
"Emmm.. rasanya sedikit manis, aku suka?" Lelaki itu sekali lagi menjilat pisaunya yang ada noda darah And.
"Kau perlu di bunuh? Akan ku potong lidahmu itu?" ucap And menyerang lelaki itu, berusaha memotong lehernya dengan pisaunya.
"Kamu masih pemula ya? Bahkan serangan mu tidak secepat bos besarku?" ucap lelaki itu bermain-main menghindari serangan And yang tidak bisa mengenainya.
"Diam kau. Akan ku bunuh kau secepatnya?" And yang terus menyerang dengan skill bela dirinya, tapi masih saja bisa di hindari dan bahkan serangannya dapat di tangkis lelaki itu.
"Haha. Sepertinya kamu perlu terluka dulu agar lebih semangat mengayunkan pisau itu?" Lelaki itu masih menyombongkan dirinya dihadapan And yang belum bisa melukainya sedikitpun.
"Gerakannya cepat, dia dapat melihat gerakanku? Dan dapat menahannya?. Aku harus serius menghadapinya kalau tidak aku bisa saja terluka?" And yang baru saja memahami skill yang di miliki lelaki pembunuh itu.
"Haha. Kenapa hanya terdiam? Apa kamu merasa takut untuk menyerang?" Lelaki itu masih menyombongkan kekuatannya kepada And.
"Tidak. Aku kira kekuatanmu benar-benar kuat, ternyata hanya ini?" And yang sudah mulai tenang menghadapinya setelah mempelajari skill bela diri musuhnya.
"Apa?, Kau meremehkanku?" Wajah lelaki itu sedikit marah karena di remehkan.
"Baiklah. Tanpa lama-lama lagi aku akan membuat kamu terbaring di lantai ini?" And yang sudah bersiap-siap mengalahkan lelaki itu.
"Oh"
"Wuss"
Lelaki itu dengan kecepatannya menyerang And dengan pisau tajamnya. Namun And dapat menghindari dengan santainya bahkan dia tersenyum kepada lelaki itu. Wajah lelaki itu semakin marah karena merasa di permainkan oleh And. Lelaki itu terus menyerang tanpa henti dan And selalu dapat menghindari tanpa goresan sedikitpun.
"Jangan menghindar saja. Apa ini namanya pertarungan?" Wajah lelaki itu mulai kesal dengan And yang meremehkannya.
"Kamu terlalu lemah buat aku?" ucap And dengan santainya sambil berjalan mendekati lelaki itu.
"Baiklah. Aku akan lebih serius?" Lelaki itu mengambil pisau satunya di atas meja.
"Wah. Mau menggunakan 2 pisau untuk melawanku?" And yang sedikit kagum dengan usaha lelaki itu untuk melawannya.
"Banyak omong? Buktikan kekuatan kamu itu, bahwa dengan mudah bisa membunuhku?" Lelaki itu dengan sangat cepat menyerang And dengan kedua pisaunya.
Serangan demi serangan di arahkan ke leher And, kaki, badan, dan tangannya untuk membuat And terluka. Namun And masih saja dapat menghindari dan menangkis serangan tercepat lelaki itu. Keringat yang mulai keluar merasakan takut, hampir seluruh wajah lelaki itu di penuhi keringat, dia merasa lawannya bukan lah lawan yang sanggup dia kalahkan. Dari penglihatannya And adalah raja pembunuhan itu sendiri. Bahkan bos lelaki itu tidak akan sanggup menghindari tanpa terluka sedikitpun seperti yang di lakukan And kepadanya.
"Swiss"
And dengan mudahnya memotong salah satu tangannya setelah mulai bosan bermain-main dengan lelaki itu.
"Aakhh"
Lelaki itu berteriak sangat kencang, ketika melihat salah satu tangannya sudah terpotong tanpa dia sadari sama sekali.
"Swuss"
Dengan kekuatan And dia melempar pisaunya ke paha lelaki itu, untuk membuat dia terdiam dan tidak berdaya.
"Aakhh"
"Ampuni aku. Aku akan melakukan apa saja tuan, jangan bunuh aku. Aku hanya pembunuh bayaran untuk membunuh kalian semua, aku tidak tahu kalau tuan begitu kuat. Aku janji tidak akan menggangu kalian lagi" lelaki itu berusaha memohon kepada And sambil menahan rasa sakit yang sudah di alaminya.
"Oh. Bagaimana dengan mangsa yang sudah kamu potong-potong itu? Apa kamu mengampuninya juga?" And yang berdiri melihat lelaki itu sudah tidak berdaya di bawah lantai.
"(....)"
Lelaki itu hanya terdiam ketakutan melihat wajah And yang begitu seram, seperti iblis yang haus darah dari pandangan lelaki itu.
"Aku akan mengampunimu kalau kamu memberi tahukan aku dimana markas mereka lainnya. Tapi jika kamu berbohong aku akan menyiksa kamu lebih dari seperti ini?" And yang berjongkok memandangi lelaki itu yang sudah ketakutan memegangi tangannya yang terpotong tadi.
"Iya. Aku akan katakan yang aku tahu? Markas mereka ada di...?"
"Durr"
Suara tembakan dari belakang lelaki itu di dari kegelapan. And segera menjauh dan bersembunyi dari balik tembok untuk menghindari kalau-kalau ada peluru yang mengarah kepadanya.
"Wah, wah...kamu dapat mengalahkannya dengan sangat mudah" suara laki-laki yang melangkah mendekatinya dari kegelapan.
