
Tak berapa jauh, mereka pun berhenti. Karena Suma Sun berhenti.
Serigala memang tak perlu terburu-buru mengejar mangsa. Jika mangsanya kecil, serigala akan segera membunuhnya. Tapi jika musuhnya lebih besar daripada dirinya, maka ia akan menunggu dan menunggu, sampai si musuh lengah dan kehabisan tenaga.
Serigala akan semakin tenang jika menghadapi musuhnya.
Suma Sun pun seperti itu. Jika kau melihatnya semakin tenang dan lembut, itu berarti ia sedang bersiap-siap bertempur.
Cio San paham hal ini. Oleh sebab itu, ia tidak bertanya apa-apa kepada Suma Sun. Mereka berjalan kaki dengan santai tanpa berbicara.
Ia memilih bercakap-cakap dengan pengemis Cun.
“Kupikir, Tianglo harus mendengar semua ceritaku dari awal. Tapi sebelumnya, aku hanya ingin bertanya. Apakah Tianglo yakin, bahwa di dunia ini ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan?”
“Tidak ada orang yang sempurna, Pangcu,” kata pengemis Cun.
“Tianglo memanggilku Pangcu. Apakah Tianglo menganggapku tetap sebagai Kay Pang-pangcu?” tanya Cio San.
“Tentu saja, Pangcu.”
“Dengan segala kejadian tadi, pandangan Tianglo terhadapku tidak berubah?”
“Tidak. Walaupun cayhe tahu ada banyak rahasia dibalik semua ini, cayhe tetap percaya kepada Pangcu.”
“Kenapa?”
“Tak ada alasan.”
Memang ada saat-saat dimana kita bertemu orang yang tak kita kenal, namun percaya penuh kepadanya. Orang yang memakai akal sehat, tentu tidak akan melakukannya. Tapi kadang-kadang akal sehat kita kalah oleh perasaan. Jika sudah percaya, maka apapun yang dia lakukan, kita akan percaya. Tapi jika sudah tidak percaya,
sebenar dan sebaik apapun tindakannya, kita tetap tidak akan percaya.
Kejadian seperti itu, rasa-rasanya memang sudah umum.
“Jika kukatakan kepada Tianglo bahwa mendiang Ji-pangcu pernah melakukan kesalahan, apakah Tianglo akan percaya?” tanya Cio San.
“Tidak ada orang yang bersih dari kesalahan, Pangcu. Tapi kesalahan apa yang Pangcu maksud?”
Cio San lalu bercerita dari awal. Tentang pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng. Tentang segalanya. Dan tentang Ji Hau Leng yang kekasihnya disandera. Sehingga akhirnya harus melakukan banyak ‘dosa’. Dan kemudian memilih mati bunuh diri untuk menebus dosa-dosanya.
“Aihhhhh. Cayhe tidak mengerti, mengapa bisa sedalam itu urusannya,” kata pengemis Cun.
“Apakah Tianglo percaya seluruh ceritaku?” tanya Cio San.
“Mau percaya juga berat. Mau tidak percaya, kenyataannya sangat masuk akal. Ketahuilah, Pangcu. Cayhe sendiri banyak melihat perubahan-perubahan dalam diri mendiang Ji-pangcu dalam setahun belakangan ini. Beliau sering sekali melamun. Ketika cayhe tanya ada apa, beliau hanya tersenyum dan tidak menjawab apa-apa. Beliau pun sering ‘menghilang’. Lebih banyak berada di luar markas. Tidak ada seorang pun yang tahu kemana beliau pergi. Padahal, jaringan partai kami terbesar dan terhebat dalam mencari berita. Jangankan Pangcu kami sendiri,
nyamuk dan lalat pun kami tahu keberadaannya.”
“Banyak juga keputusan-keputusan dan kebijakan beliau yang cayhe rasa cukup janggal.”
“Seperti apa?” tanya Cio San.
“Banyak, Pangcu. Hamba tidak ingat satu persatu. Yang paling cayhe ingat, adalah keputusan beliau untuk membuka penerimaan anggota sebebas-bebasnya. Padahal, dulu partai kami adalah partai yang paling ketat keanggotaannya. Tidak sembarang orang atau sembarang pengemis, bisa menjadi anggota.”
“Hmmm.” Cio San hanya mengagguk angguk saja.
