Detective Kill

Detective Kill
Bab 14 Kebahagiaan Sementara



Beberapa saat kemudian, And yang selesai mandi kini duduk di atas kasurnya, merenungkan semua hal yang akan terjadi nanti dimasa depan yang akan terjadi beberapa bulan lagi, terutama kematian Sofia. And yang kini memikirkan cara bagaimana dia akan menjaga Sofia beberapa bulan ini, supaya Sofia tidak terbunuh. Kejadian inilah yang membuat And sangat sedih karena dulu dia tidak bisa menyelamatkan seseorang gadis yang sangat dia cinta.


"Ting..."


Bunyi notifikasi chat dari handphone And di atas meja, And segera mengambil handphonenya untuk memeriksa notifikasi itu.


"And adakah waktu luang hari ini" notifikasi dari pesan singkat dari Sofia di waktu yang masih terbilang masih pagi.


"Iya, ada apa?" balas And dengan wajah masih terlihat khawatir memikirkan sesuatu yang akan menimpa Sofia.


"Maukah kamu temenin aku belanja" pesan yang begitu ingin mengajak And untuk keluar.


"Baiklah, aku akan siap-siap dulu" And yang tersenyum melihat ajakan darinya dan segera menuju lemari pakaian untuk memilih beberapa baju yang cocok untuknya. Terlihat And yang masih berulang kali memilih pakaian yang cocok ditubuhnya sambil bercermin.


"Kakak, sarapan sudah siap" teriakan Riri yang dari luar kamar And, sambil mengetuk pintu kamar.


"Iya. Sebentar!" And yang masih terlihat sibuk dengan pakaiannya di depan cermin sambil memilih-milih. Banyak pakaian yang kini berserakan di atas kasurnya, akhirnya And dapat memilih baju dan celana berwarna hitam. And segera keluar dari kamarnya meninggalkan kamar yang masih berserakan baju dan celana yang tidak di rapikan.


"Ih!, Kakak rapi sekali?" Riri yang duduk didepan meja sangat penasaran dengan kakaknya yang berpakaian sangat rapi.


"Sayang kamu mau pergi kemana?" tanya ibu sambil mempersiapkan makanan didepan meja.


"Jalan-jalan sama teman saja" ucap And sambil berjalan menuju tempat duduknya di meja makan.


"Kakak And ingin kerumahnya Linda lagi ya?" tanya Riri dengan wajah yang sedikit kesal ketika kakaknya dekat sama gadis lain.


"Wah bagus kalau ke rumah Linda, jadi kalian bisa semakin akrab" ibu menepukkan kedua tangannya dan tersenyum bahagia.


"Ibu!, aku tidak mau, aku masih muda, aku belum siap" wajah And sangat kesal kepada ibunya tapi memperlihatkan wajahnya memerah karena malu.


"Kakak tidak boleh nikah dulu, kakak harus sukses dulu, ibu tidak boleh memaksa kakak" Riri yang berusaha membantu kakaknya membujuk ibu.


"Iya..ibu menyerah, anak-anak ibu yang pintar bekerja sama ini" dengan wajah ibu tersenyum bahagia, dan dia juga sambil menyarankan untuk anak-anak menghabiskan makanan.


"Bu!, And berangkat dulu ya" ucap And membuka pintu keluar.


*****


"Hari ini pertama liburan kelulusan ku, tiga bulan baru mendaftar ke universitas" gumam And berjalan kaki menuju rumahnya Sofia. Karena rumah And dan Sofia tidak terlalu jauh jadi tidak memerlukan alat transportasi.


"Halo paket, paketnya sudah sampai" teriak And di depan pintu pagar rumah Sofia yang lumayan besar. berulang kali suara And meneriakkan tentang paket.


"Yah!, Ada paket itu diluar" Sofia yang duduk di atas sofa menunggu And yang akan menjemputnya, dan memanggil ayahnya berulang kali.


"Perasaan ayah hari ini tidak ada memesan apapun" terlihat wajah ayah Sofia kebingungan setelah di panggil oleh anaknya.


"Sayang! paket kamu sudah datang" Ayah kembali ke kamarnya dan memanggil istrinya berulang kali.


"Sayang, aku tidak belanja online hari ini" ucap istrinya di dapur yang sibuk membersihkan meja makan.


"Siapa sih ini mencurigakan" Sofia yang pelan-pelan berjalan dan mengintip dari gorden jendela rumahnya.


"Berantem yuk" ajak Sofia yang terlihat kesal melihat ternyata itu adalah And, ketika dia tiba-tiba membuka pintu rumahnya. "Kamu tahu tidak, seisi rumah jadi kacau dengan ke salah pahaman ini" ucap Sofia yang terlihat marah yang buru-buru berjalan menuju depan pintu pagar rumahnya.


"Sofia, siapa itu? apakah salah alamat" ucap ayahnya yang masih di dalam rumah mendengar suara Sofia yang lumayan kencang.


