Detective Kill

Detective Kill
Bab 39 Di Rumah Sakit



"Argh!!"


Terlihat And yang baru bangun di kasur rumah sakit. Satu minggu And sudah terbaring di rumah sakit, dia memiliki banyak luka ditubuhnya. Karena perkelahian dengan Viki.


"Kakak!"


Riri yang sudah terlihat senang melihat kakaknya sudah mulai membuka mata. Dan dia juga memegangi tangan kakak kesayangannya yang masih terbaring di atas kasur.


"Ibu lihat kakak! Dia pasti baik-baik saja kan?" Riri yang terlihat senang di ruangan kamar rumah sakit.


"Iya sayang! Kakak akan baik-baik saja! Dia sangat kuat?" Ibu yang berdiri sedang mengelus-elus kepala Riri yang duduk di bangku dekat kasur And.


"Argh! Dimana aku?"


And yang mulai duduk dan memegangi kepalanya yang terasa sakit, mungkin akibat tendangan dan pukulan Viki waktu itu.


"Sayang, kamu istirahat saja dulu? Jangan memaksakan diri?" Ibu yang sedikit khawatir dengan anaknya.


"Argh! Baiklah bu!"


And yang mulai berbaring kembali, untuk menenangkan dirinya, dan masih memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit.


"Argh! Sakit!"


And yang mulai sedikit mengingatkan pertarungannya dengan Viki waktu itu, seingatnya dia sudah dikalahkan Viki, kenapa bisa berada di rumah sakit.


"Bagaimana dengan organisasi jahat itu bu? Apa mereka berhasil kabur?" And yang sedikit penasaran dengan organisasi yang di lawannya waktu itu.


"Mereka sudah di amankan oleh polisi? Jadi kamu tidak perlu khawatir? Orang-orang selamat, dan tidak ada yang terluka. Namun kamu saja yang terluka begitu parah! Apa yang sebenarnya terjadi denganmu waktu itu?" Ibu sedikit penasaran dengan And yang waktu itu dia tiba-tiba mengejar Viki.


"Haha..aku cuman ingin menangkap bosnya saja? Tapi bosnya lumayan hebat bu!" And yang sedikit gugup menjelaskan kepada ibunya.


"Lain kali kamu jangan seperti itu lagi? Bagaimana kamu nanti tidak akan selamat! Bagaimana kami kalau kamu tidak ada? Siapa yang akan biayain hidup kami nanti?" Ibu And sedikit marah kepada And yang begitu gegabah dalam mengambil tindakan.


"Iya bu! And tidak akan mengulanginya lagi nanti?" And sedikit takut melihat ibunya marah dengannya pertama kali dalam hidupnya ini.


"Baiklah, kakak istirahat saja dulu? Kami mau membelikan beberapa makanan dulu, untuk kita makan sore nanti!" Riri dan ibu meninggalkan And yang terlihat tersenyum berbaring di atas kasur rumah sakit.


"Iya hati-hati!" And melambaikan tangan kepada mereka.


"Argh!! Kepalaku kenapa begitu sakit?"


And yang terlihat dari tadi sudah menahannya, agar ibu dan Riri tidak melihatnya. And juga terlihat kaget mengingat ponselnya sudah rusak akibat pertarungannya waktu itu?, Mungkin Yuna akan khawatir dengannya. And sekali lagi menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya karena masalahnya tidak habis-habis.


"Ponsel siapa ini? Apa ponsel Riri?"


And yang terlihat kaget melihat ponsel yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya. Dia segera mengambilnya karena sedikit penasaran karena ponsel itu terlihat sangat baru.


"Maaf pemimpin! Ini ponsel buat anda? Karena ponsel anda itu sangat rusak, bahkan kartunya juga tidak dapat dipakai lagi? Jika anda perlu apa-apa hubungi nomor ini saja?" Setelah And membaca pesan yang di tinggalkan oleh nomor yang tidak bernama.


"Oh! Mungkin ini dari bawahanku? Tapi yang reportnya, aku tidak ingat dengan nomor Yuna? Bagaimana aku menghubunginya! Oh iya, aku baru ingat? Kakeknya tinggal di Indonesia, kenapa aku tidak ke sana saja ya?" And yang sedikit terlihat senang karena dapat menyelesaikan masalahnya.


"Ting..tong..ting.."


"Hello.. dengan siapa?" And terlihat mengangkat telepon dari nomor bawahannya tadi.


"Pemimpin! Kami dengar kabar dari ibu anda bahwa pemimpin sudah sadar?.." suara Zero yang penasaran keadaan pemimpinnya.


"Apa pemimpin tidak ingat? Padahal di sana ada CCTV, semua melihat pemimpin mengalahkannya dengan sangat mudah! Tapi tenang saja, rekaman itu aman tidak ada pihak polisi mendapatkannya?" suara Zero menjelaskan tentang kejadian And waktu itu bersama Viki.


"Benarkah! Coba kirim video itu kepadaku? Aku ingin melihatnya?" And yang sedikit penasaran dengan kejadian waktu itu, yang tidak dapat di ingatnya sama sekali.


