
"Tidak perlu banyak berbicara. Mari kita selesaikan dengan jalur pendekar", ujar Tetua Cheng yang ikut menyerang.
Kekuatan antara dua pendekar Langit ini membuat aura di sekitaran lokasi mereka sedikit berbeda.
Kekuatan yang mereka tunjukkan membuat siapapun yang merasakan aura mereka akan merinding. Memiliki kekuatan Pendekar Langit sangatlah langkah di dunia. Ada pun yang bisa mencapai pendekar Langit akan menghadapi latihan sulit untuk mencapainya.
Saat kedua tapak mereka bertemu, daratan di sekitar mereka bergetar hebat karena keduanya sama-sama menggunakan ilmu tenaga dalam yang tinggi.
"Tidak buruk. Bagaimana dengan ini?", ujar pria itu yang melompat mundur sembari mengeluarkan jurusnya.
"Hantaman Ombak"
Saat selesai berkata demikian, pria itu memunculkan air dari telapak tangannya dalam jumlah besar. Air yang begitu banyak memunculkan ombak besar yang siap menghancurkan apa saja di hadapannya.
"Haih..... Kesombongan mu ini tidak bisa di maafkan", ujar Tetua Cheng sembari membalas menggunakan sebuah jurus.
"Elemen Es: Hutan Es Abadi"
Ratusan meter yang berada di sekitar mereka memunculkan hawa dingin yang sangat kuat. Jurus yang di keluarkan oleh tetua Cheng adalah jurus rahasia yang hanya bisa di kuasai oleh Keluarga Yan.
Air yang sebelumnya ingin menghantam tubuh tetua Cheng kini menjadi es yang sangat besar.
"K...... kau....... Raja Es Abadi Yan Cheng?", ujar pria itu ketakutan.
"Kau sudah tau. kau mencari masalah dengan orang yang salah", Ujar tetua Cheng.
"Kuburan Es"
Hawa es yang kuat keluar dari tangan tetua Cheng membuat bulu kuduk pria itu merinding.
"Hari ini adalah kematianmu", ujar tetua Cheng yang dengan cepat melepaskan tapaknya ke bagian perut pria itu.
Kekuatan yang mengenai bagian perut pria itu seketika membekukan pria itu sampai ke seluruh badannya.
Tampa basa basi tetua Cheng memberi serangan terakhir yang membuat tubuh pria yang sudah tertutup es tersebut pecah bagaikan pasir.
*************
"Dimana aku?", ujar Jordan setelah sadarkan diri.
"Harap tenang nak. Anda berada di rumah sakit. Anda di bawa sekelompok orang berbaju hitam ke sini karena mengalami pendarahan berat", ujar seorang dokter.
"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?", tanya Jordan.
"Kira-kira satu Minggu lamanya", ujar dokter tersebut.
"Aku harus pergi dari sini. Teman-teman ku dalam bahaya", ujar Jordan sambil melepas infus dari tangannya.
"Anda tidak perlu khawatir. Orang yang membawa anda ke sini mengatakan bahwa teman-teman anda baik-baik saja", ujar dokter tersebut.
Jordan merasa lega karena apa yang dia khawatirkan telah berlalu.
"Aku kurang kuat untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi. Aku harus lebih kuat lagi", ujar Jordan dalam hatinya.
Seminggu kemudian Jordan sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit tersebut.
Setelah Jordan sampai di pintu keluar, beberapa orang berpakaian serba hitam menghampiri Jordan.
"Tuan muda. Kami mendapat tugas untuk membawa anda bertemu tuan Besar", ujar salah satu pengawal.
"Siapa mereka. Bukankah wajahnya sangat mirip dengan mereka yang membawa aku ke rumah sakit dua Minggu yang lalu?", gumam Jordan bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Apakah aku bisa mempercayai kalian?", tanya Jordan.
"Tuan muda tidak perlu khawatirkan soal itu. Kami akan memastikan kalau semuanya tidak ada kebohongan", ujar salah satu orang berpakaian hitam tersebut.
"Mereka memanggilku dengan sebutan tuan muda. Mungkin bila mereka macam-macam aku bisa melindungi diri sendiri", gumam Jordan dalam hatinya.
"Baiklah. aku akan ikut dengan kalian. Jika kalian macam-macam aku mudah membunuh kalian dengan mudah", ujar Jordan.
"Baiklah tuan muda", ujar orang berpakaian hitam itu dan mempersilahkan Jordan untuk naik ke mobil.
Tidak menunggu waktu lama, Jordan dan orang berpakaian hitam tersebut berangkat menuju ke kediaman tuan Besar mereka.