
Jordan yang tidak sadarkan diri, tiba-tiba saja dari tubuhnya terpancar cahaya putih yang menyilaukan. Ternyata cahaya putih itu berasal dari gelang yang di berikan kakek Daeng kepadanya.
Aura dari gelang itu kemudian menyelimuti tubuh Jordan dengan sekejap. Tubuh yang di selimuti cahaya putih itu, tiba-tiba menghilang beserta Jordan yang ada bersama cahaya itu.
Seketika jalanan tempat mereka bertarung kini sepi tidak bergeming. Cuma bersisa jasad ibunya dan Lion yang terbunuh di tangan Jordan.
Tubuh Jordan yang terluka semakin lemah,Diakibatkan dirinya berada di dalam ruang waktu yang membawanya kembali ke masa lalu.
***********
Hari-hari telah berlalu. Jordan belum siuman sama sekali. Luka yang dia derita cukup serius sehingga membuatnya belum juga sadarkan diri.
"Apakah dia akan baik-baik saja ayah?", tanya seorang gadis muda yang cantik.
"Liu'er, biarkan pemuda itu. Luka yang ia derita tidaklah sedikit. Mungkin akibat dari luka itu dirinya belum juga siuman", sambut ayahnya.
"Siapa pemuda ini? Wajahnya menandakan dia bukan dari wilayah ini. Apakah musuh yang menyelinap ke sini? Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak", Gumam pria itu dalam hati.
Kedua ayah dan putrinya itu merasa sangat kasihan melihat Jordan yang tengah terluka dan terbaring tidak berdaya saat mereka sedang berkebun. Anehnya kedatangan Jordan seperti meteor yang menabrak bumi sehingga hampir membuat lahan keluarga mereka rusak.
**Datanglah.......datanglah padaku*
*Ibuuu......*
*Kau lemah. Ibu mu sampai mati di tanganku. Aku akan menghancurkan seluruh orang yang engkau sayangi**
"TIDAKKKK..........."
Teriakan Jordan yang tersadar dari komanya, membuat Liu'er bergegas menghampiri kamar Jordan.
"Kau tidak apa-apa?", tanya Liu'er penasaran.
Sambil memegang kepalanya Jordan mencoba bertanya kepada gadis tersebut.
"Dimana aku? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?", tanya Jordan sambil memegang kepalanya yang masih sakit.
"Kamu berada di desa Aogi, desa para petani. Ini adalah desa kecil di kerajaan Yang. Kamu sudah pingsan hampir satu Minggu", ujarnya.
"Wah kamu bertarung terlalu keras sampai lupa ini di jaman apa?", ujarnya bercanda.
"Kamu harus tau ini
jaman kejayaan Dinasty Ming", jelasnya kepada Jordan.
"Tenang saja. Yang penting kamu sudah sadar. Mungkin lima sampai enam hari kamu sudah pulih walaupun belum sepenuhnya", ujar Liu'er lagi.
"Maaf merepotkan kalian", jawab Jordan sambil menundukkan kepala.
"Wah kau sudah siuman anak muda?", ujar seorang laki-laki yang begitu gagah dan besar.
"Perkenalkan namaku adalah Yamato dari keluarga Song. Bisakah aku mengetahui namamu anak muda?", tanya Yamato.
"Namaku adalah Jordan Lin", jawabnya.
Yamato merasa tidak asing dengan marga tersebut. Yamato mencoba untuk mengingat-ingat kembali.
"Ahh.....Marga Lin bukakan kah keluarga yang sangat kuat itu. Aku mendengar dari banyak orang mereka berilmu tinggi. Tidak seorangpun yang berani melawan mereka", jelas Yamato.
Jordan menaikan sebelah alisnya. Jordan tidak menyangka akan mendengar hal tersebut. Betapa terkenalnya leluhur mereka.
"Sebaiknya kamu istriahat. jangan memaksakan diri. Liu'er ayo ikut ayah ke kebun?", ujar Yamato.
Sambil mengangguk pelan, Liu'er mengikuti ayahny dari belakang.
"Dengar pesan ayahku. Jangan gegabah", ujar Liu'er sembari berlari kecil meninggalkan kamar tersebut lalu menutup pintunya.
Sambil menghela nafas, Jordan menjatuhkan badannya ke tempat tidurnya. Jordan tidak menyangka akan kembali ke masa dimana leluhurnya masih hidup.
"Aku harus bergegas menjadi kuat. Agar aku bisa menghentikan pertikaian antar keluargaku ini. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak di inginkan", ujar Jordan dalam hati.
Sesaat setelah Jordan melamun, dirinya mencoba untuk tidur dan memperbaiki kondisinya yang lemah setelah bertarung melawan Lion di masa depan beberapa hari yang lalu.
Tidak butuh waktu lama, Jordan sudah tertidur dengan pulas ya seperti **** yang tidur sangat lelap.