Devil Eyes

Devil Eyes
Tantangan Baru



Selepas kembalinya Jordan ke dunia asalnya, Tantangan demi tantangan mulai menghampirinya. Salah satunya adalah teman sekelasnya yang dulu membuli dirinya.


Tampa Jordan sadari, menghilangnya Jordan selama beberapa tahun ini membuat teman-teman nya berubah.


"Haaaa.....Apakah aku harus kembali ke neraka ini", keluh Jordan mengingat kehidupannya pada saat belum memiliki ilmu bela diri.


Tampa basa basi, Jordan melangkah melewati gerbang sekolahnya dan memasuki wilayah sekolah.


Sambutan yang di terima Jordan nyatanya sangat tidak bersahabat. Beberapa siswa maupun siswi memandang Jordan dengan heran, dikarenakan wajah yang Jordan miliki sedikit berubah.


"Siapa dia?", bisik seorang siswi kepada teman di sampingnya.


"Aku tidak tahu mungkin murid pindahan?", jawab siswi yang lain.


Jordan bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas dikarenakan Jordan memiliki pendengaran yang tajam. Setiap dirinya melangkah akan banyak terdengar seperti menyinggung dirinya.


"Dasar manusia-manusia aneh. Lama tidak berjumpa segitu cepatnya mereka melupakan aku?",Gumam Jordan dalam hatinya.


Pada saat yang sama, saat Jordan melangkah menuju ruang kepala sekolah sekelompok siswa menghadang jalannya.


"Hei anak baru, apakah kau tersesat?", tanya siswa tersebut.


Dengan tatapan malas, Jordan memandang siswa itu dengan tatapan sinis.


"Heee........ bukankah kau Yansu?", tanya Jordan dengan nada malas.


"Wah kau bisa tau namaku? mungkin kau mempelajari ilmu hitam ya?", ujar Yan sambil tertawa lantang.


Melihat reaksi Yansu, Jordan memalingkan wajahnya dan bergerak cepat ke ruang kantor kepala sekolah.


Yan yang melihat hal itu tersulut emosinya. Belum ada sejarah siswa ataupun siswi yang berani memalingkan wajah darinya. Membuat Yansu marah dan hendak memberikan pelajaran bagi Jordan.


Dengan cepat Jordan menyadari tindakan dari Yan tersebut dan dengan cepat menghindari serangan tersebut.


"Ingin melakukan kekerasan? Akan aku berikan", ujar Jordan yang sembari mengepalkan tangannya keras dan memberikan pukulan telak ke perut Yan.


Yansu yang menabrak loker tersebut mengeluarkan darah segar dari bibirnya walau tidak banyak. Begitu banyak pasang mata melihat kejadian itu melotot melihat kejadian itu.


"Monster?", ujar para siswa dan siswi itu serempak.


Saat kejadian itu, tiba-tiba beberapa saat setelahnya seorang guru datang menemui mereka.


"Apa-Apaan ini? Apa yang terjadi?", ujar guru tersebut.


Seorang guru beladiri di sekolah itu mendatangi mereka.


"Bukan aku yang mencari masalah, dia yang memulai", ujar Jordan malas.


Guru tersebut melihat dengan teliti kejadian yang barusan dia saksikan.


"Anak ini mempunyai kekuatan yang tidak biasa, bisa menjatuhkan murid kesayanganku dengan mudah", gumam guru itu dalam hati.


"apakah kau murid baru anak muda?", ujar guru itu.


Jordan melihat ekspresi guru tersebut dengan seksama. Jordan bisa menebak ekspresi guru tersebut yang kelihatan heran.


"sebenarnya saya adalah murid lama di sini", ujar Jordan.


"Nama saya Jordan Lin", ujar Jordan sambil menunduk hormat.


Guru tersebut tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia mengetahui Jordan adalah siswa yang menghilang beberapa tahun silam setelah kematian Ibunya.


"Baiklah pak. Bila tidak ada lagi, saya akan pergi ke ruang kepala sekolah sebab kepala sekolah memanggil saya", ujar Jordan sambil memberi hormat.


"Baiklah", ujar guru tersebut.


Dengan wajah datar, Jordan meninggalkan lokasi tersebut Tampa menoleh ke belakang.


Seluruh pasang mata yang melihat kejadian tersebut masih tidak percaya bahwa Jordan dengan gampang menjatuhkan juara beladiri sekolah mereka.