--


Setelah video itu dikirim. And sangat kebingungan dengan dirinya yang sangat mudah mengalahkan Viki, padahal dia tidak ingat menggunakan pukulannya seperti di video itu?. And juga sangat kaget melihat Viki yang begitu sekarat dibuatnya, dia juga khawatir dengan keadaan Viki, apakah masih hidup atau sudah mati. Dia segera menghubungi Zero lagi untuk menanyakan keadaan Viki yang telah dia siksa.


"Oh lelaki itu sedang berada di rumah sakit milik kita, jadi tenang saja dia tidak akan bisa kabur?. Dia masih koma akibat benturan keras tepat mengenai kepalanya. Lain kali tolong ajarkan aku seni bela diri pemimpin seperti itu di markas nanti?"suara Zero yang terdengar sangat senang karena pemimpinnya begitu hebat.


"Iya! Nanti aku mampir ke markas lain kali. Oh iya, aku ingin kamu menyelesaikan biaya perbaikan sekolah waktu itu kalian rusak kacanya?" And yang masih sedikit bingung dan memerintahkan Zero untuk menangani kerusakan yang terjadi waktu itu.


"Hehe..baik pemimpin!"suara Zero sedikit gugup. Telepon dimatikan And, dan dia menaruh kembali teleponnya di atas meja di samping tempat tidurnya.


--


"Kakak! Sepertinya kamu sudah terlihat baik-baik saja?" Riri dan ibunya sudah memasuki ruangan kamar tempat And dirawat.


"Dari mana saja kalian? Mengapa begitu lama?" And sedikit terlihat sehat duduk di atas kasur.


"Kami tadi keluar sebentar, membelikan makanan dan buah-buahan untuk kamu? Takutnya nanti kamu kelaparan disini?" Ucap ibu duduk di kursi di samping kasur And, membukakan kantong plastik untuk mengeluarkan makanan yang mereka sudah beli.


"Wah sepertinya enak? Apa aku boleh memakannya sekarang?" And sedikit senang melihat makanan yang begitu enak di depannya.


"Silahkan habiskan saja? Jangan lupa makan buah juga?" Ibu yang sedikit senang melihat keadaan And yang sudah membaik.


"Apa aku bisa pulang sekarang? Sepertinya aku sudah bosan di rumah sakit?" And yang berbicara kepada keluarganya untuk segera meninggalkan rumah sakit.


"Tunggu!! kamu belum sehat lagi And? Kamu kan baru juga operasi lagi? Sekarang bekas lukanya belum juga sembuh? Mengapa kamu begitu ingin pulang! Padahal kami sudah menemani kamu disini?" Ibu yang sedikit khawatir dengan And yang begitu tidak memperdulikan tubuhnya yang masih terluka.


"Emmm..baik bu!"


And yang sedikit kecewa karena tidak bisa pulang cepat, dan terlihat dia sangat lambat menyantap makanan di depannya. Dia juga sedikit merasa sakit karena luka yang di sekujur tubuhnya belum sembuh-sembuh. Padahal And masih khawatir karena keluarganya masih dalam bahaya.


Beberapa hari kemudian...


And sudah terlihat sedikit membaik, luka yang ada di tubuhnya sudah tidak terasa sakit lagi!. Bahkan dia juga bisa berdiri dan berjalan-jalan ke jendela melihat-lihat keluar, dia sedikit khawatir memikirkan Yuna yang sudah beberapa minggu sudah tidak dia kasih kabar. And memikirkannya ketika keluar dari rumah sakit, dia akan segera menemui kakeknya Yuna.


"Kakak And! Apa kamu tidak apa berdiri di sana?" Linda yang tiba-tiba masuk ke ruangan kamar tempat And dirawat.


"Wah! Linda kapan kamu kesini, kenapa kamu tidak kasih kabar dulu?" And yang sedikit kaget melihat Linda yang berpakaian sekolah sedang menjenguknya.


"Apa aku tidak boleh menjenguk kakak? Padahal aku sangat khawatir dengan kakak selama ini?" Wajah Linda yang sedikit tersipu malu mengatakannya.


"Apa kamu tidak pulang dulu? Nanti kakek dan nenek bisa khawatir kamu langsung kesini?" And sedikit mengingatkan Linda yang tidak memperdulikan kakek dan neneknya.


"Tadi aku sudah telepon mereka! Jadi aku di izinkan kesini terlebih dulu sebelum pulang? Jadi kakak tidak perlu khawatir!" Linda yang sedikit meyakinkan And, duduk di kursi dekat kasur And.


"Sama siapa kamu kesini?" And yang masih penasaran dengan siapa Linda kesini, sambil bersandar di dekat jendela.


"Sama supir pribadi aku? Dia sedang menunggu di tempat parkir? Aku bilang hanya sebentar kesini, setelah melihat keadaan kakak. Kalau begitu aku akan pulang dulu ya? Jaga kesehatan kakak, kalau ada apa-apa bilang sama Linda ya?" Linda yang terburu-buru keluar dengan wajah yang malu-malu sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Emmm.."


And hanya memandanginya dengan tersenyum, karena dia ingin menjaga jarak dengan Linda. Karena And sudah berhubungan dengan Yuna, dia tidak mau menyakiti hati Yuna, jika dia tidak setia dengannya. And juga tidak mau masalah hubungannya akan menjadi masalah di masa depan, jadi dia berusaha untuk fokus satu wanita saja.