Devil Eyes

Devil Eyes
Deang Lin



pada saat di kendalikan oleh suara misterius itu, Jordan merasakan tubuhnya sangat hangat. Jordan tidak pernah merasakan kehangatan yang luar biasa yang menyentuh tubuhnya.


Pada saat itu juga, Jordan tersadar dan merasa kaget dengan apa yang ia lihat. Seketika itu juga Jordan mengeluarkan isi perutnya dan pingsan.


Yamato dan Liu'er yang melihat hal itu langsung bergerak membawa Jordan kembali kerumah mereka. Pengawal pria itu pun kabur karena merasa ketakutan yang luar biasa.


Sesampainya di rumah mereka, Yamato menyuruh Liu'er membawa air hangat untuk mengompres Jordan.


*******


"Dimana ini? Ahh.....kepalaku sakit sekali", ujar Jordan sambil memegang kepalanya.


Pada saat yang sama, sesosok sesepuh datang menghampiri Jordan.


"Halo Jordan. Lama tidak bertemu?",ujar sesepuh itu.


Jordan yang masih memegang kepalanya sontak terkejut akan asal suara tersebut.


"Siapa kau? Dan dimana aku ini?", ujar Jordan lagi.


"Hahahaha....Dasar anak payah. ini adalah ruang jiwa dan aku adalah Daeng Lin", kata pria sesepuh itu.


Jordan yang merasa terkejut dengan hal itu, langsung berteriak histeris.


"Huaaa......Aku...Aku sudah mati ternyata dan kau adalah hantu leluhurku", ujar Jordan sembari menunjuk Daeng Lin.


Daeng Lin yang mendengarkan merasa kesal dan urat di kepalanya membesar dan hampir pecah.


"Hantu matamu. Apakah kau sekolah untuk menjadi bodoh haaa???", ujar Daeng Lin sembari memukul kepala Jordan sampai berasap.


Jordan yang terkena pukulan Daeng Lin meronta kesakitan sembari memegang kepalanya.


"Aduh...dudududu.....Dasar kakek tua. Sakit sekali",


"Dasar anak yang tidak punya sopan santun. Begitukah caramu berbicara dengan orang tua?", tanya Daeng Lin sambil menghela nafas.


"Haa. sudah lah. Aku datang menemuimu cuma untuk melatihmu", ujar Daeng Lin sambil mengelus janggutnya.


"Melatihku?", jawab Jordan heran.


"Anak kurang ajar, jangan pasang ekspresi seperti itu padaku. Kau mau mati ya?", teriak Daeng Lin yang kepalanya sudah berasap.


Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Jordan kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


Sambil menghela nafas panjang, Daeng Lin kemudian membuka suara.


"Itu terjadi sekitar tahun dinasty Ming. Di tahun itu kekacauan terjadi di setiap Kerajaan. Kita keluarga Lin hanya bisa membatu kaisar sebisa kita. Hanya saja.....", penjelasan Daeng Lin terpotong karena ia tidak ingin mengingat hal pahit itu.


"Hanya saja apa kakek?", tanya Jordan penasaran.


Sambil menarik nafas lagi, Daeng Lin melanjutkan ceritanya.


"Hanya saja.....keluarga kita sangat terkenal pada masa itu. Selain memiliki ilmu silat dan pedang, kita juga sangat memahami pengobatan. Sehingga banyak Sekte aliran hitam mengincar kita", ujar Daeng Lin.


Jordan mendengarkan dengan serius, tidak ada satupun kalimat yang tidak ia perdengarkan.


"Dan juga......", Daeng Lin berkata lagi.


"apa kakek?", ujar Jordan semakin penasaran.


"Dan juga kita semuanya laki-laki keturunan Lin adalah yang tertampan. Banyak wanita yang tertari dengan kita. Apalagi dengan kakek mu ini. Wuhahahaha", ujar Daeng Lin sambil tertawa lepas.


Jordan yang mendengar hal itu sontak tersulut emosinya. Urat di kepalanya membesar.


"Jurus Tanah:Penghancur Gunung"


Gumpalan tanah menyelimuti tangan Jordan dan dia langsung menyerang Daeng Lin.


Daeng Lin yang terkena serangan itu terhempas hingga puluhan meter.


"Dasar kakek tua. Jangan permainkan orang yang sedang serius mendengarkan", ujar Jordan yang sembari teriak karena kesal.


Daeng Lin yang masih terkapar langsung meminta maaf kepada Jordan.


"Baiklah. mari kita lanjutkan",


"Di saat itu. Banyak Sekte terkenal ingin menguasai ilmu keluarga kita dan mulai melakukan penyerangan. Banyak juga generasi muda yang telah tewas karena mempertahankan ilmu keluarga kita, Sampai saat orang itu datang.....", ujar Daeng Lin.


Daeng Lin menceritakan semua kejadian yang ia alami semasa jaman kekacauan terjadi. Dengan cepat Jordan mencerna situasi yang terjadi di kehidupan leluhurnya itu.


"Jadi aku minta. Tolong bantu kedua anakku yang terpisah. Aku tidak ingin mereka membantai satu sama lain. Aku akan melatihmu menjadi lebih kuat dan memiliki puncak kekuatan tertinggi di dunia persilatan ini", ujar Daeng Lin.


Jordan yang mendengar hal itu sontak merasa bersemangat dan sangat senang dengan hal itu.


"Aku harus menjadi lebih kuat. Aku tidak ingin keluarga ku terbunuh hanya karena konflik mereka berdua ini", ujar Jordan dalam hati.