Devil Eyes

Devil Eyes
Menjadi Kaya



Jordan memutuskan untuk kembali kerumahnya. Selama di perjalanan Jordan tidak henti-hentinya memikirkan setiap masalah yang mendatanginya.


"Tuan apakah kita masih jauh dari rumah tuan?", tanya Ruong Fang.


"Tidak jauh. Beberapa block lagi kita akan sampai", ujar Jordan.


Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai di rumah Jordan.


"Apakah kau hidup sendiri tuan? Sepertinya tidak ada orang lain di rumah ini?", ujar Ruong Fang.


Mendengar perkataan tersebut, Jordan merasa emosi dan menatap Ruong dengan penuh kemarahan.


Ruong Fang yang melihat reaksi Jordan dengan sigap meminta maaf.


"Maaf aku hanya terbawa emosi bila mengingat kejadian yang menimpa orangtua ku", ujar Jordan.


"Saya mengerti tuan. Saya turut prihatin dengan hidup tuan", ujar Ruong Fang sambil menundukkan kepalanya.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mulai terbiasa", ujar Jordan.


Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah. Jordan memerintahkan Ruong Fang untuk tidur di kamar bekas ibunya. Sebab tidak mungkin seorang pria dan wanita tinggal satu kamar.


Setelah mereka masuk ke kamar masing-masing, Jordan mulai menjatuhkan badannya ke kasurnya. Banyak hal yang mengganggu Jordan. salah satunya kedatangan Ruong Fang yang menawarkan diri sebagai pelindungnya.


"Ah....Aku harus semakin kuat. Masih banyak yang harus aku lindungi", ujar Jordan sembari memejamkan matanya lalu tertidur.


***********


"Berhenti.....Jangan harap bisa kabur dari kami", ujar salah seorang pria kepada seorang pria yang lain.


"Mereka cepat sekali, aku harus menghindar", ujar pria tersebut


Saat sedang berlari, pria itu tidak sengaja menabrak seorang anak muda dan mereka sama-sama terjatuh.


"Hei...... Hati-hati lah bila berjalan. Kau bisa membahayakan yang lain", ujar anak muda itu yang tidak lain adalah Jordan.


"Tolong aku untuk mengukur waktu mereka", ujar pria itu sembari mengeluarkan sebuah kartu.


"Sandinya enam digit angka satu", ujar pria itu dan segera bersembunyi Tampa memperdulikan ekspresi Jordan.


"Hei kau. mana pria yang menabrakmu tadi?",, ujar pria itu sembari menunjuk Jordan.


"Tidak bisahkah kalian sedikit sopan bila bertanya?", ujar Jordan sembari berdiri dan membersihkan celananya.


"Lancang. Beraninya berkata begitu kepada bos", ujar pria yang lain.


"Apakah aku bicara padamu? jangan berbicara bila tidak ada yang mengajakmu", ujar Jordan dengan nada mengejek.


"Lancang. Bunuh dia", pintah pria itu kepada puluhan orang di belakangnya.


Dengan cepat puluhan orang tersebut mengepung Jordan. Jordan sama sekali tidak takut kepada puluhan orang tersebut. Dengan santai Jordan memasukan tangannya ke saku celananya dan menguap.


"Sepertinya kalian tidak mempunyai niat baik. Apakah kalian ingin membunuh pria tadi?", tanya Jordan.


"Itu bukan urusanmu. Serang dia", pintah pria tersebut dan dengan cepat bawahannya menyerang Jordan.


"Hugh...... Mengandalkan jumlah untuk memburu singa. Tidak bijak", ujar Jordan yang dengan cepat bergerak mengeluarkan jurus.


"Jurus ilusi:Langkah Bayangan"


Jordan menghilang di antara kerumunan orang yang yang mengepungnya dan hanya meninggalkan asap hitam di tengah kerumunan tersebut.


" kemana dia?", ujar salah seorang pria bawahan tersebut.


Saat semua orang sedang binggung, Jordan tiba-tiba saja muncul di antara orang yang mengepungnya dan memberikan serangan tapak ke masing-masing dari mereka.


Mereka yang mengepung Jordan tidak sadar bahwa mereka telah pingsan akibat serangan Jordan. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama untuk Jordan melumpuhkan puluhan orang yang mengepungnya dan menyisakan pimpinan mereka.


Pimpinan dari puluhan orang tersebut terdiam seribu bahasa. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Dia kemudian berlutut meminta maaf.


"Maafkan aku senior. Aku tidak tau diri telah menyinggung senior", ujar pria itu.


"Senior??? Hei aku tidak pernah memiliki adik seperguruan sepertimu", ujar Jordan sambil mengupil.


"Nasibmu bukan aku yang menentukan, tapi dia", ujar Jordan sembari menunjuk ke salah satu gang sempit.


"Keluarlah. Kau sudah aman", ujar Jordan.


Seseorang kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Yang tidak lain adalah pria yang memberikan Jordan kartu ATM miliknya.


"Terimakasih senior telah menolong saya. Saya berhutang Budi pada senior", ujar pria itu semberi membungkuk berterima kasih.


"huhhh......", ujar Jordan kesal sambil menepuk jidatnya.


"Terserah apa katamu. Aku ingin mengembalikan kartu ini. Aku tidak ada hak untuk ini", ujar Jordan sembari menyodorkan kartu yang di berikan pria itu kepada Jordan.


"Senior pantas mendapatkannya. Didalam kartu itu ada sepuluh miliar. Itu mungkin tidak cukup untuk nyawa saya yang telah senior selamatkan", ujar pria tersebut.


Mata Jordan melebar tidak percaya. Begitu mudahnya seseorang mengeluarkan uang untuk nyawanya.


"Baiklah kalau kau memaksa. Aku akan terima ini", ujar Jordan menyimpan kartu tersebut.


"Baiklah. nasib dia kau yang urus. Aku pergi dulu", ujar Jordan yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.


"Maaf senior. Siapakah gerangan nama senior?", ujar Pria itu.


"Namaku Jordan Lin. Aku sekolah di dekat sini, Aku pergi dulu. Aku akan telat kesekolah. sampai jumpa", ujar Jordan yang perlahan lahan menghilang dari pandangan mereka.


"Jordan Lin. Aku akan mengingatnya", ujar pria itu.