
"Dimana kesombongan mu di awal pertarungan? Menyombongkan diri sebagai anak sapi di hadapan induk singa? Memalukan", ujar Jordan mengejek.
"Kekuatan anak ini sangat berbahaya. Walau tidak mati pun, akan kesulitan melawannya", gumam pria itu.
Jordan menatap dengan heran ekspresi dari wajah pria tersebut.
"Masih bisa benggong di keadaan seperti ini? kau meremehkan ku?", teriak Jordan.
Jordan kembali menyerang pria itu dengan ganas dan Tampa ampun. Serangan demi serangan di lancarkan oleh Jordan membuat pria itu terus menghindar setiap serangan dari Jordan.
"Mau lari? Tidak semudah itu", teriak Jordan.
Sebelum Jordan melancarkan serangannya lagi, sebuah cahaya muncul dari dada Jordan yang membuat dirinya tidak bisa bergerak. Perlahan-lahan rasa sakit yang hebat menyelimuti seluruh tubuh Jordan sehingga membuatnya jatuh pada posisi berlutut.
"Apa-apaan ini? Apakah ini siasat?", pikir si pria.
Keanehan yang di lakukan Jordan, sontak membuat pria itu takut mendatangi Jordan sekedar untuk melihat situasi yang terjadi.
"Uaghhhh.........Sakit sekali", suara teriakan Jordan memenuhi langit saat itu.
"Apa yang terjadi dengan nya? Tiba-tiba saja dia menggerang kesakitan" gumam pria tersebut.
**Jordan?????*
*Jordan??????*
*Apakah kau mendengarkan suara ku*?*
Jordan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruang Jiwa.
"*Siapa di sana?", teriak Jordan.
"Apakah itu dirimu kakek?", tanya Jordan penasaran.
*Jordan*
"Tidak. ini bukan suara si kakek tua. Ini suara ibu. Suara yang hampir aku lupakan*", ujar Jordan.
"Ibu? Ibu? Dimana dirimu?", tanya Jordan.
"Ibu akan membantumu menghilangkan kutukan ini Jordan",ujar sang ibu.
Pada saat yang sama, cahaya terang menyelimuti tubuh Jordan. Membuat tubuhnya terasa hangat dan nyaman.
Kejadian tersebut berlangsung hanya beberapa detik saja sebelum Jordan kembali sadar sudah berada di dunia nyata bersama dengan pria yang menjadi musuhnya.
"Hahaha. Kemana perginya kekuatanmu tadi? Ternyata kau hanya kerasukan", ujar pria itu.
"haih. Dengan kekuatanmu tadi kita seimbang. Tetapi dengan kekuatanmu sekarang, semua percuma", ujar pria itu yang dengan cepat menangkap tangan Jordan dan mencekik lehernya.
Jordan menggerang kesakitan diakibatkan cengkraman pria tersebut.
"K.....Ka.....Kau pikir bisa membunuhku dengan mudah?", ujar Jordan mengejek.
"Aku tidak ingin membunuhmu anak muda. Aku lebih suka melihat penyiksaan", ujar pria itu yang dengan langsung memukul telak perut Jordan yang membuat dirinya terlempar hingga merusak pepohonan di belakangnya.
Darah segar mengalir dari tepi bibir Jordan membuatnya sudah mencapai batasnya.
"Aku tidak kuat lagi", teriak Jordan di dalam hatinya.
Tindakan pria itu tidak sampai di sana, Pria itu kembali melancarkan serangan pukulan dan tendangan yang mengarah ke bagian vital Jordan.
Jordan yang menyadari hal itu dengan sigap menahan serangan tersebut sampai pada akhirnya pria itu mematahkan tangan dan kaki Jordan.
"Siall", gumam Jordan yang menahan sakit yang luar biasa pada tangan dan kakinya.
"Baiklah. Cukup bermain-main nya. Akan ku akhiri penderitaan mu", ujar pria itu.
"Apakah aku akan mati disini?", gumam Jordan di dalam hatinya.
"Selamat tinggal anak muda", ujar pria itu yang mengumpulkan tenaga dalam di kepalan tangannya.
Saat si pria hendak melancarkan serangan, tiba-tiba saja muncul sebuah pisau angin yang sangat cepat menyerang pria itu membuat luka yang cukup dalam di bagian tangannya yang sudah berisikan tenaga dalam.
"Ugh....s.....siapa kau?", teriak pria itu marah.
"Kau harus mencari lawan yang seimbang", ujar seorang sesepuh yang tiba-tiba saja muncul di belakang Jordan yang sudah lemah tidak berdaya.
Saat Jordan menyadari seseorang telah membantunya, Jordan kehilangan kesadaran.
"Siapa kau? beraninya mengganggu pertarungan ku?", teriak pria itu kepada pria sesepuh tersebut.
"Haih.... Tunggu aku mengamankan anak ini kemudian kita bisa bermain-main", ujar pria sesepuh tersebut sembari menjentikkan jarinya.
Seketika, berkumpul beberapa orang berpakaian serba hitam muncul di belakang pria sesepuh tersebut.
"Bawa anak ini menjauh dari sini. Aku akan bermain-main sebentar dengan pria ini", ujar pria sesepuh tersebut yang segera di lakukan oleh orang berbaju hitam yang ada di belakangnya.
Saat semua sudah membawa Jordan menjauh dari lokasi itu, pria sesepuh itu kemudian menatap pria tersebut dengan tatapan penuh makna.
"Terima kasih telah memberikan saya muka. Perkenalkan nama saya Yan Cheng", ujar pria sesepuh tersebut.
"Baiklah Cheng. Tunjukan seberapa hebat dirimu", ujar pria itu yang dengan cepat menyerang tetua Cheng Tampa berstrategi.