Devil Eyes

Devil Eyes
Kehidupan Pendekar di Zaman Modern II



Sesampainya mereka ke kantor polisi, inspektur Zuan menawarkan diri untuk mengantar Jordan kembali ke sekolahnya.


Jordan tidak menolak niat baik itu, Jordan menyetujui hal itu dan mereka langsung berangkat ke sekolahnya.


Di perjalanan, tidak ada satupun yang mau membuka pembicaraan mengenai kejadian di lapangan tersebut. Suasana hening dan tenang menyelimuti seisi mobil sampai Jordan membuka suara.


"Inspektur, apa yang sedang anda pikirkan?", tanya Jordan.


"Ahhh...... Tidak apa. Aku hanya memikirkan kejadian tadi saja", ujar inspektur Zuan ketus sambil tertawa.


"Inspektur. Saya ingin meminta satu hal pada anda", ujar Jordan.


Pernyataan Jordan membuat inspektur Zuan memandang Jordan heran.


"Apa yang kau inginkan dari ku?", tanya inspektur Zuan penasaran.


Dengan penuh keyakinan Jordan mencoba mengutarakan isi hatinya.


"Saya harap, kejadian saat di lapangan tadi tidak ada yang mengutarakannya. Karena akan sangat berbahaya bila ada yang mengetahui hal tersebut dan membuat orang yang saya sayangi terluka karenanya", ujar Jordan.


Inspektur Zuan terkejut dengan pernyataan tersebut. Bagi seseorang yang mempunyai ilmu tingkat tinggi di masa sekarang bisa terkenal itu sangat biasa. Inspektur Zuan melihat bahwa Jordan tidak ingin mendapatkan sebuah kehormatan akan kekuatannya tersebut.


"Baiklah Jordan. Aku dan anak buah ku akan memendam rahasia ini", ujar inspektur Zuan.


"Terima kasih inspektur. Bila anda dalam masalah, Anda bisa meminta bantuan saya. Anda pasti tau mencari saya kemana?", ujar Jordan.


"Baiklah Jordan", ujar inspektur Zuan.


Perjalanan pun berakhir dengan sampainya mereka berdua di depan sekolah Jordan.


"Aku hanya bisa mengantar sampai di sini. Aku akan kembali ke kantor polisi untuk mengusut kasus ini", ujar inspektur Zuan sembari melambaikan tangan tanda perpisahan.


"Baik lah inspektur. Hati-hati di jalan", ujar Jordan sembari melambaikan tangan juga kepada inspektur Zuan.


Kemudian mereka berpisah di sana. Jordan kembali ke kelasnya dengan tatapan ketakutan mengarah kepadanya.


"Maaf pak guru. Saya ada urusan mendadak dengan kepala sekolah", ujar Jordan sambil menunduk.


"Ti......Tidak apa-apa. Silahkan duduk", ujar guru tersebut.


Proses belajar mengajar kembali di lakukan. Tidak ada yang berani menatap Jordan sampai waktu istirahat tiba.


"Berikan kami uangmu. Atau aku akan menghajar mu", ujar seorang siswa yang sedang memeras siswa lain.


Jordan yang baru sampai di kantin di temani oleh Shion memperhatikan peristiwa tersebut dan langsung menuju kesana.


Jordan sudah bisa menebak siapa yang membuat keributan di situ. Yang tidak lain adalah Yansu Han. Orang yang dulu sering membully dirinya.


Saat Han hendak memukul siswa tersebut, Jordan sudah menangkap tangan Han dan memutarnya kebelakang.


"Siapa yang............", perkataan Han terputus karena dia sudah mengetahui siapa yang memutar tangannya.


"Kak Jordan maafkan kami. Kami tidak akan mengulangi lagi", ujar Han meminta pengampunan dari Jordan.


Pikiran Han sudah berubah semenjak melihat dengan mudahnya Jordan menghajar dirinya dan anak buahnya Tampa perlawanan berarti. Dan juga saat seseorang menghancurkan sekolah mereka. Han menganggap berurusan dengan Jordan sama saja mengantar nyawa.


"Apakah kalian tidak sayang nyawa kalian? Masih mau membully anak lain?", tanya Jordan dengan nada dingin.


"Mm......Maafkan kami kak. Kami tidak akan mengganggu siswa siswi yang lain. Kami berjanji", ujar mereka serempak.


Jordan kemudian melepas tangan Han dan melemparnya dengan pelan ke arah anak buah Han. Sambil bersujud mereka meninggalkan Jordan.


"Kau tidak apa-apa teman?", tanya Jordan sembari membatu siswa tersebut berdiri.


"T.......Tidak apa-apa. Terima kasih telah membantuku", ujar siswa tersebut sembari memberi hormat dan pergi dari lokasi tersebut.


Saat siswa tersebut menghilang dari pandangan, Shion menghampiri Jordan dan menangkap tangannya.


"Bisakah kamu menyelesaikan masalah tanpa kekerasan?", tanya Shion sembari menggembungkan pipinya.


"Wah......Kekasihku khawatir. Maafkan aku", ujar Jordan sembari mengelus kepala Shion.


Rona wajah Shion seketika memerah dan refleks memukul wajah Jordan.


"Jangan lakukan itu di sini. Aku malu", ujar Shion menutup wajahnya yang memerah.


"Aihh.......Bunga sekolah memang pemalu", gumam Jordan sembari memengang pipinya yang bengkak karena pukulan Shion.


Setelah kejadian tersebut, mereka berdua kembali ke kantin dan mulai mengisi perut mereka di sana.