Devil Eyes

Devil Eyes
Kehidupan Sebagai Pendekar



Bukan perkara mudah bagi Jordan untuk menahan kekuatan yang ada pada dirinya. Setiap anak-anak yang ingin mengganggunya berakhir dengan patah tulang.


"Kalian bukan tandingan ku. Jangan membuatku marah dan membunuh kalian semua", ujar Jordan dengan nada sinis selepas istirahat pelajaran.


Banyak pasang mata yang melihat aksi Jordan yang menghajar para anak-anak nakal yang ada di sekolahnya.


"Jika kalian ingin melawanku, setidaknya kalian harus memanggil dewa untuk bertarung denganku", ujar Jordan yang dengan segera bergegas meninggalkan mereka.


*************


"Apa yang kalian inginkan?", teriak seorang gadis manis yang sedang di hadang oleh beberapa siswa laki-laki.


"Kenapa kau tidak mau menerima ku sebagai pacarmu Shion? Apakah aku kurang kaya bagimu? apakah kurang tampan?", ujar siswa itu sambil tertawa.


"Han jangan memaksaku?", ujar Shion.


Han adalah seorang anak pengusaha terkaya di kota Jepang. Banyak aset perusahaan keluarganya yang mencapai Triliunan dolar.


Sedangkan Shion adalah putri dari seorang pengusaha yang bekerja sama dengan ayahnya Han.


"Apakah kau ingin ayahmu bangkrut?", ujar Han mengancam Shion.


Shion yang mendengar ancaman tersebut Tampa ia sadari Shion menampar wajah Han dengan keras.


"Beraninya kau mengancam ku?", ujar Shion yang matanya mulai basah.


Han hanya memengang pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari Shion.


"Beraninya kau? Telanjangi dia. Kita lihat siapa yang berkuasa sekarang", ujar Han memerintah beberapa siswa yang mengikutinya.


Tampa pikir panjang, mereka langsung bergerak mengikuti perintah Han. Mereka memengangi tangan serta kaki Shion.


Shion yang mendapat perlakuan tersebut tidak bisa melawan. Dikarenakan banyak siswa laki-laki yang memengangi tangan dan kakinya. Han lah yang akan melepaskan semua pakaian Shion.


"Jangan...... Tolong aku", teriak Shion sembari menangis.


Saat hampir membuka seperempat baju Shion, tiba-tiba saja Han terlempar beberapa centimeter dari tempat dia yang akan menelanjangi Shion.


Banyak siswa laki-laki yang mengikuti Han tidak menyadari kejadian tersebut sebelum mereka tersadar setelah Han tidak bersuara di dekat mereka.


"Apa..........", ujar Han yang merasakan sakit di sekitar pipinya.


"Siapa yang berani melukai tuan muda Han? kau ingin mati?", ujar seorang siswa.


"Apakah kalian pantas di sebut sebagai siswa ketika kalian ingin memperkosa seseorang wanita yang tidak berdaya melawan kalian?", ujar seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik pepohonan.


Serempak para siswa itu memandang ke asal suara tersebut.


"Hei siswa aneh. Jangan menganggu kami? kau ingin mati haa......?", ujar seorang siswa.


Sambil menepuk wajahnya pria itu merasa telah melakukan hal yang membuat dirinya sendiri jengkel. Pria itu tidak lain adalah Jordan.


"Dasar mahluk lemah", ujar Jordan yang dengan cepat bergerak menyelamatkan Shion.


Dalam hitungan detik, Shion tidak lagi berada di hadapan mereka.


"Apa-Apaan ini?", teriak seorang siswa.


"Tetap di sini. Tunggu aku sebentar ini tidak akan lama", ujar Jordan kepada Shion yang di sambut dengan anggukan pelan dari Shion.


Setelah menyandarkan Shion di pohon terdekat, Jordan kembali ke hadapan para siswa tadi.


"Diam....... Akan ku bunuh kau", ujar salah satu siswa yang dengan langsung menyerang Jordan.


"Heee......Tidak bisa bernegosiasi, ingin melakukan kekerasan. Baiklah itu yang kalian minta", ujar Jordan menyambut serangan itu dengan sebelah tangan.


Serangan yang diberikan siswa tersebut tidak lah sulit untuk di tahan Jordan dengan sebelah tangannya. Kedua tangan tersebut bersentuhan.


"Sudah ku bilang. Dasar lemah", ujar Jordan yang dengan gerakan yang cepat memberikan serangan tapak kebagian perut siswa itu.


Ketika serangan Jordan bersarang di perut siswa itu, seketika siswa itu terlempar beberapa meter kebelakangnya dan memuntahkan darah segar dari bibirnya.


"Apa-Apaan ini? Beraninya kau?", ujar seorang siswa lain yang melihat kejadian itu.


"Wahhh. Kalian ingin menyerang ku bersama-sama? Aku tidak keberatan. Mari, Akan ku tunjukan apa itu keputusasaan", ujar Jordan sambil tersenyum.


Tetapi sebelum mereka menyerang, Han sudah berdiri di belakang mereka.


Dengan nafas yang terputus-putus, Han menganalisa kekuatan yang Jordan miliki.


"Jordan Lin? itu namamu bukan?", ujar Han sambil memengang perutnya.


Jordan menyaksikan Han dengan seksama. Melihat Han bisa bertahan dengan dengan serangannya, menandakan Han juga mempelajari ilmu beladiri.


"Hmmm...... Benar. Aku adalah Jordan Lin? apa kita pernah bertemu?", ujar Jordan.


"Siapa sebenarnya dia ini? Dia memiliki ilmu yang luar biasa hebat?", gumam Han dalam hatinya.


"Kau tidak perlu memikirkan aku. Apapun yang terjadi, aku akan mematahkan tangan dan kakimu yang telah melakukan tindakan tidak terpuji", ujar Jordan sambil menatap tajam ke arah Han.


"Jangan asal bicara murid aneh. Akan ku bunuh kau sekarang juga. serang dia bersama-sama". ujar Han memerintahkan bawahannya.


Para siswa itu hanya terdiam menyaksikan kejadian tersebut. Mereka tidak berani menyerang Jordan dikarenakan kekuatan Jordan yang sangat hebat.


"Jika kalian tidak mau? Aku akan menyerang duluan", ujar Jordan yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.


"Apa-Apaan ini? Kemana dia?", ujar Han.


Para murid itu mulai ketakutan. Kekuatan Jordan sangat menakutkan bagi mereka.


Saat semua orang sedang kebingungan, Jordan muncul di belakang Han Tampa dia sadari.


Kecepatan Jordan meningkat seiring dia berlatih.


Saat mereka tersadar Jordan sudah di belakang Han, Tapi sudah terlambat. Dengan cepat Jordan mematahkan kaki serta pergelangan tangan Han.


Suara nyaring dari tangan dan kakinya membuat Han berteriak keras.


"Uaghhh....... Dasar manusia rendah. Beraninya kau", ujar Han setelah mencoba untuk untuk menggerakkan tangan dan kakinya.


"Dasal lemah. mati saja sudah?", ujar Jordan yang kembali menyerang kaki Han uang membuat Han pingsan dan tidak sadarkan diri.


""Jika kalian ingin mati kalian, aku bisa mengabulkan nya di sini tampa kesulitan?", ujar Jordan.


Tampa basa-basi, mereka berhamburan entah kemana sambil menggotong tubuh Han yang lemas akibat terlalu lemah.


Jordan tidak mengejar mereka dikarenakan tenaga dalamnya mulai menipis.


"Setelah para siswa itu pergi, barulah Jordan kembali ke tempat Shion bersembunyi.