“Apakah kebijakan itu ada hubungannya dengan semua kejadian pembunuhan ini, Pangcu?”
“Tentu saja,” jawab Cio San pendek.
“Lalu, bagaimana dengan surat yang tadi dibawa Han Siauw? Cayhe perhatikan, surat itu asli. Tak ada bedanya dengan tulisan tangan mendiang Ji-pangcu.”
“Surat itu tentunya palsu. Si ‘otak besar’ pasti telah menyiapkannya begitu melihat Ji Hau Leng bunuh diri. Pergerakan si ‘otak besar’ ini lumayan cepat, sampai-sampai dia bisa menyusun rencana dan membuat surat palsu sedemikian cepat.”
Lanjut Cio San,
“Aku ingat, saat aku kecil dulu, ayahku pernah bercerita tentang seorang Siucai (Sastrawan) yang mampu meniru tulisan dan lukisan siapa saja. Aku lupa siapa namanya. Tentunya, orang-orang seperti ini, yang memalsukan tulisan dan cap perguruan Kay Pang.”
“Hmmm, masuk akal.”
Pengemis Cun hanya merenung. Hatinya bersedih oleh kejadian yang baru saja lewat. Ia bahkan tak tahu harus berbuat apa.
Lalu ia berkata, “Lalu Pangcu membawa saya kesini untuk apa?”
“Aku hanya menyelamatkanmu dari si ‘otak besar’.”
“Hah?”
“Tentunya, jika aku tidak ada di sana, pemberontakan akan segera terjadi. Orang-orang si ‘otak besar’ yang ia susupkan kesana, pasti akan membunuhmu jika mereka tahu engkau berpihak kepadaku.”
Pengemis Cun mengangguk-angguk.
“Jika kau mengangapku sebagai Pangcumu, aku ingin memberi perintah kepadamu.”
“Hamba siap terima perintah,” katanya sambil berlutut.
“Kau harus ‘menghilang’ untuk sementara. Atur langkah baik-baik. Cari anggota-anggota Kay Pang yang sekiranya setia dan percaya kepadamu. Kalian harus bersiap-siap, karena mulai saat ini, aku yakin Kay Pang akan dikuasai oleh antek-antek si ‘otak besar’. Selain itu, aku memintamu untuk pergi ke kotaraja. Selidikilah pergerakan Kay Pang di sana. Segera laporkan kepadaku jika ada perkembangan.”
“Baik, Pangcu. Eh, tapi bagaimana hamba harus mencari Pangcu?”
“Pergilah ke Khu-hujin. Kau tahu siapa dia, bukan? Nah, katakan bahwa engkau punya pesan untukku. Biar Khu-hujin yang akan mengurusnya.”
“Baik. Hamba segera berangkat.” Pengemis Cun lalu menghilang dari sana.
“Apa hubungannya Khu-hujin dengan semua ini?” tanya Suma Sun. Ia sepertinya tertarik.
“Sangat berhubungan.”
Suma Sun hanya mengangguk-angguk.
Perjalanan mereka lakukan dengan tidak terburu-buru. Mereka berdua beristirahat, menikmati makanan, dan bahkan mandi serta menyegarkan diri saat terang tanah.
Dalam pertarungan, seorang petarung haruslah dalam kondisi terbaik. Kekurangan satu hal kecil saja, akan membuat mereka kalah. Tubuh harus segar. Asupan gizi harus penuh. Tidak ada luka, tidak ada cedera. Tidak ada masalah yang merisaukan hati.
Bahkan luka di ujung kuku saja, bisa membuatmu kalah.
Kondisi daerah pertarungan pun harus kau kuasai. Pepohonannya. Rerumputannya. Tanahnya. Letak arah sinar matahari. Arah angin. Bahkan jam berapa engkau bertarung itu pun, harus kau perhitungkan.
Suma Sun memang ahlinya dalam bidang itu. Makanya, Cio San menurut saja apa kata Suma Sun. Suma Sun bilang tidur, maka ia manut tidur. Suma Sun bilang makan, ia manut makan. Bahkan jika Suma Sun menyuruhnya buang air, ia akan menurut.
Kini setelah mandi dan sarapan, mereka duduk menikmati sinar matahari pagi.
“Setelah melihat sendiri gerakan pedangmu tadi, aku yakin tidak dapat menangkap pedangmu,” kata Cio San.
“Kau bisa melihat pedangku?” tanya Suma Sun.
