
And hanya terdiam memandangi pesawat yang hampir tidak terlihat lagi, wajah yang di penuhi dengan kesedihan melihat wanita dicintainya pergi jauh. And berbalik badan dengan berjalan sedikit terlihat lemas dan kecewa. Dia melihat-lihat orang begitu bahagia di sebuah bangku tunggu bendara pesawat, sedikit menghela napas yang begitu tidak semangat serasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hatinya.
Didalam mobil And hanya terdiam memandangi jalan, seakan-akan itu mengingatkannya dengan seseorang yang sangat dia cintai. Titisan air mata mulai keluar dari matanya yang tidak bisa ditahan lagi, beberapa kali And sudah mengusap matanya dengan pergelangan tangannya agar air mata itu berhenti keluar, tapi tetap saja kesedihannya terus keluar tanpa dia sadari. Bawahannya yang tidak tega melihat pemimpinnya begitu sedih, dia berinisiatif membawa dia pulang ke rumah untuk bertemu ibu dan adiknya. Mungkin dengan bertemu mereka kesedihannya bisa mereda.
*****
"Pemimpin kita sudah sampai di rumah" suara laki-laki yang begitu pelan membujuk secara hati-hati.
And kembali mengusap matanya membersihkan sisa-sisa kesedihannya dan langsung keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. And langsung membuka pintu rumah dan terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, dia menghempaskan seluruh badannya ke kasur dengan posisi tengkurap. Kembali melepaskan rasa sedihnya.
"Hiks..hiks.."
Terdengar sedikit rengekan kecil dari wajah yang tertutup bantal, badan yang masih tengkurap dengan menghempaskan beberapa kali kakinya di atas kasur untuk melampiaskan emosi yang tidak bisa disimpan lagi.
"Ting..tong..ting.."
Suara telepon yang berbunyi beberapa kali di atas meja kamar And. Dia tidak terlihat bergerak untuk mengangkat teleponnya, dia hanya menghentikan rengekan karena sedikit terkejut mendengar bunyi suara telepon itu. Telepon yang berulang kali memanggil tidak sekalipun And untuk berniat mengangkatnya, dia malah menutupi telinganya dengan salah satu bantal lainnya. Dengan waktu yang begitu lama akhirnya ruangan kamar terdengar sepi, kini And sudah tertidur dengan pulas.
Beberapa jam telah berlalu...
And yang tiba-tiba terbangun, melihat jam dinding kamarnya sudah menunjukkan jam 09.00 malam, dia segera berdiri dan mengambil ponselnya di atas meja. Melihat beberapa panggilan dari Yuna, And yang terlihat melotot melihat ponselnya menyadari bahwa dia saat ini sedang menjadi suami orang. Dia segera bergegas mandi untuk pergi ke rumah kakeknya Yuna secepat mungkin. And yang terlihat terburu-buru menuruni tangga di cegat oleh ibunya, And yang sedikit terlihat khawatir ketika bertemu ibunya.
"Kenapa kamu terburu-buru?" Ibu yang penasaran tentang kekhawatiran keadaan anaknya.
"T..tugas And di perusahaan masih ada yang belum selesai bu!" And yang menjelaskan dengan sedikit gugup kepada ibunya karena berbohong.
"Hari sudah malam?" Ibu yang sedikit penasaran dengan tingkah lakunya yang mencurigakan.
"Besok tugas itu harus selesai bu!" terlihat And yang tidak tega terlalu banyak berbohong kepada ibunya.
"Kamu tidak makan dulu?" Ibunya sedikit khawatir dengan perubahan anaknya itu.
"Nanti And makan diluar saja, ibu aku pamit dulu, mungkin besok baru pulang, kalau perlu apa-apa telepon And!" And yang bersalaman dengan ibunya dan meninggalkan pergi.
Ibunya hanya tersenyum melihat anaknya yang begitu sibuk saat ini karena mengambil tugas ayahnya sebagai tulang punggung keluarga, untuk membahagiakan keluarga ini, ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkeinginan untuk mencarikan seorang istri untuk And suatu saat nanti. Ibunya hanya tersenyum bahagia berjalan menuju kamar.
*****
"Ting..tong..ting.."
Bunyi telepon yang berdering, And segera mengangkatnya, terlihat dia yang sedang menyetir untuk pergi ke menuju rumah Yuna.
"Hello, pemimpin" Zero yang menelpon And sedikit khawatir.
"Ada apa Zero?, apa ada masalah di markas?" And yang khawatir dengan keadaan markasnya.
"Tidak ada masalah, ini masalah tentang perempuan yang telah pemimpin selamatkan waktu itu?" Zero yang sedikit gugup menjelaskannya.
"Tidak apa, nanti aku ke sana saja melihatnya" And yang tidak terlalu penasaran dengan bukti yang di temukan.
"Tapi ini..." Zero yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya, langsung di sanggah oleh And.
"Nanti saja, aku sedang terburu-buru" And yang tiba-tiba mematikan ponselnya.
Terlihat And masih kesal dengan keadaannya yang harus berpura-pura menjadi suami orang. Bukannya membuat senang, Zero malah membahas Yuna lagi, dengan menambah kecepatannya And segera melaju ke rumah Yuna.
Tiba-tiba...
"Aaakh.."
"Bruk.."
