Detective Kill

Detective Kill
Bab 46 Bisnis Terakhir



"Deck dan Luzon di kalahkan!"


Salah satu pengintai memberikan informasi terbaru kepada asisten bos, yang sedang duduk menunggu di depan meja loby hotel. Ketika dia mendengar kabar tentang Deck dan Luzon sudah kalah, dia sangat marah. Asisten menelepon semua bawahannya untuk bersiap-siap berperang, karena sebentar lagi musuh akan datang.


Semua bawahannya segera berkumpul di tempat bisnis ketiga, mereka tidak peduli lagi dengan para pengunjung yang sedang menginap di hotel mereka saat ini. Semua pintu hotel di beri informasi untuk segera dikunci rapat-rapat, jika ada salah satu pengunjung tidak menaati itu, mereka langsung di bunuh. Semua pengunjung merasa takut, mereka langsung mengunci semua pintu.


"Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi dengan hotel ayah?"


Sonia yang terlihat kebingungan setelah mendengar pengumuman di spiker kamarnya. Dia sangat khawatir apa yang sedang terjadi di luar ruangan kamar, dia juga sedikit penasaran karena mendengar suara langkah kaki yang sedang berlari begitu banyak.


--


Terlihat 700 lebih pasukan And yang masih tersisa, mereka semua sudah berada di depan pintu bangunan hotel, bangunan itu memiliki 50 lantai. Bos organisasi berada di lantai 50, dia sedang bersiap-siap untuk kabur, jika asistennya tidak dapat mengalahkan pasukan And nanti.


Tiba-tiba...


Mobil hitam berhenti ditengah-tengah pasukan And. Terlihat pakaian yang penuh darah keluar dari mobil. Dia adalah And yang sudah datang dari bisnis kedua dan untuk segera membantai semua organisasi berjas hitam yang masih tersisa di bisnis ketiga ini. And terlihat tidak bersuara sama sekali, dia hanya melihat-lihat semua bawahannya dan tetap melanjutkan langkahnya untuk memasuki kedalam hotel.


"Ayo kita masuk juga!!"


Salah satu ketua pasukan Defen yang masih lumayan banyak memimpin masuk. Dia mengikuti And yang sudah masuk kedalam hotel dengan berlumuran darah di bajunya.


"Wah..wah akhirnya datang juga!!"


Asisten organisasi berjas hitam langsung menyambut kedatangan And, dia sedikit tidak terlihat takut menghadapi pasukan And yang lumayan banyak itu. Dia juga memiliki pasukan yang masih tersisa sekitar 900 orang. Mereka sudah bersiap-siap berjaga di setiap lantai hotel.


Lantai pertama...


"Serang!! Bunuh mereka semua!!"


Asisten itu memerintahkan pasukannya untuk segera menghabisi pasukan And. Pertarungan langsung dimulai dengan pasukan And yang berada di lantai pertama sekitar 200 orang. Sisanya menaiki lantai berikutnya, agar peperangan ini cepat selesai.


And terlihat hanya ingin menghadapi asisten itu, dia terus berjalan mendekatinya, namun karena pasukan asisten itu terlalu banyak, membuat And sedikit kerepotan untuk mendekat. Asisten itu mulai menyadari keberutalan And, dia segera pergi ke lift hotel, di dalam lift dia sangat takut, karena melihat bawahannya sangat mudah di bunuh oleh And dalam satu kali serangan saja, bahkan ada yang mati di cekik.


"Siapa dia?? Mengapa dia begitu kuat!! Aku harus pergi kelantai paling atas!! Kalau tidak aku bisa mati?" Asisten itu mulai ketakutan memikirkan And yang sangat kuat, bahkan dia menganggap And adalah seorang monster gila. Bahkan itu lebih gila dari Deck.


--


"Sepertinya ada keributan diluar? Aku sangat penasaran! Apa aku telepon saja ayah? Tapi kalau aku ketahuan berada disini bagaimana?" Sonia yang terlihat kebingungan mendengar keributan di luar pintu kamar hotelnya.