“Bisa.”
“Ah…” Ada kekecewaan dalam suaranya.
“Tapi aku tak akan bisa menangkapnya,” sanggah Cio San.
“Tetap saja kau bisa melihatnya,” kata Suma Sun dingin. Lanjutnya, “Jika bukan karena kita akan bertempur melawan musuh di depan, saat ini juga aku sudah ingin bertempur denganmu.”
“Aku ‘kan sudah bilang, aku tidak bisa menangkap pedangmu,” kata Cio San.
“Tapi kau tidak bilang, bahwa aku sanggup mengalahkanmu,” tukas Suma Sun. Kata-katanya malah jauh lebih tenang dan dingin. Ini pertanda bahwa ia sudah mulai memasuki ‘gaya tempur’nya.
Cio San geleng-geleng kepala. Mengapa di dunia ini ada orang seperti ini?
“Musuh di depan kita, apakah adalah seseorang yang selama ini kau cari-cari?” tanya Suma Sun.
“Mungkin saja,” tukas Cio San santai.
“Kau tak akan bisa menempurnya sendirian,” kata Suma Sun.
“Aku tahu. Karena itulah aku mengajakmu.”
“Mengapa kau begitu yakin aku mau menerima ajakanmu?”
“Karena kau pun mencari dia, bukan?”
Suma Sun sedikit kaget. “Darimana kau tahu?”
“Kau memiliki dendam terhadapnya. Karena itulah, kau mau datang ketika dulu dipanggil Cukat Tong. Jika bukan karena urusanmu sendiri, kau tentu tidak akan mau datang,” jelas Cio San.
“Kau hebat,” kata Suma Sun.
“Jika kau yang mengatakannya, aku baru percaya kalau aku hebat,” kata Cio San sambil tersenyum. Tapi Suma Sun tidak tersenyum.
“Baru kali ini aku merasakan takut kepada seseorang,” kata-katanya lambat dan pelan. Terasa semakin lembut dan halus terdengar. “Musuh sekuat apapun, bahkan yang lebih kuat dari aku pun, aku tak pernah takut. Hanya kepadamu aku baru merasakannya. Ternyata seperti ini rasanya.”
“Jika kau bertarung denganku dalam kondisi seperti ini, kau pasti akan kalah,” kata Cio San.
“Tentu saja.” Ia mengaku kalah dengan santai dan ringan. Padahal, orang seperti Suma Sun harga dirinya sangat tinggi.
“Orang yang akan kita hadapi, apakah ada dua orang?” tanya Cio San.
“Kau tahu?” Suma Sun balik bertanya.
“Jika cuma satu orang, tentu kau bisa menghadapinya sendirian.”
Suma Sun mengangguk. Dia memeluk erat pedangnya. Di dunia ini hal yang paling disayanginya, tentulah pedang itu.
“Apakah mereka sehebat itu?” tanya Cio San lagi.
“Ilmunya sudah ia kuasai puluhan tahun. Tempat yang kita datangi ini, adalah tempatnya. Ia sudah menang beberapa langkah.”
“Apa yang membuatmu yakin kita akan menang?”
“Ada kau dan aku.”
Ini bukan kesombongan. Jika ia tidak yakin benar, sudah pasti ia tak akan mau bertempur.
“Mari kita lanjutkan perjalanan.”
Mereka pun berangkat. Sampai sore hari, tibalah mereka di sebuah lembah yang indah. Begitu banyak bunga dan kupu-kupu, membuat tempat ini menjadi sangat indah. Cio San jadi teringat Mey Lan. Biasanya, Mey Lan paling suka tempat seperti ini.
“Tempat seindah ini, siapa yang menyangka menyimpan kematian?”
“Belum pernah ada kematian di sini,” sahut Suma Sun.
“Oh.” Jika Suma Sun yang bicara, Cio San menurut saja.
Manusia-manusia yang bernaluri tinggi seperti Suma Sun memang pendapatnya lebih bisa dipegang. Ini karena mereka lebih mengandalkan perasaan mereka. Suma Sun yang mengalami kebutaan mungkin sejak lahir, telah terbiasa mengasah perasaannya ini sehingga menjadi sangat tajam.
Posisi tubuh Suma Sun tiba-tiba menegak. Gerakannya menjadi lamban. Jalannya menjadi perlahan. Ia telah merasakan bahaya di depan!
