Detective Kill

Detective Kill
Bab 33 Keberhasilan



"Ketua, kami sudah menyelesaikan semuanya? dan kami juga menemukan beberapa orang yang di kurung(tahanan)? Apa kita bebaskan saja mereka?" ucap salah satu bawahannya di luar gudang.


"Bawa ke markas, dan tanya beberapa pertanyaan tentang organisasi berjas hitam itu?, jangan sampai organisasi mereka masih ada di Jepang ini?" ucap And memerintahkan bawahannya.


"Baik. Ketua?" sahut bawahannya dengan tegas.


"Ledakan seluruh gudang ini, jangan sampai ada yang tersisa?" ucap And sambil berjalan memasuki mobilnya.


"Boom"


Suara ledakan yang begitu besar, menghancurkan bangunan gudang yang begitu besar menjadi reruntuhan kecil. And berada di dalam mobil sedikit tersenyum melihat dari jendela mobilnya.


"Ayo kita pulang ke rumah istriku?" And memerintahkan supirnya untuk segera pergi dari sana.


"Baik, Ketua".


Semua bawahannya juga segera meninggalkan tempat itu. Agar tidak ada barang bukti yang tertinggal, mereka juga menghancurkan beberapa CCTV di sekitar gudang. Beberapa bawahan And juga masih memantau di sekitar tempat gudang itu, jika ada hal yang mencurigakan mereka akan melaporkannya.


Beberapa hari kemudian...


And dan bawahannya sedang berada di ruangan bawah tanah di markas mereka, dimana di sana beberapa orang tahanan yang telah mereka selamatkan. Mereka dirawat dan di obati agar keadaannya membaik, setelah dikurung lama oleh organisasi berjas hitam. Mereka sangat senang karena organisasi And telah menyelamatkan mereka waktu itu. Ada salah satu dari tahanan yang sudah dikurung sangat lama di sana. And sangat penasaran ingin menanyakan sesuatu dari kakek tua itu.


"Kakek dimana keluarga anda?" And yang memulai pembicaraan untuk mencari informasi darinya.


"Keluarga. Aku tidak mempunyai?" Kakek itu sedikit dingin menjawab pertanyaan And.


"Beraninya kamu?" salah satu bawahan And sedikit kesal dengan tingkah laku kakek tua itu.


And yang baik hati mengangkat salah satu tangannya, agar bawahannya diam, dan bisa menahan emosinya kepada kakek itu.


"Kalian sama-sama pembunuh, buat apa aku baik kepada kalian?" Kakek itu melontarkan kemarahannya di hadapan And yang berjongkok menghadapinya yang sedang duduk dilantai.


"(....)"


Terlihat beberapa bawahannya yang berada di ruangan bawah tanah itu, menahan emosi karena berani memarahi ketua mereka.


"Kakek, maafkan jika pertanyaan ini sangat mengganggu anda, tapi aku ingin tahu tentang organisasi itu. Ibuku terbunuh oleh mereka, aku hanya ingin membalasnya? apakah aku salah juga, kalau harus membunuh mereka?" And yang memperlihatkan kesedihannya di hadapan kakek tua itu.


"(....)"


Kakek itu terdiam. Melihat And yang menahan air matanya menceritakan masa lalunya kepadanya. Kakek itu mulai menepuk pundak And, agar berhenti menangis.


"Aku akan kasih tahu semuanya, maaf sebelumnya aku sudah marah-marah kepada kamu anak muda?" Kakek itu mulai memperlihatkan sisi baiknya terhadap And.


"Makasih kek. Aku hanya ingin membalas mereka, dia membunuh satu-satunya orang tuaku disini?" And mulai memperlihatkan kesedihannya yang tidak punya orang tua lagi disini, agar kakek tua itu semakin mau memberikan informasi kepadanya.


"(???)"


Wajah semua bawahannya di ruangan itu terlihat kebingungan, melihat And yang menangis-nangis di hadapan kakek tua itu.


"Sudah-sudah, kakek akan menceritakan semua yang aku ketahui? Jadi kamu berhenti menangis seperti ini?" Kakek itu memeluk And dan mengelus-elus belakangnya.


"Terima kasih kek" And yang tersenyum di balik pelukan kakek tua itu.


"(....)"


Semua bawahan yang di ruangan itu, hanya terdiam melihat akting dari ketua mereka yang begitu profesional, untuk membujuk kakek tua pemarah itu. Mereka mengangguk-anggukan kepala karena dapat pelajaran berharga, dengan cara seperti itu bisa membujuk kakek tua dengan sangat mudah.


"Baiklah. Dari yang aku ketahui, organisasi mereka punya 2 cabang, pertama di Jepang dan kedua ada di Indonesia. Setelah mereka mendengar bahwa markas di Jepang ini diserang oleh kalian. Salah satu bawahannya menelepon bosnya yang berada di Indonesia, jadi kalian tidak menemukan bosnya di sini?, mungkin mereka sedang bersiap-siap untuk membalas perbuatan kalian ini nanti. Jadi kakek harap terus berhati-hati. Itu saja yang kakek dengar dari mereka" kakek yang berusaha menjelaskan kepada And.


