Devil Eyes

Devil Eyes
Devil Eyes



Hallo guys. cerita yang gua buat ini hanya imajinasi saja. bukan meniru atau pun mengcopy karya orang. Jika kalian suka click tombol like dan share ke teman teman kalian ya bro sis. Thanks to you all. Enjoy


*Di tahun Kejayaan dinasti Ming. Ada sebuah keluarga yang terkenal sangat hebat dalam segala Ilmu ataupun Jurus pedang. Keluarga itu bermarga Lin.Tidak ada satupun orang yang mampu menghancurkan keluarga tersebut.


Ilmu yang mereka punya sangat luar biasa. Setiap pertarungan Hidup Mati, mereka selalu mengungguli keluarga besar yang lain.


Tetapi semua berubah, sejak peperangan antar kerajaan terjadi. Banyak jatuh korban di kedua belah pihak. Tidak terkecuali keluarga Lin. Banyak diantara keluarga mereka yang telah tewas mengenaskan. Sehingga tersisa sang kepala keluarga Daeng Lin,istri serta kedua anak mereka*.


"Ayo terus berlari sayang. Kita harus melindungi anak kita apapun yang terjadi", kata kepala keluarga Lin yang melihat kondisi istrinya yang sudah kelelahan.


"Aku sudah tidak kuat. Kau harus membawa mereka pergi bersamamu", katanya dengan nafas yang sudah sesak.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita harus tetap hidup untuk kedua anak kita", ujar kepala keluarga itu.


Pada saat keluarga itu sedang beristirahat, sejumlah pasukan datang menyergap mereka.


"Daeng Lin. Menyerahlah. Kau sudah tidak dapat menghindar lagi dari semua ini", ujar seorang prajurit.


Kepala keluarga itu sontak berbalik arah ketika mendengar suara itu. Dengan wajah yang penuh amarah, Daeng Lin melepaskan Aura yang sangat dahsyat untuk menekan pasukan yang mengejar mereka.


"Larilah. Aku akan. menahan mereka", Ujarnya.


"Bagaimana dengan anak kita?", tanyanya lagi.


"Tunggu aku di Kota Jansu. Aku akan menyusul mu dengan dengan anak kita", kata Daeng Lin.


Sambil mengangguk pelan, si istri langsung berlari meninggalkan suaminya dengan satu orang anaknya yang berada di pelukan suaminya.


"Sial. jangan hanya diam saja. Kejar wanita itu dan habisi dia", ujar atasan prajurit tersebut.


Dengan cepat, para prajurit itu mengejar wanita itu. Daeng Lin mencoba menghalangi mereka, tetapi dia di hadang oleh seseorang yang menurutnya adalah pimpinan tertinggi pasukan itu.


"Mencoba menangkap istriku? Jangan harap", kata Daeng Lin sembari memukul tanah di sampingnya.


Daeng Lin mengeluarkan 30% kekuatannya untuk membuat penghadang di sekitarnya. Guncangan akibat pukulan Daeng Lin mengakibatkan Tanah di sekitarnya Hancur membentuk garis panjang.


"Kalian memang tidak berguna?", ujar salah satu Jendral mereka.


Sang Jendral kemudian menghantamkan kakinya ke tanah dan seketika itu juga tanah yang berada di samping Daeng Lin yang awalnya berlubang menjadi tertutup kembali.


Daeng Lin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Betapa mudanya musuhnya itu menghancurkan jurusnya.


Tampa pikir panjang, para prajurit itu mengangguk dan berlari mengejar wanita itu.


"Tidak akan ku biarkan",


"Cakar Harimau Surgawi"


Energi yang sangat dahsyat menyelimuti tangan Daeng Lin Dan bercahaya terang. Daeng Lin lalu melepaskan jurusnya ke arah pasukan yang mendekat.


"Dasar lemah", ujar seseorang yang menahan tapak Daeng Lin, yang tidak lain adalah Jendral itu sendiri.


Daeng Lin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan hal itu. Jurus terkuat keluarga Lin dapat di patahkan dengan mudah.


"Ternyata kau mengecewakanku", kata Jendral itu dan langsung memberikan tapak yang sangat mengerikan kepada Daeng Lin.


"Pukulan Api Neraka",


Tangan sang Jendral di penuhi api yang sangat membara. bagi manusia biasa akan merasakan panas yang luar biasa.


"Matilah dengan tenang", ujar Jendral itu lalu melepaskan tapaknya ke arah Daeng Lin.


Pukulan itu telak mengenai jantung Daeng Lin Dan menembus tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, Daeng Lin akhirnya tewas mengenaskan di tangan sang Jendral sembari memegang anaknya.


"Jurus lemah mau membunuhku. Bermimpi lah", kata sang Jendral sembari meninggalkan tubuh Daeng Lin yang sudah tidak bernyawa.


Belum selesai melangkah, sang bayi akhirnya menangis. Tangisannya itu membuat Jendral Yuan berbalik badan dan memeriksa asal suara itu. Saat sedang mencari, Jendral Yuan terfokus atas suara yang berasal dari balik kali yang berbentuk seperti gendongan anak. Dengan cepat Jendral Yuan mengambil kain itu.


Betapa terkejutnya dia, bahwa ada seorang bayi laki-laki yang ada kain yang di bawa oleh Daeng Lin.


"Jendral wanita itu telah berhasil kami bunuh. ada perintah selanjutnya?", tanya mereka.


Mari kembali ke dalam markas. Jangan sisakan siapapun yang hidup", pintahnya Jendral Yuan.


Sambil berjalan dengan kudanya, Jendral Yuan lalu memberi nama buat bayi itu.


"Aku sangat meminta maaf akan hal ini. karena dirimu tidak memilik nama? Kau akan aku panggil Guan", ujar sang Jendral.


Mendengar berita bahwa wanita itu telah di bunuh, mereka memutuskan kembali ke ibukota. Di sinilah perjalanan itu di mulai.