Telinga Cio San sendiri belum mendenar apa-apa.
“Kau mendengar apa?” tanya Cio San.
“Ada orang di depan. Langkahnya tidak terdengar. Tapi aku bisa merasakan hawa pembunuhnya.”
Tak berapa lama, tampaklah seseorang di depan.
“Ah, Ma Kauw-kauwcu dan Ang Hoat Kiam Sian,” kata orang itu sambil tersenyum.
Penampilannya biasa saja. Seperti seorang pedagang pasar yang kelebihan berat bedan. Senyumnya ramah dan bersahabat.
“Salam hormat,” kata Cio San menjura. Suma Sun diam saja.
“Salam hormat,” kata orang itu sambil balas menjura.
“Mari silahkan duduk dulu.” Ia berkata ramah sambil mengajak mereka duduk di sebuah pavilliun kecil di tepi kolam. Pemandangannya sungguh indah.
Cio San dan Suma Sun mengikutinya saja. Mereka kemudian duduk di pavilliun itu.
“Cayhe punya seguci arak. Tapi entah Tuan-tuan ada minat tidak, untuk sekedar menghabiskan beberapa cangkir bersama cayhe?”
“Tentu saja minat, Tuan…,” Cio San menggantungkan kata-katanya.
“Nama cayhe Man Tho Li,” katanya sambil tersenyum.
Siapapun yang punya telinga di dunia, pasti pernah mendengar nama ini. Man Tho Li. Pria terkaya di seluruh Tionggoan. Harta pribadinya saja, bahkan mungkin lebih banyak dari kaisar sendiri!
Tak disangka, orang bernama Man Tho Li ini cuma seorang bertubuh tambun berpakaian sederhana.
“Ah, ternyata cayhe berhadapan dengan Man-wangwe (Saudagar Man). Maafkan mata cayhe yang lamur dan tidak mengenal orang. Sungguh ini sebuah kehormatan,” kata Cio San.
“Aha.. tidak berani.. tidak berani.. Justru ini sebuah kehormatan bagi cayhe, bisa bertemu langsung dengan jagoan-jagoan terkemuka di jaman ini,” katanya. Lalu ia bertanya, “Apakah gerangan yang membawa Enghiong ji-wi (dua orang Ksatria) ini kemari?” katanya sambil menuangkan arak ke dalam cangkir.
“Kami mencari empat orang sahabat kami. Mungkin telah tersesat jalan hingga kemari. Kami pun hanya mencari-cari saja tanpa tujuan,” kata Cio San.
“Eh? Siapa nama empat sahabat Cio-kauwcu?” tanya Man-wangwe.
“Cukat Tong, Ang Lin Hua, Sie Peng, dan Yan Tian Bu,” jawab Cio San.
Man-wangwe berpikir sebentar, lalu berkata,
“Maksud Kauwcu, Cukat Tong Raja Maling dan Ang Lin Hua putri mendiang Ang-kauwcu?”
“Benar sekali,” jawab Cio San.
“Lalu Sie Peng dan Yan Tian Bu ini siapa?” tanya Man-wangwe lagi.
“Mereka adalah anak buah cayhe, Wangwe.”
“Hmmmm…. Aku yakin mereka tidak ada di sini,” kata Man-wangwe.
“Eh?” Cio San hanya bisa menoleh ke Suma Sun.
“Mereka ada di sini,” kata Suma Sun tenang.
“Apa Suma-tayhiap tidak keliru? Sudah, begini saja. Mari kita sama-sama ke dalam, dan ji-wi Enghiong bisa memeriksa sendiri.”
Habis bicara begitu, ia bangkit dan mempersilahkan mereka mengikutinya.
Begitu memasuki rumah itu, tampaklah perabotan-perabotan yang sederhana sekali. Orang terkaya di dunia ternyata hidup begitu sederhana.
“Silahkan ji-wi Enghiong memeriksa seluruh ruangan yang ada,” katanya mempersilahkan.
Dengan agak rikuh, Cio San memeriksa setiap ruangan. Suma Sun hanya berdiri saja dengan tenang sambil memeluk pedangnya.
Setiap ruangan yang dimasukinya memang tidak ada hal yang mencurigakan. Cio San sampai berpikir, bahwa mungkin saja Suma Sun bisa salah. Ketika sampai di depan ruangan terakhir yang pintunya terlihat cukup indah, Man-wangwe berkata, “Harap Kauwcu jangan masuk ke sana.”
