terlipat ke belakang.


Tujuh Pendekar Pelindung Bu Tong-pay terkapar di lantai tak mampu bergerak.


Semua orang yang ada di sana melongo dan tak berani bergerak.


Jangan-jangan, jika mereka bergerak, akan mengalami hal yang sama dengan ketujuh orang kawannya yang tergeletak di lantai?


Kini yang berani bergerak cuma Empat Tianglo Bu Tong-pay.


Tapi mereka melakukan kesalahan yang sama. Mereka bergerak duluan. Padahal Thay Kek Kun adalah ilmu yang baru terasa kedahsyatannya jika dipakai bertahan.


Cio San tadi sudah menjatuhkan beberapa pedang yang masih ada di pelukannya ke lantai. Kini entah bagaimana, dia sudah memegang pedang di kedua tangannya. Satu di tangan kiri dan satu di tangan kanan.


Tangan kanan memainkan ilmu pedang pemberian Pendekar Pedang Kelana.


Tangan kiri memainkan jurus Tongkat Pemukul Anjing.


Langkah kakinya, adalah Langkah Menapak Awan milik Bu Tong-pay.


Ilmu silat mengalir dari tubuhnya secara alami dan sempurna. Ia tidak perlu berpikir, tidak perlu mengatur langkah, tidak perlu mengingat jurus.


Karena jurus hanya tanaman, dan pemahaman adalah buminya.


Jika pemahaman telah ‘subur’, maka segala ‘tanaman’ akan tumbuh di atasnya.


Jika pemikiran kosong dan hati telah bersih, semua hal mengalir bebas.


Tanpa ikatan. Tanpa hambatan.


Gerakan harus mengalir bebas. Justru juruslah yang membatasi gerakan.


Tangan harus kesini. Langkah kaki harus begini. Posisi tubuh harus seperti ini.


Bukankah iu membatasi?


Bukankah akan lebih dahsyat, jika tubuh bergerak secara alami dalam menghadapi semua serangan musuh? Bergerak mengikuti aliran.


Seperti air yang tak tertahankan.


Seperti angin yang bebas.


Seperti tanah yang tulus.


Seperti awan yang megah.


Oleh karena itu, dua orang Tianglo telah tertotok oleh gagang pedang Cio San.


Sedangkan dua lainnya tak berani bergerak, karena ujung pedang Cio San telah mengancam tenggorokannya.


“Perintahkan seluruh murid untuk mundur sampai ke Gerbang Tanpa Senjata,” kata Cio San kepada 4 Tianglo itu.


Gerbang Tanpa Senjata adalah gerbang depan perguruan Bu Tong-pay. Siapapun tamu yang memasuki gerbang itu, harus meninggalkan senjatanya. Gerbang itu jauh sekali di depan, karena Bu Tong-pay amat sangat luas.


“Kalian semua, lakukan perintahnya!” kata salah seorang Tianglo.


Dalam hati, Cio San agak kecewa, karena murid-murid Bu Tong-pay itu benar-benar pergi semuanya. Kenapa mereka sepengecut ini?


Begitu suasana di sana sudah sepi, Cio San baru berbicara,


“Para Totiang, maafkan kelancangan cayhe. Sesungguhnya cayhe tidak bermaksud melakukan ini semua.”


Ia lalu melepaskan totokan kedua Tianglo yang tadi, dan menurunkan pedangnya dari tenggorokan dua Tianglo lainnya.


“Pangeran Maling, tolong totok titik pendengaran beberapa murid terluka yang berada di sini, supaya mereka tidak mendengar ucapanku,” pinta Cio San kepada Cukat Tong.


Cukat Tong pun melakukannya.


“Para Totiang, maafkan cayhe tidak bisa memberitahukan jati diri cayhe sebenarnya. Tapi cayhe datang kemari untuk menyampaikan sebuah rahasia.”


Cio San diam sebentar, lalu berkata,


“Di balik kamar ketua, terdapat jalan rahasia menuju ke puncak gunung.”


Sambil berkata begitu, ia ingin melihat reaksi para Tianglo. Cio San lalu tersenyum puas setelah melihat reaksi wajah dan tubuh mereka sesuai dengan keinginannya.


“Jalan rahasia ini berhubungan dengan kisah pembunuhan Tan Hoat di atas gunung, dan beberapa rahasia lain yang harus Totiang pecahkan sendiri.”


“Mareka sudah datang?” tanya Cio San kepada Cukat Tong


“Sudah sejak tadi mereka berputar-putar.”


“Baiklah.”


Lalu ia berkata kepada para Tianglo.


“Ketahuilah, Lau-ciangbunjin telah mengetahui jalan rahasia itu sejak lama. Nah, silahkan Totiang berpikir sendiri memecahkan rahasia yang telah cayhe sampaikan.”


Sambil berbicara begitu, tubuh Cio San melayang ke atas. Tangannya masih sempat menjura. Cukat Tong pun juga telah melayang ke atas, dan mereka berdua menghilang dalam kegelapan malam.


“Kedua orang itu apakah siluman?” tanya salah seorang Tianglo.


Malam ini, Bu Tong-pay benar-benar terguncang. Para pendekar utama mereka takluk hanya dalam satu jurus.


Tapi malam ini juga, Cio San tersenyum.


“Bu Tong-pay akan meraih puncak kejayaannya lagi. Mulai saat ini.”