
“Kim-ko, ayo kita ke daerah dekat air terjun. Di situ banyak yang bertanah, tidak berbatu-batu seperti disini,” ajak Cio San.
Si ular pun menuruti. Jalannya sangat pelan karena masih lemah. Dengan tubuh yang tidak terlindungi kulitnya, tentu saja sangat sakit jika harus menyusuri batu-batuan. Cio San yang mengerti keadaan si ular, lalu berkata, “Kau tunggu disini saja, Kim-ko. Biar aku yang kesana menggali lubang.”
Baru saja Cio San akan melangkah, terdengarlah suara ledakan yang amat sangat keras.
Bllllaaaaaaaaaaararrrrrrrrrrrrrr..................!!!!!!!!!!!!!!
Seluruh goa serasa runtuh. Langit-langit pecah berjatuhan, dinding-dinding goa pun hancur. Air bah lalu menerobos masuk melalui dinding-dinding itu. Dalam kekagetannya, Cio San menghalau semua bebatuan yang mengarah ke arah dirinya dan sang ular.
Suasana di dalam terowongan itu menjadi terang-benderang. Masuknya sinar ke dalam goa itu secara tiba-tiba, langsung menyakiti mata Cio San. Setelah bertahun-tahun hidup di dalam kegelapan, dengan cahaya yang kecil sekali, matanya kini tidak dapat menahan sinar seterang itu.
salah seorang dari rombongan itu.
Cio San ingat bahwa ia telah menjadi kejaran orang-orang Bu Tong-pay. Oleh karena itu ia menjawab, “Aku tidak tahu siapa namaku, tetapi aku tinggal di dalam goa itu sudah lama sekali sejak aku kecil. Dan ular ini adalah sahabat baikku.” Cio San sengaja berkata bahwa ular itu adalah sahabatnya karena tadi ia mendengar mereka menyebut-nyebut tentang Kim Liong Ong (Raja Naga Emas). Pastilah yang mereka maksud adalah Kim-ko nya itu.
“Kau tidak tahu siapa kami?” tanya salah seorang, tapi segera ia sadar bahwa orang yang ditanya telah hidup sekian lama di dalam goa. Tentulah tidak tahu keadaan dunia luar. Segera ia menyambung lagi, “Kami adalah Tionggoan Ngo Koay (Lima Orang Aneh Tionggoan),”jawabnya dengan bangga.
Ia senang karena ilmu yang dilatihnya di dalam goa ternyata hebat juga. Ia lalu berkata, “Takkan kubiarkan kalian mengganggu sahabatku walau seujung kuku saja”, katanya lugas.
Sebenarnya penyerang itu bukanlah orang yang lemah. Justru ia sangat kuat, dan silatnya tergolong kelas atas. Hanya saja ketika menyerang Cio San, ia menggunakan ¼ tenaganya karena ingin cepat-cepat membunuh Cio San. Dengan ilmunya, Cio San bisa membalikkan tenaga penyerang itu kepada dirinya sendiri.
Keempat orang yang mengeroyok Cio San itu semakin terbelalak matanya. “Bagaimana mungkin..??!”, seru mereka.
Akhirnya karena putus asa, mereka sepakat untuk menggunakan jurus pamungkas mereka, ‘Memindahkan Gunung Bersama-sama’. Jurus ini sangat dahsyat jika dilakukan oleh mereka berlima. Walaupun kini berempat, karena salah satu anggotanya dilukai Cio San, ilmu itu tetap dahsyat juga.
Cio San dengan ilmu-ilmu ciptaannya di dalam goa, menerima serangan gabungan itu dengan percaya diri. Ia menghadapinya seperti menghadapi serangan air bah ketika di dalam goa. Ketika serangan itu tiba, tubuhnya berputar. Ketika putaran itu kembali ke posisi semula, tangannya telah menyambut kedelapan telapak itu.
Memang ilmu silat Cio San sudah sangat hebat. Tetapi pengalamannya dalam pertarungan masih sangat sedikit. Karena kurang pengalaman inilah, Cio San menjadi kurang perhitungan dan kurang awas.
Tubuhnya mencelat beberapa tombak, ia pun muntah darah. Karena walaupun tubuhnya memiliki tenaga sakti hasil latihan dan khasiat jamur Sin Hong, justru tenaga itu menghantamnya balik karena salah perhitungan. Ia terkapar, dari mulutnya keluar darah segar.
Walaupun kini tubuhnya tak mampu digerakkan sama sekali, Cio San berusahan keras ‘menjinakkan’ tenaga yang sekarang berada di dalam tubuhnya. Beruntunglah Cio San ia pernah belajar Thay Kek Kun. Ilmu inilah yang juga melindungi dirinya dari serangan tenaga dahsyat tadi. Tetapi karena Cio San menggabungkannya dengan ilmu silat Tionggoan Ngo Koay tadi, maka Thay Kek Kun menjadi tidak murni dan kotor. Apalagi ilmu silat Kelima Orang Aneh itu adalah ilmu silat golongan hitam. Thay Kek Kun menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Padahal walaupun pemusatan pikirannya buyar, seharusnya Thay Kek Kun yang telah dipelajarinya itu secara otomatis mampu melindungi tubuh dan menghalau tenaga serangan. Cio San dengan kecerdasaannya akhirnya memahami hal ini.