“Kenapa?”
“Itu kamar istri cayhe yang sedang sakit.”
“Mereka berada di kamar itu,” sahut Suma Sun.
“Suma-tayhiap! Jangan asal bicara,” ucapannya masih tenang tapi kemarahannya sudah mulai tampak.
“Kau ingin bertarung?” tanya Suma Sun.
“Cayhe bukan pesilat. Tapi siapapun yang mengganggu ketenangan istri cayhe, akan cayhe hadapi.”
“Majulah,” kata Suma Sun tenang.
Cio San bingung harus berkata apa. Dalam hatinya, tentu saja ia percaya Suma Sun.
Man-wangwe membuat kuda-kuda.
Suma Sun berdiri tegak. Ia telah menyelipkan pedang di pinggangnya.
Man-wangwe bergerak!
Gerakannya sungguh cepat sekali. Untuk ukuran orang segemuk dia, gerakannya bahkan sama lincahnya dengan Ji Hau Leng! Cio San saja hampir tak percaya.
Pukulannya sederhana.
Suma Sun telah menggenggam pedangnya.
Begitu jarak keduanya semakin dekat, tiba-tiba dari mulut Man-wangwe terdengar teriakan yang sangat dahsyat!
Teriakan itu menghancurkan seluruh isi ruangan yang ada. Perabotan pecah, pintu-pintu jebol, bahkan dinding tebal pun retak-retak.
“Auman Singa!” bisik Cio San dalam hati. Ia telah mengeluarkan tenaga dalamnya, dan menutup jalan pendengarannya. Tapi tetap saja ia terlambat sedikit. Kecepatan suara, jauh lebih cepat dari kecepatan gerakan manusia.
Yang paling menderita adalah Suma Sun!
Ia tak menyangka Man-wangwe akan menyerangnya dengan ilmu Auman Singa. Ilmu itu telah menyerang gendang telinganya dengan sangat cepat. Apalagi, telinganya memang jauh lebih peka dari siapa saja, sehingga membuat serangan ilmu Auman Singa itu memiliki efek yang berlipat ganda kepadanya. Menutup jalan pendengaran pun sudah tidak sempat.
“Arggggggghhhhhhhhh…….” Ia terjatuh berlutut sambil menutup telinga.
Pukulan dahsyat Man-wangwe pun kini sudah sangat dekat dengan kepalanya.
Dengan gerakan yang tak terduga, Suma Sun sudah menghindari pukulan itu. Entah bagaimana caranya!
Mungkin nalurinya yang kini bekerja sekarang. Selama ini, ia selalu bertarung mengandalkan pendengarannya. Kini pendengarannya tak berfungsi sama sekali, tapi ia mampu menghindari pukulan ganas itu. Hanya pengalaman bertarunglah, yang membuat naluri seorang petarung menjadi sedemikian tajam!
Ingin Cio San membantu Suma Sun. Tetapi Cio San tahu, mengeroyok bukanlah perbuatan para ksatria. Apalagi ia juga tahu, bahwa Suma Sun tentu tak ingin orang lain mencampuri pertarungannya.
Kini pedang Suma Sun telah terlepas dari tangannya. Seorang pendekar pedang tanpa pedangnya, bagaikan serigala tanpa cakar dan taringnya.
Terlihat wajah Suma Sun pucat, dan ia meringis menahan sakit. Tapi sikapnya masih tenang. Setelah berhasil menghindari pukulan ganas Man-wangwe, kini Suma Sun telah berhasil mengatur jarak dari Man-wangwe.
“Hebat!” puji Man-wangwe. “Selama ini belum pernah ada orang yang lolos dari seranganku ini,” katanya.
Percuma saja ia berkata-kata, karena Suma Sun tidak bisa mendengar apa-apa.
Serangan Man-wangwe kini datang lagi. Pukulan bertubi-tubi yang mengincar berbagai tempat di tubuh Suma Sun. Ada yang berhasil ia hindari dan tangkis, tetapi ada beberapa pukulan juga yang masuk.
Suma Sun terlempar menghantam dinding di belakangnya. Hantaman ini bahkan sampai menjebol dinding itu.
Masih belum puas, Man-wangwe mengejar tubuh yang terlempar itu, dan kembali melancarkan serangan pukulan dan tendangan yang maha dahsyat. Jika orang lain yang menerima pukulan dan tendangan itu, tentunya tubuhnya akan remuk.
