Dragon and Phoenix

Dragon and Phoenix
Bab 13: Kecil



Di sepanjang perjalanan, kembali Cio San mengagumi pemandangannya yang indah. Banyak rumah dan desa yang berada di sekitar sungai itu. Cio San juga menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan si tukang perahu. Banyak cerita yang ia dapatkan tentang keadaan kota Liu Ya. Ternyata menyenangkan juga mengobrol


dengan si tukang perahu itu.


Hari sudah mulai gelap ketika Cio San tiba di dermaga kota Liu Ya. Si tukang perahu sangat senang sekali ketika menerima pembayaran Cio San. Ternyata kelebihannya banyak sekali. Cio San memang orang yang murah hati sejak kecilnya.


Begitu tiba di dermaga, Cio San memperhatikan keadaan sekelilingnya. Walaupun sudah mulai malam, nampaknya kegiatan di dermaga itu tidak pernah sepi. Banyak orang masih menyeberang atau membongkar barang muatan. Atau juga sekedar duduk-duduk di daerah dermaga itu.


Dari cerita si tukang perahu, Cio San tahu bahwa kebanyakan yang duduk-duduk itu adalah anggota Hai Liong Pang (Perkumpulan Naga Lautan). Mereka ini adalah perkumpulan yang menguasai dermaga-dermaga. Perkumpulan sejenis ini sangat banyak, dan kadang menguasai daerah tertentu. Kebetulan Hai Liong Pang ini yang


menguasai dermaga-dermaga di daerah Kanglam. Ciri-ciri anggota Hai Liong Pang adalah menggunakan sabuk besi berwarna hijau dengan hiasan kepala naga di sabuknya.


Si tukang perahu berpesan agar jangan mencari gara-gara dengan mereka. Cio San pun memang tidak ada maksud untuk mencari perkara. Ia sebisa mungkin tidak melakukan hal-hal yang akan menimbulkan keributan, agar tidak terjadi masalah yang tak diinginkannya. Dia sendiri masih belum tahu apa yang akan ia lakukan


di kota ini. Ia hanya ingin menikmati saja dulu keramaian ini. Sekian lama hidup di dalam goa, membuat ia sedikit terasing dan tertinggal pengetahuannya. Cio San memutuskan untuk sekedar mengobrol atau mendengarkan pembicaraan orang-orang. Sekedar menambah pengetahuannya atas apa yang terjadi di dunia ramai.


Sambil berjalan keluar dari dermaga, ia merasa kagum juga dengan perkumpulan Hai Liong Pang itu. Mereka punya wibawa yang tinggi dan mampu mengatur dermaga dengan baik. Walaupun berwajah garang, mereka tetap bisa sopan kepada orang-orang di dermaga. Segala kegiatan di dermaga lumayan tertata rapi.


Kota Liu Ya, indah sekali di saat malam. Mungkin karena ini kota pelabuhan, Liu Ya sangat ramai. Lampion menyala dimana-mana. Di sepanjang jalan terdapat warung dan toko. Orang yang berjualan di pinggir jalan pun tak kalah banyak. Bangunan di kota ini terlihat megah dan besar-besar. Sepertinya banyak orang kaya yang memilih tinggal disini. Mungkin karena kota pelabuhan seperti Liu Ya ini memang cocok untuk mengembangkan usaha dagang.


Cio San memilih sebuah warung sederhana yang walaupun tidak terlalu besar, tapi terlihat ramai. Ia ingin sekedar minum teh dan mengisi perut. Ketika memasuki warung, si pelayan dengan ramah mempersilahkannya duduk. Untunglah masih ada sebuah bangku kosong di pojok warung itu.


Kagum juga Cio San melihat isi warung yang lumayan tertata rapi. Ia memesan seguci teh, sepiring nasi, sayur, dan daging. Tidak usah menunggu terlalu lama, pesanannya sudah tiba. Ia pikir, pantas saja warung ini lumayan ramai.


