
"LingFang? Kalau tidak salah, aku pernah membaca sebuah buku di musium sejarah di Tokyo yang mengatakan di memiliki ilmu serta kekebalan tubuh yang mengimbangi pendekar Dewa Langit. Apakah dia benar adanya Kakek?", ujar Jordan.
Sambil mengelus janggutnya, Daeng Lin mencoba menjelaskan secara terperinci tentang Ling Fang ini.
"Sebenarnya dia dulunya adalah manusia biasa. Merasakan penderitaan di bawah pemerintahan kaisar dan terlantar. Hingga pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang penyihir yang memiliki ilmu yang sangat tinggi", Ujar Daeng Lin.
Alasan Daeng Lin memberi penjelasan panjang lebar, dikarenakan Ling Fang saat ini hanya memiliki kekuatan setidaknya pada tingkat Pendekar Langit Bawah. Hanya dikarenakan fisiknya yang kuat dan mengerikan. Setidaknya dia hampir menyamai Pendekar Dewa Langit.
Jordan memasang wajah serius dengan setiap penjelasan Daeng Lin.
"Wanita itu memberikan dia kekuatan yang dirinya sendiri tidak menyangkanya. Dia menjadi sesosok monster yang sangat kuat dan berbahaya. Membunuh hampir setengah penduduk di Kekaisaran Dinasty Ming dan membunuh sang kaisar. Akhirnya seluruh sekte aliran putih maupun hitam mengirim pendekar terkuat mereka. Akhirnya jiwa Ling Fang di segel di sebuah gunung yang bernama Gunung Saungkog", jelas Daeng Lin.
"Saudara Jordan, Hati-hati?", teriak Daeng Lin dari jauh.
Sesosok manusia dengan badan kuda bergerak cepat menyerang Jordan dengan membabi buta. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam setiap serangan.
Jordan yang sedari tadi menyerang, dipaksa untuk ke posisi bertahan. Setiap serangan yang di berikan Jordan tidak berarti di hadapan Ling Fang.
"Mahluk ini sungguh kuat. Aku harus mencari celah agar bisa menyerang balik", ujar Jordan dalam hati.
Belum sempat menyusun strategi, Jordan kembali mendapat serangan yang sangat cepat dari Ling Fang.
"kau pikir bisa melawanku dengan kekuatan lemah itu? jangan harab bisa menang dariku?", ujar Ling Fang dengan nada tinggi.
"Hahaha. Kau sungguh luar bisa Ling Fang. Jujur saja aku tidak bisa melawanmu. Kekuatan fisikmu sangat mengerikan", ujar Jordan.
Ling Fang malah tidak merasa senang dengan pujian dari Jordan. Dia merasa terhina sebab dirinya bisa beradu seimbang dengan seorang bocah.
"Kalau kau mengaku kalah, serahkan kepalamu", ujar Ling Fang tegas.
Jordan menaikan sebelah alisnya. Tentu dirinya tidak menyetujui persyaratan tersebut.
"Kau menginginkan kepalaku? apa seberharga itu?", tanya Jordan mengejek.
"Kau telah membunuh hampir setengah pasukan ku. Dan lagipun kami tidak punya urusan dengan mu. Mari kita lanjutkan pertarungan kita", ujar Ling Fang.
Jordan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tampa menunggu aba-aba, Ling Fang bergerak cepat menyerang Jordan. Dengan cepat Jordan merespon serangan tersebut dengan serangan tapak.
Pedang yang beradu dengan tapak Jordan, menghasilkan gelombang kejut yang luar biasa kuat. Musuh yang mempunyai kekuatan di bawah Pendekar Dewa Bumi akan terkena dampak gelombang kejut tersebut.
"Ternyata kau tidak buruk anak muda? Siapa nama mu?", ujar Ling Fang.
"Apalah arti sebuah nama?", ujar Jordan.
"Setidaknya aku akan menceritakan kepada keturunanku, bahwa ada bocah bodoh yang mati di tanganku", ujar Ling Fang.
"Membunuhku tidak semudah itu", ujar Jordan sembari mundur beberapa langkah kebelakang.
"Elemen Angin:Tombak Tornado"
Sebuah pusaran angin berbentuk tombak memadat di tangan Jordan. Tombak itu lumayan panjangan.
"Pengguna elemen angin. Sungguh naif", ujar Ling Fang sembari mengeluarkan sebuah jurus.
"Darah Iblis"
seketika itu juga tubuh Ling Fang diselimuti sebuah aura yang berwarna hitam pekat. Mungkin bila ada yang berada di dekat Ling Fang akan kehilangan kesadaran, terkecuali Jordan.
"Heaaaaa", teriak Jordan menyerang.
Begitu juga dengan Ling Fang, menyerang sembari mengarahkan pedangnya kepada Jordan.
Kedua jurus itu bertemu. Gelombang yang di timbulkan pun lebih besar dari sebelumnya. tanah di wilayah tempat mereka berdua berpijak rusak hingga radius ratusan meter dan membuat keduanya terlempar hingga puluhan meter.
"Anak muda. Kau sungguh berbakat. Tetapi sangat berbahaya", ujar Ling Fang sembari mengusap darah pada tepi bibirnya.
Berbeda dengan Jordan. Jordan terlempar puluhan meter dan menghancurkan pepohonan dan bebatuan di sekitar dirinya terlempar dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
sambil berusaha berdiri, Jordan tersenyum kepada Ling Fang.
"Sudah aku katakan, Ingin membunuhku? Tidak semudah itu?", ujar Jordan.