
*"Aku akan menghabisi keturunanmu",*
"Tidakk......", teriak Jordan sembari tersadar dari komanya.
Teriakan yang di lontarkan oleh Jordan, sontak membuat ibunya dan seisi ruangannya terkejut. Dengan cepat ibunya memanggil dokter dan melihat kondisi Jordan.
Hampir 1 Minggu Jordan dinyatakan koma. Dokter awalnya memfonis Jordan tidak berumur panjang, nyatanya Jordan kembali tersadar dari komanya. Tidak butuh waktu lama, sang dokter telah sampai di ruangan Jordan dan langsung memeriksa keadaannya.
Betapa terkejutnya dokter itu melihat keadaan Jordan. Jordan yang awalnya mengalami demam tinggi, kini menjadi sehat seperti remaja pada usianya.
"Luar biasa. Anda telah melewati masa kritis ini Jordan. Saya berharap kamu bisa menjaga kesehatanmu", ujar sang dokter.
"Terima kasih dokter", ujar ibunya sembari menundukkan kepala.
Jordan merasa binggung dengan kejadian tersebut, sehingga membuat dia bertanya kepada ibunya.
"Ibu apa yang terjadi?", tanya Jordan.
"Kau mengalami koma selama 1 Minggu. Kondisi tubuhmu sangat memprihatinkan. Ibu sudah berfikir kamu akan meninggalkan ibu juga", jelas ibunya yang sedang menangis.
Melihat sang ibu menangis, Jordan bangkit dari kasurnya lalu memeluk ibunya.
"Ibu aku akan menjagamu. Tidak ada yang akan meninggalkanmu", ujar Jordan menghibur ibunya.
**********
Hari-hari telah berlalu. Tidak terasa sudah 3 hari Jordan di rawat di rumah sakit. Dokter sudah memberi izin kepada Jordan untuk pulang dan beraktifitas seperti mana biasanya.
Jordan tidak pikir panjang setelah sampai di rumah. Dia langsung Menganti pakaiannya dan bergegas kembali ke sekolah.
"Apa yang kau lakukan? Kau baru pulang dari rumah sakit dan ingin kembali ke sekolah?", tanya ibunya cemas.
Melihat kekhawatiran ibunya, Jordan cuma bisa tersenyum.
"Ibu. Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan ku. Aku sudah merasa lebih baik", ujar Jordan sembari berpamitan dengan ibunya.
Ibunya merasa heran dengan sifat anaknya yang berubah. Ibunya merasa anaknya menjadi sedikit gegabah.
Sesampainya Jordan di sekolah, seperti biasa dirinya selalu mendapat bully-an dari temannya yang nakal.
"Ini dia anak culun. Kau menghilang dari hadapan kami untuk menghindar dari kami ya?", ujar mereka.
Jordan tidak menanggapi mereka, tetapi ia terus berjalan ke arah kelasnya. Melihat Jordan tidak mengganggap mereka, salah satu anak nakal tersebut melayangkan pukulan ke arah Jordan.
Jordan yang sedang berjalan santai, tiba-tiba merasakan sesuatu peringatan dari dalam dirinya. Jordan dengan cepat menghindar dan langsung membalas pukulan anak nakal tersebut.
Pukulan Jordan telak mengenai perut anak nakal tersebut. Anak nakal yang terkena pukulan itu, terlempar dan terbentur mengenai loker yang ada di belakangnya dan seketika itu dia langsung pingsan.
Melihat kejadian itu, semua orang yang melihat terkejut bukan main. Mulut mereka terbuka lebar melihat kejadian itu.
Jordan yang melakukannya pun ikut terkejut dengan hal itu.
"Maaf-maaf kan aku. Aku tidak sengaja", ujar Jordan meminta maaf.
Anak nakal yang tersisa, tersadar akan keterkejutan mereka dengan kata-kata dari Jordan.
"Kau....kau....Akan ku bunuh kau", ujar salah satu anak nakal yang dengan cepat ikut menyerang Jordan. tidak kalah dengan temannya, mereka lalu serempak menyerang Jordan.
Jordan yang melihat mereka menyerangnya bersamaan merasakan tubuhnya seperti bergerak Tampa perintahnya. Dengan cepat pukulan menghantam wajah setiap anak nakal yang menyerang dirinya.
Pukulan tersebut sukses membuat para anak nakal itu terpental dan hampir menghancurkan tembok yang menyentuh tubuh mereka.
Para siswa yang melihat kejadian itu terkejut bukan main. Jordan yang mereka kenal sebagai siswa pendiam, ternyata dia adalah orang yang sangat hebat dalam bela diri.
Jordan sendiri merasa bingung dengan hal tersebut. Dirinya lalu pergi dari lokasi itu dan kembali ke kelasnya. Sesampainya di kelas, semua mata tertuju pada Jordan. Begitupun gurunya.
"Maaf ibu guru. saya terlambat", ujar Jordan sembari menundukkan kepala.
Tampa berkata, Jordan di persilahkan masuk oleh gurunya. Sepanjang pelajaran Jordan termenung dengan apa yang telah dia alami. Jordan tidak menyangka akan melakukan hal itu kepada mereka yang membully dirinya.
Sampai akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi dan Jordan tersadar akan lamunannya dan bergegas kembali ke rumahnya.