
Jordan dengan segera di bawa menuju suatu ruangan. Di sana ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk manis menikmati secangkir teh dengan santai.
"Jordan Lin. Seorang anak dari keturunan keluarga Lin yang memiliki kekuatan misterius", ujar pria paru baya tersebut.
"Apa maumu?", teriak Jordan.
"Teman-teman ku tidak ada hubungannya dengan ini semua, lepaskan mereka", ujar Jordan.
Pria paruh baya tersebut tidak lain adalah musuh bebuyutan ayah angkatnya Chiu Weng.
"Jangan tergesa-gesa anak muda. Aku hanya menyandra mu untuk mengambil nyawa ayahmu", ujar Weng bangga.
"Mengapa sampai bertindak sejauh ini? Kenapa tidak bunuh saja aku dan lepaskan ayah dan teman-teman ku?", ujar Jordan lagi.
"Tidak semudah itu anak muda. Ayahmu telah mengambil nyawa anakku dan merusak Bisnisku. Aku ingin melihat ayahmu itu hancur. Hahahaha", ujar Weng.
"Sial. aku mudah saja lepas dari sini. Hanya saja teman-teman ku bisa dalam bahaya bila aku bergerak sembarangan", gumam Jordan dalam hatinya.
"Dasar pengecut. Melakukan hal ini kepada anak-anak yang tidak bisa melawanmu sama sekali", ujar Jordan geram.
"Di dunia ini tidak ada cara yang mulus. Lebih baik menggunakan cara curang daripada cara baik-baik", ujar Weng sinis.
Jordan kebingungan mencari cara agar dia bisa bergerak Tampa mengancam ke selamatan teman-temannya.
"Kalian berikan pelajaran bagi anak yang tidak tahu sopan santun ini", pintah Weng kepada anak buahnya.
Perintah tersebut segera di jalankan oleh anak buah Weng yang membawa Jordan ke sebuah ruangan yang memiliki alat penyiksaan.
"Baiklah anak muda. Kau ingin cara halus atau cara kasar?", ujar salah satu anak buah Weng.
Jordan hanya menatap mereka dengan tatapan sini. Sebelumnya Jordan hanya di ikat dengan tali tetapi dia semakin sulit bergerak karena tangannya di ikat di tali gantungan.
Setelah di gantung, salah satu anak buah Weng mengambil sebuah pemukul Baseball dan menghujani Jordan dengan pukulan di seluruh tubuh Jordan.
Setiap pukulan membuat Jordan berteriak kesakitan. Tidak sampai di sana, Jordan juga mendapat siksaan listrik kejut yang membuat dirinya hampir kehilangan kesadaran.
"Ohhhh.......Bernyali juga kau anak muda? Baiklah lihat bagaimana kau bisa kuat menahan yang satu ini", ujar anak buah Weng.
Salah satu anak buah Weng membawa sebuah tong air yang besar dan mengisinya dengan air sampai penuh.
Pada saat pengisian air, tubuh Jordan di ubah menjadi posisi terbalik sehingga sebagian tubuhnya sudah masuk kedalam tong air tersebut.
Jordan merasakan firasat buruk akan siksaan tersebut. Air perlahan lahan memenuhi seisi tong dan menenggelamkan sebagian kepala Jordan.
"Bagaimana anak muda? Apakah sudah cukup menyiksa? Hahahaha", ujar orang tersebut sambil tertawa puas.
Saat Jordan dalam penyiksaan, Daeng Lin muncul dan menarik roh Jordan keluar dari tubuhnya memasuki ruang Jiwa.
"Apa yang kau lakukan? Bukanya mudah bagimu untuk bisa melepaskan diri dari ikatan ini?", tanya Daeng Lin.
"Kakek aku sebenarnya mampu, hanya saja jika aku bertindak gegabah teman-teman ku akan berbahaya", ujar Jordan.
"Kau tidak perlu khawatir. Saat keluar dari meditasi ku, aku merasakan ada sumber kehidupan yang mendekati tempat ini. Kemungkinan mereka adalah pasukan ayahmu untuk menyelamatkan kalian", ujar Daeng Lin.
Jordan yang mendengarkan hal tersebut merasa bebannya terangkat. Sembari memberi hormat, Jordan meninggalkan ruang jiwa.
Saat Jordan mendapatkan kendali tubuhnya dia langsung bergerak menghancurkan rantai yang mengikat dirinya.
Tidak butuh waktu lama, rantai itu putus dan tercecer kemana-mana. Jordan bergerak cepat menangkap salah satu pengawal dan menodongkannya pistol.
Melihat hal tersebut, sontak para anak buah Weng mengarahkan pistol mereka ke arah Jordan.
"Kalian pikir bisa menyiksaku dengan itu? Jangan harap semudah itu", ujar Jordan yang kemudian bergerak cepat dan menangkap salah satu bawahan yang menggunakan pistol dan merebutnya.
Jordan menggunakan jurus langkah angin dan menembak semua musuh yang menyiksa dirinya.
"Lari..........Dia bukan manusia", teriak salah satu anak buah Weng.
Bagaimana tidak, Jordan menghabisi mereka dengan sekali tembak dengan sasaran di kepala mereka.