Tapi tubuh Suma Sun telah ditempa oleh banyak hal. Walaupun terluka, setidaknya tidak sampai membuat ia mati.
Melihat pemandangan ini, hati Cio San bagai tersayat-sayat. Ia sudah ingin maju bergerak, tetapi dilihatnya Suma Sun telah kembali berdiri dengan gagah!
Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Beberapa tulangnya ada yang patah. Tetapi ia tetap berdiri gagah bagaikan serigala yang sedang terluka!
“Hebat!” Tak terasa pujian itu keluar dari mulut Cio San.
Man-wangwe kembali melancarkan jurus-jurusnya yang ganas. Pukulannya datang bagai air bah. Tendangannya datang menghunjam bagai badai. Semua coba ditangkis dan dihindari oleh Suma Sun. Tapi berkali-kali juga, pukulan dan tendangan itu ada yang lolos dan mengenai tubuhnya.
Suma Sun terjatuh berlutut. Serangan-serangan ini terlalu dahsyat baginya.
Ia jatuh, dan kedua tangannya kini menahan tubuhnya agar tidak jatuh tertelungkup.
Satu lagi serangan, dan Suma Sun akan habis riwayatnya!
Serangan itu pun tiba. Man-wangwe mengatupkan kedua telapak tangannya membentuk sebuah tinju yang sangat mengerikan. Inilah ilmu andalannya, ‘Tinju Palu Besi Menghunjam Sukma’. Cio San tercekat!
Sudah tak ada harapan lagi baginya untuk menolong Suma Sun!
Gerakan tinju itu sangat dahsyat, sangat cepat, sangat ganas. Menghunjam ke batok kepala bagian belakang Suma Sun.
Jleb!
Ia pun roboh!
Roboh kehilangan nyawanya!
Tapi bukan Suma Sun.
Man-wangwe lah yang roboh.
Sebuah luka di dahinya.
Tak ada darah.
Hanya ada kematian.
Suma Sun masih berlutut. Di tangan kanannya, terdapat sebuah bambu kecil yang tidak begitu panjang.
Bambu pecahan perabot kursi yang tadi pecah dan hancur karena pertarungan mereka yang dahsyat.
Cio San jadi ingat kata-kata Suma Sun.
“Aku tidak percaya pedangku. Tetapi aku percaya kepada diriku.”
Dan Suma Sun benar-benar membuktikannya.
Cio San segera bergegas ke Suma Sun. Dengan nalurinya, Suma Sun tahu jika orang yang datang bukan untuk menyerangnya. Ia diam saja ketika Cio San menempelkan tangan ke pundaknya dan menyalurkan tenaga saktinya.
Tak berapa lama, Suma Sun mulai merasa badannya segar kembali. Walaupun tulang rusuk, lengan, serta tulang pahanya patah, seluruh organnya terlindungi. Hal ini karena Suma Sun sendiri memiliki tenaga sakti yang dilatihnya
bertahun-tahun sejak kecil.
Cio San lalu menotok beberapa titik yang berhubungan dengan indera pendengaran Suma Sun. Begitu ditotok, si Dewa Pedang ini merasakan sakit di telinganya mulai menghilang. Pendengarannya berangsur-angsur pulih. Sedikit demi sedikit, ia sudah bisa mendengar suara.
“Untung tenaga dalammu sangat tinggi. Walaupun kau terlambat sedikit, setidaknya tenaga dalammu berhasil melindungi gendang telingamu dari cedera yang parah. Jika kau beristirahat memulihkan diri selama beberapa bulan, kukira pendengaranmu akan kembali seperti semula,” jelas Cio San.
Suma Sun hanya mengangguk-angguk dan berkata, “Terima kasih”. Sambil berkata begitu, ia melanjutkan semadi untuk memulihkan kekuatannya.
Cio San sendiri segera berdiri. Ia melangkah ke pintu besar tadi. Pintu yang menimbulkan semua perkelahian ini. Pertarungan sedahsyat tadi tidak merusak pintu itu secuil pun.
Ia membukanya.
Bau harum bercampur sedikit bau darah terhembus dari dalam ruangan itu.
Ruangan yang biasa saja.
