
Keputusan Jordan sudah bulat. Kemudian Daeng Lin membawa Jordan ke kediaman keluarganya.
"Kawan, perjalanan kita kali ini mungkin memakan waktu sekitar empat hari perjalanan. tetapi tenang saja, aku akan membiayai semuanya", ujar Daeng Lin.
"Kau bercanda. Apakah kalian keluarga terkaya di masa ini", tanya Jordan kepada arwah Daeng Lin yang bersemayam di tubuhnya.
"Kau tidak perlu terkejut. Memang benar kami adalah orang terkaya di masa ini. Selain ilmu, kekayaan juga bisnis keluarga kami banyak dan menguntungkan", ujar Daeng Lin.
"Baiklah. Waktunya berangkat. Kita tidak boleh membuang-buang waktu untuk bersantai santai", ujar Jordan.
Dengan wajah yang binggung, Daeng Lin cuma bisa menurut apa yang Jordan katakan.
Tidak butuh lama buat mereka menyiapkan perbekalan lalu pergi dari tempat itu.
Jordan terkejut dengan kelincahan dari Daeng Lin, pasalnya Daeng Lin sangat ahli dalam meringankan tubuhnya sehingga dia sedikit cepat berlari.
"Wah kau sungguh luar biasa kakek. Kau mempunyai ilmu yang tinggi", ujar Jordan.
"Kita keluarga Lin sangat terkenal dengan jurus kita. Sampai-Sampai hampir kebanyakan sekte besar dan menengah ingin mengambil ilmu kita", ujar Daeng Lin.
Mereka berdua berlari melewati hutan lebat nan ribun. Menggunakan ilmu meringankan badan mereka menghemat waktu perjalanan yang mereka tempuh dan akhirnya tidak terasa mereka sudah berlari hingga sore hari.
"Kawan. Aku melihat cahaya di depan sana", ujar Daeng Lin sembari menunjukkan arah cahaya yang dia magsud kepada Jordan.
Jordan yang sedang berlari menyipitkan matanya melihat dari posisi mereka sekarang.
"Benar sekali aku melihat ada cahaya di sana. Ayo kita kesana untuk beristirahat?", ujar Jordan.
Sambil menganggukkan kepalanya, Daeng Lin menyetujui pernyataan tersebut. kemudian mereka berlari ke arah sumber cahaya tersebut.
Tidak butuh waktu lama, mereka telah tiba di sebuah pintu masuk sebuah Kota.
"Kenapa di sini ramai sekali?", tanya Daeng Lin kepada salah satu penduduk yang mengantri.
Dengan wajah yang terkejut, penduduk itu menjelaskan kejadian tersebut.
"Apa yang membuat kalian ke sini", ujar Jordan.
Sambil menggaruk kepalanya penduduk itu mencoba menjelaskan kejadian yang mereka alami yang menyebabkan mereka mengungsi ke kota tersebut.
"Nama kota ini adalah Huanchi, kota ini adalah Kota yang termagsud besar di dinasti Ming ini", ujar penduduk itu.
"Beberapa hari lalu, desa kami di serang oleh segerombolan siluman serigala dan harimau. Kami tidak mengerti mengapa mereka menyerang kami", sambungnya.
"Siluman?", tanya Jordan heran.
"Apa benar siluman itu ada? Seperti yang ada di buku cerita?", tanya Jordan kepada Daeng Lin.
"Ah. Kawan siluman yang mereka magsud bukan siluman seperti yang ada di cerita dongeng", ujar Daeng Lin sembari menarik kepalanya.
"Siluman yang mereka magsud adalah dalam bentuk hewan yang sudah berumur ratusan tahun. Memungkinkan para siluman ini menjadi lebih kuat seperti pendekar tingkat tinggi", jelas Daeng Lin.
Jordan mendengarkan dengan cermat setiap penjelasan dari Daeng Lin. Yang ada di pikiran Jordan saat ini adalah mengapa para siluman itu menyerang penduduk desa.
"Mengapa kalian bisa menjadi sasaran para siluman tersebut?", tanya Daeng Lin lagi.
"kami juga tidak. mengetahui dengan pasti apa yang terjadi. banyak warga kami yang tewas akibat di terkam oleh para siluman itu", jelas penduduk tersebut.
"Sial. Disaat seperti ini kenapa bisa ada siluman di sekitar kota ini?", gumam Daeng Lin dalam hati.
"Apakah kau bisa memastikan berapa jumlah mereka?", tanya Jordan.
Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pemuda itu mencoba menjumlahkan berapa banyak siluman yang menyerang mereka.
"Yah mungkin sekitar dua ratus ekor", ujar penduduk itu.
Raut wajah Jordan dan Daeng Lin berubah seketika itu juga. Mereka tidak menyangka sebuah kota kecil bisa kuat menghadapi serangan sebanyak itu.