"Iya yah!, paman paketnya sudah pergi!" Sofia berteriak menjelaskan kepada ayahnya dengan wajah terlihat gugup.


"Hehe, maaf" ucap And dengan berbisik-bisik memohon kepada Sofia di depan pintu pagar.


Terlihat mereka berjalan berdua bersampingan, menikmati suasana cerahnya sinar matahari pagi, sambil mencuri pandangan satu sama lain, burung-burung berkicau dan daun-daun pohon berterbangan, angin sejuk menghampiri mereka berdua, dalam suasana seperti ini bisa dikatakan kedua remaja ini saling melengkapi. mereka miliki kesamaan dalam mengenakan pakaian yang serba berwarna hitam.


"And lihat ada anak kucing" Terlihat Sofia yang tiba-tiba berhenti dan berjongkok mendekati anak kucing tersebut. Wajah Sofia yang begitu imut kemerah-merahan ditambah hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya membuat siapa saja melihatnya akan terpesona.


"Iya sangat imut" sontak And terdiam menikmati pemandangan yang jauh lebih imut dari anak kucing tersebut, wajah And terfokus pada wajah cantik Sofia dengan rambut hitam panjang yang tertiup angin.


"Benar, pasti kamu suka dengan anak kucing ini" ucap Sofia yang masih membicarakan tentang anak kucing itu, sambil mengelus-elus kucing tersebut.


"Iya sangat suka, aku sangat ingin memilikinya" ucap And yang masih bengong melihat kecantikan Sofia dari dekat.


"Kring..kring..es krim enak..emmm.. enak gitu loh"


Bunyi lonceng sepeda dari kejauhan menuju tempat mereka berada. Seseorang lelaki tua ingin melintas di pinggir jalan sambil membawa jualannya.


"Wah"


Seketika Sofia berdiri membalikkan badannya setelah mendengar suara dari penjual es krim itu. "And kita beli es krim" ucap Sofia dengan menyentuh sikut And.


"Oh..iya" sontak And terkejut melihat Sofia yang antusias melihat penjual es krim. "Baiklah kita beli beberapa jangan terlalu banyak nanti perut kamu sakit" ucap And memperingatkan.


Mereka duduk menikmati es krim, duduk di sebuah kursi panjang dipinggir jalan dibawah pohon besar. Saling memandang satu sama lain, bahkan mereka mulai menikmati suasananya dengan senyuman.


"Sebelum pendaftaran apa yang kamu lakukan And" Sofia yang tiba-tiba menatap ke depan wajah And sambil bertanya.


"Aku ingin bekerja" ucap And dengan wajahnya yang merah tidak berani membalas tatapan Sofia disampingnya.


"Pfft"


Terlihat Sofia menahan tawanya dengan sebelah tangan yang menutupi mulut, melihat wajah And yang mulai memerah karena malu memandanginya.


"Ketawa saja terus" terlihat And yang tidak mempedulikan Sofia dan segera menghabiskan es krimnya.


"Ah gitu saja ngambekan" ucap Sofia sambil mencolek bahu And untuk mengganggu And memakan es krimnya.


"Haha"


Sofia ketawa begitu terbahak-bahak melihat hidung And di penuhi es krim, Sofia tak bisa berhenti ketawa melihatnya.


"Kan jadi menempel semua" keluh And kepada Sofia yang mengganggunya, sebagian es krim yang menempel di hidungnya.


"Wuss"


Dengan sergap And meluncurkan serangan balasan, mencoletkan es krim ke sebagian pipi Sofia.


"Heh" Sofia terkejut dan terlihat kesal dengan balasan yang dilakukan And kepada nya.


"Kita sudah lama duduk disini" seketika And dengan sergap berdiri dengan cepat untuk menghindari kekesalan Sofia. "Oh iya, kamu tidak jadi belanja" And yang berusaha mengalihkan pembicaraan untuk mengalihkan emosinya Sofia.


"Iya, aku hampir lupa" kesal di wajah Sofia seketika hilang begitu saja.


"Uh" And menghembuskan napas leganya sambil memegang dada dengan salah satu tangannya.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, menuju kesebuah mall, mereka mengelilingi beberapa tempat di sana, bermain game, main capet boneka, dan terlihat mereka sangat bahagia menikmati waktu bersama.


Tiba-tiba beberapa remaja mendekat, mencoba merayu Sofia, And yang melihatnya segera bergegas melindunginya, And menarik Sofia untuk berlari menjauh dari beberapa remaja nakal itu. And dan Sofia bersembunyi di balik dinding mall untuk menghindari kejaran remaja nakal itu yang sedang berusaha mengikuti mereka. And yang khawatir berusaha mengajak Sofia pergi dari sana. Akhirnya mereka aman melanjutkan menemani Sofia berbelanja keperluannya.