Bwee Hua Sian duduk di sebuah kursi, di sebelahnya terdapat tempat tidur. Seorang nenek tua terbaring lemah di atas tempat tidur itu.
“Terima kasih.” Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Bwee Hua Sian.
Cio San hampir tidak mengerti, untuk apa Bwee Hua Sian mengucapkan kata-kata itu? Ia hanya tersenyum memandang Bwee Hua Sian.
“Kau harus berterima kasih kepada Suma Sun,” kata Cio San.
“Aku tahu, aku mendengar semua kejadian tadi dari sini,” kata Bwee Hua Sian sambil tersenyum pula. Wajahnya terlihat tenang dan gembira. Seperti sebuah beban telah terlepas dari pundaknya.
“Orang ini, apakah gurumu?” tanya Cio San.
“Aku lebih memilih memanggilnya ibu. Aku ingin bercerita banyak hal, tapi aku yakin kau sudah tahu begitu banyak.”
“Aku lebih memilih kau yang menceritakannya,” sahut Cio San sambil tersenyum.
“Baiklah.”
Ia pun memulai ceritanya.
“Sebenarnya, yang bernama asli Bwee Hua Sian adalah ibuku ini. Beliaulah yang dijuluki wanita paling cantik dan paling kaya sedunia. Dahulu, beliau lah yang memungutku dari jalan, saat keluargaku dibunuh orang. Beliau yang mendidikku silat. Mengajarkanku banyak hal, termasuk merawat tubuh hingga tetap terjaga seperti ini.”
“Ah, aku tahu umurmu belum 80 tahun. Mungkin baru sekitar 30-35 tahun. Tapi harus kuakui, wajah dan perawakanmu seperti anak perempuan berumur 17,” tukas Cio San sambil tersenyum.
“Haha... Memang benar kata orang, kau tak dapat menipu Cio San. Beng Liong salah mengambil kesimpulan. Karena memang selama ini, aku selalu menyamar menjadi ibuku. Menggunakan namanya dalam setiap aksi-aksiku.”
“Ibuku lah yang berumur 80 tahun. Dan kecantikannya memang benar-benar terjaga. Kau pasti heran, mengapa ibuku terlihat menderita seperti ini ‘kan? Itu karena ******** Man-wangwe!” Ada kemarahan terlihat di matanya.
“Kau tahu kenapa ******** itu bisa menjadi orang terkaya di dunia? Itu karena dia berhasil memperdaya ibuku. Beberapa belas tahun yang lalu, ia sangat tampan walaupun sudah lumayan berumur. Ibuku jatuh cinta kepadanya. Mereka kemudian menikah. Dia seorang yang biasa-biasa saja waktu itu. Karena ibuku lah, ia menjadi kaya raya. Orang berhati culas itu perlahan-lahan meracuni ibuku sedikit demi sedikit. Racun itu mengambil kecantikannya. Bahkan juga mengambil ilmu silatnya. Untunglah aku tidak ikut teracuni juga, karena aku tinggal terpisah dengan ibu.”
“Dengan segenap kekuasaan ibuku, yang memiliki banyak pengaruh, anak buah, dan sebagainya, si ******** itu kemudian mulai melaksanakan rencana bejatnya. Ia ingin menguasai dunia Kang Ouw. Ia ingin merebut jabatan Bu Lim Bengcu yang akan diadakan 2 bulan lagi. Selama beberapa tahun, ia mulai menyingkirkan saingan-saingannya. Semua dilakukannya dengan cermat dan pintar.”
“Ia juga mengancamku untuk turut menjadi anak buahnya. Ia memanfaatkan aku untuk menjalankan semua rencananya. Memikat para pendekar. Merayu mereka, menggoda mereka. Dan semuanya memang benar-benar terlaksana dengan baik. Sungguh perih hatiku menjalaninya. Karena aku melakukannya demi ibuku ini.”
“Dan seperti yang kau tahu, segala kejadian-kejadian mengerikan yang ada di dunia persilatan, semua akibat si ******** itu,”
Ia meneteskan air mata.
Jika perempuan sudah meneteskan air matanya, itu adalah tanda bagi lelaki untuk berhenti bicara.
“Biar kuperiksa ibumu,” kata Cio San.
“Ahhh.. Ahhh.. Tolooooong…!! Toloooong…..!!” si nenek tua yang berada di atas ranjang itu berteriak sekencang-kencangnya karena ketakutan. Seperti memandang mayat yang baru bangkit dari kubur.