"Makasih kek. Aku akan pergi dulu, dan bebaskan mereka semua, antarkan mereka kerumahnya masing-masing. Jika mereka tidak punya rumah, tempatkan dulu di markas yang aman yang kita miliki di kota ini?" And yang berdiri dan meninggalkan ruangan bawah tanah itu.


*****


"Sayang, apa kamu ingin meninggalkan aku disini?" Yuna yang merasa sedih setelah mendengar ucapan And untuk pergi bekerja.


"Sebentar saja aku di sana, jadi tunggu aku disini?" And yang sedikit membujuk Yuna agar mau mengizinkannya.


"Kalau kamu lama di sana bagaimana?" Yuna yang masih mengkhawatirkan suaminya.


"Kalau urusan aku selesai, aku janji akan pulang kesini secepatnya?" And yang berlutut memegangi kedua tangan Yuna yang sedang duduk di atas kasur.


"Kenapa aku tidak boleh ikut?" Yuna yang penasaran kenapa dia tidak diperbolehkan ikut ke Indonesia.


"Disini lebih aman? Kalau kamu ikut, kamu siapa yang menjaga di sana nanti?, sedangkan aku sibuk dengan pekerjaanku?" And yang meyakinkan Yuna agar tetap tinggal disini menunggunya.


"Baiklah. Tapi selalu kasih kabar sama aku setiap hari?" Yuna yang berusaha tersenyum di hadapan suaminya yang sangat dia cintai.


"Iya, aku akan kasih kabar terus sama kamu?" And yang berdiri dan mencubit pipinya, Yuna yang masih duduk di atas kasur.


Keesokan harinya...


And yang sudah berada di depan pintu rumah, berpamitan dengan kedua orang tua Yuna. Mereka memeluk And sangat erat dan ayah ibu Yuna juga menangis karena menantu kesayangannya pergi. Yuna juga memeluk And begitu erat dan juga mencium And di pipinya.


"Aku pergi dulu ya? Jaga kesehatan kalian?" And yang melambaikan tangannya di jendela mobil.


"Selamat jalan, hati-hati?" ucap mereka melambaikan tangan kepada And.


"Ayo kita berangkat?" And yang memerintahkan supirnya untuk segera menuju bendara pesawat.


Diperjalanan And juga membeli beberapa oleh-oleh untuk ibu dan adiknya di Indonesia. Hampir 1 bulan dia sudah berada di Jepang. Akhirnya dia bisa kembali lagi ke Indonesia, And juga beberapa kali memikirkan keluarganya di sana. Hatinya merasa tenang karena Zero sudah menjaga mereka sangat baik. And juga teringat mungkin Linda mencarinya selama ini, dia juga merasa takut kalau Linda nanti marah-marah dengannya karena meninggalkannya sangat lama. And juga memikirkan Sofia yang selama ini tidak ada kabar sama sekali, And beranggapan mungkin Sofia tidak ingin berhubungan sama sekali dengan dirinya lagi.


Beberapa jam kemudian...


Akhirnya And sudah berada di bendara pesawat, dia duduk di kursi tunggu untuk menunggu waktu keberangkatan pesawatnya. Sebelum berangkat dia bertemu seorang gadis cantik berambut kuning ke emasan dari Amerika. Dia berinisiatif untuk berkenalan dengan And sambil menunggu pesawatnya juga.


"Bolehkah aku duduk di sampingmu?" Tanya wanita yang berdiri di depan And yang duduk di kursi tunggu.


"Oh, silahkan?" Balas And tidak peduli dan kembali melihat ponselnya.


"Perkenalkan nama aku Sonia Ingriani dari Amerika?" Mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan kepada And yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Maaf. Nama ku Andreas Rew dari Jepang?" And yang masih terlihat tidak peduli membalas salamnya.


"Pantas saja wajahmu seperti orang asli sini?" ucap Sonia mengajak And berbicara.


"Iya. Ayahku asli Jepang?" And yang sedikit kesal dengan tingkah laku wanita disampingnya.


"Emmm...oh dia sudah punya istri, pantas saja dia terlihat dingin denganku?" Pikir Sonia yang melihat salah satu tangan And yang sudah memakai cincin.


"Kenapa kamu terus memandangiku?" And sedikit penasaran dengan wanita disampingnya selalu melihatnya.


"Tidak apa-apa kok, aku cuma sedikit penasaran kemana tujuan kamu saat ini?" Wanita itu sedikit gugup dan mengalihkan pembicaraannya.


"Aku akan ke Indonesia, untuk menemui keluargaku di sana?" ucap And berdiri dari kursinya karena pesawatnya sudah mau berangkat.


"Hati-hati dijalan?" wanita itu sedikit tersenyum setelah mendengarnya.


"(....)"


And hanya membalas dengan menoleh ke wanita itu, dan terus berjalan sambil membawa kopernya untuk bersiap-siap menuju pesawatnya.


And yang sudah berada didalam pesawat sedikit khawatir, memikirkan tingkah laku wanita yang mencurigakan ditemuinya tadi di bendara. Tapi And teralihkan karena tidak sabar bertemu dengan ibunya dan adiknya. Pesawat And mulai lepas landas menuju tujuan ke negara Indonesia.