
"Kenapa disini? Apa kamu sudah ketemu sama ibu dan Riri?" Zero yang tiba-tiba mendekati And yang terlihat masih sedih berada di depan pagar sekolah.
"Belum, aku masih belum bisa ketemu mereka. Aku takut kalau mereka marah denganku?" And yang terlihat sedikit murung.
"Ya sudah. Kita pulang saja kalau begitu. Aku yakin mereka tidak akan marah sama kamu! Kamu harus semangat" Zero yang mencoba membuat suasana And agar lebih tenang.
And akhirnya mau mengikuti apa yang di sarankan oleh Zero, dia langsung menaiki mobil yang sudah terparkir di samping jalan. Mereka langsung pergi untuk menuju rumah dan And juga sudah terlihat tenang duduk di kursi belakang sambil melihat keluar jendela mobilnya.
--
"Bu, Riri peringkat satu lagi! Tapi kakak belum pulang juga!" Riri yang terlihat sedih memegangi raport kelulusannya.
"Nanti dia pulang kok, kamu yang sabar dulu ya? Ayo kita pulang" Terlihat ibu dan Riri sudah berjalan keluar pagar sekolahan.
Mereka langsung menaiki mobil, Riri juga terlihat melihat foto keluarga di ponselnya, dia sangat merindukan kakaknya yang belum ada kabar sama sekali setelah dia pergi ke Jepang. Ibu melihat Riri yang tampak sedih, dia langsung memeluk putrinya yang sudah mulai tumbuh dewasa.
"Apa kamu sangat merindukan kakakmu?" Ibu yang tampak penasaran dengan perasaan putrinya kepada kakaknya itu.
"Sangat rindu bu, meskipun dia selalu nakal sama aku. Dia itu sangat baik, belikan aku coklat, mengelus-elus kepalaku. Semuanya aku rindukan!" Riri yang mulai mengutarakan kerinduannya kepada ibunya.
"Bagaimana jika kakak kamu datang, apa kamu akan memeluknya?" Ibu yang sedikit menggoda putrinya.
"Iya, pasti aku peluk. Tapi apakah dia akan datang nanti? Apa dia sudah melupakan kita bu?" Riri yang masih ragu dengan kakaknya.
--
Akhirnya mereka sampai dirumah, namun suasana di dalam rumah sedikit berbeda. Mereka sedikit bingung kenapa Zero berada di ruang tamu duduk sendiri di atas sofa, biasanya Zero hanya berada diluar, dia tidak pernah masuk kedalam rumah kecuali ada And. Ibunya yang sedikit menyadari bahwa And sudah pulang, dia langsung melihat-lihat seluruh ruangan, apakah ada tas atau koper And berserakan. Namun ibunya terlihat sedih bahwa barang And sama sekali tidak terlihat, dia langsung duduk di sofa dan bertanya kepada Zero.
"Tumben kamu duduk disini Zero, biasa kamu di suruh masuk tidak mau? Apakah kamu ada keperluan yang ingin kamu bicarakan atau apapun!" Ibu yang terlihat penasaran dengan maksud Zero yang tiba-tiba berada di ruangan tamu ini.
"Bu, Riri ke kamar dulu ya, mau ganti baju" Riri yang pergi meninggalkan mereka di ruangan tamu.
"Ada apa Zero? Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" Ibu yang penasaran dengan tingkah laku Zero yang sedikit mencurigakan.
"Sebenarnya begini bu, ada yang perlu aku bicarakan. Tapi ini sedikit susah, kalau bisa ibu tetap tenang kalau sudah mendengarnya!" Zero yang sedikit gugup menjelaskannya, semua kata-kata itu di suruh oleh And sendiri.
"Apa yang kamu bicarakan, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Ibu And tampak khawatir dengan keluarganya.
"Emmm..begini, sebenarnya And ingin pulang ke Indonesia? Namun dia takut kalau ibu dan Riri marah dengannya?" Zero yang sedikit masih gugup menyampaikannya.
"Hah? And akan pulang. Benarkah apa kamu sedang bercanda Zero!!" Ibu terlihat sangat kaget mendengar putra kesayangannya, akhirnya pulang untuk menemui mereka.
"Apa!! Kakak akan pulang. Apa kamu bercanda om?" Tiba-tiba Riri berteriak karena mendengar bahwa kakaknya akan pulang. Dia juga langsung mendekati Zero yang sudah di anggapnya pamannya sendiri.
"Benar dia akan pulang, namun dia juga takut kalau kalian nanti marah dengannya karena sudah meninggalkan kalian sangat lama!" Zero yang sudah terlihat semangat melihat ibu dan Riri bahagia mendengar kabarnya.
Zero langsung menceritakan bahwa tugas And di Jepang sudah selesai, dia akan pulang ke Indonesia untuk menemui keluarga yang dia cinta. Mendengar semua perkataan Zero, mereka langsung terlihat sangat bersemangat. Ibunya juga mau melakukan pesta penyambutan anaknya itu, namun Zero belum beritahukan kapan And akan pulang ke rumah.
Tiba-tiba...
And langsung turun dari tangga perlahan-lahan dan memeluk ibunya dari belakang yang masih duduk di atas kasur. Ibunya langsung kaget karena dia tidak tahu siapa yang memeluknya secara tiba-tiba. Riri melihatnya juga sedikit kebingungan karena dia tidak mengenali kakaknya yang semakin tampan. Dia juga sedikit familiar dengan wajahnya seperti dia pernah melihatnya namun dia melupakannya.
