
Jordan melompat dengan cepat dari atap rumah ke atap yang lain. Jordan tidak ingin orang-orang mengetahui dirinya.
"Ahh. Senangnya bisa kembali ke sini?", ujar Jordan setelah mendarat di sebuah rumah yang tidak asing baginya.
"Aku pulang", ujar Jordan sembari membuka pintu rumahnya.
"Apa-Apaan ini?", ujar Jordan terkejut.
Setelah Jordan memasuki rumahnya, betapa terkejutnya dia setelah melihat seisi rumahnya begitu bersih dan tertata rapi. Padahal Jordan meninggalkan rumahnya setelah bertahun-tahun menghilang dari Jepang.
Pada saat Jordan terlarut dalam keterkejutannya, seseorang kemudian melangkah dan menyerang Jordan.
"Ingin membunuhku? Cukup bermimpi saja", ujar Jordan yang dengan cepat menghindari serangan itu.
Pada saat ingin menyerang balik, Jordan di kejutkan kembali oleh orang tersebut. Wajah seorang yang cantik dan imut yang tidak asing baginya. Jordan kemudian menahan serangannya dan diam di tempatnya sambil menahan tangan wanita tersebut.
"Dasar pencuri, lepaskan aku?", ujar wanita itu.
"LinLin?", ujar Jordan.
"Siapa kau? Darimana kamu kau tahu nama ku?", teriak LinLin sambil berusaha melepaskan tangannya.
Jordan yang sadar akan hal itu, melepaskan tangannya yang menahan LinLin.
"Ini aku Jordan Lin", ujar Jordan.
LinLin yang awalnya terbawa amarah kini meneteskan air mata nya. Dirinya masih tidak percaya bahwa Jordan lah yang ada di hadapannya sekarang.
"Joo....Jo....Jordan?", ujar LinLin yang langsung berlinang air mata.
Dengan cepat LinLin langsung memeluk Jordan Tampa memperdulikan situasinya. LinLin memeluk Jordan erat hingga Jordan susah bernafas.
"LinLin kurangi kekuatanmu, aku bisa mati", ujar Jordan yang mulai merasakan sesak nafas.
Tampa memperdulikan Jordan yang hampir kehilangan nafasnya, LinLin tetap memeluk erat Jordan Tampa perduli Jordan hampir kehilangan kesadarannya karena susah bernafas.
"Kenapa kau pergi meninggalkan aku?", ujar LinLin sambil menagis.
LinLin mengurangi tenaga memeluknya sehingga Jordan bisa bernafas kembali.
"Kenapa kamu sedih? Aku sudah kembali jangan menangis lagi?", ujar Jordan sambil mengelus kepala LinLin.
Kedua pemuda dan pemudi tersebut saling berpelukan mesra dikarenakan kedua merupakan sahabat yang sangat dekat. Bisa di bilang hampir seperti keluarga.
Setelah memenangkan LinLin, Jordan kemudian menjelaskan semua kejadian tersebut. Walau harus mengurangi bagian pada saat dirinya kembali ke zaman Kerajaan Dinasty Ming.
Setelah menjelaskan hampir satu jam, LinLin sudah mulai memahami penjelasan Jordan.
"Apakah kamu tahu, bahwa bibi sudah meninggal?", tanya LinLin.
Jordan terkejut dengan pertanyaan tersebut, dikarenakan dirinya lah yang menyaksikan pembunuhan sang ibu dengan mata kepalanya sendiri.
"Aku sudah mengetahui kematian ibu, Disaat itulah aku menghilang. Aku tidak mengetahui dimana dan apa yang terjadi dengan ku", ujar Jordan.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang Jordan?", tanya LinLin kembali.
Sambil menghela nafas, Jordan kemudian menjelaskan tujuan dirinya selanjutnya.
"Aku akan bekerja", ujar Jordan.
Jawaban Jordan sontak membuat LinLin terkejut heran. Pasalnya Jordan masihlah pemuda di bawah umur, memungkinkan tidak akan ada pekerjaan yang mau menerima dirinya.
"Kenapa kamu tidak kembali ke sekolah? Mungkin kamu akan mendapatkan beasiswa dari sekolah?", ujar LinLin.
Sambil tersenyum hangat Jordan mengelus kepala LinLin yang langsung di sambut dengan pipi yang sengaja LinLin kembungkan.
"Baiklah, aku akan kembali bersekolah. Mungkin aku akan sembari bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup ku di rumah", ujar Jordan.
Mendengar jawaban Jordan, wajah LinLin berseri-seri.
"Baiklah. Kamu memang sahabat terbaik. Aku akan menunggumu besok di sekolah, jangan telat?", ujaar LinLin yang sembari berpamitan dengan Jordan dan pergi meninggalkan rumah Jordan dan kembali ke rumahnya.
Jordan langsung mengantarkan LinLin kedepan rumahnya. Sesampainya di rumah LinLin, Jordan berpamitan dan pergi dari situ..
"Kali ini, aku tidak akan di bully lagi. Aku harus membalas mereka atas perbuatan mereka dulu", Gumam Jordan dalam hatinya.
"Hei Hei. Jangan ada dendam di hatimu? kau tidak akan bisa naik tingkat bila kau punya dendam di hati?", ujar Daeng Lin dari dalam ruang Jiwa.
"Ia ia kakek Tua. Aku akan mendengarkan mu", ujar Jordan dengan nada malas.
"Anak ini sangat berbakat. Mungkin memang dirinya adalah keturunan yang di nanti-nanti oleh leluhur untuk mengubah dunia yang kejam ini", gumam Daeng Lin dalam hatinya.
"Baiklah. Kita akan lakukan yang tebaik", teriak Jordan.
Jordan langsung melesat cepat meninggalkan jalan raya setelah memastikan tidak ada orang yang melihat.
Dari kejauhan, Ada sesosok pria yang sedang memandangi Jordan.
"Jordan Lin. Aku akan menghabisi aib keluarga Lin sepertimu", ujar pria tersebut sambil tersenyum lebar melihat ke arah Jordan.