Detective Kill

Detective Kill
Bab 35 Kebahagiaan dan Perang Terakhir



Ketika suara mobil memasuki halaman rumah terlihat Riri sedikit senang, dan dia segera keluar pintu rumah untuk memastikannya. Ternyata benar And dan ibunya sudah pulang, dia terlihat kesal karena ditinggal sendirian tidak di ajak pergi. And sedikit bingung melihat adiknya terus melototi di depan pintu.


"Kakak pulang?" And sedikit takut dengan adiknya yang terlihat marah.


"Riri kapan kamu pulang sekolahnya nak?" Ibu yang sedikit kaget karena melihat Riri sudah pulang dari sekolah.


"Ibu tidak mengajak Riri pergi, apa tidak sayang lagi sama putri ibu yang cantik ini?" Riri yang sedikit kesal terhadap kakaknya yang tidak menunggunya pulang.


"Ibu cuman pergi ke rumah kakak Linda saja, kamu itu katanya tidak suka ke sana?" Ibu yang mengingatkan ucapan Riri kepada ibunya.


"Emmm..tapi kakak And mengapa pulang sama ibu?" Riri yang penasaran dengan kakaknya, dia tidak mau kakaknya punya wanita.


"Dia cuman menjemput ibu saja, katanya ada oleh-oleh buat kita dari Jepang?" Ibu yang berusaha membuat Riri senang.


"(....)"


Wajah And terlihat senang karena ibunya membantu dia membuat Riri melupakan marahnya terhadapnya. Ibu memang yang terbaik.


"Wah, benarkah? Apa saja yang kakak bawa dari Jepang? Apakah ada coklat dari Jepang juga?" Riri yang terlihat senang dan tidak sabaran dengan oleh-oleh yang di bawa kakaknya.


"Tenang kakakmu ini baik, ingat semua kesukaan kamu? Baju baru juga kakak belikan untuk kalian, jadi buka saja semuanya?" And terlihat memberikan tas-tas yang di bawahnya dari Jepang kepada mereka.


Mereka terlihat sangat senang dengan pemberian yang telah And bawa untuk mereka, terlihat mereka sedang mencoba-coba baju yang di beli And dari Jepang. And sangat bahagia melihat keluarganya sekarang mulai merasakan kebahagiaan, dulu mereka beli bajupun susah, usaha And tidak mengkhianati hasil. And yang tidak pernah menyerah dalam membangun usahanya, kini sudah terlihat hasilnya. Bahkan tidak dia sangka juga, sekarang mewarisi kekayaan Andreas Rew saudara tiri dan ibu tirinya. Sekarang And memiliki kekayaan yang tidak mudah dihitung lagi, dia memilih untuk merahasiakannya kepada ibu dan adiknya dulu.


"Kalian nikmati saja oleh-olehnya? Aku ingin istirahat dulu, rasanya badanku sudah mulai terasa lelah?" Terlihat And berjalan meninggalkan mereka diruang tamu, pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


"Iya And, nanti makan malam jangan lupa?" Ibunya yang masih terlihat memegangi baju baru yang di belikannya dari Jepang.


"Makasih kakak?" Riri yang sangat bahagia dengan barang yang telah di belikan And.


"Iya, besok kamu ada acara kenaikan kelulusan sekolah?" Tanya And penasaran dan terhenti di atas tangga.


"Iya kak? Sekarang aku akan menjadi anak SMP nanti?" Riri yang menyombongkan dirinya.


"Kalau nilai kamu bagus? Nanti kakak belikan apa yang kamu mau?" ucap And melanjutkan berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Di dalam kamar And langsung menjatuhkan badannya ke atas kasur, namun And juga merasa kaget setelah melihat ponselnya yang di penuhi panggilan dari Yuna yang khawatir karena suaminya, belum memberikan kabar seharian ini. Wajah And langsung panik karena dia masih melupakan ke hadiran Yuna. Dia segera menelepon Yuna untuk memberikan kabarnya.


"Sayang kenapa kamu? Baru telepon aku?" terdengar suara Yuna yang marah kepada And.


"Aku tadi kecapean, terus aku ingin istirahat dulu, besok aku sibuk lagi, jadi aku kelupaan memberikan kabarnya. Maafin aku ya?" And Yang berusaha merayu Yuna agar tidak marah lagi kepadanya.


"Sayang, kamu kecapean ya? Ya sudah kalau begitu kamu istirahat sana?" suara Yuna yang tiba-tiba khawatir dengan keadaan And.


"Ya sudah, aku istirahat dulu ya?" And yang terlihat tersenyum karena ucapannya berhasil membuat Yuna percaya.


"Iya, baiklah. Cepat istirahat nanti kamu sakit?" suara Yuna yang memaksa And untuk segera istirahat.


"Makasih sayang?" And yang berusaha sedikit merayunya.


"Iya sayang? Jaga kesehatan kamu di sana?" suara Yuna yang sangat mencintai And, dan dia mematikan teleponnya.


"Apa yang harus aku bantu And?" suara wanita yang datang dari kepalanya.


"Kamu? Kamu kan peri jam saku emas?" And yang terlihat kaget setelah mendengar suara wanita yang dia kenali tiba-tiba datang di kepalanya.