"Apa kamu takut dengan senjataku?" Lelaki yang memakai jas hitam sudah berada di depan mayat lelaki pembunuh yang telah dia tembak.
"Kalau mau duel, buang pistol itu?" And yang masih waspada di balik tembok.
"Aku tidak sebodoh itu, seperti lelaki ini? Aku di perintahkan untuk membunuh, buat apa aku terlalu lama menunggu aksi mu itu? Lelaki berjas hitam itu menginjakkan kakinya ke mayat lelaki pembunuh yang sudah terbaring tidak bernafas.
"Sial. Aku tidak mempersiapkan ini, bahwa aku belum sanggup menghindari peluru itu jika mengarah padaku?" Gumam And di balik tembok mewaspadai lelaki berjas hitam.
"Ayo kita selesaikan secepatnya, aku sudah mulai bosan berada di ruangan bawah tanah ini?" Lelaki itu melangkah untuk mendekati And yang berada di balik tembok.
And masih melihat-lihat sekelilingnya bagaimana cara untuk mengalahkan lelaki berjas hitam yang memakai senjata itu. Sedangkan And pisaunya sudah dia lempar untuk menyerang lelaki pembunuh tadi. Lelaki berjas hitam itu semakin dekat darinya, And masih melihat-lihat area sekitarnya untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketika lelaki berjas hitam itu sudah sampai di balik tembok, And sudah menghilang dari sana.
"Wah. Kamu rupa-rupanya sudah terlatih ya? Tapi sekuat apapun kamu, tidak akan dapat menghindari peluruku?" Lelaki berjas hitam itu berjalan-jalan untuk mencari keberadaan And yang sudah menghilang dari ruangan itu.
"Wiss"
Tiba-tiba, lampu semua ruangan itu mati. Membuat lelaki berjas hitam itu sedikit panik, dan berusaha mencari saklar lampunya.
"Dimana wajah sombongmu tadi?" suara And dari kegelapan yang terdengar mengancam lelaki itu.
"Berani-beraninya kamu melakukan hal curang seperti ini?" ucap Lelaki berjas hitam itu yang hanya mendengar suara And.
"Durr"
Beberapa kali tembakan di tujukan ke asal suara And berada. Lelaki itu sedikit tersenyum tidak ada yang bisa mengalahkannya.
"Aduh sakit sekali. Peluru ini mengenai tanganku?" And berpura-pura terkena tembakannya.
"Haha. Apa kamu sudah sadar sekarang? sudah menyerah lah sekarang heh?" Lelaki itu terlihat senang tembakannya berhasil mengenai And.
"Tembak lagi cepat, sebelum aku akan membalas kamu?" ucap And yang meminta lelaki berjas hitam itu menembaknya lagi.
"Heh!. Sepertinya kamu sudah mempermainkan diriku?" Lelaki itu mulai marah karena sudah di bohongi.
"Dur..durr"
Beberapa tembakan dia arahkan ke asal suara And itu, sampai peluru itu kehabisan. And yang sudah memperhitungkannya siap-siap untuk menyerangnya. Lelaki itu sudah sedikit panik karena tidak sengaja menghabiskan pelurunya, dia berusaha mengisinya kembali, karena ruangan masih gelap dia tidak dapat mengisinya, peluru itu berjatuhan ke lantai, dia yang terlalu gugup ketika mendengar suara langkah kaki And sudah mendekatinya.
"Jangan mendekat, akan ku tembak kamu?" Lelaki berjas hitam itu gemetaran memegangi pistol kosongnya.
"Oh benarkah. Aku menantikan tembakannya?" And yang sudah memegang pistolnya dengan salah satu tangannya.
"Mengapa kamu bisa tahu posisiku? Apa kamu bisa melihat dari kegelapan?" Lelaki itu gemetar ketakutan duduk dilantai.
"Kekuatan itu harus dirahasiakan, kalau di beri tahu, musuh akan tahu cara mengalahkannya?" And mengambil pistolnya dan berjalan menuju saklar lampunya.
"Swiss"
Lampu seketika menyala. Lelaki itu langsung berlari menuju mayat lelaki yang yang dia telah bunuh tadi, untuk mengambil pisaunya. And melihatnya malah tertawa dengan sangat senang.
"Sekarang kita akan melihat seberapa mampu kamu melawanku?" Lelaki berjas hitam itu kembali menyombongkan dirinya.
"Durr"
Tiba-tiba tembakan yang mengarah kepaha lelaki berjas hitam itu. Wajah lelaki berjas hitam itu hanya terdiam kaku tanpa respon setelah melihat kakinya sudah berdarah.
"Oh, wah kamu dapat menahannya?" And yang sedikit kagum melihat lelaki itu tidak berteriak sama sekali.
"Kamu curang? Sejak kapan kamu juga mengambil pelurunya? Aku bahkan tidak melihatnya? ucap lelaki berjas hitam itu sedikit ketakutan melihat And yang sudah mendekatinya.
"Maaf aku tidak punya waktu lagi melayani kamu?. Aku pingin pulang membersihkan tubuh kotorku ini?" And yang mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki berjas hitam itu yang sudah berdiri dengan lututnya.
"Durr"
Tembakan yang mengarah ke kepala itu langsung menumbangkan lelaki berjas hitam itu. And sedikit menyesal karena melupakan untuk menginterogasinya, tapi And langsung pulang karena sudah berhasil membasmi setengah dari organisasi berjas hitam yang ada di Jepang.