Pelayanannya lumayan menyenangkan. Rasa makanannya, walaupun tidak terlalu istimewa, sudah termasuk enak.


Sambil makan, Cio San memperhatikan sekelilingnya. Pengunjung warung ini rupanya sebagian besar dari kalangan Kang Ouw. Dilihat dari dandanan dan senjata yang mereka bawa. Obrolan mereka pun seputar perkelahian dan dunia Bu Lim (kehidupan persilatan).


Percakapan yang kurang menarik, karena sebagian besar hanya menceritakan pertempuran-pertempuran yang mereka menangkan, tentunya sambil ditambah-tambahi di sana-sini.


“Saat aku menjatuhkannya, aku tidak perlu mengeluarkan pedangku dari sarung. Ilmunya yang paling terkenal, ‘Naga Menjemput Mangsa’, cuma kentut anak-anak. Hanya perlu beberapa jurus, sudah mampu kupecahkan intisari jurus andalannya itu,” kata salah seorang.


“Lalu bagaimana Kakak Bhok mengalahkannya? Pakai jurus apa?” tanya salah seorang.


“Cukup pakai jurus ke-5 ilmu andalanku, ‘Menyongsong Badai Menguak Tabir’. Begitu ia menyerang sambil melayang, aku langsung melihat titik lemah serangannya. Tanpa melolos pedang, segera kutotok titik hiat tit di lengan kirinya. Begitu tertotok, ia segera menyerah,” jawabnya.


“Terus?”


“Kutinggal pergi saja. Tentunya tidak lupa membawa perempuan yang selama ini bersamanya. Hehehehe….,” jawabnya.


“Oooh, berarti perempuan yang selama seminggu ini menemani Kakak Bhok, rupanya adalah gundik keparat itu?? Pantas cantik sekali…. Hahahahahahaah..”


“Apa jawab si gundik?” tanya temannya.


“Dia cuma menangis saja. Tapi setelah tidur bersama tiap hari, eh.., lama-lama tangisnya hilang. Dia malah minta ditiduri terus. Hahahahahahahah….,” jawabnya.


“Ah.., perempuan itu ya begitu. Bilang bosan, bilang takut, bilang marah, tapi kalau sudah diajak tidur, ya doyan juga…” Ucapan itu membuat seluruh isi warung tertawa. Maklum isinya laki-laki semua.


“Sekarang perempuan itu dimana, Bhok-ko (Kakak Bhok)?” tanya salah seorang


“Di kamar penginapan,” jawab orang yang dipanggil Kakak Bhok itu.


“Wah, kau harus cepat-cepat pulang, Kakak Bhok. Kalau dia kedinginan, bisa masuk angin. Nanti harus kau jualah yang mengkeroki punggungnya dengan ‘pedang tumpul’mu,” kata salah seorang, yang sudah pasti disambut dengan tawa gemuruh.


Obrolan saru macam ini, memang tidak lepas dari kehidupan Kang Ouw, terutama mereka yang dari golongan hek (hitam). Tapi golongan pek (putih) pun kadang-kadang mengobrol seperti ini. Dulu sewaktu Cio San masih kecil, ketika sering diajak ibunya mengunjungi beberapa tempat, beliau selalu menyuruhnya menutup kuping bila ada obrolan macam ini. Kadang-kadang karena merasa risih, ibunya memilih untuk sekalian mengajaknya pergi dari tempat tersebut. Cuma karena waktu itu Cio San memang masih kecil, ia kurang begitu paham maksud obrolan tersebut. Sekarang ketika sudah mulai dewasa, ia bisa mengerti kenapa ibunya selalu menyuruhnya menutup kuping.


“Nah, itu kan pendekar kelas atas angkatan tua. Semua orang mengakuinya. Bagaimana dengan yang angkatan muda?” tanya salah seorang.