"Aku selalu memantau kamu And? Sekarang aku tidak tega melihat kamu sepertinya mengalami masalah lagi? suara peri itu membalasnya.


"Peri sebenarnya kamu itu apa? Dulu kamu pernah bilang mau pergi, kenapa sekarang kamu kembali lagi?" And yang penasaran dengan peri tersebut.


"Emmm.. sebenarnya aku memang pergi, tapi jam punyaku sudah menyatu di dalam tubuhmu. Aku bisa kapan saja mendengar suaramu? Setelah aku mendengarkan keluhan yang membutuhkan aku. Jadi aku kembali untuk melihat keadaan kamu saat ini?" Suara itu menjelaskan tentangnya.


"Oh jadi begitu? Kalau boleh tau? apakah kamu juga bisa melihat apa yang aku lakukan?" And yang sedikit merasa malu.


"Bisa, tapi aku harus memiliki izin untuk itu? Jika kamu tidak mengijinkannya, aku hanya bisa mendengar suara kamu saja?" suara peri itu menjelaskan tentang kekuatannya.


"Bagus deh kalau begitu, aku jadi merasa tenang?" And terlihat melepaskan nafas leganya karena merasa malu jika peri itu melihat apa yang dia lakukan.


"Apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku And?" Peri itu mengalihkan pembicaraannya.


"Aku hanya merasa lelah dengan masalah pribadiku menjadi sedikit kacau?" And menjelaskan kepada suara peri yang dia dengar di kepalanya.


"Apa itu tentang percintaanmu?" Peri itu dengan cepatnya langsung menyadari keluhan And kepadanya.


"Haha..peri emang selalu hebat. Bahkan tebakannya langsung benar?" ucap And sedikit merasa malu mengelus-elus kepalanya dengan salah satu tangannya.


"Kamu harus menjalaninya sendiri seperti keinginanmu, kau berhak untuk bahagia dengan pilihanmu tanpa ada paksaan sama sekali?" Peri itu sedikit khawatir dengan sesuatu yang akan dilalui And nanti.


"Sepertinya kamu sudah mengetahui masa depan yang akan aku lalui?" And sedikit menyadari perkataan dari peri itu.


"Sepertinya aku tidak bisa mengalahkan otak detektif profesional, kau selalu menyadari kata-kata yang bahkan tidak menyinggung masalah masa depanmu?" Peri itu sedikit kagum dengan kekuatan kejeniusan And.


"Bolehkah aku tahu, siapa nanti cintaku yang akan kumiliki selamanya?" And yang ingin sedikit mengetahui masa depan cintanya.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa membocorkan semuanya, itu tergantung dengan dirimu sendiri" peri itu sedikit kasian dengan And.


"Makasih peri?" And yang merasa senang karena peri itu selalu baik kepadanya.


"Cinta kamu adalah tetap yang pertama!" suara peri itu memberikan sedikit informasi dan menghilang.


"Apa itu maksudnya peri?, aku belum memahaminya?" And yang masih sedikit bingung dengan perkataan peri itu di kepalanya.


Tidak ada terdengar lagi suara peri itu, setelah menyampaikan beberapa kata masa depannya And, yang akan terjadi dengan masalah percintaannya.


"Cinta kamu adalah tetap yang pertama? Maksudnya itu apa ya? Aku masih belum memahaminya? Apakah cintaku yang pertama adalah cinta kepada Sofia?. Sepertinya bukan, Ah kepalaku terasa sakit mikirin cinta-cintaan, balas dendam saja belum kelar. Aku harus menghapus organisasi berjas hitam terlebih dulu, kalau tidak? aku tidak akan tenang menjalani kehidupanku saat ini?" And yang terbaring di atas kasur sambil memikirkannya.


"Seperti aku harus beristirahat dulu? Mungkin aku tidak makan dulu malam ini. Seluruh badan dan jiwaku sudah sangat lelah. Besok kelulusan adikku, dan wajahku sudah di kenali oleh organisasi berjas hitam itu sebagai Andreas Rew yang berhasil kabur. Bagaimana caranya aku menghindar perang ini. Mungkin besok aku harus mengerahkan seluruh bawahanku untuk berjaga-jaga di sekitar sekolahnya Riri. Aku tidak mau keluargaku nanti dalam bahaya? Ini sepertinya perang terakhirku menghapus organisasi berjas hitam itu di Indonesia. Aku tidak boleh gegabah dan terburu-buru dulu, agar organisasi itu tidak bisa mengancam keluargaku lagi" And yang memikirkan semua rencana untuk membalas dendamnya dan menjaga keluarganya sambil berbaring di atas kasur menghilangkan rasa lelahnya.


Keesokan harinya...


Ibu dan Riri sudah terlihat mondar-mandir untuk segera bersiap-siap berangkat menuju sekolah dasarnya Riri. Dan Riri juga beberapa kali memanggil kakaknya dari bawah. And yang masih bersiap-siap di kamarnya. Dia memilih memakai jaket dengan tudung di kepalanya, agar wajahnya tidak mudah di kenali saat And berada di kota nanti. Karena kota dalam kondisi waspada, semua organisasi berjas hitam sudah memantau di seluruh kota untuk menjaga keamanan bos mereka.