Devil Eyes

Devil Eyes
Menjadi Pahlawan



Disaat semua orang merasa kebingungan melihat perubahan Jordan, dirinya sudah pergi jauh meninggalkan Rumah Sakit tersebut.


"Ahh. Sepertinya lebih enak langsung kerumah?", ujar Jordan.


Kemudian Jordan bergegas menuju sebuah stasiun yang tidak jauh dari tempat ia berpijak. Tampa tergesa-gesa Jordan menikmati perjalanannya menuju stasiun kereta tersebut.


Sesampainya di stasiun Jordan langsung membeli tiket dan berangkat menggunakan kereta menuju tempat tinggalnya.


Jordan menikmati pemandangan yang sudah lama hampir ia lupakan. Bangunan-bangunan yang tinggi nan megah serta kendaraan lalu lalang.


"Lebih nikmat saat berada pada Dinasty Ming ya?", ujar Jordan sambil tersenyum.


Jarak antara stasiun keberangkatan dengan stasiun tempat Jordan akan berhenti terbilang cukup jauh, sehingga menghabiskan sekitar satu jam perjalanan.


Sesampainya di tujuan Jordan bergegas meninggalkan stasiun tersebut dan menuju rumahnya. Tetapi di perjalanan, Jordan mendapati ada sebuah perampokan Bank oleh sejumlah perampok amatir di sekitar wilayah dekat rumahnya.


"Kau bisa langsung melatih kekuatanmu di situasi ini", ujar seseorang yang tidak lain adalah Daeng Lin.


"Kakek apakah dirimu telah kehilangan akal? mereka bersenjata. sama saja aku menyerahkan nyawaku", ujar Jordan kesal.


"Dasar anak payah. Gunakan kekuatan barumu untuk melakukannya", ujar Daeng Lin.


"Hmmm. Baiklah baik", ujar Jordan kesal.


Tampa basa basi, Jordan melompat ke atap rumah satu dan yang lain. gerakan Jordan sangat gesit dan sulit di lihat oleh orang awam. Tidak butuh waktu lama, Jordan sampai di lokasi tersebut.


"Wahh. Polisinya banyak sekali? Apa kau yakin kakek aku bisa menghadapi mereka?", tanya Jordan.


"Dasar gunakan Ilmu tubuh baja yang telah aku latih dulu. Ilmu itu tidak akan muda di tembus selama kau memiliki tenaga dalam yang tinggi", ujar Daeng Lin.


"Baiklah baik. Aku akan ke sana", ujar Jordan.


Jordan kemudian memantau situasi yang pas untuk segera bertindak. Jordan melihat salah satu jendela yang terbuka dan segera masuk lewat jendela tersebut.


Sesampainya di dalam, Jordan di kejutkan oleh seseorang perampok yang menodongkan senjatanya ke arah Jordan. Dengan gerakan secepat mungkin, Jordan menangkap dan membuang senjata tersebut.


"Dasar amatir, Benda seperti ini tidak bisa menakutiku", ujar Jordan.


"Elemen Batu:Penghancur Gunung"


Sebuah gumpalan batu bergerak dan mengeras di tangan Jordan. Dengan menggunakan tenaga yang besar Jordan memukul perampok itu hingga terpental dan menabrak dinding di belakangnya sampai hancur. Seketika perampok itu tidak sadarkan diri.


"Kau harus menutupi identitasmu. Jangan sampai mereka melihat wajahmu", ujar Daeng Lin.


Jordan kemudan mengambil masker dari dalam saku celananya. Memakainya dan langsung menemui perampok yang tersisa.


*************


"Keluarkan kunci brankasnya", teriak seorang perampok.


Dengan cepat seorang wanita yang menjadi resepsionis bank tersebut mengeluarkan kunci brankas tersebut dan menuju lokasinya.


Sesampainya di lokasi, dengan cepat wanita itu membuka brankasnya dan mempersilahkan perampok tersebut mengambil uang yang ada di dalam.


"Bagus ternyata kau sayang dengan nyawamu", ujar perampok itu.


"Bos kita akan kaya raya", teriak seseorang perampok lagi kepada pimpinannya sambil menunjukan segenggam uang di tangannya.


Tampa basa basi lagi mereka langsung memindahkan semua isi brankas tersebut kedalam tas yang ukurannya cukup besar.


Setelah memindahkan semua uangnya, mereka kemudian bergegas meninggalkan brankas tersebut. Tetapi di tengah perjalanan mereka keluar, mereka di kejutkan oleh seseorang pemuda yang tidak lain adalah Jordan.