“Ah, Cio-tayhiap. Maafkanlah ibuku…. Beliau…. Beliau menjadi seperti ini sejak kejadian yang lampau. Beliau takut kepada laki-laki. Jika ada yang mendekatinya, ia akan memangis dan berteriak. Segala kecantikan dan kelembutannya hilang. Ia sudah seperti kehilangan dirinya sendiri. Sudah tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri…..” Sambil berkata begitu, ‘Bwee Hua muda’ mendekati nenek itu dan menenangkannya. Dengan lembut ia mencium, dan berbisik-bisik di telinga ‘ibu’ nya untuk menenangkannya.
Setelah ibunya tenang, Bwee Hua muda lalu bertanya kepada Cio San,
“Kau tahu, aku sengaja menculik keempat sahabatmu adalah untuk sebuah maksud. Karena bukan Man-wangwe yang memerintahkannya.”
“Kau menculik mereka, sebenarnya adalah untuk memancingku kemari, bukan? Untuk meminjam tanganku mengalahkan Man-wangwe,” tukas Cio San.
“Benar sekali. Ia sendiri tidak tahu jika aku menculik sahabatmu dan kubawa kemari. Karena ia sendiri paham, jika kau sampai mengendus keberadaannya, maka segala rencananya akan berantakan.”
“Lalu dimana sahabat-sahabatku?”
“Tenang, mereka aman.” Bwee Hua muda lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari. Begitu lemari itu dibuka, ia menekan sebuah tombol rahasia di dalamnya. Terdengar bunyi berderit, dan tampaklah sebuah ruangan rahasia di balik lemari itu.
“Silahkan,” katanya.
Cio San memasuki ruangan itu dan melihat keempat sahabatnya berada di dalam. Walaupun mereka tertotok, keadaan mereka sehat-sehat saja dan tak kurang suatu apa. Melihat itu, Cio San pun lega.
“Aku memperlakukan mereka dengan baik. Kau jangan khawatir. Tapi sebelumnya, aku minta maaf telah melakukan semua ini. Sungguh, ini semua bukan keinginanku,” katanya sambil melepas totokan keempat sahabat Cio San itu.
Begitu totokan mereka terlepas, keempatnya segera bersemadi untuk mengumpulkan kekuatan. Ditotok selama berhari-hari, membuat mereka lemas dan kehilangan tenaga.
Bwee Hua lalu berkata,
“Biarkan aku merawat ibuku di sisa hidupnya ini. Kau tahu beliau sekarang sekarat. Setelah itu, aku akan datang ke puncak Thay San untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku.”
“Baik,” kata Cio San.
“Eh, aku masih punya satu pertanyaan lagi. Di mana kau sembunyikan kekasih Ji Hau Leng?” tanya Cio San.
“Kekasih Ji Hau Leng? Aku tidak menyembunyikannya,” jawab Bwee Hua.
Cio San memandangnya lama, ia lalu tersadar.
“Ah… Tentunya, kau lah kekasih Ji Hau Leng.”
Terlihat wajah Bwee Hua menjadi sangat sedih.
“Kau sudah tahu apa yang terjadi dengannya, bukan?”
Bwee Hua hanya mengangguk dan menangis. Cio San tak tahu harus berkata apa.
Mereka semua lalu pergi dari situ. Meninggalkan Bwee Hua muda yang merawat ibundanya tercinta. Cukat Tong dan Yan Tian Bu membantu memapah Suma Sun yang terluka parah.
Lembah Seribu Kupu-Kupu yang begitu indah. Menyimpan cerita yang begitu menyedihkan.
Mereka berjalan menyusuri jalanan kecil sampai tiba di sebuah hutan bambu di luar lembah.
“Aih, ada yang salah!” tiba-tiba Cio San tercekat.
Segera ia bergegas lari kembali ke rumah tadi. Keadaannya masih berantakan seperti tadi mereka tinggalkan. Mayat Man-wangwe pun masih di sana.
Tapi tiada seseorang disana.
Hanya ada bau darah.
Dan sebuah mayat tergeletak di atas tempat tidur.
Bwee Hua ‘tua’ mati dengan mata mendelik dan leher hampir putus.
Cio San mengepalkan tangan.
“Mengapa aku sampai tertipu siluman rubah itu?” katanya sambil garuk-garuk kepala.