
Buat teman-teman yang sudah support saya trima kasih. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian, karena saya jarang update lagi. Dikarenakan saya sibuk bekerja sehingga kuran waktu dalam menulis.
Saya mohon kemaglumannya dari kalian semua.
Untuk yang suka dengan karya saya silakan tinggalkan tombol like.
Jika kalian ingin saya mengubah alur ceritanya, kalian bisa menulis ide kalian di kolom koment. Terimakasih. Enjoy
Jordan merasakan sakit yang luar bisa menyerang tubuhnya. Beberapa tulang rusuknya patah akibat beradu serangan dengan Ling Fang.
"Mari kita lanjutkan lagi", ujar Ling Fang semangat.
Ling Fang ternyata sangat menikmati pertarungannya dengan Jordan.
"Seberapa kuat sebenarnya mahluk ini? Aku sungguh bukan lawannya", gumam Jordan dalam hati.
Jordan mengamati situasi yang sedang di hadapannya sampai pada saat yang sama, Ling Fang menyerang Jordan kembali dengan membabi buta.
Jordan yang mendapat serangan tersebut ternyata tidak sempat melakukan persiapan sehingga dia menahan serangan tersebut.
Serangan tapak yang diberikan Ling Fang, sukses membuat Jordan terpental kembali hingga puluhan meter dan menghancurkan beberapa pepohonan di belakangnya.
Jordan yang terlempar hampir kehilangan kesadarannya.
"Sial. Dia bukan musuh sembarangan.Aku harus mencari celah", gumam Jordan dalam hatinya karena dirinya tidak menemukan celah untuk menyerang balik.
"Maaf cucuku. Waktuku sudah habis. Aku hanya berharap kau tidak mati di tempat ini", ujar Daeng Lin.
Mendengar perkataan tersebut sontak membuat Jordan menelan ludah. Dikarenakan Jordan tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan Ling Fang.
"Kakek tua sialan. Disaat seperti ini malah pergi", teriak Jordan.
pada saat yang sama, roh Daeng Lin menghilang dari sisi Jordan menandakan Daeng Lin kembali beristirahat untuk memulihkan kekuatannya.
disaat hilangnya roh Daeng Lin, kekuatan Jordan turun drastis menjadi pendekar Dewa Bumi.
"Kekuatanmu berkurang jauh. Apa orang yang memberimu kekuatan kini telah mati?", teriak Ling Fang dengan nada mengejek.
"Kau tidak perlu khawatirkan diriku, Khawatirkan dirimu sendiri. Aku mati pun, setidaknya aku akan membawamu bersamaku", ujar Jordan.
Mendengar perkataan tersebut, Ling Fang menaikan sebelah alisnya. Dia tidak menduga, bocah yang sedang di hadapinya bisa berkata seperti itu.
"Jangan asal bicara, liat posisimu sekarang. Kekuatanmu bahkan tidak bisa menyamai ku saat aku masih muda dulu", ujar Ling Fang mengejek.
Mendengar perkataan Ling Fang, Jordan sadar perkataan yang dia lontarkan benar adanya. Di samping kekuatannya menurun drastis, dirinya juga terluka parah dan hampir terbunuh.
"Tenaga dalam yang aku punya tinggal sedikit. Aku bahkan hanya mengantar nyawa bila bertarung lagi dengannya. Sepertinya aku akan menyusul ibu. Maafkan aku ibu, aku akan datang", Gumam Jordan dalam hati sambil tersenyum.
Melihat ekspresi Jordan, Ling Fang yang awalnya berniat menyerang kembali mengundurkan niatnya.
"Siapa anak ini? disaat seperti ini dia masih bisa tersenyum? Memang monster", gumam Ling Fang dalam hatinya.
Pada saat yang sama, tiba-tiba saja tubuh Jordan bercahaya terang. Mereka yang menyaksikan kejadian tersebut sontak terkagum akan hal itu. Setelah beberapa saat, cahaya itu semakin terang dan menyilaukan mata yang melihat hal tersebut tidak terkecuali Ling Fang.
