Devil Eyes

Devil Eyes
Kembali Ke Dinasti Ming



Jordan termenung memikirkan kata-kata dari Iblis Jiwa yang membuatnya termenung hingga jam pelajaran berakhir.


Pada saat bel istirahat berbunyi, Shion mendatangi Jordan berniat mengajaknya makan di kantin sekolah.


Akan tetapi niat itu sirna ketika Shion melihat Jordan seperti tidak bergairah untuk melakukan sesuatu. Jadi Shion mendatangi Jordan berniat menghiburnya.


"Sayang?", Kejut Shion.


Jordan yang termenung, sontak terkaget dan terjatuh dari kursi tempat ia duduk.


Sambil mengelus kepalanya yang terbentur lantai, Jordan menghadap asal suara tersebut dan mendapati Shion mendatangi dirinya.


"Aish....... Kamu membuat aku kaget setengah mati", ujar Jordan kesal.


Shion mengelus kepalanya yang tidak gatal sembari meminta maaf kepada Jordan.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah seharusnya kamu sedang di rawat?", tanya Jordan heran sembari bangkit dari tempat ia terjatuh.


"Hmmmm....... Aku bosan di rumah sakit. Temani aku jalan-jalan sepulang sekolah?", goda Shion.


Jordan mengangkat sebelah alisnya. Jordan kebingungan menanggapi pernyataan yang di lontarkan oleh Shion kepadanya.


"Bukannya aku tidak mau, kondisi sekarang sangatlah berbahaya. Kita tidak bisa pergi untuk sementara waktu", ujar Jordan.


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus menemani aku", ujar Shion kesel sembari menggembungkan pipinya.


Jordan yang melihat ekspresi tersebut sontak menjadi merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Jordan menyetujui ajakan Shion.


"Tetapi sebelum pergi, kita harus laporan dulu ke ayah. Agar dirinya tidak khawatir", pintah Jordan.


"Baik Pak Bos", ujar Shion bersemangat.


Sepulangnya dari sekolah, Jordan mengantar Shion ke rumahnya dan meminta izin kepada ayah Shion agar dirinya bisa mengajak Shion jalan-jalan.


Pada akhirnya, mereka berdua pun berangkat menemui ayah mereka masing-masing untuk meminta izin.


Setelah orang tua mereka menyetujui permintaan mereka, Jordan dan Shion akhirnya berangkat menuju sebuah pulau eksotis yang indah.


Hari yang dinanti-nanti telah tiba dan mereka telah mempersiapkan semua dengan matang.


"Sudah siap?", tanya Jordan.


Jordan yang menjemput Shion telah menunggu di depan rumah Shion. Jordan memang sengaja datang lebih awal untuk memastikan bahwa tidak asa yang menganggu perjalanan mereka kali ini.


Shion tersenyum bersemangat sambil mengangguk gembira pertanyaan Jordan.


"Baiklah. Ayo kita berangkat", ujar Jordan kepada supirnya.


Supir tersebut mengangguk dan langsung membawa mereka ke bandara.


Waktu yang di tempuh oleh mobil Jordan tidak memakan waktu yang lama. kurang dari empat puluh lima menit, Jordan dan Shion telah sampai di bandara pribadi ayah angkat Jordan.


"Apakah tidak masalah jika kita berangkat dari bandara pribadi ayah?", tanya Shion heran.


"kamu tidak perlu khawatir. Ayah yang menyuruh aku melakukan nya", ujar Jordan.


Merek berdua akhirnya perlahan menaiki pesawat jet pribadi keluarga Jordan dan mereka di sambut hangat oleh para pramugari dan pilot pesawat itu sendiri.


Selama di pesawat, Shion sangat antusias. Shion ingin mengetahui kemana mereka melakukan perjalanan kali ini.


"Sayang. Kemana kita akan pergi?", tanya Shion penasaran.


Jordan memandang wajah Shion dengan heran.


"Bukankah kamu yang menentukan kemana kita akan pergi?", tanya Jordan heran.


Shion menundukkan kepalanya karena malu akan pertanyaan Jordan. Jordan yang melihat hal itu merasa kasihan dan memeluk Shion erat.


"Baiklah jika kamu tidak mengetahui kemana kita akan pergi, aku akan mengajak kamu ke suatu tempat di China", ujar Jordan.


Jordan memang dari dulu ingin sekali pergi ke China untuk mendatangi makam leluhurnya yang ada di sana.


Jordan memerintahkan pilot untuk segera menuju China dengan segera. Tanpa basa-basi, sang pilot menggerakkan pesawat tersebut menuju China.


Jarak antara Jepang dan China tidak lah jauh. Hanya memerlukan waktu sekitar beberapa jam saja.


Sesampainya pesawat mereka di China, seorang wanita cantik sudah menunggu kedatangan mereka di depan sebuah mobil mewah.


Jordan terpukau oleh kecantikan Li'er membuat dia termenung sejenak. Ekspresi Jordan memuat Shion cemburu dan menginjak kaki Jordan.


Dengan ekspresi kesakitan, Jordan mengetahui betapa cemburunya pacarnya melihat hal tersebut.


