Devil Eyes

Devil Eyes
Menembus Batas Alam Suci



Jordan dengan cepat bergegas meninggalkan pria itu Tampa melihat kebelakang.


"Sial. Aku terlambat datang ke sekolah", ujar Jordan.


Tidak butuh waktu lama, Jordan sudah sampai di pintu gerbang sekolahnya.


"Ahh.. Sampai juga. Hampir saja", ujar Jordan sambil mengelap keringatnya.


Kemudian Jordan melakukan aktifitasnya seperti biasa. Belajar hingga waktu pulang sekolah tiba.


Pada saat yang sama saat Jordan hendak keluar dari pintu sekolah, Jordan bertemu dengan Shion.


"Jordan.....", teriak Shion.


Sontak Jordan memandang ke arah suara itu memanggil namanya.


"Ah.....Kamu",


"Mari pulang bersama?", ujar Shion menawarkan.


"Ahhh......Apakah kamu perlu bertanya hal itu?", ujar Jordan sambil tersenyum lembut membuat pipi Shion memerah lagi.


"Kamu sakit lagi?", tanya Jordan sembari mengusap kepala Shion.


"Jahat", ujar Shion memukul manja pundak Jordan.


Keduanya kemudian mulai berjalan meninggalkan lingkungan sekolah. Ketika mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan, banyak pasang mata yang iri melihat kemesraan mereka berdua.


"Pasangan yang serasih",


"Pria yang beruntung mendapatkan wanita cantik",


Banyak pujian yang di lontarkan orang-orang kepada Jordan dan Shion. Sampai sesuatu terjadi. segerombolan orang menghadang langkah Jordan.


"Berhenti", ujar seorang pria yang berteriak.


Nyatanya Jordan tidak mengindahkan perketaan pria itu.


"Dasar anak sapi tidak takut dengan Singa", teriak pria itu.


Mendengar perkataan tersebut, Jordan memalingkan wajahnya dan tidak berkomentar.


"Dasar sampah. Bunuh dia", pintah pria itu kepada bawahannya.


Tanpa pikir panjang, mereka menyerang Jordan Tampa berfikir konsekwensi yang mereka dapatkan.


"Beraninya keroyokan. Jika kalian menyentuh ujung rambut pacarku sehelai saja, aku akan membunuh kalian", ujar Jordan mengancam.


Nyatanya mereka tidak mendengarkan perkataan dari Jordan dan terus menyerang.


"Elemen Angin:Langkah Angin",


Kecepatan Jordan sulit di lihat dengan mata telanjang.


"Cakar Naga",


Tangan Jordan diselimuti oleh sejenis besi baja yang membentu sebuah cakar.


Jordan bergerak dengan cepat dan menyerang lawannya Tampa lawannya sadari mereka menghadapi seorang malaikat maut.


Satu persatu para bawahan tersebut tumbang ke tanah Tampa mereka sadari mereka telah mati di tangan seorang anak kecil bagi mereka.


Darah segar dan Mayat mulai memenuhi jalanan. Puluhan orang yang bersenjatakan lengkap yang awalnya menyerang Jordan kini tinggal beberapa orang saja.


"Ahh.....Sampah teriak sampah. Dasar tidak berguna", ujar Jordan dengan nada sini.


Para bawahan pria tersebut menelan ludah ketika melihat teman-teman mereka terbujur kaku tidak bernafas tergeletak di tanah.


"Ayo Shion. Kita tinggalkan tempat ini", ajak Jordan yang menyadarkan lamunan Shion.


Sebelum keduanya pergi, tiba-tiba saja sebuah tendangan mengenai wajah Jordan dan membuatnya terlempar hingga beberapa meter dan merusak tembok rumah warga.


"Jordan......", teriak Shion panik.


"Seekor cacing ingin membunuh tuan Muda Yang? Lebih baik mati", ujar seorang pria kelar yang lebih besar dari pria sebelumnya.


"Sial.... Sakit sekali. Kali ini mendapatkan musuh yang kuat", gumam Jordan dalam hati.


Jordan berusaha keluar dari puing-puing yang menimpah tubuhnya.


*************


"Kau anak gadis yang bernama Shion bukan?", tanya pria itu.


Shion memandang pria itu dengan tatapan marah. Ingin dirinya menghajar orang itu karenat telah melukai Jordan.


"Berani tidak mendengarkan ku? Cari mati", ujar pria itu yang bergerang melayangkan pukulan ke arah Shion.


"Sudah ku bilang. Jangan sampai kalian menyentuh pacarku", teriak Jordan dari yang dengan cepat menghadang pukulan pria itu dengan sebelah tangannya.


Gelombang kejut menghiasi daerah sekitar tempat mereka bertarung sehingga membuat tanah di bawah mereka retak


"Sial dia hampir menembus alam suci",, ujar pria itu sembari mengucurkan keringat dingin.


Mata Jordan kembali merah seperti mata ular yang memancarkan cahaya merah menyala seperti iblis di neraka.