"A....Apa yang terjadi?", teriak Ling Fang sambil menutup matanya.
"Apakah kau benar manusia?", tanya Ling Fang yang terkejut akan sebuah kekuatan besar.
Setelah kejadian tersebut, cahaya yang ada di tubuh Jordan berangsur-angsur menghilang sehingga membuat Ling Fang bisa melihat kembali dengan jelas.
Betapa terkejutnya Ling Fang akan kekuatan Jordan. Kekuatan Jordan sekarang berada di puncak kekuatan Pendekar Dewa Langit.
"Ibu akan membantumu. Gunakan kekuatan ini dengan baik. Kekuatan yang ibu berikan hanya bersifat sementara. Setelah itu kekuatan itu akan hilang dan kamu akan kembali seperti sebelumnya ketika kamu menerima kekuatan ini", ujar sesosok perempuan yang ada di ruang jiwa Jordan.
*Ruang jiwa adalah tempat dimana seseorang bisa melatih mental dan kemampuannya untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Semakin tinggi kekuatan si pengguna, semakin kuat juga mental yang mereka asa*
Suara yang tidak asing bagi Jordan membuat dirinya meneteskan air mata. Mengingat kembali dia tidak bertemu ibunya lagi memuat dia senang. Bahwa ibunya masih melindungi dirinya.
"Aku tidak akan mengecewakan dirimu ibu", teriak Jordan yang seketika itu juga menunjukan kekuatan besar.
Mata yang merah menyala seperti mata Raja Iblis dan aura yang sangat menekan membuat siapa pun yang berada di dekat Jordan akan sulit bernafas.
"Mati kita lanjutkan. Aku akan mengakhiri ini semua dengan satu serangan terkahirku", ujar Jordan sambil mengangkat tangannya ke atas.
di saat yang sama, sebuah bola energi terkumpul di tangan Jordan dan semakin membesar.
"Apa-Apaan ini", teriak Ling Fang.
"Matilah dengan damai", teriak Jordan.
"Aku tidak akan kalah", ujar Ling Fang sembari mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Cahaya Ashura"
"Dewa Kegelapan"
Kedua jurus itu beradu. Membuat kerusakan besar disekitar kekuatan keduanya beradu.
"Matilah", teriak Ling Fang.
Berbeda dengan Jordan, dirinya tersenyum melihat Ling Fang. Pada saat yang sama, ternyata serangan yang di berikan Jordan nyatanya lebih kuat dibandingkan serangan Ling Fang yang membuat serang Ling Fang menghilang.
Cahaya Ashura yang di keluarkan Jordan menabrak tubuh Ling Fang yang seketika itu juga merusak aura kehidupan Ling Fang.
"Apaaa? ini tidak mungkin? TIDAAAKKKK", Teriak Ling Fang yang seketika itu juga tubuhnya menghilang di susul ledakan yang sangat besar.
Jordan yang memberikan serangan pun tidak terluput dari ledakan tersebut yang membuat dirinya terpental hingga radius ratusan meter dan menghancurkan seluruh bangunan yang iya tabrak.
************
Setelah cahaya dan ledakan itu menghilang, betapa terkejutnya Daeng Lin melihat kondisi kota Huanchi yang telah menghilang. Tidak ada satupun bangunan yang berdiri kokoh di tempat itu akibat ledakan tersebut.
" Untung saja tidak ada korban jiwa. Para penduduk mau untuk mengungsi", ujar Daeng Lin.
"Saudara Jordan?", Daeng Lin yang teringat akan Jordan mulai mencari di sekitar ledakan tersebut.
Setelah hampir satu jam mencari, nyatanya hasilnya nihil. Daeng Lin tidak menemukan keberadaan Jordan.
"Saudara Jordan. Maafkan aku tidak bisa membantumu", ujar Daeng Lin yang langsung meninggal lokasi tersebut.