"Semoga dia tidak kenapa-kenapa?, kalau terjadi sesuatu dengan dia bisa gawat. Mungkin aku bisa masuk penjara jika seseorang ini meninggal?" And yang terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar rumah sakit.
"Ting..tong..ting.."
Bunyi telepon And kembali berbunyi. Yuna yang meneleponnya karena sedikit khawatir dengan And yang tidak datang ke rumahnya. And yang memberikan beberapa alasan bahwa dia sedang berada di rumah sakit karena menabrak seseorang. Dari penjelasan And Yuna segera menyusulnya, dia khawatir suaminya kenapa-kenapa setelah kecelakaan itu.
"Sayang apa kamu baik-baik saja?" Yuna yang sudah berada di rumah sakit mendekati And yang sudah duduk di depan pintu ruang kamar pasien.
"Aku baik-baik saja, tapi aku tidak tahu dengan dia?" And yang sedikit khawatir dengan keadaan lelaki yang telah ditabraknya.
"Dia pasti baik-baik saja sayang!" Yuna yang berusaha membuat And tenang dengan memeluknya.
Beberapa menit...
Dokter keluar dari ruangan pasien, memberi tahukan kepada mereka bahwa pasien tidak akan bertahan lama lagi. Wajah And sedikit kaget mendengarnya, Yuna sedikit khawatir melihat wajah And yang ketakutan. Dokter memberi tahukan bahwa luka yang di alaminya sangat fatal, ditubuhnya juga terdapat tusukan beberapa pisau. Lelaki itu sudah berjuang menutupi lukanya dengan beberapa kain untuk menghentikan pendarahannya, tapi karena darah yang terus keluar membuat lelaki itu tidak bisa diselamatkan lagi. Mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan.
Mendengar penjelasan Dokter And sedikit bingung, bukankah dia yang menabraknya mengapa ada tusukan pisau. Yuna yang melihat suaminya terdiam, dia segera merangkul And untuk membuat dia tenang.
"Makasih dok!" ucap Yuna kepada dokter yang telah menjelaskan keadaan pasiennya.
"Sama-sama saya izin pamit dulu?" Dokter yang meninggal mereka.
"Sayang jangan terlalu di pikirkan lagi, kamu sudah berusaha" ucap Yuna yang mengajak And keluar rumah sakit mencari udara segar diluar.
Mereka duduk disebuah kursi dibawah pohon di depan rumah sakit, And masih terdiam memikirkan tentang lelaki itu. Yuna pergi untuk membelikan beberapa makanan dan minuman untuk suaminya.
And secara tidak sadar memasukkan tangan ke kantung celananya, dan menemukan kartu pengenal yang telah dijatuhkan lelaki yang ditabraknya itu, ketika And memapahnya naik ke dalam mobil.
"Hah?, Inikan foto aku mengapa dia bisa memilikinya? And yang terlihat kaget melihat foto tanda pengenal lelaki itu hampir 85% memiliki kemiripan dengannya.
"Ada apa sayang?" Yuna yang tiba-tiba sudah berada disampingnya membawakan beberapa makanan dan minuman yang telah dia beli tadi.
"Ah..tidak apa-apa!" And yang terlihat kaget berusaha menyembunyikan kartu pengenal itu.
"Apa yang kamu sembunyikan itu?" Yuna yang sudah penasaran dengan apa yang telah And sembunyikan.
"Ti..tidak, ini memalukan?" And yang terlihat kacau dalam memberikan alasan.
"Sini.." Yuna yang berusaha merebutnya dari tangan And.
"Jangan dilihat?" Ucap And yang sudah menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus malu, suami aku sangat tampan di foto ini meski sedikit mengesalkan" Yuna yang tersenyum melihat kartu pengenalnya. Dan memberikannya lagi kepada And.
"Hah?" And yang sedikit terkejut melihat Yuna tidak penasaran sama sekali dengan kartu pengenal itu.
"Oh iya?,aku juga baru dikirim ibu lewat ponsel, beberapa foto pernikahan kita waktu itu!" Yuna yang memperlihatkan foto pernikahan bersama suaminya.
"Hah?"
And yang terdiam kaget melihatnya, foto suaminya sangat mirip dengannya, bahkan tidak ada kekurangan dan perbedaan dengan kemiripannya. Pantas saja Yuna mengira aku adalah suami aslinya, apa aku memiliki kembaran yang terpisah.
"Sayang kenapa kamu diam?" Yuna yang bertanya melihat And terdiam ketika melihat foto pernikahan mereka di ponsel.
"Haha, aku hanya terpesona melihat kamu yang begitu cantik" And yang berusaha mengalihkan pembicaraannya.
"Emmm.. sayang" Yuna yang tiba-tiba memeluk And dengan sangat erat. Mereka terlihat cocok menjadi pasangan muda dengan berpelukan di bawah pohon di atas kursi di malam hari.
"Jadi yang aku tabrak adalah suami aslinya Yuna, sekarang dia hampir meninggal, terus apa yang harus aku harus lakukan, apa aku selamanya seperti ini sampai ingatan Yuna kembali, meskipun ingatannya kembali wajah ku dan suaminya sangat mirip. Mungkin Yuna terus mengakui aku adalah suaminya, apa aku punya kembaran?" masalah baru yang membuat pikiran And begitu penasaran, dan juga lelaki itu yang begitu mirip dengannya.