"Hei nak apa yang kau lakukan di sini? apa kau tersesat?", teriak seorang perampok.


Jordan memandangi para perampok tersebut.


"Wah ketika aku mencari kalian, kalian malah datang. Jadi tidak perlu repot-repot mencari kalian", ujar Jordan mengejek.


"Apa kau sudah bosan hidup anak muda?", terima perampok tersebut sambil menodongkan pistolnya kearah Jordan.


"Sudah bosan Hidup rupanya", ujar perampok itu yang dengan segera menari pelatuk pistolnya.


"Tubuh Baja Logam"


Peluru melesat melalui pistol tersebut dan mengarah ke jantungnya. Tetapi sesaat setelah mengenai tubuh Jordan, peluru itu terpental. Tidak melukai Jordan sama sekali.


Melihat hal itu, para perampok itu terheran-heran begitu juga gadis yang menyaksikannya. Wanita itu berfikir Jordan menemui ajalnya ternyata tidak sama sekali.


"Huaaammm........",


"Membosankan sekali", ujar Jordan yang dengan cepat menghilang dari pandangan ketiganya.


"Dimana dia?", tanya seorang perampok.


"Apakah dia Superman bos? Peluru tidak mempan terhadapnya?", tanya seorang perampok ketakutan.


"Kalian melihat kemana?", tanya Jordan yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka.


"Apaa?",


Jordan dengan cepat menyerang kedua tangan salah satu perampok tersebut hingga menyebabkan tulangnya patah.


"Uaghh.......Bos tolong", ujar seorang perampok tersebut kesakitan.


"Kau berisik sekali", ujar Jordan yang langsung memukul bagian belakang leher perampok tersebut membuatnya pingsan.


"Selanjutnya kau", ujar Jordan menunjuk perampok terakhir yang sudah ketakutan.


Merasa nyawanya terancam, perampok tersebut membuang senjatanya lalu berlutut memohon ampunan.


"Tttooo....tolong jangan sakiti aku. aku menyerah", ujar perampok tersebut.


"Mari keluar dan berbicara", ujar Jordan yang kemudian mengangkat pria itu dengan sebelah tangannya.


Wanita yang melihat hal itu sangat terkejut. Dengan tubuh yang lebih kecil dari perampok itu, Jordan bisa mengangkatnya Tampa kesusahan.


Jordan kemudian meninggalkan brankas tersebut bersama pimpinan perampok itu dan wanita yang mereka sandera.


Sesampainya di lobby, perampok yang tersisa memandang Jordan yang datang membawa seorang pria yang tidak lain adalah pimpinan mereka.


"Apa yang kau lakukan? Akan kubunuh kau", ujar seorang perampok yang langsung menembakkan pistolnya kearah Jordan di ikuti beberapa perampok yang lain.


Peluru melesat cepat dari senjata mereka. Ratusan peluru menyerang Jordan dengan seksama. Setelah peluru mereka habis, mereka terkejut sebab Jordan tidak terluka sama sekali.


"Apakah orang jahat selalu begini?", tanya Jordan yang langsung melempar pimpinan mereka dan langsung menyerang.


"Elemen Angin:Bola Tornado"


Gumpalan angin mengelilingi tangan Jordan membentuk bola. Jordan langsung melempar bola itu dan menyebabkan pusaran angin yang kencang menghempas mereka keluar dari gedung bang dan menghancurkan lobby.


Para perampok tersebut terlempar dan menabrak mobil polisi yang menghadang mereka.


Polisi yang melihat kejadian tersebut terkaget karena ada angin kencang yang merusak lobby utama gedung itu. Keterkejutan mereka bertambah seiring dengan perampok yang menabrak mobil mereka.


"Apa-Apaan ini?", ujar salah satu perwira polisi.


"tangkap mereka dan selamatkan sandera", ujar perwira tersebut yang di ikuti dengan bawahannya yang segera masuk ke lokasi.


Sandera yang awalnya putus asa menjadi semangat karena mereka selamat. Polisi dengan cepat menangkap para perampok yang sebahagian pingsan di dalam ruangan tersebut.


"Lapor pak. Semua perampok telah di lumpuhkan. Tidak di ketahui penyebab angin kencang yang barusan terjadi", ujar seorang polisi.


"Baiklah. Segera rawat sandera yang terluka", ujar perwira tersebut.


"Apa yang barusan terjadi? darimana asalnya angin yang luar biasa tadi?", gumam perwira tersebut dalam hatinya.


Jordan yang sedari tadi memandang polisi tersebut tersenyum canggung dan segera meninggalkan tempat tersebut dengan ilmu meringankan tubuhnya.