Detective Kill

Detective Kill
Bab 26 Pergi ke Jepang



"Yuna kamu pulang dulu, nanti aku menyusul setelah menyelesaikan urusan di rumah sakit ini!" And yang khawatir dengan Yuna, jika dia pulang tengah malam.


Akhirnya Yuna pulang diantar oleh bawahannya, agar Yuna baik-baik saja sampai ke rumah. Di rumah sakit And masuk keruangan kamar lelaki itu, ingin melihat keadaannya. Namun lelaki yang mirip dengannya tiba-tiba membuka matanya dan sedikit melotot melihat And yang berada duduk didekatnya.


"Apa kamu rohku?, Jika itu benar, berarti nyawaku tinggal sebentar lagi?" Lelaki itu berbicara sendiri setelah melihat And yang duduk disampingnya.


"Aku bukan roh mu, aku yang telah membawa kamu ke rumah sakit ini?" And yang menjelaskan kepada lelaki yang sedang terbaring didepannya, hampir semua tubuhnya tertutup perban.


"Benarkah?, Kenapa kamu begitu mirip denganku?" suara pelan lelaki itu mulai penasaran dengan kemiripan mereka.


"Aku juga tidak tahu?" And bingung menjawabnya.


"Mungkin kamu ditakdirkan menggantikan aku?" Lelaki itu mulai tersenyum seperti tidak terlalu memikirkannya.


"Kamu jangan menyerah?" And yang berusaha membujuknya.


"Ambilah ini?" Lelaki itu memberikan cincinnya kepada And.


"Apa ini?" And yang bingung dengan pemberiannya.


"Aku baru saja memiliki istri, tapi setelah itu kami menginap disebuah hotel, namun saat kami ingin tidur bersama. Seseorang masuk dan melemparkan sebuah bom asap yang membuat kami pingsan, istriku di bawa mereka, setelah aku sudah sadar, aku sudah berada di sebuah ruangan penyiksaan, ruangan itu seperti tempat penyembelihan dengan bau yang begitu busuk, mungkin di sana sudah banyak mereka dibunuh. Mereka juga berbicara bahwa organ ku akan di jual, setelah aku melihat sepasang sandal dan beberapa bagian pakaian istriku juga sudah bersimbah darah. Setelah itu seseorang lelaki tua yang menolongku dan melepaskan semua ikatan, kami berhasil kabur dari sana, namun kami berhasil di tangkap lagi. Aku di tusuk dengan pisau beberapa kali agar aku mati di tempat, setelah itu mereka mengejar lelaki tua itu yang masih kabur di dalam hutan. Aku berusaha untuk bangun lagi dan akhirnya aku sampai di sebuah jalan raya, aku kira aku akan mati tertabrak mobil namun akhirnya aku berakhir disini sekarang?" lelaki itu menjelaskan semuanya yang telah terjadi kepadanya.


"Kamu masih kuat?" And yang terlihat sedih mendengar perjuangannya.


"Haha.. penglihatan ku sudah sedikit buram, mungkin aku tidak akan lama lagi?" lelaki itu tertawa melihat And yang begitu peduli kepadanya.


"Aku hanya ingin kamu bantu aku, menjaga ibuku di Jepang, dia hanya sendirian di sana.? Aku akan memberikan semua aset kekayaanku kepadamu. Dalam berangkas ku nanti semuanya tinggal ditanda tangani saja, maka semuanya akan menjadi milikmu. Kode berangkasnya nama asliku Andreas Rew, kartu bank kodenya dua belas, kosong tujuh, dua puluh. Tolong ya?" Lelaki itu sedikit meneteskan air matanya memohon kepada And.


"Tit...."


Bunyi monitor yang telah menandakan jantung yang sudah berhenti berdetak. And segera memanggil beberapa dokter untuk memeriksa keadaan lelaki itu. Dia terlihat diam tidak berbicara lagi. Salah satu dokter segera memeriksa lelaki itu dengan mengecek denyut nadi ditangannya dan memeriksa matanya. Dan dokter menyatakan bahwa lelaki itu sudah meninggal. And sedikit kesal mengapa semua tanggung jawabnya diserahkan kepadanya. Tapi And juga mendapat beberapa informasi tentang bisnis hotel organisasi berjas hitam, dan And berjanji akan membalas kematiannya ini dengan organisasi itu. Setelah itu And keluar di ruangan itu, untuk mengurus semua pembayaran dan mengurus pemakamannya juga. Setelah selesai And bergegas pulang ke rumah Yuna.


*****


"Krik"


And yang pelan-pelan membuka kamar agar tidak kedengaran. Melihat Yuna yang sudah tertidur tanpa selimut membuat And sedikit terpesona dengannya, And segera menutupinya dengan selimut. And berjalan pelan-pelan lagi untuk menuju sofa yang ada di dekat kasur.


Keesokan harinya...


"Sayang, bangun sudah pagi..?" Yuna yang berulangkali memanggilnya yang masih tertidur pulas di atas sofa.


"Sebentar lagi sayang?, Aku masih ingin tidur?" And yang masih terlihat tertidur di atas sofa.


"Emmm.." wajah Yuna terlihat memerah ketika And memanggilnya sayang.


"Aku masih belum semangat untuk bangun!" And yang masih tertidur dengan berbicara sendiri.


"Cupps"


Yuna langsung mencium bibirnya secara tiba-tiba, memeluknya erat di atas sofa, Yuna mengecup bibirnya menyalurkan semua rasa cintanya kepada suaminya, And yang masih terlihat tidur juga menikmati kecupan Yuna. Beberapa saat itu mata And melotot melihat Yuna yang masih mengecup bibirnya. And segera melepaskan pelukan kepadanya, dan beranjak bangun dari sofa itu mendorong Yuna sedikit akibat karena terlalu kaget bahwa mereka sedang berciuman.