“Kalau angkatan muda, hmmm, tidak ada yang mampu mengalahkan Pangcu (Ketua) dari Kay Pang, orang she (marga) Ji bernama Hau Leng,” kata Bhok Gai Sun.


“Ah benar..benar... Ji Hau Leng memang terkenal sekali. Masih muda, tampan, dan sudah mengepalai partai terbesar di Tionggoan. Jumlah anggota tidak resminya saja mencapai puluhan ribu.” Orang-orang mengangguk tanda setuju.


"Tapi jangan lupa juga dengan pendekar muda dari Bu Tong-pay, si Naga Harum, Beng Liong,” kata Oey See Kang.


Cio San terhenyak.


Bhok Gai Sun berkata, “Ya, benar. Aku baru saja mau menyebut namanya. Dia pendekar muda gagah, yang tindak-tanduknya gagah. Cuma sepertinya, ilmunya masih dibawah Ji Hau Leng. Namun melihat tindak-tanduknya yang tidak kalah gagah, rasa-rasanya dia memang masuk dalam kelas pendekar muda nomer satu. Umurnya baru 20, mungkin juga belum genap. Beda 7 tahun dengan Ji Hau Leng. Tapi rasa-rasanya ilmu mereka, ya... tidak begitu beda jauh. Masalah tampang, ya masih menang Beng Liong. Cara berpakaiannya pun mengagumkan. Rasanya, kalau masalah menjatuhkan perempuan, si Beng Liong jelas lebih unggul dari Ji Hau Leng.” Kalimat terakhir ini membuat yang hadir tertawa terbahak-bahak.


“Memang Beng Liong ini tampan dan gagah. Aku sudah pernah bertemu dengannya sekali. Itu pun hanya melihat dari jauh. Aku saja yang laki-laki ini iri dengan tampangnya. Kenapa bukan tampangku yang seperti itu ya? Hahahahahaha….,” ujar salah seorang.


“Iya, dia tampan sekali. Tindak-tanduknya pun gagah. Dengar-dengar, ia tidak pernah mau membunuh orang ya? Walalupun itu perampok ganas sekali pun, jika sudah kalah dan menyerah, pasti diampuni Beng Liong.”


“Yang kudengar juga seperti itu, ia pun wangi sekali. Dari jauh saja wanginya sudah sampai ke hidungku. Kadang ada orang yang wanginya itu menyenangkan. Aku tidak suka wangi-wangian yang keterlaluan. Tapi wanginya si Beng Liong ini memang lembut sekali. Seperti wangi bayi. Kudengar dari obrolan orang, sejak kecil tubuh Beng Liong memang sudah direndam orangtuanya dengan ramuan khusus. Makanya, tubuhnyalah yang wangi. Bukan wangi-wangi buatan yang biasa kita semprot di pakaian untuk menutupi bau keringat kita yang seperti cuka.


Hahahahahaha……”


“Usaha dagang keluarga ini sangat maju. Di setiap kota dan desa di Tionggoan ini, pasti ada cabang toko atau usaha milik keluarga Khu. Kalian bisa bayangkan betapa kayanya mereka. Apalagi anak sulung Nyonya Khu adalah jenderal di kotaraja. Ini semakin menguatkan posisi keluarga Khu di mata orang.”


Tanpa menunggu orang-orang menjawab, ia sudah melanjutkan lagi,


“Guru-guru Khu Ling Ling, ada 3 orang. Setahuku ada Nikow sakti bernama Wan-suthay berjuluk Nikow Sakti dari Laut Selatan. Walaupun ilmunya masih dibawah Ciangbunjin partai besar yang lain, tapi jelas namanya masuk 5 besar orang-orang paling sakti di Kang Ouw pada jaman ini. Selain Wan-suthay, Khu Ling Ling juga belajar dari pendekar pengalana yang sakti bernama Chin Yoksu. Ada lagi satu orang guru yang aku lupa namanya. Tapi seingatku guru ini juga perempuan dari Go Bi-pay.”