"Ibu, And pulang!"
Riri masih terlihat malu-malu, untuk mendekatinya karena sedikit rasa canggung akibat terlalu lama tidak pernah ketemu lagi. Namun And tidak mempermasalahkan itu, dia berusaha mengerti dan memberikan waktu untuk mereka agar bisa menerimanya kembali.
"Sayang, kapan kamu pulang!"
Ibunya masih terlihat memeluk erat And, dia juga tidak bisa menahan air matanya yang selama ini merindukan putranya. And yang tidak pernah memberikan kabar membuat ibunya sedikit tersiksa. Sekarang air mata kerinduan itu tidak bisa di tahan lagi. Semuanya langsung keluar membasahi bajunya And.
"Maafkan And, aku selama ini banyak salah kepada kalian!!"
And yang sudah terlihat tidak bisa menahan air matanya, karena menyadari bahwa sudah membuat keluarganya jadi seperti ini. And tidak kuat lagi melihat ibunya menangis, dia langsung berusaha mengusap air mata ibunya, dan berusaha juga membuatnya tenang kembali.
Riri yang melihat mereka menangis di depannya, dia langsung pergi tanpa berkata-kata apapun. Dia langsung pergi menuju kamarnya, di balik pintu kamarnya dia berusaha menahan rasa rindunya juga kepada kakaknya, namun dia masih merasa malu memperlihatkannya. Dia sudah berjanji agar tidak cengeng lagi di depan kakaknya setelah dia besar nanti, janji itu selalu dia ingat. Namun di hari ini dia tidak bisa menahan air matanya, karena terlalu rindu dengan kakaknya itu. Sebab itulah dia langsung pergi agar And tidak melihat dia sedang menangis.
Beberapa hari kemudian...
"Semuanya sudah berlalu, hubunganku bersama Yuna berakhir begitu cepat. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, semua itu berawal dari kelalaianku sendiri, yang tidak bisa menjaganya sama sekali".
And yang terlihat memandangi langit-langit dari jendela kamarnya sambil mengingat masa lalunya bersama dengan Yuna. Dia juga sedikit sedih ketika membayangkan hari dimana semua itu mulai hancur.
Tiga tahun lalu...
Saat itu And dan Yuna ingin pergi berolahraga di pagi hari, semuanya tampak baik-baik saja. Mereka juga bersantai di sebuah kursi panjang di sebuah taman, hal-hal seru mereka lakukan seperti bercanda, saling mencubit, bahkan sampai hal romantis mereka juga lakukan.
Di saat matahari sudah mulai naik, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Di saat itulah hal buruk terjadi menimpa mereka, waktu itu ada seorang anak kecil yang ingin menyeberang jalan, dan disisi lain sebuah bus melaju sangat kencang. Yuna yang melihat situasi anak kecil itu dalam bahaya, dia langsung berlari dan berusaha mendorong anak itu kepinggir jalan.
"Awas nak!!"
Yuna langsung berlari ketengah jalan tanpa berpikir apapun lagi. And yang belum menyadarinya sedikit terkejut melihat Yuna yang sudah berlari ke tengah jalan raya. Dia juga berusaha mengejar Yuna karena melihat bus sedang mengarah kepada istrinya.
"Brukk!!"
Tabrakan itu langsung terjadi seketika, And langsung berlari ketengah jalan karena melihat Yuna yang sudah terbaring penuh darah di seluruh badannya. Dia juga terlihat menangis karena melihat wanita yang sudah dia cintai kini terluka.
"Tolong panggilkan ambulans!!"
And yang berteriak-teriak kepada orang-orang yang terlihat hanya berdiri memandangi mereka. And terus memeluk Yuna yang penuh luka akibat tertabrak bus karena berusaha menyelamatkan anak kecil.
"Sa-sayang maafkan a-aku!!"
Suara pelan dari mulut Yuna sedikit terdengar memanggil And yang masih menangis sedang memeluknya. Dia juga berusaha menggerakkan lengannya untuk menyentuh wajah And.
"Sayang kamu harus bertahan, sebentar lagi ambulansnya akan datang!"
And yang terlihat memegang tangannya itu dan menaruh ke pipinya, dan berusaha membuat Yuna untuk tidak menyerah dalam keadaannya saat ini.
"Yuna, kamu harus kuat... sayang??"
And yang sudah terlihat khawatir karena tangan Yuna sudah tidak bergerak lagi, dia juga sudah terlihat memejamkan matanya dangan wajah tersenyum kepada And. Melihat itu And langsung memeriksa nafas di hidungnya dan juga denyut nadi di tangannya.
"Tidak!!!!!, Sayang..bangun..kamu tidak boleh pergi??"
And yang terlihat berteriak-teriak memanggil Yuna, dia juga terlihat menangis memeluk erat Yuna yang sudah pergi meninggalkannya. And tidak sanggup lagi menahan kesedihannya, dia terus menangisi Yuna yang sudah meninggal di pelukannya. Di dalam ambulans And hanya bisa menangis memandangi Yuna yang sudah terbaring dengan penuh luka akibat tabrakan itu. Hati And langsung hancur karena wanita yang sudah dia cintai kini pergi meninggalkannya sendirian.