Di dalam kondisinya yang kritis itu, pikiran dan kecerdasannya tidak hilang. Ia lalu mengerahkan tenaganya yang tersisa untuk mengatur jalan darah dan jalan nafas. Ini ia lakukan sambil tergeletak, karena memang ia tak mampu bergerak sama sekali.
Terdengar suara salah seorang menimpali,
“Oh, jadi itulah sebabnya engkau menyuruh kita untuk bersabar menangkapnya, Yap-heng? Sampai ia berganti kulit?”
“Benar sekali. Jika ia berganti kulit, maka seluruh tubuhnya menjadi lemah dan tak terlindungi. Itulah sebabnya aku menyuruh kalian menunggu bertahun-tahun. Karena ular ini hanya berganti kulit lima tahun sekali setiap musim gugur. Ia selalu mencari tempat yang dingin, karena saat berganti kulit, tubuhnya akan menjadi panas sekali. Ia bisa mati jika berganti kulit saat terkena sinar matahari,” jawab orang she Yap itu.
Mendengar itu, Cio San menjadi paham. Ternyata ular itu masuk ke dalam terowongan goa untuk mencari tempat tinggal yang aman. Juga sebagai persiapan untuk mengganti kulit. Karena saat mengganti kulit, ia berada di dalam keadaan yang sangat lemah sehingga tidak bisa melindungi diri sendiri. “Sungguh kasihan engkau, Kim-ko....” Cio San hanya bisa menangis.
Entah berapa jam lamanya keenam orang itu makan dan mengobrol disitu. Akhirnya setelah puas mendapatkan apa yang dicari, mereka pun pergi dari situ. Nasib Cio San pun sudah tidak mereka pedulikan, karena dianggap sudah mati. Mereka bahkan tidak memeriksanya, karena telah terdorong untuk segera menikmati dan merasakan
khasiat ular itu.
Cio San masih belum sanggup untuk menggerakkan tubuhnya. Ia akhirnya tertidur pulas di situ, sampai keesokan pagi, sampai matahari telah tinggi. Saat ia tersadar, rasa sakit di matanya sudah berkurang. Perlahan-lahan, ia mencoba membuka matanya. Ah, ternyata masih agak silau dan perih. Namun ia senang sekali, setidaknya kini sudah bisa melihat, walaupun masih terbatas.
Ia mencoba menggerak-gerakan tubuhnya. Sudah mulai bisa! Namun rasanya masih sakit sekali. Luka dalamnya pun masih belum sembuh. Dengan perlahan ia bangkit. Berjalan dengan gontai menuju letak si ular sahabatnya tadi.
Alangkah sedihnya ketika melihat yang tersisa hanya tulang belulang sang ular belaka. Cio San jatuh berlutut menangis tersedu-sedu. Hatinya sedih sekali melihat kenyataan ini. Lama ia duduk terpekur memandangi tulang belulang itu. Bau amis di sekitar sudah tak dipedulikannya.
Daerah yang dulunya berupa terowongan dalam perut bumi, kini sudah tidak ada lagi. Menjelma daerah lapang yang dialiri sungai kecil. Cio San lalu berusaha menguburkan tulang belulang itu. Lama sekali ia menggali lubang dan mengumpulkan tulang-tulang itu.
Hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang sangat lemah, dan tak sanggup mengerahkan tenaga dalam. Ketika akan meletakkan tulang itu ke dalam lubang, ia menemukan sepotong kulit sang ular yang nampaknya tidak terbawa oleh Tionggoan Ngo Koay.
Alangkah kagetnya Cio San ketika terdengar suara derik ular itu berbarengan dengan hembusan angin. Cio San terhenyak dan melihat bahwa suara itu keluar dari derik ekor si ular. Segera didekatinya bagian ekor itu dan melihatnya. “Apakah masih bergerak??? Tidak mungkin kalau masih hidup....,” pikir Cio San dalam hati.
Lama ia memperhatikan. Akhirnya Cio San tahu. Ternyata suara derik itu lahir dari hembusan angin yang melewati ronga-rongga bagian ekor ular itu.
“Terima kasih, Kim-ko.....” Cio San menganggap suara derik itu sebagai bentuk ijin yang diberikan sang ular kepadanya untuk membawa kulit yang tersisa itu sebagai kenang-kenangan.
Cio San baru berhasil menguburkan seluruh tulang sang ular ketika hari menjelang sore. Ia lalu bersujud 3 kali dan mendoakan ular itu. Kemudian ia teringat dengan kuburan A Liang. Lama Cio San mencari-cari, namun kuburan itu tetap tak dapat ditemukannya. Mungkin telah ikut hancur bersama runtuhnya goa.
Cio San sedih sekali.
“Apa yang kini harus kulakukan?” tanyanya dalam hati.
“Tempat tinggalku sudah hancur berantakan. Nampaknya Thian tidak ingin aku hidup tenang, dan harus menghadapi dunia ini.”
