
Jordan yang mendengar hal itu merasa bahwa dirinya sedang bermimpi. Segala hal yang ia ketahui tentang leluhurnya sudah di beritahu oleh ibunya.
"Maaf kakek, Bukankah anda sudah lama meninggal?", ujar Jordan takut.
"Dasar anak jaman sekarang, aku sudah membuat perjanjian dengan dewa agar bisa melindungi keturunan terakhirku", ujar Daeng sembari mengelus janggutnya.
"Pakai ini cucu ku", kata Daeng sembari memberikan sebuah gelang giok.
Jordan menerima gelang itu sambil bertanya-tanya dalam hatinya. Gelang yang ia liat adalah gelang peninggalan kerajaan.
"Maaf kakek, gelang apa ini? saya merasa ada kekuatan aneh di dalam gelang ini?", tanya Jordan hati-hati.
Kakek Daeng menjelaskan asal-usul dari gelang tersebut dan fungsinya. Gelang yang di berikan oleh kakek Daeng adalah gelang penghubung antar waktu. Siapa saja yang menggunakan gelang tersebut akan bisa mengunjungi waktu atau tempat di masa lalu.
Jordan yang mendengar penjelasan sang kakek memasang wajah serius. Setiap kata-kata yang terucap tersimpan di memory ingatan Jordan.
"Cucu ku. Aku cuma ingin dirimu menolong leluhurmu di masa lalu. Aku mempunyai dua orang anak laki-laki. Mereka mewarisi kekuatanku. Tetapi setelah mereka dewasa, mereka selalu adu kekuatan hingga akhirnya mengucapkan sumpah akan menghabisi setiap keturunan mereka", jelas kakek Daeng.
Jordan yang mendengar hal itu tersedak sesaat. Dia tidak menduga bahwa leluhurnya sampai mengucapkan sumpah tersebut.
"Jadi bagaimana aku bisa menghentikan mereka kakek?", tanya Jordan lagi.
"Gelang ini akan bereaksi bila keturunan Lin yang menggosoknya. Kau akan kembali ke masa dinasty Ming. Temuilah aku di sana dan tunjukan gelang ini. Aku akan melatihmu di sana", ujar sang kakek sembari menghilang perlahan dari hadapan Jordan.
Jordan yang melihat hal itu sontak terkaget dan memanggil nama kakek Daeng. Kakek Daeng cuma bisa tersenyum dan perlahan lahan menghilang sampai tidak terlihat lagi di hadapan Jordan.
"Apa yang harus aku lakukan. Aku cuma anak muda yang tidak bisa beladiri. Tetapi aku harus memperbaiki keadaan yang di buat oleh leluhurku", gumam Jordan dalam hati sambil memandang gelang pemberian kakek Daeng.
Jordan yang merasa binggung, memutuskan untuk pergi kembali ke rumahnya. Dirinya tidak ingin ibunya khawatir akan dirinya yang terlalu lama pulang sekolah.
**********
Sesampainya di rumah, Jordan tidak mendapati ibunya berada di rumah. Jordan kemudian menelpon nomer ibunya tetapi tidak tersambung.
"Apa yang terjadi dengan ibu. Semoga saja ibu tidak kenapa-napa", gumamnya dalam hati.
Saat sedang menunggu kepulangan ibunya, Handphone yang di pengang oleh Jordan berbunyi. Jordan merasa heran sebab yang menelpon dirinya adalah orang yang tidak di kenal.
"Halo. Siapa ini?", tanya Jordan.
"Halo saudaraku. Namaku adalah Lion Lin. kita adalah saudara satu leluhur", ujar Lion.
Betapa terkejutnya Lion mendengar bahwa dia memiliki saudara.
"Apa yang kau inginkan?", tanya Jordan.
Jordan yang mendengar hal itu sontak terkejut akan penyampaian Lion. Dengan cepat Jordan menanyakan alamat tempat ia menyekap ibunya.
"Hei hei hei. Tidak perlu terburu-buru saudaraku. Datanglah ke jalan Tiangsuang. Aku di sini bersama ibumu. Cepat lah kemari", ujar Lion yang langsung memutuskan teleponnya.
Jordan yang merasa gelisah, langsung berangkat menuju alamat yang di berikan oleh Lion kepadanya.
***********
"Hei Lion. Dimana ibuku?", tanya Jordan sesampainya dirinya di lokasi itu.
"Wah wah wah", ujar Lion sembari bertepuk tangan. "Tenang saja saudara ku. ibumu aman bersamaku. Tetapi dia terlalu berisik, jadi aku menutup mulutnya", sambungnya lagi.
Sambil menyuruh anggotanya mengeluarkan ibunya, Jordan tidak kuasa menahan air mata melihat ibunya di siksa.
"Lepaskan ibuku dasar ********. Kalau kau tidak melepasnya maka.........", teriak Jordan yang di sela oleh Lion.
"Maka apa? maka kau akan membunuhku?", ujar Lion dengan nada mengejek.
"Aku hanya ingin. mengetahui tingkat kekuatanmu saudaraku", ujar Lion.
"ayolah keluarkan kekuatanmu saudara ku", sambung Lion.
Jordan binggung ingin melakukan kehendak Lion. Jordan binggung karena dirinya tidak bisa mengeluarkan kekuatan apapun. Kekuatan yang ia dapat cuma berkat bantuan kakek Daeng.
"Hmmmm.hmmmm.......", teriak ibunya Jordan.
"Dasar wanita jalang. tidak bisakah kau diam?", ujar Lion sembari memukul ibunya Jordan.
" jangan pukul lagi. Bila kau bertindak jauh lagi. Maka aku tidak akan segan-segan lagi padamu Lion", teriak Jordan.
"Itu yang aku ingin kan. Atau siksaan lain", ujar Lion yang mencekik leher ibunya Jordan.
"Tolong lepaskan ibuku, aku akan melakukan hal apapun. tetapi lepaskan ibuku", ujar Jordan sembari menangis.
"Melepaskan ibumu. Hahahaha. Bermimpi lah", sambung Lion yang langsung mematahkan leher ibunya Jordan.
KRAKKK..........
Suara retakan tulang leher ibunya Jordan membuat Jordan mematung. Melihat ibunya yang sudah terjatuh dan tidak bernyawa lagi, membuat dirinya terjatuh dalam posisi berlutut.
"Kekuatan apa? Sampah sepertimu tidak bisa di sebut bermarga Lin. Hahahahaha", tawa Lion yang puas.
Jordan yang masih terpukul akan kematian ibunya, tiba-tiba mengeluarkan hawa yang sangat mematikan.