"Maafkan aku nona muda. Saya tidak bermaksud menggoda tuan Muda. Saya akan menghantarkan kalian ke hotel untuk beristirahat ", ujar Li'er.


Segera mereka berangkat menuju hotel yang telah di pesan oleh Li'er.


Jarak antara hotel dan bandara lumayan memakan waktu yang cukup lama sehingga Jordan dan Shion tertidur pulas.


Sesampainya di sana, Jordan di bangunkan oleh Li'er memberitahukan bahwa mereka telah sampai.


"Shion, aku ingin pergi ke suatu tempat. Pergilah dulu ke kamar. Nanti aku akan menyusul",ujar Jordan.


Shion marah akan hal tersebut. Shion memaksakan diri untuk ikut bersamanya. Dengan pasrah Jordan membawa Shion bersamanya.


"Li'er. tahukah kau dimana makam dari leluhur keluarga Lin?", tanya Jordan.


"Akan kami bawa anda kesana tuan Muda", ujar Li'er.


Mereka pun berangkat menuju tempat tersebut. Jarak yang di tempuh lumayan memakan waktu, tetapi Jordan sangat antusias akan hal itu.


Sesampainya di sana, Jordan bergegas menuju makan tersebut dan mendapati lokasi tersebut lumayan terawat. Kemudian seorang pria tua memanggil Jordan yang hendak menemuinya.


"Tuan Lin. Selamat datang. Aku adalah penjaga makan ini. Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu", ujar pria tua tersebut sembari mengeluarkan sebuah gelang giok yang tidak asing bagi Jordan.


"Ini kan?", ujar Jordan terkejut.


"Benar sekali tuan Lin. Ini adalah giok yang sama yang hancur ketika anda kembali ke dunia asal anda", ujar pria tua tersebut.


"Sebaiknya anda kembali. Leluhur keluarga Lin membutuhkan bantuan anda segera", ujar pria tua tersebut sembari berpamitan kepada Jordan dan yang lain.


Setelah pria tua itu tidak terlihat lagi, Jordan memandangi gelang tersebut dengan rasa heran.


Shion yang melihat ekspresi Jordan merasa binggung. Mungkin dia bisa mengetahui kemana saja Jordan hilang selama satu tahun.


"Li'er. Kita akan kembali ke hotel. Aku harus mempersiapkan semuanya untuk bisa membantu leluhurku", ujar Jordan.


"Baik tuan muda", ujar Li'er yang memerintahkan supir mereka untuk mempersiapkan mobil mereka.


Tidak beberapa lama, mereka meninggalkan lokasi tersebut menuju hotel. Jordan selalu memikirkan kata-kata dari orang tua tersebut.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?", tanya Shion heran.


"Kamu mau meninggalkan aku lagi?", tanya Shion sedih.


Jordan memandang Shion dengan penuh cinta. Betapa terharunya Jordan bahwa wanita yang ia cintai sangat tidak ingin meninggalkan dirinya.


"Kamu tidak perlu khawatir. Li'er akan mengantar kamu pulang dan melindungi kamu hingga sampai di rumah. Aku tidak akan pergi lama", ujar Jordan.


Shion memandang wajah pacarnya tersebut dengan mata berkaca-kaca. Shion sebenarnya tidak ingin meninggalkan Jordan sendiri lagi. Shion kemudian merencanakan sesuatu.


Sesampainya di hotel, Jordan memberikan list persiapan kepada Li'er untuk dia bawa selama perjalanan. Tidak butuh waktu lama, Li'er selesai mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.


"Aku menitipkan Shion kepadamu. Aku titip perusahaan juga", ujar Jordan.


"Baik tuan Muda", ujar Li'er.


Setelah berkata demikian, Jordan mengaliri gelang tersebut dengan Chinya. Setelah Chi mengalir ke gelang tersebut, gelang tersebut bersinar terang dan menyinari tubuh Jordan.


Saat cahaya tersebut menyinari tubuh Jordan, seseorang tiba-tiba memeluk Jordan dan keduanya menghilang di tengah-tengah cahaya tersebut.


"Apa yang terjadi?", ujar Li'er.


Li'er memandang lokasi hilangnya Jordan dan orang mencurigakan tersebut. Setelah berfikir cukup lama, seseorang pengawal memberitahukan bahwa Shion kekasih Jordan menghilang.


"Apa? Apakah mungkin?", Li'er memandang lokasi menghilangnya Jordan sekali lagi.


"Aku harap kalian selamat Tuan Muda Dan Nona Muda", ujar Li'er meninggalkan kamar tersebut.


***Untuk kalian pembaca DE saya minta maaf baru ini saya ada sedikit masalah keluarga jadi kurang fokus untuk menulis. Saya harap kalian mau memaafkan saya.


Untuk yang suka ceritanya, silakah Like dan share ke teman teman kalian. Jika ngak suka ya gak apa-apa juga. Yang penting kalian sehat selalu, jangan lupa jaga jarak dan rutin mencuci tangan ya?


"God Bless you All Day***"