
"Gawat sekali. Bagaimana bisa kami akan menghadapi begitu banyak siluman jika mereka menyerang bersama-sama?", gumam Daeng Lin dalam hatinya.
Di saat Daeng Lin sedang berfikir, Jordan hanya bisa tersenyum menanggapi hal itu.
Daeng Lin yang melihat expresi dari Jordan, mulai kebingungan.
"Mengapa anda tersenyum saudara ku?", tanya Daeng Lin.
Jordan yang mendengar kata-kata itu sontak tertawa.
"Hahaha. Kalian sangat tidak logis. Aku tau apa yang kamu pikirkan. Bagaimana cara kita menghadapi siluman itu kan?", ujar Jordan.
Daeng Lin yang mendengar hal itu sontak terkejut. Dia tidak menyangka, Jordan bisa membaca isi pikirannya.
"B....Bagaimana kau bisa tahu?", ujar Daeng Lin.
"Kita sampingkan masalah pemikiran itu. Aku punya rencana bila mereka menyerang kota. Mungkin kita akan menunda perjalanan kita dulu", ujar Jordan.
Mendengar hal itu, Daeng Lin hanya bisa mengangguk akan perkataan Jordan. Kemudian mereka mencari penginapan terdekat untuk beristirahat.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah menemukan sebuah penginapan yang berada tidak jauh dari gerbang kota.
Saat memasuki penginapan, mereka dikejutkan oleh banyaknya orang yang sedang mengantri memasuki gedung penginapan tersebut.
"Saudara Jordan, Sepertinya akan butuh waktu lama untuk masuk ke penginapan ini. Apakah kita akan mencari penginapan lain?", tanya Daeng Lin.
Sambil melihat sekelilingnya, Jordan menggelengkan kepalanya menandakan dirinya tidak setuju dengan ide tersebut.
"Kita akan menginap di sini. Bila terjadi penyerangan, cuma tempat ini yang dekat dengan gerbang kota", ujar Jordan.
Mendengar hal itu, Daeng Lin cuma bisa mengangguk menyetujui pernyataan Jordan.
Sekitar tiga puluh menit mereka berdiri mengantri, kini giliran mereka untuk memesan kamar.
"Selamat datang tuan muda? apakah anda ingin memesan kamar?", tanya seorang pelayan yang berdiri di tempat resepsionis.
"Aku dan saudaraku ingin memesan kamar untuk 1 orang. saya membutuhkan 2 kamar", ujar Daeng Lin sembari mengeluarkan kantong yang berisi emas di dalamnya.
Melihat kantong yang di keluarkan oleh Daeng Lin, mata pelayan itu terbuka lebar. Dia tidak menyangka akan ada saudagar kaya yang memesan kamar mereka.
Melihat ekspresi wanita itu, Daeng Lin mencoba bertanya kepada pelayan itu.
"Apakah kurang?", tanya Daeng Lin.
"Tidak tuan muda. Ini lebih dari cukup. Silahkan", ujar wanita itu sembari memerintahkan bawahannya untuk mengantar mereka ke kamarnya.
"Silakan lewat sini tuan", ujar seorang pelayan lain.
Sembari memperhatikan sekitarnya Jordan mengikuti pelayan tersebut ke kamarnya
Sambil mengangguk, Jordan memasuki kamarnya dan beristirahat.
********
"Siluman.......Siluman menyerang", ujar seorang penduduk yang berlari sambil berteriak lantang.
Jordan yang terkejut dengan hal itu, kemudian keluar dari kamarnya dan melihat situasinya. Begitu juga dengan Daeng Lin.
"Saudara ku. Apa yang terjadi?", tanya Daeng Lin.
"Menurut perkiraan ku. Kemungkinan besar para siluman itu datang menyerang", ujar Jordan.
"Mari kita lihat situasinya", ujar Daeng Lin.
Sambil menganggu, Jordan dan Daeng Lin melompat ke atap penginapan dan segera menuju ke depan gerbang kota.
Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai di depan pintu gerbang kota. Betapa terkejutnya Daeng Lin melihat banyaknya siluman yang berdiri tegap di hadapan mereka.
"Hei manusia rendah. Kami akan menguasai desa ini. segera tinggalkan tempat ini", ujar salah satu siluman.
Mendengar kata-kata itu, Jordan hanya bisa menguap dari mulutnya.
"Apakah begini cara kalian berbicara dengan manusia?", tanya Jordan.
"Jika kami menolak, apa yang ingin kalian lakukan?", ujar Jordan.
Mendengar hal itu, pimpinan siluman itu merasa geram dengan Jordan. Tampa pikir panjang siluman itu menyerang Jordan dengan membabi buta.
"Saudara Jordan menghindar?", ujar Daeng Lin.
Betapa terkejutnya Daeng Lin melihat kecepatan bergerak Jordan.
"Hanya segini kemampuanmu? Dasar lemah", ujar Jordan sembari bergerak menyerang.
"Jurus Angin:Pengoyak Langit"
Tiba-tiba saja sebuah udara terbentuk seperti cakar yang ingin mengoyak musuhnya muncul dari langit.
"Wah kakek. Jurusmu luar biasa", ujar Jordan pada arwah Daeng Lin yang ada pada tubuhnya.
"Kami itu satu darah. Sudah sewajarnya begitu", ujar Daeng Lin.
Jurus yang di keluarkan oleh Daeng Lin sangat mengerikan. Beberapa saat setelah setelah menyebut nama jurus tersebut, serangan seperti cakar tersebut berhasil membuat 5 pasukan siluman yang ingin memasuki desa terpental dengan kondisi yang mengenaskan.
"Jangan harab bisa membunuh keluarga Lin", ujar Daeng Lin.
"Sial kuat sekali dirinya. Kalau aku lengah sedikit saja, maka aku pun ikut jadi korban", gumam siluman itu.