"Hah!! Apa yang sedang terjadi??"


Sonia yang terlihat kaget melihat kebawah dari jendela kamarnya, ada ratusan orang yang berpakaian hitam memanjat bangunan hotel.


"Apa mereka ini! Perampok?"


Sonia sangat ketakutan, dia langsung menutup kembali jendelanya, dan berlari kedalam toilet. Terlihat dia juga mengunci toilet itu agar tidak ada siapapun yang bisa membukanya. Dia juga sangat gemetaran memegangi ponselnya, dia ingin berusaha menelepon ayahnya, agar bisa segera menyelamatkannya dari situasi ini.


"Ayah. Tolong angkat teleponnya!"


Sonia yang terlihat sedikit menangis berulang kali menelepon Ayahnya. Dia sangat ketakutan berjongkok di sudut toilet.


"Nomor yang di tuju sedang tidak aktif!!"


Sonia menangis karena sudah mendengar, suara benturan kaca bangunan yang sedang di naiki. Dia menahan tangisnya agar tidak kedengaran dari luar. Jantung Sonia berdetak sangat kencang, karena merasa takut jika perampok itu memasuki kamarnya.


--


Terlihat And masih berjalan santai melihat bawahannya, membersihkan sisa-sisa pasukan organisasi berjas hitam dilantai pertama. Karena lift yang tidak bisa digunakan, dia terpaksa menaiki lantai berikutnya menggunakan tangga darurat.


Pasukan And sudah terbagi menjadi dua bagian, menaiki lantai secara manual 350 orang, dan menaiki lantai dengan memanjat dinding 350 orang, agar lebih cepat untuk menaklukkan bisnis pertama organisasi berjas hitam.


Pasukan And yang memasuki secara manual sudah berkurang 50 orang, karena tidak mungkin menghadapi 200 orang musuh bisa selamat tanpa terluka, meskipun semuanya sudah terlatih.


Terlihat pasukan organisasi berjas hitam sudah berkurang, karena membagi pasukannya di seluruh lantai bangunan, mereka yang berada di lantai kedua hanya sekitar 100 orang. Pasukan And sedikit tersenyum karena melihat musuhnya yang sudah meremehkan mereka saat ini.


Namun kebahagiaan pasukan And tidak bisa bertahan lama, akibat pertarungan itu membuat mereka kehilangan 50 orang lagi. Ternyata organisasi berjas hitam sudah menempatkan pasukannya di lantai kedua ini lebih banyak, karena mereka ingin mengurangi pasukan And sedikit demi sedikit.


Disisi lain. Pasukan And yang memanjat bangunan juga mengalami masalah besar, mereka semua di lempari batu-batu besar yang sudah di persiapkan di lantai 48. Membuat pasukan And yang terkena batu itu langsung terjatuh kebawah.


Pasukan pemanjat bangun sudah tersisa 100 orang yang masih dapat bertahan. Karena pasukan organisasi berjas hitam sudah kehabisan batu untuk dilempar. Pasukan pemanjat sesegera mungkin menaiki bangunan itu, agar bisa lebih cepat mengakhiri perang ini.


And dan sisa pasukannya sudah berhasil menaiki lantai ke 47, pasukan yang tersisa hanya 50 orang lagi. Banyak korban yang gugur dalam perang terakhir ini, bahkan dari pihak musuh juga sudah mulai berkurang juga.


Lantai ke 48...


And dan pasukan sudah bertemu dengan pasukan pemanjat. Mereka sudah selesai membersihkan lantai ke 48 ini, namun pasukan pemanjat mengalami kekalahan, mereka hanya tersisa 50 orang, karena menghadapi pasukan orang-orang kuat dari pihak musuh.


