
Jordan menatap mereka dengan wajah yang sedang haus darah. Para anggota geng tersebut mengambil langkah mundur agar bisa menghindari setiap gerakan Jordan.
Akan tetapi, sebelum melangkah mundur, Jordan sudah berada di samping mereka.
"ingin menghindar dariku? bermimpi lah", ujar Jordan sembari memberikan beberapa pukulan di bagian kepala salah satu anggota geng itu.
Pukulan yang keras itu membuat anggota geng tersebut jatuh berlutut dan seluluh lubang yang ada di kepalanya mengeluarkan darah segar. Tampa butuh waktu lama, anggota geng tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di tangan Jordan.
Melihat rekannya terbunuh, anggota geng yang lain mulai memandang satu sama lain dengan wajah penuh ketakutan.
"Apakah kalian ingin menyusulnya?", tanya Jordan dengan nada menyeramkan.
"Jaga bicaramu anak muda. Tidak semudah itu membunuh anggota ku", ujar salah satu pria paru baya.
Jordan yang menyadari kehadiran pria itu, meningkatkan kewaspadaannya. Dirinya menyadari akan kuatnya ketua geng yang sedang ia hadapi.
"Wah wah wah. Kau seorang pendekar juga. Keahlianmu sangat tinggi. Setidaknya ilmu mu sudah mencapai pendekar bumi", ujar Jordan.
Mendengar hal itu, ketua geng tersebut terkejut bukan main. Ia berfikir bahwa anak muda yang sekarang ia hadapi adalah pendekar kelas tinggi.
"Hebat sekali kau anak muda. Belum beradu jurus saja kau sudah mengetahui tingkat kekuatanku. luar biasa. Tetapi kau akan mati di sini", ujar ketua geng tersebut sembari melesat mengeluarkan jurusnya.
*Harimau Mengarungi langit*
Jurus yang dikeluarkan oleh ketua geng tersebut, membuat udara di sekitar Jordan menjadi sangat tipis, tetapi Jordan tidak merasakan dampaknya. Tiba-tiba sebuah angin yang membetuk cakar menghampiri Jordan dengan sangat cepat.
"Jurus yang sangat kuat. Tetapi tidak bisa membunuhku", ujar Jordan sembari mengangkat tangannya dan menggagalkan jurus itu.
Jurus yang ketua geng itu keluarkan sirna begitu saja. Mata mereka membulat tidak terkecuali ketua geng tersebut. Mereka tidak menyangka, jurus ketua mereka di tepis oleh Jordan.
"Baiklah. sekarang giliran ku", ujar Jordan sembari bergerak cepat dan meneriaki satu jurus.
*Jurus Petir Kematian*
Ketua geng tersebut seketika itu menghilang Tampa jejak. Anggota yang lain lalu berlutut meminta pengampunan dari Jordan.
"Maafkan kami, jangan bunuh kami. Kami bersedia menjadi bawahanmu", ujar salah satu pimpinan mereka.
Jordan yang melihat hal itu tersenyum tipis.
"Baiklah. Aku akan mengampuni kalian. Kalian tapi harus menjadi bawahanku", ujar Jordan.
Tampa pikir panjang, mereka mengangguk dengan cepat. Kemudian Jordan membalikkan badannya dan meninggalkan anggota geng tersebut.
Jordan yang sudah lumayan jauh dari mereka tiba-tiba saja merasakan pusing yang luar biasa. Seketika itu juga Jordan pingsan.
**********
Jordan kembali di rawat di rumah sakit. Ibunya menerima telpon dari seseorang yang mengatakan bahwa Jordan pingsan di pinggir jalan.
Dalam keadaan pingsan, Jordan tersadar akan keberadaannya di suatu tempat. Jordan merasa dirinya telah mati sebelum ada seorang sesepuh yang datang menghampiri Jordan.
"Siapa kau? Dimana aku?",tanya Jordan.
Sambil tersenyum tipis, sesepuh itu lalu menepuk jidatnya Jordan dengan keras.
"Bisakah kau sopan sedikit kepada leluhurmu?", ujar sesepuh itu.
Sambil memegang jidatnya, Jordan merasa bingung dengan kehadiran sesepuh itu.
"Maafkan aku kakek, aku tidak mengetahui siapa dirimu awalnya", ujar Jordan.
"Hahahaha. Kenapa aku mendapatkan keturunan sepertimu, hahaha", ujar sesepu tersebut.
"Nama ku adalah Daeng Lin. Kau bisa memanggilku Kakek Daeng", ujar sesepuh itu.