
Tembok yang begitu kokoh telah menutup pintu masuk kedalam kota. Membuat sebuah labirin yang panjang yang mengelilingi seluruh akses untuk bisa masuk kedalam kota.
"Kita harus menahannya saudara Jordan", ujar Daeng Lin.
"Aku mengerti", sahut Jordan.
"Elemen Angin:Pengoyak Langit"
Serangan yang di keluarkan Jordan membentuk sebuah tombak panjang yang siap menyerang kapan saja.
"Rasakan ini", ujar Jordan yang dengan cepat menyerang ke arah musuhnya.
"Jangan sampai dia menyentuh kita sampai bantuan datang", seru lantang salah satu siluman.
*Btw siluman yang ada di cerita ini sebenarnya adalah keturunan berbagai macam siluman. Yang diantaranya ada beberapa siluman yang berasal dari manusia*
"Tidak ada habis-habisnya. Kalau begini terus aku bisa mati", gumam Jordan dalam hati.
Saat Jordan sedang di sibukkan oleh beberapa siluman, terdengar suara hentakan kuda yang begitu banyak mengarah ke mereka.
"Sial. apa yang harus aku lakukan kakek? Bantu aku", ujar Jordan lantang kepada arwah Daeng Lin.
"kekuatanku belum pulih. Akan tetapi aku masih bisa membatu mu", ujar Daeng Lin.
Di saat yang sama Jordan mulai merasakan kekuatan yang hebat memasuki tubuhnya.
"Luar biasa. Aku harus cepat mengakhiri sebelum bantuan siluman itu datang", gumam Jordan dalam hati.
"Jurus Petir Kematian"
Jurus yang sama pada saat Jordan menghadapi ketua geng motor. Langit menjado gelap dan mengeluarkan sambaran petir kemana-mana.
Jurus yang di keluarkan oleh Jordan tepat mengenai beberapa siluman yang menjadi lawannya dan seketika itu juga mereka lenyap tidak bersisa.
"Mau membunuhku? Jangan harap", ujar Jordan sembari bergerak menyerang kembali pasukan yang tersisa.
"Elemen Angin;Pengoyak Langit"
Setiap serangan demi serangan menghantam setiap siluman yang hendak menghampiri Jordan.
**********************************************
Disisi lain Daeng Lin kewalahan menghadapi musuh yang tidak kunjung habis.
"Sial sekali. Mereka terlalu banyak", ujar Daeng Lin sembari memantau situasi dan keadaan Jordan.
Betapa terkejutnya Daeng Lin melihat kekuatan yang di keluarkan oleh oleh Jordan.
"apa ini? Pendekar Dewa Langit! Tetapi bagaimana bisa?", gumam Daeng Lin.
Begitu juga dengan para siluman yang hendak menyerang Daeng Lin.Kekuatan Jordan melebihi apa yang mereka bayangkan.
"Siapa sebenarnya anak ini? Dia bukan lawan yang seimbang bagi kami", gumam wakil pemimpin pasukan siluman tersebut.
"Saudara-saudara ku. Mundur. Kita bukan lawan yang pantas bagi dia", ujar wakil pimpinan itu.
"Mau mundur dari hadapanku? Jangan harab", ujar Jordan.
Dengan aura yang sangat luar biasa dan mata yang berwarna merah seperti mata Iblis,Jordan melesat cepat menghampiri para siluman yang hendak melarikan diri.
Tidak butuh waktu lama bagi Jordan untuk menyusul mereka. Dalam hitungan tarikan nafas, Jordan telah berhasil menyusul mereka.
"Sudah datang ke sini jangan harap bisa pergi begitu saja", ujar Jordan sembari memberikan pukulan telak kepada salah satu siluman itu.
Pukulan Jordan sukses mengenai siluman itu yang membuat dirinya terpental ke belakangnya dan menabrak rekan-rekan nya yang lainnya.
"Sial. Dia bukan manusia", ujar salah satu siluman itu.
Daeng Lin yang melihat kejadian itu sotak merasakan kekuatan besar yang di keluarkan oleh Jordan.
Mata itu. Apakah dia mewarisi kekuatan leluhur keluarga Lin?", gumam Daeng Lin dalam hati.
Di saat yang bersamaan, Jordan sukses menjatuhkan hampir separuh dari pasukan siluman yang menyerang kota tersebut.
"Kita bukan lawannya. Apakah kita akan mati di sini?", ujar salah satu siluman itu.
Jordan yang sedang bertarung, tiba-tiba dikejutkan oleh kekuatan tebasan pedang yang mengarah kepadanya. Dengan cepat Jordan menghindari serangan tersebut.
"Cih....Hampir saja aku terkena serangan itu", gumam Jordan dalam hati sembari melihat darimana datangnya serangan tersebut.
Betapa terkejutnya Jordan melihat begitu banyak pasukan siluman yang hendak menyerang kota itu.
Disaat yang sama, Jordan terfokus oleh seseorang manusia yang berbadan kekar yang terlihat seperti seekor singa.
"Anak muda. Kau sudah keterlaluan. Kau telah menghabisi kaum ku. Terimalah kematianmu", ujar siluman itu.
Wujud arwah Daeng Lin yang berada di tubuh Jordan sontak terkejut dengan asal suara tersebut.
"A--Apa? Mungkinkah dia?",
jordan yang sedari tadi bingung mencoba bertanya siapa sebenarnya orang di hadapannya.
"Siapa dia kakek?", tanya Jordan.
Sambil melipat kedua tangannya di dada, Daeng Lin mencoba mengingat kembali pertempuran antara mereka berdua.
"Dia dikenal sebagai petarung handal dari kaum siluman. Siluman yang tidak pernah merasakan kalah bila bertarung dan selalu memenangkan setiap perang yang dia jalankan", ujar Daeng Lin.
"*Apa magsud kakek?", tanya Jordan heran.
"Dia adalah musuh bebuyutan ku di masa lalu. Musuh yang paling kejam dan tidak kenal ampun. Dewa Perang Kegelapan, LingFang*", ujar Daeng Lin.