Devil Eyes

Devil Eyes
Xio Bio



Batin Pria kekar itu mengatakan akan merepotkan bila menyinggung musuh di depannya.


"Apakah kalian tidak punya malu melawan orang tua dengan mengeroyok dia?", ujar Jordan marah.


Dengan ekspresi yang tersulut emosi, pria itu mengeluarkan hawa bertarung yang dasyat.


"Hei adik kecil. jika kau masih ingin hidup, pergilah dari sini dan jangan campuri urusan kami?", ujar pria kekar tersebut.


Jordan yang mendengar hal itu sontak menahan tawanya.


"Memalukan. Badanmu yang kekar aku pikir sangat hebat. Ternyata hanya sampah yang hanya bisa mengeroyok orang tua yang tak berdaya. Memalukan", ujar Jordan sambil menahan tawanya.


Mendengar hal itu, pria kekar itu mulai tersulut emosinya. Urat-urat yang ada di kepalanya seakan ingin keluar dari tempatnya.


"Kau. jangan paksa keberuntunganmu bocah. Aku akan membunuhmu", ujar pria itu sembari melesat cepat menyerang Jordan.


"Jurus Bumi: Gajah menghancurkan gunung"


Jurus yang di keluarkan pria itu melesat cepat ke arah Jordan.


Dengan cepat Jordan menghindari serangan itu.


"Gawat. Hampir saja aku terkena serangan itu. Kalau tidak aku bisa mati", ujar Jordan dalam hati.


"Hanya segitu kemampuanmu? Kakekku saja bisa lebih hebat dari itu", ujar Jordan mengejek.


"Bocah. keberuntunganmu sudah habis. Marilah", ujar pria itu sambil melesat ke arah Jordan sembari mengeluarkan jurus.


"Jurus Air:Tornado Laut"


Seketika itu juga, terlihat di sekitaran area pertempuran segumpalan air keluar dari bawah tanah dan membentuk sebuah pusaran.


"Lumayan. Tapi bisakah bertahan?", ujar Jordan mengejek.


Sebelum pria itu menyerang Jordan melesat cepat ke arah pria itu sembari mengeluarkan jurus.


"Jurus Angin:Pedang Angin menembus surga"


Seketika, sebuah pusaran angin terkumpul di tangan Jordan dan membentuk sebuah pedang yang panjang.


Tampa basa basi, Jordan melesat menyerang pria itu. Jordan mengayunkan tangannya dan seketika itu juga, sebuah angin yang kencan melesat membelah tornado tersebut.


Merasa nyawanya terancam, pria itu langsung menghindar. Bener saja, saat angin itu menyentuh tornado air pria tersebut, Tornado tersebut terbelah menjadi beberapa bagian dan kemudian lenyap.


"Sial. Siapa sebenarnya anak ini. Kekuatannya jauh di atasku", ujar pria itu dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan. Kau bukan lawan yang pantas", ujar Jordan.


"Mata itu? apakah benar dia dari keluarga itu?", ujar batin pria itu.


"Huamm... kau banyak berfikir", ujar Jordan sambil bergerak menyerang duluan.


Pria itu langsung tersadar dari lamunannya. Tetapi sayang, Jordan sudah berada sepuluh langkah di dekatnya.


"Jurus Angin: Pembelah langit"


Tangan Jordan diselimuti oleh cahaya kebiruan dan mulai memanjang bagaikan pedang. Dengan cepat Jordan menebas pria itu.


Merasa tidak berdaya, pria itu hanya menahan serangan Jordan.


"Jurus Bumi:Perisai Gunung"


Sebuah gundukan batu membesar di hadapan pria itu dengan cepat membentuk sebuah tembok besar.


"Dasar amatir", ujar Jordan sembari tersenyum kearah pria itu.


Jordan langsung menebas tembok tersebut dengan jurus Pembelah langitnya. Seketika itu juga Tampa butuh waktu lama, tembok itu terbelah menjadi 2 bagian tidak terkecuali pria yang sedang berlindung di balik tembok tersebut.


"Sial. Aku kalah dengan seorang bocah", gumam pria itu sembari terjatuh dengan setengah badannya yang sudah terpotong.


"Kau terlalu amatir. Kau bukan lawan yang pantas", ujar Jordan mengejek.


"uagh....K....Kau.....Apakah kau bermarga Lin?", ujar pria itu.


"Dasar mau mati saja masih ingin bertanya. Baiklah, Kau benar. Aku bermarga Lin. Apa yang kau ingin kan?", tanya Jordan penasaran.


"Be....benar sekali.....uagh.....aku memilih lawan yang salah....ta....Tapi setidaknya.....A....aku....Mati terhormat", ujar pria itu sembari menghembuskan nafas terakhirnya.


Orang-orang yang bersama pria itu tadi pun hanya bisa lari ketakutan melihat bos mereka mati dengan tragis di tangan seorang bocah.


Jordan tidak mengejar mereka. Jordan menghampiri pria tua yang di tolongnya.


"Terima kasih anak muda", ujar kakek tua itu.


Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal Jordan tersenyum ramah kepada si kakek.


"Sama-sama kakek. Sudah sewajarnya manusia saling menolong yang membutuhkan", ujar Jordan.


"Kalo boleh tau? kakek mau kemana?", ujar Jordan.


"Oh ya. aku lupa. Namaku Xio Bio dari Shaoyang", ujar sang kakek