Devil Eyes

Devil Eyes
Menembus Tingkat Pendekar Langit



Jordan menembakkan pelurunya satu peluru satu nyawa. Tidak ada yang luput dari sasarannya.


"Kalian pikir setelah menyiksaku bisa keluar hidup-hidup? Jangan harap", teriak Jordan yang dengan cepat mengisi kembali amunisinya dan menembakkan peluru ke arah musuh yang lain.


Tidak butuh waktu lama untuk Jordan bisa melumpuhkan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Darimana aku bisa belajar menembak dengan tepat seperti itu?", Jordan berkata sendiri sembari menyusuri setiap ruangan penyiksaan.


Saat Jordan menyusuri ruangan, terlihat beberapa teman sekolah perempuannya yang sedang di lucuti bajunya.


Dengan cepat Jordan menghampiri mereka dan menghajar mereka hingga pingsan.


"Nia Ria kalian tidak apa-apa?", tanya Jordan khawatir.


Perlakuan yang mereka dapat mungkin akan sulit di lupakan oleh mereka berdua. Bagaimana tidak, kedua teman Jordan tersebut merupakan gadis belia yang masih polos dan tidak mengetahui hal tersebut.


"Gunakan ini untuk menutupi tubuh kalian", ujar Jordan sembari memberikan kain untuk menutupi tubuh mereka yang terbuka.


"kalian ikuti aku. jangan jauh-jauh dari sisiku. Mengerti?", ujar Jordan.


Mereka berdua hanya mengangguk pelan. mereka mengetahui bahwa Jordan bisa menyelamatkan mereka.


Mereka kemudian pergi mencari teman-teman mereka yang di sekap. Tetapi tidak menemukan mereka di ruangan lain Membuat Jordan menjadi binggung akan keberadaan temannya.


Di saat Jordan sedang kebingungan, tembakan melesat mengarah ke salah satu teman Jordan. Jordan yang menyadari hal itu sontak menahan peluru yang mengarah ke temannya.


Pada akhirnya, Jordan terkena tembakan tersebut di bagian bahunya dan membuat temannya aman dari bahaya.


"Pergi dari sini. Jangan liat ke belakang. Aku akan menahan mereka", ujar Jordan yang memberikan pistol miliknya dan memberikan peluang kepada kedua temannya untuk melarikan diri.


Pada saat yang sama, Jordan memberikan tembakan pengalih perhatian dan itu tidak di sia-siakan oleh kedua temannya.


Ketika teman-teman sudah merasa aman, Jordan kemudian bergerak untuk menyerang langsung.


"Langkah Angin"


Jordan bagaikan melayang di udara dan tiba di belakang para penyerang tersebut Tampa mereka sadari.


"Hari ini adalah kematian kalian", ujar Jordan.


Jordan bergerak dengan cepat sehingga mereka yang menyerang Jordan tidak menyadari kehadiran Jordan saat berada di belakang mereka.


"Elemen Angin:Pedang Angin"


Sebuah pedang terbentuk di tangan Jordan dan bercahaya terang. Jordan menebas musuhnya Tampa berkedip. Dalam waktu hitungan detik, musuh yang menyerang dirinya pun mati tanpa mereka sadari.


Setelah membereskan penyerang tersebut, semakin banyak orang yang datang menyerangnya.


"Keluarlah anak muda. Kalau tidak kami akan menghabisi semua orang yang kau sayang", ujar salah satu dari orang tersebut.


Jordan yang mendengar ancaman itu sontak tersulut emosinya. Jordan kehilangan kendali akan dirinya membuat dia menggila.


Jordan kembali menyerang langsung tanpa perduli darah yang mengalir deras dari luka-luka nya.


"Kalian Pikir Bisa Hidup Bila Menyerang ku? Jangan harap", ujar Jordan yang sudah kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya.


Daeng Lin yang berada di ruang Jiwa merasakan dampak perubahan pada Jordan. Ruang Jiwa seketika gelap gulita seperti langit malam.


"Apa yang terjadi dengan anak ini", gumam Daeng Lin dalam hatinya.


Daeng Lin kemudian keluar dari ruang Jiwa dan lebih memilih melihat sendiri situasi yang terjadi.


"Iblis Jiwa?",


"Aku harus bertindak", ujar Daeng Lin yang langsung turun tangan mengurus masalah Jordan.


Sebelum Daeng Lin sampai, Jordan sudah menghabisi sebagian besar orang yang menyerangnya.


"Keluar.........", teriak Jordan keras.