“Bagaimana aku bisa hidup tenang, sedangkan aku sedang menghadapi fitnah, dan juga kejaran murid-murid Bu Tong-pay? Apakah aku harus tinggal disini selamanya? Itu juga tidak bijaksana, karena pasti akan ada orang yang datang kesini. Bagaimana cara terbaik supaya aku bisa tenang?”
Ia lalu teringat perkataan orang she Yap, bahwa di bagian dalam kulit sang ular terdapat lapisan yang bisa digunakan sebagai topeng. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tetapi ia ingin mencoba saja dulu. Jika memiliki topeng yang bagus untuk melindungi jati dirinya, maka ia bisa tetap bersembunyi dari kejaran orang-orang Bu Tong-pay.
Cio San memperhatikan kulit ular itu. Di bagian dalamnya memang terdapat sebuah lapisan yang tipis sekali. Pelan-pelan Cio San mengelupasnya. Ia memperhatikan lapisan itu, memang seperti kulit manusia. Cio San kaget sekali ketika kulit itu lengket di jari-jarinya dan tak bisa dilepaskan.
Dalam kebingungannya, Cio San mendengar sebuah benda jatuh. Ketika ia menoleh ke sumber suara, ternyata ada sebuah bungkusan, tepat di atas kuburan sang ular. Ia melihat ke sekeliling, mencoba mencari tahu siapa pelempar bungkusan itu. Tetapi ia tidak menemukannya. Lama ia berkeliling di daerah sekitar situ untuk mencari tahu, tetapi tetap saja, tak ia temukan siapa-siapa.
Cio San memutuskan untuk melihat isi bungkusan itu. Siapa tahu ada jati diri pelakunya di dalam. Segera Cio San membuka bungkusan itu dengan tangan kirinya, karena jari tangan kanannya telah tertempel padalapisan kulit itu.
Ternyata bungkusan itu berisi sebuah surat dan satu stel pakaian. Cio San membuka surat itu, dan membacanya.
Jika kau ingin menggunakan lapisan kulit itu sebagai topeng, gunakan tenaga api untuk membentuknya sesuai keinginan. Jika terkena daging makhluk hidup, maka lapisan itu akan menempel dengan kuat. Namun sifat lengketnya akan hilang jika kau menggunakan panas.
Aku kirimkan juga sebuah pakaian yang pantas kau pakai. Selamat datang di dunia Kang Ouw.
Salam.
Hanya itu saja isi surat tersebut. Cio San yakin, pasti ada seorang sakti yang ingin menolongnya. Ia memutuskan untuk percaya saja kepada surat itu. Siapapun yang ingin menolongnya, pasti mempunyai maksud yang baik terhadapnya.
Cio San akhirnya membuat api dengan menggunakan batu-batuan dan ranting kayu yang berserakan di sekitar situ. Benar saja, ketika didekatkan kepada api, daya lengket lapisan kulit itu pun berangsur-angsur menghilang. Setelah itu, ia membuat lubang untuk kedua matanya dengan menggunakan ujung kayu yang terbakar. Lalu dengan berani, Cio San meletakkan lapisan kulit itu ke wajahnya. Ketika melihat pantulan bayangan wajahnya di sungai, Cio San kagum sekali. Wajahnya sudah berubah. Kini seperti lebih tua 10 tahun. Lapisan itu seperti mengubah bentuk
tulang dan warna kulit wajahnya. Dengan kayu terbakar tadi, ia juga membuat lubang hidung serta mulut. Sisa-sisa lapisan yang ada, dipotongnya juga dengan menggunakan kayu terbakar itu.
Ia kini telah berbeda wajah. Memang lebih jelek daripada wajah aslinya. Hidungnya sedikit bengkok. Bahkan ada kantung mata yang terbentuk di bawah wajahnya. Kulit wajahnya pun pucat sekali, seperti orang berpenyakitan.
“Memang hebat sekali ciptaan Tuhan ini...,” pikirnya dalam hati.
“Terimakasih Tuan Penolong..! Cayhe (saya) akan selalu mengingat pertolongan Tuan!” teriak Cio San. Dia lalu bergegas menggunakan pakaian yang ada dalam bungkusan itu. Pakaian itu lengkap, ada baju panjang, celana, dan juga pakaian dalam. Bahkan ada juga sekantong uang.
Walaupun tidak ada sepatu, Cio San bersyukur juga diberi pakaian berwarna biru muda itu. Cocok sekali ketika ia pakai. Tubuhnya yang tegap dan tinggi, membuat ia terlihat gagah sekali. Namun jika orang memperhatikan wajahnya, akan terlihat rupa yang kusam dan pucat seperti orang berpenyakitan.
Karena hari sudah sore, Cio San memutuskan untuk besok pagi saja pergi dari situ. Ia membuat api unggun di dekat kuburan si ular sahabatnya. Dan tidur di situ.
Esoknya, pagi-pagi ia sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi. Dia memberi hormat 3 kali di depan kuburan ular itu, dan juga di sebuah tempat yang dulunya berupa makam A Liang. Setelah itu, dia berangkat.
Entah kemana.
Manusia datang dan pergi. Itulah kehidupan.