And yang masih terlihat tidak peduli dengan pasukannya, dia tetap melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Pasukan And yang sedikit khawatir dengan sifat pemimpin yang sedikit berbeda. Pasukannya juga sedikit khawatir dengan keadaan pemimpinnya yang dari tadi tidak mengobrol sama sekali.


Lantai ke 49...


"Wah.. kalian berhasil menaikinya, meskipun pasukan kalian sudah berkurang banyak. tapi maaf, kalian harus mati di lantai ini lagi. Aku harus menyelesaikan ini dengan sangat cepat, agar aku bisa tidur. Aku sudah mulai mengantuk karena jam sudah menunjukkan pukul 03.00 subuh" asisten itu sedikit bangga dengan perjuangan mereka dan dia juga sedikit kesal karena belum bisa tidur dari tadi.


"Durr.."


Tembakan yang ditujukan kepada And. Namun tembakan itu sangat mudah di hindari And, tapi peluru itu malah mengenai salah satu bawahannya. And hanya menoleh ke bawahannya yang terkena tembakan itu. Dia langsung berlari untuk mendekati asisten itu, namun di hadang kembali oleh bawahan asisten yang lebih hebat dari pasukan yang telah mereka hadapi dari lantai sebelumnya.


"Wuss.."


And yang terlihat menghindari serangan dari lelaki yang berbadan besar berusaha menyerangnya. Pasukan And yang melihat itu langsung segera membantu.


"Dur..Durr!!"


Beberapa kali tembakan di tujukan kepada bawahan And yang sedikit lengah. Mereka langsung mati karena peluru itu mengenai kepala mereka. Asisten itu terlihat sedang menikmati menembaki bawahan And yang sedang fokus bertarung. Mata And sedikit marah melihat asisten itu yang begitu licik, memanfaatkan keadaan dia yang lagi sibuk bertarung.


"Tak..tak..??"


Suara pestol yang sudah kehabisan peluru. And mendengarnya langsung berlari secepatnya untuk mendekati asisten itu. Namun kaki And di tangkap oleh lelaki besar itu dan dibanting ke samping dinding.


"Argh!!"


And terhempas ke dinding. Membuat dia memuntahkan darah, tapi dia berdiri kembali dan berlari ke lelaki besar itu untuk membalas rasa sakit yang di terimanya tadi.


"Arrgh....!!"


And terlihat langsung menarik tenggorokan lelaki besar itu, darah yang begitu banyak langsung muncrat berhamburan. Membuat lelaki besar itu terjatuh bertekuk lutut dihadapan And. Dan langsung mati dengan keadaan tengkurap ke lantai.


Semua bawahan musuh sudah habis dikalahkan mereka. Hanya tersisa asisten itu, dia mulai ketakutan melihat And yang sudah berjalan mendekatinya, dengan tangan yang penuh dengan darah, setelah mencabut tenggorokan lelaki besar itu.


"Jangan kesini!! Kalian monster!!"


Terlihat asisten itu mulai mundur, bersandar ke dinding dengan wajah yang ketakutan memandangi And yang dari tadi sudah terlihat marah kepadanya. Badan asisten itu begitu gemetar, dia tidak sanggup lagi memandangi And yang sudah berada di depannya.


"A-a..ampuuu..ni..ak...uuu!!"


Suara asisten itu sudah mulai tersendat-sendat karena leher yang sudah di cekik And. Tubuh yang terangkat mencoba melukai tangan And dengan kukunya, agar bisa melepaskan cekikan itu.


"Orgh!!"


Darah langsung keluar dari mulut asisten itu. Karena jantungnya telah di tusuk And menggunakan pisau yang telah dia bawa dari bisnis kedua. Asisten itu langsung mati dengan mata yang terlihat merah memandangi And yang telah membunuhnya.


Pasukan And yang masih tersisa sangat kaget melihat kebrutalan pemimpin mereka. And juga terlihat sudah melempar tubuh asisten itu kelantai. Dia langsung berjalan lagi untuk menaiki lantai terakhir.