
Chi adalah sebuah energi yang lebih murni dari jiwa manusia. Setiap manusia memiliki Chi nya masing-masing, hanya saja kebanyakan orang tidak menyadarinya.
Jordan masih merasakan kebingungan yang mendalam tentang apa yang di katakan Daeng Lin.
"Apalagi yang kau pikirkan?", tanya Daeng Lin.
"Kakek, aku masih binggung dengan penjelasan kakek tadi. Ditambah lagi ini dimana?", ujar Jordan.
Daeng Lin menjitak keras kepala Jordan sehingga membuat kepalanya muncul sebuah benjolan yang lumayan besar.
"Dasar tidak berguna. Ini adalah ruang jiwa. Di sini kau bisa berlatih menggunakan Chi dibandingkan di duniamu", ujar Daeng Lin kesal.
Jordan merasa terpanah. Bukan karena perkataan Daeng Lin, melainkan pemandangan indah yang membentang tidak berujung.
"Baiklah bodoh. Aku akan membuat prajurit batu yang setara dengan kekuatanmu. Sekarang kau sudah memiliki Chi yang menurutku sangat langkah. Lebih baik aku melatihmu disini", ujar Daeng Lin.
Mendengar hal itu Jordan langsung panik. Mengapa tidak, jiwanya sekarang berada di alam jiwa. Sedangkan tubuhnya berada di luar. Jordan menghawatirkan tubuhnya.
"Kau tidak perlu khawatir. Seseorang telah membawa tubuhmu ke tempat aman", ujar Daeng Lin.
Mendengar penjelasan kakek tua itu, Jordan merasa lega sekaligus tenang. Sebab tidak akan ada yang mengetahui hal buruk apa yang akan terjadi padanya.
"Baiklah kita mulai saja. Kau akan berlatih di sini selama 1 tahun dan hanya di perbolehkan keluar 4 kali saja untuk mengisi energi tubuh aslimu", jelas Daeng Lin.
"Apaaaa????", teriak Jordan.
"apa kau gila? bagaimana aku bisa bertahan selama satu tahun di sini?", ujar Jordan kebingungan.
"Dasar tidak berguna. Dengarkan penjelasan ku dulu baru marah", Daeng Lin balik memarahi Jordan.
"Ketika kau di alam Jiwa, satu hari kau berada di sini berarti satu jam kau berada di dunia asli", ujar Daeng Lin sambil mengelus janggut panjangnya yang putih.
Jordan semakin binggung dengan perkataan Daeng Lin. Akan tetapi dia menyetujui semua persyaratan yang di berikan oleh Daeng Lin.
Seketika itu juga, muncul beberapa patung manusia yang memiliki tinggi seukuran Jordan.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?", tanya Jordan penasaran.
"Hancurkan mereka. Mereka berada dua tingkat diatas mu", ujar Daeng Lin yang sekali lagi menghempaskan tanggannya.
Tiba-tiba saja kekuatan yang di miliki oleh Jordan berkurang yang hanya menyentuh tingkat pendekar Bumi.
"Lakukan latihan mu sekarang. Aku tidak ingin menghancurkan masa depanmu", ujar Daeng Lin.
Saat yang sama, pasukan batu tersebut menyerang Jordan Tampa ampun. Setiap gerakan mengandung tenaga dalam.
"sial sekali. Aku harus mengalahkan mereka yang berada di tingkat pendekar dewa Langit?", gumam Jordan dalam hatinya.
Prajurit batu itu tidak membiarkan Jordan menyusun rencana. Mereka kembali menyerang Jordan dengan membabi buta.
"Bergeraklah seperti angin mengalir yang tidak pernah putus", teriak Daeng Lin yang memberikan arahan.
"Hei kakek. Apakah kau serius ingin menghabisi ku?", tanya Jordan kesal.
"Fokus. Jangan pernah berhenti untuk mengobrol dengan yang lain!", teriak Daeng Lin.
Saat konsentrasi Jordan terpecah, serangan salah satu prajurit mengenai tubuhnya yang membuat Jordan mengalami patah tulang di bagian rusuknya dan telempar hingga menghancurkan tembok di belakangnya.
"Sudah aku bilang padamu", ujar Daeng Lin.
Jordan mengusap bibir yang mengeluarkan darah segar.
"Kalian para manusia lemah", ujar Daeng Lin.
Dengan serius, Jordan mengamati dan menghapal sebagian gerak saat.