"Auw"


Yuna yang terjatuh dari atas sofa, mengelus-elus pantatnya yang sedikit sakit.


"Eh, maafkan aku?, aku tidak sengaja melakukannya?" And yang turun dari sofa segera meminta maaf, melihat Yuna yang terjatuh akibat dari kesalahannya.


"Emmm..sayang masih sakit?" Yuna yang terlihat ingin bermanja-manja dengan And.


"Iya..ayo kita ke rumah sakit!" And yang khawatir dengan Yona segera membujuknya.


"Gendong aku ke kasur, aku ingin rebahan sebentar, nanti juga sembuh?" Yuna yang ingin melihat seberapa khawatirnya And kepadanya.


"Kamu baru mandi ya?" And yang penasaran mencium bau harum dari tubuhnya.


"Iya, apa istrimu sudah wangi?" Yuna yang mencoba merayunya dan menaruh kedua tangannya merangkul leher And, sambil memandangi wajahnya.


"Emmm...iya wangi sekali!" wajah And yang terlihat memerah karena tidak tahan dengan rayuan Yuna..


"Tidak mau?" Yuna yang tidak mau And menaruh dia di atas kasur.


"Tadi mau, ke kasur?, sekarang aku sudah sampai di samping kasurnya, kenapa tidak mau?" And yang merasa bingung dengan keinginan Yuna.


"Aku mau di gendong sama suami aku tercinta?" Yuna yang tersenyum sambil mencolek hidungnya.


"Sudah-sudah tidur saja kamu?" And yang menaruh Yuna di atas kasur sedikit kesal dengan rayuannya, wajah And memerah dan langsung membalikkan pandangannya berjalan menuju kamar mandi.


"Ah..kamu jahat, istrimu sedang sakit ditinggal begitu saja?" Yuna yang sedikit kesal menghempaskan beberapa kali kakinya di atas kasur karena And belum tergoda dengannya.


Beberapa menit kemudian...


And yang sudah keluar dari kamar mandi, dan berjalan menuju lemari pakaian, untuk mengganti bajunya untuk pergi kuliah.


"Sayang besok kita pulang?" Yuna yang memberi tahukan And untuk mempersiapkannya.


"Hah!, pulang? kemana?" And yang tiba-tiba kaget mendengar ucapan Yuna yang sedang duduk bersandar di atas kasur yang masih memakai baju handuknya.


"Kita disini cuman ingin bertemu kakek?" Yuna yang menjelaskan kepada And sambil memegangi ponselnya.


"Padahal kamu juga yang selalu ingin bersama ibumu?" Yuna mengingatkan bahwa ibunya sendirian di sana. "Kalau kamu masih ingin tinggal disini?, aku juga akan tinggal!" Yuna yang tidak mau berpisah dengan suaminya.


"Oh, iya ibu?" And yang mengingat pesan terakhir Andreas Rew suami asli Yuna.


"Iya, ibu kamu sendirian di Jepang?, bagaimana dia kangen sama menantunya yang cantik ini?" Yuna yang menyombongkan dirinya kepada And dengan menyentuh kedua pipinya untuk di perlihatkan kepadanya.


"Iya..iya kita pulang!" And yang malas ngeladani Yuna.


*****


"And kenapa kamu kemarin bolos masuk ke kelas?" dosen yang bertanya kepada And yang sedang duduk, sambil menutupi wajahnya dengan buku yang terbalik.


"Aku tiba-tiba ada kesibukan di rumah pak!, Jadi tidak sempat izin ke kelas?" And yang merasa ketakutan dengan tatapan pak dosen di depannya.


"Lain kali kalau ada kesibukan telepon saja aku, jangan tidak ada kabar lagi. INGAT?" pak dosen membalikkan tubuhnya untuk kembali kemejanya.


"Baik pak!" And yang sedikit merasa lega mengelus-elus dadanya.


Pelajaran berakhir, And pulang kerumahnya untuk berpamitan kepada ibunya dan Riri. And memberikan alasan untuk mengurus bisnisnya yang ada di Jepang, untuk beberapa hari. Ibu dan Riri setelah mendengarnya merasa sedih karena ditinggalkan oleh And ke Jepang, namun mereka mencoba mengerti dan mengizinkannya.


"Kakak, jangan lupa oleh-oleh buat aku, nanti ya?" Riri yang terlihat senang menunggu oleh-olehnya nanti.


"Ibu harap kamu baik-baik saja di sana, kalau ada apa-apa telepon kami?" Ibu yang sedikit khawatir dengan And.


"Iya Riri!, dan ibu jaga kesehatan juga disini, kalau terjadi sesuatu kabari And?" And yang terlihat sudah bersiap pergi ke rumah Yuna.


"Zero tolong kirim beberapa orang untuk menjaga ibu dan adikku?" And yang sedang menelpon Zero di dalam mobil menuju rumah Yuna.


"Pemimpin, kenapa? Apa ada masalah?" Zero yang sedikit terkejut mendengarnya.


"Tidak ada, aku akan ke Jepang besok?" And yang menjelaskan kepada Zero sedang duduk di kursi belakang mobil.


"Pemimpin, apa ada tugas yang belum selesai di sana?" Tanya supirnya sedikit penasaran.


"Iya, ada sesuatu yang harus aku selidiki di sana?" And yang menjelaskan kepada supirnya.