Mereka yang menyaksikan Jordan terkejut bukan main akan perubahan suara Jordan.


"Aku tidak ingin kekuatan seperti ini", teriak Jordan lagi yang membuat mereka yang menyerang Jordan berhenti menyerang karena ketakutan.


"Apa yang bisa kau lakukan Tampa diriku? Kau hanya bocah tidak berguna yang setiap saat memerlukan bantuan ku. Terima saja", ujar iblis Jiwa.


Semua yang ada di sana mendengar perkataan tersebut. Pada saat yang sama, aura hitam tersebut semakin pekat karena Jordan terus membunuh akibat perbuatan iblis Jiwa.


"Aku tidak butuh kau. Kau hanya penghalang bagiku", teriak Jordan yang seketika aura pekat tersebut berangsur-angsur berkurang.


"Apa ini? Bagaimana bisa kau menghilangkan kendali atas kekuatanku?", tanya Iblis Jiwa.


"Kau hanya iblis lemah. Aku bisa menjadi kuat dengan kekuatanku sendiri dan menolong orang-orang yang berharga di dalam hidupku", ujar Jordan yang seketika keluar cahaya kebiruan dari tubuhnya.


"Dia naik tingkat? Sepertinya aku tidak perlu menolongnya", gumam Daeng Lin.


Saat cahaya biru itu lenyap, aura mematikan yang terpancar dari tubuh Jordan kini telah menghilang. Jordan bisa merasakan kembali tubuhnya dan merasakan peningkatan kekuatan yang besar.


"Kekuatan pendekar langit awal? Akhirnya aku bisa mencapainya", gumam Jordan riang di dalam hatinya.


Jordan bisa merasakan kekuatan besar mengalir di dalam tubuhnya. Kali ini Jordan bisa mengendalikan seperempat Chi yang dia punya.


"Baiklah, sampai dimana kita tadi?", tanya Jordan mengejek.


"Jangan sombong anak muda. Roh yang membantumu tidak akan bisa menyelamatkanmu kali ini", ujar pemimpin penyerang tersebut.


"habisi dia", pintah nya.


Para penyerang itu kemudian menghujani Jordan dengan tembakan Tampa henti yang membuat seisi lorong seperti suara Guntur.


Saat semua peluru mereka habis, betapa terkejutnya mereka melihat Jordan tidak mendapatkan luka sama sekali.


"Luar biasa, Aku bahkan kebal terhadap peluru dan bisa melihat alur dari peluru tersebut." Gumam Jordan dalam hatinya.


Saat seseorang bisa menaiki tingkat pendekar Langit syarat utama adalah bisa menahan sakitnya dan bahkan harus bisa mengalahkan Iblis Jiwa mereka. Jika mereka bisa menaiki tingkat tersebut, Dia bisa di katakan sebagai seorang pendekar sejati.


Memiliki tubuh yang melebihi manusia pada umumnya dalam arti bentuk tubuh lebih gagah dan memiliki Indra dan ketahanan tubuh yang kuat.


Penyerang tersebut tidak memberi celah pada Jordan dan kembali menghujani Jordan dengan tembakan. Bahkan kali ini mereka menggunakan senjata berat untuk menghabisi Jordan. Tapi alhasil, Jordan bergerak cepat menangkap peluru-peluru yang melesat ke arahnya.


"Apa-apaan ini? Dasar monster?", ujar salah satu pasukan tersebut.


"Kalian ingin peluru ini? Maka ambillah sendiri", ujar Jordan yang dengan melempar peluru itu kembali dengan kecepatan dua kali lipat dari saat mereka yang menembak.


Peluru-peluru yang di lepaskan Jordan menyasar kemana-mana. Tetapi tidak seorang pun yang berhasil selamat dari peluru-peluru tersebut.


Para penyerang tersebut ada yang terkena di bagian kaki dan Adan juga yang terkena di bagian vital seperti Jantung dan kepala mereka yang membuat mereka tewas seketika.


"Sudah ku bilang. Kalian tidak bisa keluar hidup-hidup setelah menyerang ku", ujar Jordan yang kemudian pergi setelah membunuh semua orang orang menyerangnya.


Jordan bergegas meninggalkan lokasi tersebut karena dia khawatir dengan teman-temannya.


"Tunggu aku teman-teman?", teriak Jordan.


Jordan melangkah meninggalkan lokasi tersebut dan menuju ke luar ruang tersebut dan betapa kagetnya dia, bahwa kedua temannya tersebut telah kembali di sandera.