
Setelah Jordan di angkat menjadi anak oleh Bos Mafia Yakuza ternama Law Yu, kehidupan Jordan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Jordan merasa dirinya masih bermimpi bisa menjadi anak angkat dari ketua geng Mafia Yakuza yang terkenal di seluruh penjuru Jepang.
"Tuan muda. Saya membawakan pakaian serta perlengkapan sekolah anda",
Panggilan tersebut menyadarkan Jordan. Seorang pelayan datang mengetuk pintu kamar Jordan yang hendak memberikan pakaian sekolah untuknya.
"Silahkan masuk. Letakkan lah di atas meja nanti", ujar Jordan.
"Baik tuan muda", ujar pelayan tersebut.
Setelah pelayan itu meletakkan baju Jordan, pelayan itu kemudian meninggalkan ruangan Jordan dan kembali ke tugasnya yang lain.
"Kehidupan seperti ini sungguh luar biasa. Menikmati kehidupan ini menjadi orang kaya sungguh di luar dugaan", ujar Jordan yang kegirangan karena nasibnya begitu baik
Pada saat yang sama Jordan merasa lapar dana pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya. Jordan seratus persen tidak mengetahui jalur serta lokasi menuju ruang makan. Setelah mengetahui ruang makan dari salah satu pelayan, Jordan bergegas menuju ruang makan tersebut untuk mengisi perutnya.
"Wahhh........ Besar sekali", ujar Jordan terkagum.
"Maaf tuan muda. Anda ingin makan malam dengan apa?", tanya seorang pelayan.
"Berikan aku makanan sederhana saja. Tidak perlu yang spesial", ujar Jordan.
"Baiklah tuan muda", ujar pelayan itu yang dengan cepat pergi untuk menyiapkan hidangan untuk Jordan.
setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya makanan yang datang sangat menggugah selera.
Jordan dengan lahap menyantap hidangan yang telah di sediakan makanan untuk dirinya. Seumur hidupnya hanya kali ini dia bisa menikmati kehidupan seperti sekarang.
Setelah Jordan menghabiskan makan malam, Jordan kembali ke kamarnya dan beristirahat untuk kembali bersekolah keesokan harinya.
*************
Di pagi hari yang cerah, semua mata tertuju pada Jordan. Hampir setiap murid dan guru memperhatikan Jordan.
"Apa yang terjadi?", gumam Jordan dalam hatinya.
Setiap mata yang menandai Jordan memperlihatkan ketakutan yang mendalam, sampai Jordan bertemu dengan Shion.
"Hmmmm. Aku tidak tahu harus berkata apa, mereka semua memperhatikan pertarungan kamu dengan orang kemarin", ujar Shion.
Jordan menepuk jidatnya. Betapa bodohnya dirinya tidak menyadari hal tersebut.
"Membunuh di usia yang begitu muda memang bukan hal yang wajar di perlihatkan untuk anak-anak seusia kami", gumam Jordan dalam hatinya.
"Jordan?", tanya Shion yang memecah keheningan Jordan.
"maaf kan aku. Ada yang sedang aku pikirkan", ujar Jordan.
Pada saat yang sama, segerombolan polisi datang ke sekolah tersebut dan langsung menghampiri Jordan.
Jordan merasa tidak asing dengan wajah yang datang bersama beberapa polisi tersebut.
"Inspektur Zuan Song? Apa yang anda lakukan di sini?", tanya Jordan heran.
"Ahhh. Jordan Lin. Maaf mengganggu aktifitas mu. Kami datang ingin menjumpai kepala sekolah", ujar inspektur Zuan.
"Apa ada hal yang bisa ku bantu untukmu inspektur?", tanya Jordan walau Jordan sudah tau magsud kedatangan inspektur Zuan ke sekolahnya.
"Ohhh. Tidak perlu. Kami hanya ingin menyelidiki kasus pertarungan gangster dua Minggu yang lalu di sekolahmu ini. Menurutku ini kasus yang lumayan", ujar inspektur Zuan Song.
"Aih. Sudah ku duga akan seperti ini. Kalau kepala sekolah sampai memberitahukan bahwa aku juga ikut dalam pertempuran itu, akan banyak pertanyaan di lontarkan kepadaku?", gumam Jordan dalam hatinya.
"Baiklah Jordan. Aku pergi dulu", ujar Inspektur Zuan.
"Baiklah inspektur. Semoga kasus mu cepat selesai", ujar Jordan menyemangati inspektur Zuan.
"Terima kasih Jordan. Kau pemuda yang baik", ujar inspektur Zuan yang langsung meninggalkan Jordan dengan Shion yang masih berdiri.
"Apakah mereka mencari kamu?", tanya Shion.
"Aku tidak tahu pasti. Yang penting aku harus menahan kepala sekolah agar tidak membawa diriku kepada kasus inspektur Zuan ini", ujar Jordan.
Mereka berdua lalu meninggalkan lokasi tersebut untuk kembali ke kelas mereka masing-masing.